
Banyak hal yang terkesan aneh, ganjil, atau janggal sekalipun, eksis di dalam kehidupan di muka bumi ini dan cukup bisa untuk dipahami. Bahkan bila itu salah satunya adalah tidak pernahnya Hana menyebut atau memanggil nama pada Lukas, selama 8 bulan hidup 1 atap bersama pria itu.
Mungkin sudah tepat apabila Lukas menyebut istilah Segan, ya, sepertinya Hana memang masih merasakan hal itu saja... Dan sudah barang tentu itu tidak ada hubungan dengan kesediaan dirinya yang pernah tampil polos tanpa segan-segan lalu menerima percintaan dari Lukas, lalu hamil.
Maka...
Hana mendesah dan menggeleng perlahan, memilih menolak permintaan Lukas.
Sekadar untuk menekan irama kencang dari debaran, diputusnya kontak mata dengan Lukas, yang kemudian memperlihatkan senyumnya yang menawan itu menanggapi gelengan Hana.
"Yah, rupanya kau benar-benar merasakan segan," gurau pria itu, berkata blakblakan, "Kalau begitu lupakan saja, kalau memang yang kuminta tadi kau rasa berat untuk dilakukan." Lebih dari bijak dan bisa memahami Hana yang menurutnya masih membutuhkan waktu lebih lama lagi menyesuaikan perasaan.
Agak disayangkan Lukas, Hana juga belum bisa menyadari, ada perasaan cinta di tiap kali Lukas sendiri sedang menyebut atau memanggil nama padanya...
Karena tidak ada komentar dari sang istri, ia mengalihkan tema pembicaraan dengan mengulurkan HP kehadapan sang istri, "Ada undangan. Lihat dan bacalah sebentar."
Hana mengerutkan kening menerima HP itu, melihat ke layar menyalanya...
Lalu jelas Lukas sembari istrinya membacai tulisan pada layar, "Undangan pernikahan putri teman kerja, Hana. Kalau kau tidak keberatan, tolong temani aku menghadirinya.
Dia itu lebih dari teman bagiku. Sudah seperti saudara, kakak, jadi, kurasa dia akan senang sekali kalau aku bisa datang denganmu."
Ini sebuah pemberitauan awal via pesan singkat sebelum bentuk undangan formalnya menyusul disebar, teliti Hana. Masih lama, hari Sabtu, 1 bulan mendatang..."Ya, akan kutemani." Suaranya terdengar menggumam, mengembalikan HP pada suaminya.
"Terima kasih. Dan kalau bisa, jangan sampai bentrok dengan janji temanmu andai dia berniat datang di tanggal itu." ujar Lukas menerima HP nya.
"Iya. Akan kuingat." sahut Hana.
"H-mh. Baguslah."
"Mungkin tidak sampai 1 bulan dia sudah akan datang. Dia benar-benar cuma ada waktu di hari Sabtu atau Minggu saja. Itu kalau dia tidak ditugaskan lembur kerja."
"Apa pekerjaannya itu?"
"Wakil kepala HRD di sebuah perusahaan telekomunikasi."
"Oo...hebat."
__ADS_1
"Dia berencana datang...dengan pacarnya. Apa boleh?"
"Boleh. Tentu. Kenapa tidak?"
"Oke. Trima kasih."
"Pekerjaan pacarnya itu?"
"Namanya David. Staf manajemen sebuah vendor perusahaan farmasi. Petugas distribusi obat-obatan ke beberapa Rumah Sakit di Jabodetabek ini."
"Oo...menarik juga. Dan ngomong-ngomong tentang kunjunganmu ke Rumah Sakit, sudah berapa kali kau pergi kontrol?"
"Ke 8 minggu, 12 minggu, 16 minggu, 22 minggu, dan yang selanjutnya minggu ke 25."
"Hmm... Berarti Jumat depan itu pemeriksaan ke 25 minggu?"
"He-eh. Mungkin aku...akan melakukan USG. Yang pertama kali. Seharusnya...sejak kemarin-kemarin sudah dimulai."
"Kalau begitu di Jumat depan itu saja. Aku akan menemanimu."
"Iya. Trima kasih."
Pria itu jauh lebih sering memandangi Hana dibanding sebaliknya ia terhadap pria itu. Lebih sering memulai percakapan lebih dulu, dan tak begitu kaku atau dingin.
Tidak seperti Hana terhadapnya...
Tentu saja. Sampai kapanpun ia tak kan mungkin bisa menyamai kesupelan seorang Lukas Hirlandi.
Usia yang jauh lebih muda, satu kali saja pengalaman berpacaran dan itupun hanya di masa SMA, lalu bertemu dan menikah dengan Lukas lewat pertemuan sangat singkat, sebelum memiliki situasi hidup pernikahan dan rumah tangga yang bisa dikatakan tidak biasa, tak heran ia terkadang masih 'kesulitan' menghadapi pria suaminya tersebut.
Seperti yang sedang berlangsung ini...
"Hana," Lukas memanggil usai jeda beberapa menit dalam diam-diaman.
Sekilas memandang, Hana menyahut samar,
"Hm?" Mencoba terlihat tenang padahal pada balik selimut yang ujungnya masih hingga dagu, tenggorokan itu terasa tercekat.
__ADS_1
Tatapan mata Lukas yang tak lepas darinya, sekarang ditambah nada dari cara memanggil yang terlalu lembut ini...wanita itu merasakan dirinya bagai terus dipancing dan terpancing... Melemahkan segenap titik-titik syaraf utama di dalam sana, sekaligus memacu peningkatan hormon tertentu itu.
"Mmm..." Lukas ragu-ragu. Sangat ingin mencetuskan keluar kalimat penjelasan tentang dirinya sudah putus dari Meiska, dan ingin memulai hubungan baru yang benar-benar baru, dari awal, dengan Hana, namun lidahnya terasa kelu untuk digerakkan.
Hana menoleh memandang keragu-raguan suaminya, dan mempertimbangkan untuk menunjukkan perhatian, "Kenapa? Kamu mau ngomong apa? Katakan saja."
Ucapan Hana yang terdengar begitu lembut perlahan justru semakin menambah keraguan di hati sang suami. Sudahlah tak jadi saja. Nanti saja, kapan-kapan.
"Tidak. Aku cuma mau mengatakan...aku sangat menikmati mengobrol denganmu menjelang tidur seperti ini," dusta Lukas sambil buru-buru menambahkan, "Tapi tak usah dijadikan kebiasaan. Kadang-kadang kalau sudah sampai di kasur begini, di jam-jam sekitar jam ini, aku maunya langsung tidur dan terlelap saja."
"Ooh, begitu." Hana manggut-manggut. Sempat mendugakan akan hal lain.
"Iya...begitu."
Sepulang dari rumah Meiska beberapa hari lalu, bersama goyahnya pertahanan hingga kembali mereka berdua melakukan percintaan, Lukas tak bisa memungkiri, ia teramat terganggu dengan pengkhianatan yang telah ia lakukan. Terhadap janji di dalam hati yang ia tetapkan sendiri.
Jadi ia butuh segala apapun yang Hana bisa berikan untuk memberinya kekuatan bertahan. Apapun.
Walau tidak semudah membalik telapak tangan dalam mengharap Hana agar mau 'menolong'nya. Mengingat sekadar mengucapkan namanya pun Hana masih sulit melakukan.
Lukas tersenyum pahit. Berharap pada yang tak mungkin...tak mengapa dicoba. Tapi tidak sekarang. Sudah semakin malam, waktu tak lagi mendukung.
"Aku akan mencoba menanyakan Lastri, mungkin mereka bisa datang di hari Sabtu atau Minggu lusa. Hari Jumat minggu depan sudah pasti hari ke Rumah Sakit. Dan Sabtu atau Minggu besoknya, kamu mungkin bisa menukar hari kerja Jumat ke salahsatu hari itu. Bagaimana menurut kamu?"
Menurutku, bisik Lukas dalam hati saat membalas tatapan Hana, menurutku memulai hubungan baru yang benar-benar baru itu, dari awal itu, adalah dengan saling berbicara dan bertukar cerita, banyak cerita, secara terbuka, seperti 2 orang yang baru saja bertemu dan berkenalan. Tentunya dengan kita berdua tidak lagi membawa-bawa tema 250 juta rupiah ke permukaan.
Hingga kedepannya nanti akan memudahkan bagi kita berdua untuk lebih memahami dan menerima, sebelum memperbaharui perasaan serta hubungan--
"Bagaimana?"
"Ha? Oh--maaf--apa tadi?" Pemikiran sesaat itu telah membuat Lukas luput menyimak, membuat Hana terang-terangan bereaksi mengekspresikan manyun merajuk,
"Malah melamun. Tidak dengar omonganku."
Tertawa kecil demi menyadari kekhilafan, maka Lukas pun mencoba menyenyumi Hana,
"Maaf-maaf. Aku tadi mendadak terpikirkan sesuatu. Coba, ulangi lagi, apa tadi yang kau tanyakan?"
__ADS_1
###############