
Secara otomatis Hana menutup mata sebelum mencondongkan tubuh menerima dan membalas ciuman suaminya...lebih mencondong dari yang pria itu lakukan, seolah tak mau membuat Lukas repot-repot memajukan diri di antara adanya si perut besar itu.
Saat berciuman, mata istrinya akan selalu reflek terpejam, tak pernah membiarkan mata itu membuka, Lukas tau itu kenapa. Sebagian kecil memang karena ingin lebih menikmati dan fokus tapi sebagian besarnya lebih karena sang istri yang berperasaan sensitif, semakin merasa sensitif lagi saat mereka berdua sedang melakukan hal pribadi dan intim ini... Sehingga dengan menutupkan mata istrinya sambil pula mengatasi tekanan emosional kuat seperti grogi atau malu-malu itu.
Seperti itulah yang terbaca dan mulai dipahami oleh Lukas.
Karenanya, pria itu tidak pernah mengomentari, tak peduli kadang diinginkannya juga agar Hana sesekali melihat ke wajah atau matanya saat mereka sedang berciuman. Karena seorang Lukas adalah penyuka adegan kontak mata disela aktivitas berciuman, hal yang bisa meningkatkan daya rangsang di dalam diri pria itu.
Walau pria itu sangat menyadari ciuman dengan mata terbuka bukan ide yang bagus misalnya bisa membuat pasangan menjadi tak nyaman.
Selain itu, pria itu juga tau betul kegunaan menutup mata, maka otak akan lebih responsif terhadap sentuhan yang terjadi sehingga sensasi yang timbul pun bisa lebih maksimal.
Sudah cukup maksimal...baginya Hana selalu maksimal di setiap kali meladeni kegiatan ini, dengan mata yang hanya istrinya pejamkan.
Seperti di saat ini, Lukas bisa merasakan Hana bersungguh-sungguh membalas ciumannya. Penuh perasaan berpegangan erat pada kedua bahu pria itu, terus membiarkan pria itu dengan sedikit menunduk melakukan eksploran demi eksploran pada bibir hingga ke kedalaman mulut terutama pada lidah Hana...
Tinggal menunggu sesaat lagi Hana terbiasa menyebut namanya, batin Lukas, sangat mempercayai hal itu kelak bisa terjadi.
Sementara itu, semasih berciuman intens dan dalam ini...karena tak punya pengalaman mencium wanita dengan perut hamil mencuat menonjol membatasi, manakala Lukas reflek ingin mendekatkan dan menyentuhkan kejantanannya ke kewanitaan bawah Hana, perut besar Hana alhasil menjadi penghalang.
Gagal melakukannya, pria itu terpaksa menarik bibir dengan enggan, menyudahi ciuman untuk sementara dengan menjauhkan sedikit wajah dari istrinya. Lalu mengamati perut Hana sambil menipiskan bibir.
Mata Hana berkedip membuka... Masih memegangi erat kedua bahu sang suami, wanita itu memperlihatkan pandangan mata sayu bertanya-tanya apa sebab suaminya mendadak menghentikan ciuman mereka.
Murni tidak wanita itu pahami.
"Beli saja." cetus Lukas pada Hana, nyaris bagai berputus asa.
Hana semakin terlihat bingung. Lukas menggedikkan kepala ke belakang, sebelum memberikan kecupan singkat ke bibir membuka sebagai pengekspresian kebingungan polos istrinya itu,
"2 gaun yang kita pilih tadi, Hana." jelas Lukas, memandangi kedua manik bola mata Hana bergantian, "Supaya tidak terlalu kelamaan mencoba semuanya. Karena aku...mau berlama-lama sebentar denganmu di sini. Di sofa itu." sambung pria itu cepat.
Oh ya ampun.
Hana paham sekarang.
Lebih dulu diteguknya air ludah lalu tanpa bersuara dianggukkannya kepala 2x.
Sama. Ia pun menginginkan apa yang sedang Lukas inginkan.
Apapun, yang suaminya ingin lakukan terhadapnya di saat ini juga...
Tapi kesinkronisasian kata-kata 'berlama-lama' dan 'sebentar' ?
Definisi detil istilah 'berlama-lama yang sebentar' bagi Lukas?
__ADS_1
Lupakan, tak usah ditanyakan. Suaminya lebih dari jenius untuk bisa memahami apa yang perlu diturutkan atau dibatasi. Bila suaminya sampai terlupa waktu, Hana yang akan tetap ingat waktu. Dan tempat.
Pertama-tama biarkan Lukas meneruskan niat hati menyalurkan lagi hasrat mereka ini, yakni dengan Hana mengikuti ajakannya...
"Ayo...kita ke sofa panjang itu."
Terdengar begitu mengundang dan menjanjikan.
Sisa debaran dan getaran dari gairah sehabis berciuman belum lagi hilang, kini Lukas sedang menawarkan kesenangan lain yang mungkin akan lebih lagi dari kegiatan tadi. Maka kesekian kali Hana mengangguk,
"Ya."
Yang ini belum bisa tertebak Hana apa kira-kira yang akan mereka lakukan di sofa sana.
Keduanya pun berjalan menghampiri sofa.
Lukas menghenyak duduk ke kursi yang paling panjang.
Hana hendak mengikuti ke samping pria itu namun...
"Bukan," Buru-buru pria itu mencegah dengan menarik lembut Hana dan menghelakan wanita itu hingga terdudukkan ke pangkuannya, dibarengi tarikan tercekat napas wanita itu, "Duduk di sini."
Astaga...
Duduk di atas pangkuan pria itu dengan posisi menyamping!
Ooh...
Dekat kemana lagi kalau bukan ke inti yang diisyaratkan Lukas, dengan samar menggerakkan yang sedang diduduki Hana itu.
"Lukas..." bisik Hana malu-malu. Tak sadar melakukan itu, segera menyadari begitu Lukas sendiri menyadarinya lalu menyenyuminya, tapi tak mau membahas.
Gejolak gairah masing-masing tersulut meningkat tajam setelah berposisi sedemikian ini, bisa dirasakan betul satu terhadap yang lain.
"Aku kesulitan tadi menyentuhmu di sini." Sambil tangan kiri mengalungkan satu tangan Hana ke pundaknya, Lukas menyentuhkan telapak tangan kanan ke permukaan bercela*a dalam kewanitaan Hana, menyusul melakukan gerakan menggosok-gosok di situ, membuat sang istri segera bereaksi merintih dan menggeliat tertahan mengikuti irama permainan jenari sang suami.
Sudah dimulai.
Lukas pun tersenyum memandangi istrinya, melanjutkan lagi kata-kata sekaligus cumbuan tangannya yang membelai, "Jadi dengan seperti ini...aku bisa menikmatimu dengan mudah... Kau keberatan?"
"Kamu...yang keberatan. Beratku, achh...sudah naik hampir 20 kilo." Tentu saja Hana hanya bergurau, maka suaminya segera menderaikan tawa.
"Jangan kawatir. Di Gym aku bahkan masih kuat mengangkat barbel seberat 100 kiloan." Pria itu juga bergurau. Hana mengangguk-angguk lugu saja. "Nah, jangan mengeluarkan suara, oke?"
"Su--? Ohh..."
__ADS_1
Belum lagi Hana menangkap jelas maksud Lukas, telapak kanan pria itu beraksi dan Hana akhirnya mengerti.
Reaksi geliat wanita itu semakin gencar. Di balik cela*a dalam itu, jemari menyelinap Lukas mulai menggerayang liar...sangat liar yang terampil dan menggairahkan. Mempertemuan kulit telapak tangan separuh kasar ke kelembutan mulus sang m**s v di sana.
"Kau suka?" senyum pria itu. Hana mengangguk lemah di antara kelimpungannya menghadapi jelajah tanpa henti jemari sang suami, "Rentangkan kakimu. Lebarkan sedikit lagi..."
Hana menurut. Memelukkan kedua tangan sekaligus ke seputar leher Lukas untuk menjaga keseimbangan, ia ingsutkan melebar sela pahanya yang berada di atas kedua paha keras kokoh sang suami.
Dan,
"Ohh... Aduh..."
"Sst...tahan suaramu."
"Hm-mh... Su-sahh."
"Kemarilah, lihat aku, cium aku. Kalau kita berciuman, kau takkan sempat bersuara apapun."
Lihat aku? Hana melakukannya, memandang pada wajah Lukas namun begitu pria itu menggigit kecil dan menarik bibir bawahnya, untuk kemudian merangkum dan mel*mat bibirnya sementara aktivitas lain di bawah sana terus berlanjut perlahan, diusap-usap dengan sekali waktu menyuruk masuk lebih jauh ke dalam, Hana lagi-lagi memilih memejam...
Gemas akan hal ini, Lukas menyeringai di sela berciumannya...
Tersembunyi di sana dalam dada masing-masing, detak jantung itu berpacu berkejaran, sungguh kewalahan menikmati kesenangan bagai tak terperi ini.
Dalam liang kewanitaan Hana pun terasakan nikmat bagi jemari Lukas yang bermain di sana. Apalagi Hana terus saja bergerak-gerak gelisah hingga mencengkram kuat bahu kanannya pada saat ia lebih mendesakkan dorongan kedua jemari, Lukas senang memperhatikan setiap reaksi yang diperlihatkan sang istri. Terutama pada cara Hana meredam suara merintih tertahannya.
Hingga beberapa menit kemudian...
Tiba-tiba Lukas terlonjak kaget bagai tersengat kalajengking. Namun di atasnya, Hana tak seberapa memperlihatkan rasa kaget.
Keduanya saling berpandangan lekat sesaat.
Aktivitas cumbu rayu tentu saja lantas terhenti.
"Dia bergerak??" Napas Lukas naik turun cepat tak beraturan saat membelalaki Hana.
"He-eh."
"Tersentuh olehku..."
Hana mengernyit, yang ini barulah paling mengejutkan perasaan wanita itu. Alih-alih suka atau bersuka cita, Lukas justru terang-terangan berekspresi tak senang.
Tidak hanya sampai di situ.
"Turunlah, Hana. Maaf..."
__ADS_1
Lho?
Wanita itu dibuat melongo bengong.