
&&&&&--&&&&&
"Apa aku sangat menyakitimu?"
Hana mendongakkan kepala pada bantalan lengan kiri Lukas, bertemu sekilas pandangan sang suami yang menengok padanya, pada posisi berbaring lurus pria itu menghadap langit-langit kamar, membantali bawah kepala dengan satu lengan lain.
"Mee--nyakiti--?" Hana tau apa maksud pria ini. Tetapi akan terasa memalukan kalau ia tak berpura-pura dulu tak memahami.
Baru di saat ini Lukas mau menanyakan?
"Ehm... Di malam itu...malam pertamamu. Kita."
"Ooh..."
"Kau kecil sekali..."
" 'Masa..."
"Hmh...dan sempit... dan sangat perawan... Sedangkan aku..."
Keperkasaan dan ukuran Lukas sebenarnya sangat meluluh-lantakkan Hana di waktu itu.
"Sejujurnya, memang sangat... Aku kesakitan..." Jawaban yang sangat pelan, hingga Hana sendiri hampir-hampir tak bisa mendengarnya.
Jadi begitu. Kesakitan. Tentu saja, batin Lukas, sangat menyadari. Itu sebab istrinya sempat menjerit tertahan di antara pelepasan dan kedua tangan yang memelukinya erat... Lukas masih ingat detil rasa pelukan tak berdaya itu dan reaksi lugu lain yang spontan diperlihatkan Hana.
Mengesankannya.
Tak ada keluhan, komentar apapun, bahkan saat Lukas kemudian meninggalkannya begitu saja sendirian di dalam kamar tidur jelang subuh.
Malu, segan, canggung, tapi masih ingin lagi...perasaan tumpang tindih yang datang belakangan dirasakan oleh seorang pria intelektual terdidik macam dirinya, setelah selesai memperawani seorang perempuan masih terbilang asing, karena kurang dari 5x saja mereka pernah bertemu, menikah, lalu tidur seranjang.
Hingga ke kebersamaan di hari selanjutnya Hana tak juga menyuarakan apa-apa tentang malam pertama atau percintaan demi percintaan mereka, yang terjadi lagi tapi hanya sebanyak 7x itu saja.
Hana berubah menjadi pendiam.
"Haruskah aku meminta maaf? Karena menyakitimu?"
"Ihh...ya jangan. Aku 'toh menyukainya juga. He he..."
Mau tak mau Lukas balas tertawa terkekeh. Hana tersipu. Menyembunyikan wajah ke dada pria itu.
Hana menyukai perlakuannya, yah, karena bagian permainan se*s. Di luar itu, pria itu bersumpah tidak akan pernah melakukan sesuatu yang bisa menyakiti istrinya walaupun itu sekadar menginjak tak sengaja ujung jari kaki sang istri, seperti tak berapa lama lalu saat Lukas hendak membukai seluruh pakaian Hana di depan cermin lemari pakaian lalu mencumbuinya liar dan panas di situ.
Bukan karena Lukas haus se*s dan tak bisa mengerem diri. Tapi karena tubuh hamil Hana memang terlalu molek dan mengundang sehingga pria itu merasa sayang kalau harus melampiaskan keterangsangan dengan berfantasi sendirian...
"Kau sangat menyukai se*s, Hana." Lukas sedang bermaksud jahil menyatakan ini. Pasrah kalau sang istri merespon tak terima. Nyatanya, istrinya sigap memunculkan wajah lalu mengangguk antusias. Jujur, tulus, polos, tanpa malu-malu.
"Sangat! Memang! Sangat suka. Mungkin karena aku terlalu banyak mengimajinasi itu untuk komik genre dewasaku."
"Yang kumaksud...sangat menyukai melakukannya..."
Lukas mengucap itu sambil mengingsutkan diri berhati-hati, menghadap berbaring miring Hana yang tak lepas memandang ke arah wajahnya berada. Kini kedua wajah itu berhadapan dekat dengan kepala istrinya masih pada lengannya.
Selama beberapa saat mata mereka bertemu...
"Jangan ditertawakan. Iya, aku juga sangat suka melakukannya. Asal bersama kamu..." Lirih Hana kemudian memberikan sahutan.
Lukas meneguk air ludah. Mendekap kepala Hana sesaat sebelum merenggangkan dekapannya, kembali memandangi sang istri. Menyuarakan kata-kata itu penuh perasaan mula-mula dengan bertanya.
__ADS_1
"Aku lebih tua 11 tahun darimu... Apa itu--tak jadi masalah buatmu?"
Kerjapan mata Hana juga sedang jahil menggoda pria itu.
"Kalau ternyata lebih tua 3x lipat pun aku tak masalah. Asal itu kamu."
Kekeh Lukas terdengar lagi.
"Berapa mantan pacarmu?"
"Tak pernah ada. Aku 'kan sudah pernah cerita."
"Yah, aku hanya ingin memastikannya ulang. Kau tak pernah berpacaran."
"Never."
"Karena itu kau belum pernah berciuman... Aku pria pencium pertamamu."
"Iya. Sekaligus pencium terakhir."
"Tidak mungkin."
"Tidak mungkiiiiin?"
"Dia di sana pria. Pencium terakhirmu ada pada kami berdua."
"Ishh...aku kira apa!"
"Aduh. Cubitanmu pedas, nona?"
"Biar."
"Oke. Tapi, haruskah aku berterima kasih untuk itu?
Trima kasih, Lukas, aku telah jatuh jatuh cinta pada kamu jauh sebelum kamu. Jatuh cinta pada pandang pertama di pertama kali kita pernah bertemu."
"Hah?"
"Kamu ternyata seorang pria impian aku selama ini. Sumpah. Aku bisa mati berdiri kalau kamu akhirnya melakukan penolakan pada penawaran menikah dariku waktu itu."
"Hana..."
"Trima kasih kamu mau menikah dengan aku. Trima kasih telah menjadikanku sebagai istri kamu. I love love love love you too."
"Oh Hana...kau membuaku bagai kehabisan kata-kata sekarang."
"Ajari aku menyetir... Ya, akan kutrima lagi kalung itu dan juga status sebagai ahli waris itu... Dan jangan berhenti mencintaiku biarpun aku gemuk karena hamil dan melahirkan, nanti aku akan berusaha segigih mungkin diet lagi untuk kamu.
Aku tak peduli seperti apa masa lalu kamu dalam hal perempuan, tapi kumohon, pertahankan niat kamu yang tak ingin kemana-mana lagi selain ke aku itu, karena lebih baik aku lenyap saja dari permukaan bumi kalau harus ditinggalkan oleh kamu.
Satu lagi, se*s, aku tau kamu juga sangat suka melakukan itu. Tapi kalau akhirnya salah satu dari kita tak sanggup lagi melakukannya, bisakah kita bertahan tetap bersama biarpun tanpa itu?
Karena sudah logis juga, kadang dalam hubungan suami istri, salah satu pasangan bisa saja moody terhadap se*s."
"Bisa, sayang. Untuk semua itu tadi dan terutama se*s. 'Toh ada alat mainan se*s yang bisa kita mainkan sendirian bila pasangan kita sudah tak bisa lagi mee..."
"Idih, malah becandaa..."
"Aku seriuus..."
__ADS_1
"Terserah dehh..."
"Ha ha ha...."
"Ayuk, sekarang lagi. Ronde ke tiga. Kalau memang kamu serius mau cuti kerja hari ini. Ngg...duduk di pangkuan kamu? Setelah itu 69... Hi hi hii..."
###############
Bayi mungil merah seberat 3,6 kilo itu terlalu tenang dan anteng tanpa memperdengarkan tangisan berarti, saat akhirnya memunculkan diri melihat dunia untuk pertama kali, sebelum didekatkan ke hadapan sang orang tua.
Riovanno Alexander Ryuchi, Rio, terlahir sehat sempurna lewat proses kelahiran normal di sebuah Rumah Sakit tempat Hana pernah bertemu David, kekasih Lastri teman sekelas masa SMPnya dulu.
David dan Lastri sendiri hadir menemani di RS itu. Bersama Ratna ibu Hana, Rini, Tiara dan beberapa kerabat lain Lukas dan Hana, tak ketinggalan seorang baby sitter profesional yang baru saja Lukas rekrut hasil rekomendasian Ratna.
Lagi-lagi seorang wanita berusia sebaya Ratna.
"Pengalaman kerjanya tak perlu kita ragukan lagi, Lukas, karena sudah sejak tamat SMA dia bekerja sebagai pengasuh anak... Bahkan anak momongan pertamanya pun sekarang sudah punya anak."
Beres. Wanita baby sitter itu telah siap menemani ibu Nita bekerja di rumah Lukas, menambah semarak penghuni rumah itu yang kini bertambah lagi jumlahnya.
...............
"Apa kau anggap kehamilanmu kemarin ini mudah?" Bertelekan sikunya pada kasur Rumah Sakit, duduk di hadapan sisi berbaring Hana, Lukas menjalin jemari Hana ke jemarinya, mengecupi sesekali pada bagian jemari wanita itu di antara pembicaraan.
"Ngg...biasa-biasa saja. Tapi mungkinn...iya memang mudah," sahut Hana, tersenyum, meresapi rasa sakit sehabis melahirkan ini bersama kemesraan yang sedang dipersembahkan Lukas baginya, lewat kecupan mesra dan sorot lembut matanya.
Tak peduli seberapa sakit, ia bahagia. Mereka berdua bahagia. Ayah dan ibu baru.
"Oke. Dan proses melahirkan tadi?"
"Kalau untuk yang itu...jujur aku bingung harus komen apa. Karena kamu tau sendiri 'kan Rio besar? Tapi ternyata, he he...entah, itu tadi pun sama mudah. Aku serius!"
"Syukurlah kalau begitu." Lukas tak jauh beda, sama bingung harus mengomentari apa lagi yang lain. Baginya sekarang menanggapi kondisi Hana dan Rio yang baik-baik saja, pria itu bagai tak terpikirkan hal lain.
Tapi khusus yang ini ia terpikirkan. Sulit untuk menunggu menanyakannya di lain hari. "Jadii..." Pria itu mendeham, melanjutkan malu-malu, "Apa beberapa tahun lagi...kau masih mau lagi...sekali lagi?"
Demi mendengar apa tema pertanyaan polos itu Hana justru menderaikan tawanya. Diurainya jalinan jemari mereka lalu diulurnya tangan ke belakang Lukas, mengusapi sayang pada tengkuk pria itu, "Jangankan satu, pak, dua lagi pun aku masih mau... Atau tiga? Tiga lagi. Maksimalnya. Bagaimana?"
"Satu lagi saja, sayang." Suaminya menyengir. "Aku tak mau membuatmu kesulitan membagi waktu mengurusi banyak anak dan menggambar, yang membuat jatah bagianku menjadi berkurang..."
Lagi-lagi Hana tertawa geli. Lukas tersenyum. Tawa istrinya memang khas. Jangan harap pernah melihatnya terbahak-bahak, tapi tertawa biasa saja-nya itu atau kadang terkikik, adalah penyemangat baru dalam hidup babak kedua Lukas setelah Hana dan Rio hadir.
Beberapa saat kemudian...
"Terima kasih Hana, karena kau...telah mau mengandung anakku. Anak-anak kita."
Giliran Hana merasa malu oleh rasa haru.
"Hm-mh. You're welcome."
"And i love you. So much. Mama Rio. He he he... Mutiara 250 juta-ku, Hana Cesilia."
"Loving you even more, hi hi hii...papa Rio, Lukas Hirlandi, Akoya Pearl-ku... Mencintaimu hingga ke tarikan nafas terakhirku."
..............
SELESAI ......... 08 08 2023
# wisma asri- bekasi utara #
__ADS_1