
&&&&&-&&&&&
"Ayah yang memesankan pada siapapun di sini, Lukas...
Itupun juga, ibumu sendiri yang lebih dulu meminta supaya sakitnya tak perlu diberitaukan padamu."
Ferdinan ayah Lukas, berusia sama dengan ibu Lukas dan telah cukup lama hidup berkursi roda karena penyakit radang sendi, memberi penjelasan begitu putera nomor 3-nya Rafael terlihat diam menunduk saja, tak ingin menjawab yang ditanyakan Lukas padanya.
Lukas tak menyembunyikan kekesalan saat menghempas duduk ke salah satu kursi, di ruang tamu rumah orangtuanya itu, "Kenapa memang? Kenapa aku tak perlu diberitaukan, ayah?" Pria itu selintas melirik Rini yang muncul menyusul masuk rumah, usai dari luar menutup dan mengunci pintu gerbang.
Masih di ambang pintu Rini menujukan arah pandang pada Hana. Tertangkap Hana lantas tak jadi duduk, memilih merespon isyarat dari adik ipar yang melambai kecil dekat dada.
Sang adik ipar bermaksud menunjukkan kamar bagi Hana dan Lukas selama menginap di situ.
Hana pun undur diri secara sopan, mengikuti Rini ke belakang sambil menguping jawaban dari ayah mertua yang sempat terdengar.
'tidak kenapa-kenapa. karena semula kami pikir sakit ibumu cuma sekadar sakit tua biasa, yang butuh opname sebentar saja.
tapi ternyata sesudah 2 hari di sana kondisi ibumu malah terus menurun. akhirnya harus di transfer ke icu dan dipasangi alat bedside monitor itu. memantau jantung dan pernapasannya, tekanan darahnya, dan juga kadar oksigen pada ventilator...'
Rini bersama Hana pada ruangan lain,
"Di sini kalian tidur ya kak, di kamar lama kak Lukas ini. Tidak apa-apa kan dekat ke dapur? Soalnya kalau kamar yang di atas, bisa merepotkan kakak naik-turun tangga."
Memandang ke sekeliling Hana mengangguk-angguk dan menjawab, "Iya, tidak apa-apa, di sini saja," Pertama kali mudik ke Solo 10 bulan lalu, ia tentu saja belum diijinkan meski sekadar mampir ke dalam kamar Lukas. Dulu dalam proses mempersiapan pernikahan, di Solo ini ia dan ibunya menginap di hotel... "Ohya mbak Rini, ngomong-omong, ayah-mbak Rini-mas Rafael semuanya ada di rumah...lalu yang menjaga ibu sekarang di RS, siapa?"
Sambil menarik pada pegangan koper yang tadi sudah diantar Rafael ke dekat pintu kamar, dan kini ditempatkannya benda itu dekat kepala ranjang, Rini menyenyumi sang kakak ipar, "Ada koq, kak, ada yang jaga. Om Budi adiknya ibu yang sekarang menginap di sana. Dan kami semua kumpul di sini malam ini...memang sengaja. Ayah yang menyuruh, untuk menyambut kalian datang."
"Oo--begitu."
"Iya." Beres membenahi barang-barang bawaan Hana ke dekat ranjang sambil bicara, Rini lalu berjalan menghampiri ke hadapan Hana, tanpa segan mengusapi lembut perut membuncit wanita itu, "Ih, perut kak Hana sudah semakin besar saja ini. Sudah ada 7 bulan kah?"
Senyum Hana menanggapi istri dari adik dibawah Lukas itu sangat jelas menyiratkan malu-malu, "Belum. Baru juga 6 bulan 2 mingguan,"
Rini membentuk huruf O pada mulutnya, berikut memanggut-manggutkan kepala.
__ADS_1
Hana menambahkan dengan paras masih malu hati, "Nafsu makanku super lancar, mbak. Tidak ngidam dan sangat selera pada semua makanan, tidak mual-mual atau muntah, tidak anti bau-bauan ini itu, yah, akhirnya kenaikan berat badanku pun jadi ikutan lancar."
Cengiran Rini merekah, "Pantesaan. Dari pertama ketemu di stasiun tadi aku memang sudah mau mengomentari kak Hana yang kelihatan sedikit gemukan. Hehehe...sorry lho."
"Hehe...it's oke, tidak apa. Aku sendiri nyadar koq, merasa banget mulai gemukan sekarang. Buat apa fakta nyata harus disanggah?" Hana bernada bergurau.
Rini makin nyengir, sebelum berkata serius, "Jangan terlalu dipikirkan, kak. Tenang saja. Di keluarga ini punya ramuan rahasia keluarga mumpuni yang bisa bikin kakak cepat kurus sesudah melahirkan nanti. Aku saja sudah 3x melahirkan bisa banget merasakan keajaiban resep ramuan itu. Nanti aku yang akan membuatkannya untuk kakak minum. Oke?"
"Serius ada? Wahh...syukurlah. Oke deh, kalau begitu nanti-nanti akan kukonsumsi. Hehe... Trima kasih banget, mbak."
"Sama-sama, kak. Ngg...by the way, boleh tanya sesuatu?"
"Tentu. Tanya saja. Mau tanya apa?"
"Tidak usah kakak jawab kalau segan menjawab."
"Oke. Apa?"
"Pacar kak Lukas...psst...apa kak Hana sudah pernah ketemu orangnya? Apa dia pernah nekat datang bermain ke rumah kalian?"
"He-eh," angguk Rini cepat, tak sadar tadi ia menyebut pacar, bukan mantan pacar, bikin Hana kheki, "Apa kak Lukas...masih berhubungan dengan dia?"
Hana tak urung tambah kheki. Adik ipar Lukas saja ternyata masih menyimpan ketertarikan membahas kekasih Lukas, bahkan setelah pernikahan pria itu dengan perempuan lain. Wanita itu dalam hati mendesah, menggeleng pada Rini,
"Tidak pernah. Dia 1x pun tak pernah menginjakkan kaki ke rumah kami. Dann, aku kurang paham apa mereka berdua masih berhubungan atau tidak."
"Oo..." Kepala Rini ke sekian kali nampak terangguk-angguk, "Sst, kak, jangan kasih tau siapa-siapa ya? Ini rahasia antar kita berdua saja sebagai iparan...
Kalian berdua pasti tidak pernah 'ngeh, kak Lukas sebenarnya sudah bikin heboh di keluarga besar kita lho, kak. Diam-diam selama ini beberapa famili keluarga ini penasaran dan menggosipkan kalian, membahas tentang kenapa kalian berdua bisa kenal singkat lalu secepat itu menikah.
Sementara seluruh dunia tau betul kalau kak Lukas itu ibaratnya...cinta matinya cuma sama si Meiska. Begitupun perempuan itu ke kak Lukas.
Bahkan mereka para famili menganggap ibu mertua kita berdua jatuh sakit, ya gara-gara masih terus kepikiran, apa puteranya masih menjalin hubungan dengan wanita itu atau sudah betulan bubaran.
Sst, malah mungkin itu yang bikin ibuu...tak mau memberitaukan sakitnya ke kalian!"
__ADS_1
Aduuh...
Kali ini Hana mengerang di dalam hati.
"Maksud jelasnya apa, mbak?" Dengan mengernyit bingung wanita itu membawa Rini duduk ke tepi tempat tidur, keduanya duduk berhadapan, "Ibu masih belum bisa yakin atau percaya kalau anaknya..."
Rini terlihat betul sedang dalam suasana hati bersemangat berbagi cerita pada sang kakak ipar, yang nota-bene lebih muda 3 tahun dari usia 34 menjelang 35 nya.
Meski hari sudah cukup malam menjelang pukul 11 dan Hana seharusnya sudah langsung berbaring beristirahat,
"Ya pokoknya cuma seperti itu yang bisa kusampaikan ke kamu, kak. Intinya famili mereka masih menggosipkan kalian berdua.
Maklum saja, kak Lukas 'kan sekarang sudah berlevel tinggi di mata mereka.
Dulu sekali bukan siapa-siapa, begitu punya pekerjaan hebat, sukses pula dengan penghasilan sampingan dari bermain saham itu, hmmh...kak Lukas langsung menjelma menjadi orang yang paling mereka perhitungkan.
Ditambah pernah punya skandal terlarang tentang wanita...masihh--ditambah lagi keputusan dadakan dia menikahi kak Hana...ya lengkaplah sudah, kalian terutama kak Lukas jadi rutin dijadikan bahan rumpian mereka."
Oalah...
Sebegitunya kah?
Mungkin mengerumpi di acara kumpul-kumpul semisal arisan keluarga, atau mungkin di grup Whatsapp, pikir Hana. Ya keluarga di Jabodetabek, ya keluarga di daerah.
Lalu bila dirinya dijadikan bahan gosip, disebut apa lagi kah dirinya selain dianggap terlalu janggal kenal 2 bulan kurang dengan Lukas lalu mau-mau saja dinikahi pria itu, di antara masih eksisnya skandal pria itu dengan Meiska?
Hana harus mengakui, selama ini ia memang tak pernah terpikirkan hal yang sejauh dan sedalam ini.
Hidupnya memang melulu terpikirkan Lukas, tapi bukan te*ek bengek yang ia hubungkan ke keluarga besar Lukas.
Benar-benar keluarga yang cukup besar, mengingat ayah Lukas adalah anak ke 3 dari 10 bersaudara dan ibu pria itu pun tak jauh beda, adalah anak ke 5 dari 7 bersaudara.
Sementara ibu kandung Hana hanya seorang anak tunggal yatim piatu. Dan Hana sendiri hanya memiliki 1 saja saudara kandung, yakni adik laki-laki yang kini sedang menghuni penjara.
&&&&&-&&&&&
__ADS_1