
###############
Jumat malam sekitar pukul 7.40, saat langit di atas sana sedang tidak bersahabat, ditingkahi samar suara guruh yang memperdengarkan gluduk-gluduk khasnya di kejauhan...
Lukas melangkah keluar dari dalam mobil dengan diikuti seorang wanita asing dari pintu kiri depan. Hana di undakan teras rumah berkerut kening memperhatikan saat dari garasi mereka berdua mulai berjalan menapaki halaman.
Begitu sudah tiba ke hadapan sang istri, Lukas segera menjelaskan, sementara wanita sebaya Ratna di sampingnya menganggukkan kepala sedikit pada Hana, dibalas serupa oleh wanita itu,
"Ini bu Nita, Hana. Beliau mulai hari ini akan bekerja di sini sebagai Asisten Rumah Tangga."
"Ooo..."
Barulah kedua wanita di hadapan Lukas saling berjabat tangan kemudian, bertukar senyum dengan menyebut nama masing-masing.
Lagi jelas Lukas pada Hana. "Tadi siang aku mencoba bertanya pada teman di kantor siapa tau ada yang bisa merekomendasikan, tapi ternyata siang tadi juga Farah tukang salon di blok depan kompleks lebih dulu menawarkan rekomendasi.
Kebetulan aku memang punya nomor Farah.
Dan ibu ini kebetulan juga adalah adik kandung ibunya Farah. Jadi tadi aku mampir menjemput bu Nita dari rumah Farah ke sini."
"Oo begitu..." Hana manggut-manggut semakin mengerti. Rupanya Lukas segera gerak cepat mencari ART usai bertelponan dengan ibunya kemarin. Ibunya itu sudah mengabari Hana bahwa Lukas akan segera mempekerjakan seorang ART. "Kalau begitu, silahkan masuk, bu," undang Hana kemudian pada bu Nita. "Mari...kita duduk di kursi itu."
"Iya. Trima kasih, bu Hana."
Ketiga orang itu berjalan masuk rumah.
"Berarti ibu tinggal dekat dengan mbak Farah?" tanya Hana sembari mengambil tempat duduk di sofa panjang, namun saat bu Nita berjalan ke sofa kecil, sang calon majikan segera memanggilnya, "Duduk di sini, bu, dekat saya saja."
"Oh...iya." bu Nita menyeringai kecil, menuruti dengan penuh rasa sopan dan segan duduk ke dekat samping Hana, membuat baik Lukas maupun Hana bersamaan saling lempar pandang, teringat pada suatu momen berdua tentang pengambilan tempat duduk semacam ini." Saya tinggal di Jakarta, bu. Di Cibubur. Begitu mbak Farah bilang ada lowongan kerja, sore-an tadi saya langsung otewe ke rumahnya mbak Farah."
"Ooo... Lalu suami dan anak-anak, masih ditinggalkan di Cibubur kalau begitu?"
Lukas yang menjawab, dari tempat duduknya di sofa kecil, "Hana...bu Nita sudah tidak punya suami. Juga tidak ada anak."
"Ha??" Hana sukses terperangah mendengar itu, namun buru-buru menimpali dengan hati tak luput jadi tak enak, "Aduh...maaf, bu, maafkan pertanyaan saya. Saya tidak tau..."
"He he...ngga apa-apa, bu Hana. Wong ibu nanya karena memang ngga tau, koq."
"Iyaa..."
__ADS_1
"Sudah meninggal, 5 tahun lalu. Sakit tua. Dia hampir 20 tahun lebih tua dari usia saya, bu Hana. Dulunya kerja sebagai pengrajin mebel."
"Oooh...seperti itu rupanya."
"Iya, bu, begitulah. Jadi sekarang saya di Cibubur tinggal dengan keluarga adik lelaki saya yang bungsu."
"Adik? Berarti sama-sama adik dari mamanya Farah dong ya?"
"Betul, bu. He he..."
"Oke oke, paham sekarang."
"Mba Farah jadi kah merias ibu Hana besok?"
"Iya, jadi dong. Kami malah sudah bikin janji... Mbak Farah itu kenalan ibu saya, bu, jadi saya percayakan saja deh semuanya dia yang urus. Walau saya belum pernah ketemu dan kenal orangnya. Cuma sempat kenalan lewat video call kemarin. Hehee..."
Bu Nita mengangguk-anggukkan kepala.
Di lain pihak, Lukas juga manggut-manggut kecil sendirian setelah tau Hana tetap jadi menggunakan jasa si Farah itu. Sambil pria itu fokus mengarahkan perhatian ekstra membacai sikap Hana.
Tidak tertangkap kesan berkeberatan itu.
Keduanya kemudian terus berbicara semakin mengakrab, dominan Hana yang lebih memimpin percakapan, direspon bu Nita terbuka dan apa adanya. Sedangkan Lukas memilih menimbrungi sesekali saja. Bersama keyakinan akan Hana bahwa setiap sikap yang ditunjukkan istrinya saat ini pastilah bukan bagian keberpura-puraan, Hana nampaknya cukup sreq bertemu dengan bu Nita...
Jadi kesimpulan dari 10 menit pertama ini?
"Oke, Hana, bu Nita, sebaiknya kami perlihatkan dulu saja di mana kamar tidur untuk ibu Nita. Setelah itu kalau masih ingin berlanjut bicaranya, kita lanjutkan lagi setelahnya." Lukas memutuskan menyela demikian di tengah perbincangan.
"Ada 2 ruangan kosong di sini, bu. 1 kamar tidur di atas dan 1 lagi kamar tidur ada di belakang sana, di luar rumah ini, dulunya kamar tidur itu di tinggali supir saya.
Jadi ibu mau berkamar tidur yang di mana?, bebas, silahkan ibu pilih sendiri satu dari kedua kamar ini."
&&&&&--&&&&&
Jauh malam hampir pukul 1 dinihari Hana memasuki kamar tidur...
Ia telah banyak tidur seharian jadi sejak bu Nita selesai diajak berkeliling melihat-lihat seisi rumah, lalu mengobrol sebentar dengannya dan Lukas sebelum pergi beristirahat, 3 jam terakhir Hana menghabiskan waktu menggambar lagi di ruang kerja.
Wanita itu bertemu pandang dengan Lukas yang rupanya terbangun dan sedang melihat pada kemunculannya.
__ADS_1
"Tidurlah sekarang, Hana. Supaya nanti kau bisa fresh bersiap-siap, sebelum kita berangkat jam 11an siang." kata Lukas.
"Iya." sahut Hana seraya meletakkan HP ke atas meja rias.
Kali ini ia tidak bersisir lebih dulu, terus saja ke pembaringannya. Menyingkap selimut dan perlahan membaringkan diri dibaliknya.
"Ngomong-omong sebelum kau benar-benar tidur, karena sejak tadi kita berdua belum sempat membicarakan ini...kau tidak keberatan 'bukan hari ini aku mulai mempekerjakan ART?"
"Tak apa deh. Cepat atau lambat kamu memang sudah harus mempekerjakan pembantu. Dan kelihatannya bu Nita itu bisa dipercaya. Ya orangnya, ya mungkin nanti kerjanya juga."
"Ya. Jadi bu Nita saja yang kita pekerjakan?"
Baru saja hendak menjawab mendadak terdengar suara petir mencetar keras hingga membuat Hana terkesiap karena kaget.
Dan hujan pun turun ke bumi, segera menderas...dibarengi suara gemuruh guntur yang kemudian terdengar di kejauhan dan juga suara kencang dari hembusan angin.
"Hujan...deras. Hujan angin." gumam Lukas, melihat ke arah sela ventilasi jendela kamar.
"Iya. Biar saja. Supaya di acara besok sudah tak lagi hujan."
"Betul."
Kembali petir menyambar hingga menciptakan cahaya terang kilatnya tapi Hana sudah bisa mengabaikan itu semua, memberi jawaban untuk pertanyaan terakhir Lukas yang belum sempat ia jawab,
"Bu Nita 52 tahun, 2 tahun lebih muda dari ibuku. Kalau di kesan pertama, jujur aku sreq-sreq saja. Tapi tetap, mesti dilihat dulu seperti apa cara kerjanya.
Jadi yaa, lanjut. Kamu coba pekerjakan dulu saja ibu itu."
"Begitu? Oke kalau begitu. Aku juga setuju."
"Kata ibu, kamu cepat-cepat cari ART cuma sekadar supaya aku ada teman di rumah. Padahal aku oke-oke saja koq sendirian.
Yakin deh, sampai mau...ngg, melahirkan--pun, aku rasa aku fine-fine saja tetap sendirian."
Perlahan Lukas memiringkan kepala di atas bantal, untuk memandang pada sang istri, sebelum berkata dalam nada lembut dilambatkan,
"Aku yang tak bisa fine-fine saja, Hana... Aku mencemaskanmu, yang hanya sendirian saja di rumah menjelang...masa persalinan itu.
Ya...ya, aku tau, kau pasti ingin berkata kalau itu masih lama lagi, 2 bulanan lagi..."
__ADS_1