
&&&&&--&&&&&
"Boleh seperti yang kuminta tadi? Aku sedang ingin...merasai kamu dengan cara yang seperti itu."
Sentuhan ujung jari Hana di bibirnya, serta kalimat yang terakhir ini, membuat Lukas lemas namun masih cukup mampu untuk menganggukkan kepala 1x.
"Bila itu yang kau mau," senyum pria itu, memberi kecupan ke ujung jari Hana yang berhenti tepat di tengah permukaan bibir pria itu.
Balas tersenyum Hana memindahkan objek penelusuran malas-malasannya, kini ganti mengusapi dan mencubiti ringan bidang berbukit liat dada sang suami.
"Katanya sih itu cara teraman nomor 1," tambahnya, menyengir malu-malu menghindari arah pandang Lukas. "Dan kalau ternyata setelah itu aku tidak kenapa-kenapa, berarti bisa berlanjut...ke yang lain?"
Ke yang lain...sama dengan : percintaan demi percintaan, permainan se*s demi permainan se*s, gaya demi gaya bercinta, di waktu dan kesempatan lain.
Sekali lagi Lukas memberi anggukan kesanggupan. "Hmh. Apapun yang kau mau."
Wahh...
Aneh bin ajaib.
Senyuman penuh arti Hana malah menjadi sasaran Lukas yang kemudian menunduk lalu mel*mat bibirnya, sedikit kasar, menyusul melakukan gerakan khas menggesekkan area a*at vital ke sisi pinggul Hana, menghasilkan sensasi yang membuat wanita itu lebih memejam lagi untuk lebih menikmati pergesekan yang sedang terjadi di antara kulit telanjang femininnya dengan kejantanan nan maskulin sang suami. Beberapa saat, hingga wanita itu merasakan Lukas menyudahi ciuman dan pergerakan.
Hana membuka mata, seketika itu juga mendesahkan Oh dramatis karena k*luman mulut Lukas ternyata berpindah ke puncak pay"daranya...
Mengulum puti*g lalu merangkum dan me*emas-rema* pada bongkahan dagingnya, menjilat-jilati lalu menggigiti kecil sebelum menjentikkan dan menjepit sedemikian rupa...kedua puti*g dan buah dada Hana untuk sesaat menjadi bulan-bulanan aksi kelaparan Lukas yang tak ketinggalan menggumuli juga bagian itu dengan wajahnya.
Hana bergetaran hebat, kewalahan menekan reaksi. Permainan cumbu rayu Lukas terhadap buah dadanya amat sangat menyakitkan namun sebenarnya nikmat tiada tara. Melebihi malam pertama. Karena itulah wanita itu tak meminta berhenti, sebaliknya tanpa sadar ia mendekap kepala Lukas dan lebih menekannya lagi, seolah lebih menyodorkan diri semasih pria itu mencumbui secara sembarang nyaris liar dengan sesekali berpindah mencium dari area payadara ke bagian lain Hana. Dada ke atas, leher, bahkan hingga sekujur kepalanya.
"Ahh... Lukass..." Hana menggigit gigi, mengekspresikan ringisan kesakitan manakala sang suami fokus kembali mengulumkan mulut ke puti*gnya. Seolah hanya mengabaikan ketidak berdayaan yang dialami Hana akibat dari permainan cumbu rayu panas pria itu.
__ADS_1
Sangat bergairah, benar-benar jauh melebihi apa yang pernah diterima Hana dari Lukas di malam pertama mereka dulu. Karena pada waktu itu Lukas memang hanya bercinta dengan sang istri secara apa adanya. Kalau bisa disebut bercinta dengan setengah hati. Begitupun pada momen-momen percintaan lain setelah malam pertama tersebut.
"Aku ingin menghisap ini..." Lukas lalu terdengar menggumam samar di antara gerakan lidah menjilatnya pada si mainan, "...tapi sepertinya akan ada yang mengeluarkan diri dari sini menyambutku bila aku melakukan itu." Pria itu tertawa, merenggangkan tubuh, melihat pada Hana. Sangat nyata diliputi gairah dan kepuasan.
Hana mempertemukan pandangan mereka berdua, mencoba bersuara meski jadi terdengar lirih. "Aku tidak tau. Apa iya akan begitu?"
Lukas langsung bereaksi mengangkat satu tangan, "Aku menolak mencobanya."
Tawa lirih Hana terdengar menanggapi. Kemudian sambil menghembus napas ia berkata mengalihkan tema.
"Lukas... Sekarang saja..."
Ke permainan inti. Lukas mengerti. "Sekarang? Yakin kau sudah cukup waktu menarik napas?"
"Sudah," angguk Hana.
Sesudah mengambil instirahat sejenak usai klima*s dari permainan se*s oral Lukas beberapa saat lalu, Hana mengajukan permintaan gaya bercinta pada pria itu yakni melakukan senggama di pinggir tempat tidur dengan Hana memposisikan bokong tepat berada di sisi ranjang, dan Lukas berlutut di lantai beralaskan sebuah bantal menghadap kedua kaki membuka lebar wanita itu.
Sebuah bantal cukup gemuk tersebut dibutuhkan untuk membuat berlututnya Lukas nyaman, sekaligus mengimbangi tinggi dari ranjang dan spring bed ke posisi keberadaan Hana.
Karena pria itu sudah bersedia menyanggupi, maka tak lama kemudian mereka berdua pun memulai melakukannya.
Masih sama-sama bertelanjang diri penuh hasrat dan gairah, perih di sana sini beberapa bagian tubuh atas Hana yang sebenarnya sangat disadari sang suami, keduanya menempatkan diri pada posisi masing-masing.
Hana di tepi tempat tidur sudah begitu lembab dan basah. Lukas dalam posisi berlutut tegaknya hanya setengah terangsang, belum benar-benar total, tapi ia yakin hal itu akan segera terjadi begitu ia sudah membenamkan diri ke dalam Hana nanti. Melihat wanita istrinya ini sudah pada posisinya yang sedemikian ini saja, itu sudah membuat diri Lukas berangsur mengeras. Tak lagi butuh pemanasan.
"Hana...aku akan memasukimu sekarang," bisik pria itu lembut. "Bersiaplah."
Menarik napas sedikit tercekat Hana memberi anggukan. "H-mh. Aku sudah siap."
__ADS_1
Sangat siap. Untuk merasakan lagi keberadaan Lukas di dalamnya. Setelah sekian waktu ia kehilangan diri pria ini.
Pria ini miliknya seorang sekarang. Dan ia sedang sangat ingin merasakan lagi percintaan. Inilah alasan dibalik ia memberanikan diri mengajukan ajakan bercinta, tak lain dan tak bukan adalah untuk bersatu lagi dengan pria yang sangat dicintanya ini, yang ternyata tidak menampik sama sekali apa yang ia mintakan.
Sedangkan di pihak Lukas, pria itu sudah lebih dari siap untuk kembali memiliki Hana. Tak berniat mengemukakan tanya mengapa Hana mendadak meminta mereka bercinta, perubahan sikap wanita istrinya ini pastilah penyebab dimungkinkannya semua ini terjadi.
Adapun perut besar membuncit Hana di depan mata adalah pemandangan baru bagi Lukas dalam persiapan bercinta ini. Akan menjadi suatu tantangan tersendiri bagi mereka berdua, akan segera mengetahui seperti apakah bentuk pengalaman bercinta gaya terbaru ini.
Hana bereaksi merintih saat Lukas perlahan mendorong memasukinya, dan sedikit demi sedikit terus berusaha memasukinya, dengan sesekali mendorong maju dan menariknya mundur...menahan diri, maju lagi. Semakin dalam pria itu memasuki, pria itu pun menemukan gurat kesakitan dari sang istri. Lantas sejenak ia berhenti.
"Kau benar-benar masih sesempit dulu... Katakan kalau ini memang menyakitimu."
"Masih bisa kutanggung. Teruskan saja, dan yang seperti ini saja."
Lukas mau tak mau menuruti, meneruskan, tapi sangat bisa mengerti. Kehilangan keperawanan baru beberapa bulan lalu, bahkan hingga ke yang di kali ini mereka berdua baru bercinta 7x saja.
Hanya 7x saja, ia diam-diam menghitung dan menyimpan angka itu dalam benak. Karena ia sangat mahir dalam bidang penghafalan dan kalkulasi.
"Hana..."
"Hmhh?"
"Aku akan bergerak sekarang."
Sang istri diam tak menyahut, hanya mengangguk pelan. Memang kejantanan Lukas sudah seluruhnya amblas ke dalam wanita itu. Tinggal menunggu pria ini bergerak dan bergerak, kedalaman Hana pun menanti untuk segera mencengkramnya. Seperti dulu.
Sang suami bergerak dan bergerak... Gerakan penestrasi. Suatu pergerakan inti. Masih dilakukan perlahan, sambil pria itu memberi perhatian ke depan.
Dan agar Hana semakin lebih nyaman lagi dalam berposisi sedemikian ini selama Lukas melakukan penestrasian ke kedalaman dirinya, Lukas menggunakan separuh kekuatan saja, dengan tanpa pernah lepas memegangi tungkai-tungkai Hana yang pria itu kepitkan ke sisi tubuh...
__ADS_1