
Pengakuan Lukas di ICU RS di Solo bukanlah suatu hal sepele. Yang hadir seperti ayahnya, Rafael berikut 3 anak dan istri, Tiara yang datang dari Banten bersama suami dan seorang anak tunggal 11 tahunan, sangat jelas mendengar... Namun hingga ke akhir prosesi besar kemarin itu, tak ada satupun dari mereka yang 'berani' membahas pengakuan Lukas tersebut.
Termasuk Hana.
Hingga di detik ini ya ia masih antara percaya dan tak percaya. Tapi sekadar mengucap satu saja huruf menyinggungkan hal itu kepada Lukas, ia tak punya nyali.
Dan sekarang kekasih pria itu sedang menghubungi, Hana jadi bingung juga ada apa gerangan dengan wanita itu. Tambah bingung saat ditutupnya permukaan speaker HP lalu berputar melihat pada Lukas, ia tidak yakin harus berkata apa sebaiknya pada Lukas.
Dalam kebingungan itu Hana lebih dulu mengirimkan sinyal sorot mata memohon maaf kearah suaminya, "Seorang temanku di tempat kerja dulu," Hana terpaksa memilih berbohong, "Itu, ada hal penting yang perlu dia bicarakan sekarang juga."
Kemudian sembunyi-sembunyi dibebaskannya speaker HP supaya yang ini jelas terdengar Meiska atas interupsi yang lama, "Jadi apa boleh buburnya...kukerjakan nanti 10 menitan lagi? Aku sekarang mau menjawab telpon ini di bawah."
Lukas, berbaring bersandar pipi pada guling yang dipeluk sambil balas melihat pada Hana, kemudian mengangguk lembut, "Pergilah. Dan santai saja. Kebetulan aku memang belum lapar, belum selera makan. Aku sekarang mau tiduran lagi saja sebentar."
"O begitu." Hana pun mengulas senyum singkat, "Ya sudah kamu tiduran lagi saja. Kutinggal ke bawah sekarang ya?"
Lukas hanya mengangguk lagi saja. Lalu Hana berlalu dari kamar meninggalkannya.
Wanita itu berjalan menghampiri tangga, menuruni hati-hati sambil mendekatkan lagi HP ke telinga,
"Hallo?"
'halo hana?'
"Iya, sudah. Dia di dalam kamar. Aku bicara di tangga sambil mau ke bawah."
'ooke...trima kasih.'
"Iya. Ada apa? Bicaralah."
'ya. maaf kalau saya sedikit mengganggumu di pagi-pagi begini. saya sudah ngga sabaran saja nunggu siangan dikit menelpon kamu.'
"Oo..."
'jadi lukas ada di rumah? tidak berangkat kerja?'
"Seharusnya sudah masuk kerja.Tapi karena katanya lagi kurang enak badan, hari ini dia mau cuti dulu."
'oo...begitu. kasihan juga, dia baru kehilangan ibu. mungkin gak enak badan karena masih sedih kepikiran ibunya itu.'
"Iya. Mungkin."
'tapi saya masih agak penasaran lho, hana. saya dengar informasi yang mengatakan kalian lengkap di saat ibu lukas menjelang ajal. koq bisa?
seolah sudah tau saja kapan hari dan jamnya ibu tami akan meninggal... bahkan tiara sekeluarga tepat waktu datang dari jakarta jumat sore. juga beberapa famili lukas, sehingga cukup ramai juga ya didetik-detik meninggalnya bu tami itu?'
"Oh itu. Itu cuma kebetulan, mbak. Dari Jumat siang dokter memang sudah melihat dan memperhatikan kondisi ibu terus menurun. Semakin kritis dan mengkhawatirkan."
'ooo...'
"Di jam besuk sorenya, beberapa famili sengaja datang membesuk tapi tidak langsung pulang. Mereka...lama mengajak mengobrol aku dan suamiku. Jadi benar-benar cuma kebetulan saja ibu berpulang saat sedang ramai dibesuk."
'begitu rupanya... yah, begitulah kalau pasien sudah sempat masuk icu. umurnya biasanya tidak akan bisa lama. apalagi bagi pasien lansia seperti almarhumah.
__ADS_1
tau tidak, kalau tidak ingat lukas sudah menikah dengan kamu, saya pasti sudah akan datang menghadiri pemakaman beliau.'
"Jadi kenapa mbak tidak datang saja?"
'tidaklah. saya tidak mau jadi perusak acara.'
"Memangnya kalau mbak datang acara lantas rusak?"
'hahaha... tak taulah. no komen.'
"Kalau datang baik-baik, tentunya akan tetap diterima baik-baik."
'mungkin. ah, sudahlah, lupakan membahas itu. ngomong-ngomong seperti yang saya katakan tadi kalau saya mau bicara sedikit dengan kamu...kamu keberatan, tidak?'
"Silahkan saja."
'sebelumnya...mm, boleh saya tanyakan dulu sesuatu?'
"Apa?"
"ngg...bagaimana kalian berdua bisa saling kenal lalu memutuskan menikah?'
"Dia tidak pernah cerita itu pada mbak?"
'jujur, tidak. saya sempat berkali-kali menanyakan ini ke dia...hasilnya nol.'
"Bagaimana kalau aku juga...tidak mau menjawabnya?"
'oh hanaa... please lah?'
'jadi jangan bohongi saya.'
"Intinya aku kenal dia karena ibuku dan kakaknya semasa hidup pernah bersahabat. Itu saja yang bisa kuberitau ke mbak."
'oo... lah lalu kalian akhirnya menikah?'
"Maaf, yang itu, tidak bisa kuceritakan."
'tidak juga saat ini, saat aku sudah akan segera melupakan kalian semua?'
"Hah? Maksud mbak?"
'sebenarnya...aku sudah pamitan pada lukas. 3 hari yang lalu. dan sekarang aku kepingin juga berpamitan dengan kamu.'
"Pa-pamitan?"
'iya. aku mau meninggalkan dunia ini.'
"Haa?!"
'hahaha...bukan mau mati, hana. aku cuma mau meninggalkan dunia yang penuh hingar bingar ini... menuju dunia yang lebih tenang, damai dan nyaman.
aku berencana mau masuk biara.
__ADS_1
aku sudah mendaftarkan diri untuk menjadi seorang biarawati di kampung kelahiranku di flores.'
"Ohh...mbak Meiskaa..."
'sejujur dan setulusnya, sebenarnya ini sudah lama menjadi panggilan hatiku.
sejak di usia remaja, hana, aku sudah bercita-cita ingin menjadi seorang biarawati. tapii...rupanya baru diusia menjelang 40 ini aku berani mengeksekusi keinginanku ini...'
"Oh Tuhan, mbak..."
'hana...aku bermimpi menjadi biarawati bukan karena aku punya fobia atau paranoid pada dunia ini, atau kehidupan pernikahan.
mungkin kau sudah mendengar sedikit tentang aku dan siapa aku. tentang rasa paranoidku pada yang namanya pernikahan, tidak-tidak...tidak ada hubungannya dengan istilahnya pelarian itu. tidak ada hubungannya antara perasaanku itu dengan niat ingin masuk kapel ini.
oke kita lupakan lagi saja tentang itu... itu toh bukan menjadi urusanmu.
jadi kalau tentang hubunganku dengan lukas...kau jangan khawatir, kami sudah lama end. berbulan-bulan lalu. persisnya 1 hari sebelum hari ulang tahunnya bulan lalu.
lukas sendiri yang memintaku untuk mengakhiri hubungan kami.
sewaktu kutanyakan kenapa dia tiba-tiba ingin mengakhiri, dia memang tidak juga memberi jawaban jelas. hanya 1x pernah menyeletuk bahwa sudah waktunya dia menyenangkan hati ibunya yang selalu sedih mengetahui hubungan kami berdua.'
"Oh ya ampun..."
'lukas itu pria yang sangat sangat dan sangat baik, hana.
aku sudah lebih dari kenal baik dengan mereka para anggota keluarga lukas.
bahkan kedua orangtuanya, kakak-adiknya, ipar-iparnya, hampir seluruhnya cukup mengenal aku juga. 10 tahun menjalin hubungan transparan dengan lukas, mungkin mereka hanya terlalu segan saja untuk blak-blakan menjadikanku seperti bagian saudara sendiri. diluar adanya ketidak sukaan ibunya.'
"Mereka bisa menerima kehadiran kamu...selama itu? Seperti itu, itu?"
'sepertinya sih begitu.'
"Lalu mengapa kalian berdua..."
'anggap saja kami berdua belum ada jodoh. tidak ada jodoh. sesederhana itu saja.'
"Ohh..."
'lukas selain baik, juga sangat setia. dia bukan tipe pria gampangan. yang gampang jatuh cinta pada wanita, yang gampang dipengaruhi, yang gampang didekati... jelasnya, meskipun sudah 42 tahun, dia masih punya sifat pilih-pilih pada yang namanya wanita.
itu sebabnya, aku sempat kaget dan heran diawal mendengar cerita tentang kalian berdua yang akhirnya jadian.
aku jadi bingung, lho.
lho koq bisa? ... maaf, koq bisa segampang dan secepat itu dia mau menerima kamu untuk menjadi istrinya?'
".........."
'maaf beribu maaf, hana...jangan jadi salah paham... yang naksir pada dia itu seabrek-abrek!
bahkan biarpun perempuan-perempuan itu tau betul aku dan lukas sedang menjalin hubungan, mereka tidak perduli. terus saja mengejar lukas, berusaha memikat perhatian suamimu itu.
__ADS_1
berusaha kepingin bisa terpilih menjadi istri lukas, dengan lukas memilih mereka.
apa lukas pernah bercerita padamu perihal yang satu itu, hana?'