MUTIARA 250 JUTA-KU

MUTIARA 250 JUTA-KU
14. Ditengah Kegalauan


__ADS_3

Usai berteleponan dengan sang adik ipar, Lukas kemudian terlarut dalam kebisuan.


Berdiam diri. Hanya menebar pandang keluar kaca jendela kereta pada sisi kiri duduk, walau di luar sana gelap dan tak banyak yang bisa ia lihat di malam menjelang pukul 7 ini.


Duduk di sebelah kanannya Hana sama membisu. Tak tau harus bicara atau melakukan apa untuk menghibur kegalauan yang sedang dirasakan Lukas. Sebab Hana belum pernah melakukan yang namanya suatu penghiburan bagi seorang Lukas.


Meski hampir genap 1 tahun mengenal dan hidup bersamanya, dengan Meiska di antara mereka berdua, Hana tidak yakin apakah saat sedang galau seperti ini Lukas lebih membutuhkan hal semacam itu dari dirinya, atau justru dari Meiska.


Lukas baru tadi itu berkomunikasi dengan sang adik ipar setelah berjam-jam duduk di dalam kereta ini. Hana sangat yakin tak lama lagi ia pasti akan menghubungi Mei. Entah semasih di kereta sekarang atau nanti begitu sudah turun.


Atau, mungkin sebenarnya komunikasi itu ada terjadi tapi lewat pesan singkat. Meski terlihat hanya sesekali saja ber-HP, ada kemungkinan ia tak lupa meng-sms mengabari sang kekasih Meiska.


Sungguh ironis...


Sekali waktu terasakan Hana suaminya berperhatian penuh terhadapnya, namun di waktu berikutnya, Lukas seakan melayang terbang darinya.


Jadi Hana memutuskan untuk ikut membisu saja, menyandar dalam-dalam mencari nyaman pada sandaran empuk kursi kereta berkelas Eksekutif yang terus melaju ini, sambil wanita itu membuka-bukai Media Sosial terutama akun di platform media gambarnya.


Adapun laptop di hadapan duduk wanita itu maupun milik Lukas sama-sama sudah dalam keadaan mati dan di tutup. Setelah beberapa jam tadi setia menyala, menemani para empunya mengisi waktu perjalanan.


Dan perjalanan sang kereta sendiri sudah akan segera tiba ke tujuan akhir, di sebuah stasiun induk Kota Solo yakni Stasiun Balapan Yogyakarta, sekitar 2 atau 1 jam lagi, setelah hampir 7 jam lamanya perjalanan dari stasiun pemberangkatan di Jakarta.


"Aku masih tak habis pikir kenapa aku harus dirahasiakan dari sakit parah ibu yang sudah 1 minggu ini... Ck, entah apa yang ada dalam pemikiran mereka itu..."


Suatu ketika, mungkin karena sudah bosan berdiam diri lama, Lukas menyuarakan kata-kata itu. Lebih terdengar Hana seperti sedang menujukan bicara pada diri sendiri, karena perhatian pria itu masih terarah keluar sana.


Hanya bisa terdiam Hana sungguh tak punya jawaban atas keluhan Lukas. Tapi disempatkannya juga melihat sekilas ke arah pria itu sebagai respon singkat.


Pria itu, ketika sudah tidak bisa lagi memendam apa yang sedang berkecamuk dalam pemikiran, ia pun menoleh dan bertanya setengah membisik pada Hana, "Kau percaya mitos, Hana?"

__ADS_1


Mitos? Hana langsung menoleh, menyahut dengan balik bertanya, mengusahakan bicara sepelan mungkin agar tak perlu mengganggu penumpang lain,


"Mitos? Mitos yang seperti apa? Dan kenapa kamu menanyakan? Iya, aku percaya mitos."


Keduanya saling bertolehan dan berpandangan...menyempatkan meneliti wajah lawan dengan Lukas masih menyandarkan bahu pada sisi jendela kereta ; Lukas nampak malas-malasan, murung menyendu, itu yang tertangkap oleh Hana. Sementara dimata Lukas, istrinya masih seperti biasa. Terlihat manis tanpa kehilangan pesona meski jelas lelah oleh lamanya duduk dalam kereta.


Sebelum pria itu menyudahi kontak mata mereka dengan meluruskan pandang, sambil menghempas nafas,


"Mitoss," keluhnya, "Ada suatu mitos yang sempat diceletukkan Sarah teman kerjaku di kantor, saat dia kuberitau alasanku minta ijin tak masuk kerja beberapa hari kedepan."


"Apa yang teman kamu katakan?" tanya Hana.


Lukas memberitaunya,, " 'Ada yang datang, ada yang pergi'. Begitu Sarah menyeletuk."


Hana terperanjat, dan selama beberapa saat ia diam lagi. Sangat tau, sangat bisa menebak apa makna dari kalimat itu, yakin apa yang ia tebak ini tidak mungkn keliru.


Sampai terdengar lagi pertanyaan dari suaminya, "Bagaimana menurutmu?"


"Tak perlu di ambil hati," sahut Hana seraya memberi paparan lugas, "Kamu masukkan kuping kiri keluar kuping kanan saja.


Nasib, takdir, kelahiran, kematian, itu semua rahasia Tuhan. Teori atau mitos yang mengatakan di mana ada kelahiran di situ ada kematian, atau sebaliknya, itu cuma omong kosongnya para ibu-ibu kurang kerjaan yang sedang merumpi sambil cari kutu."


Tertegun, tak menyangka Hana akan memberi pernyataan sedemikian, Lukas menanggapi dengan tertawa singkat, "Bisa saja. Kau mempercayai mitos tapi kau..."


"Lupa, aku percaya apa kata mitos tapi selama apa yang kudengar bukan mitos membawa-bawa urusan Tuhan."


"Ooo..."


"Misalnya mitos tidak boleh menyisakan nasi atau membuang nasi, atau mitos tentang banyak tidur siang dan banyak minum es bisa mengakibatkan gemuk.

__ADS_1


Tapi mitos yang menyebut bila ingin anak laki-laki harus banyak memakan daging ketika hamil, sebaliknya bila ingin anak perempuan banyak memakan sayur, itu aku tidak bisa mempercayainya."


Demi disinggungkan ke arah terakhir itu, paras murung Lukas perlahan berangsur berseri. Merekahkan senyum dikulum saat ke sekian kali dilemparnya pandang ke luar kaca jendela,


"Yeah, dan anak kita laki-laki..."


Menyingkirkan sejenak pemikiran cukup mengusik tentang perkataan seorang teman kerja yang dihubungkan ke sakit sang ibu, Lukas mengkilas ulang peristiwa monumental 5 hari lalu itu...


Akhirnya, mengalami dalam hidup...berkesempatan untuk pertama kali 'melihat' sang calon anak dalam rahim Hana dan juga diperdengarkan pada detak jantung anak itu, saat mereka berdua sesuai rencana pergi mengunjungi Rumah Sakit, untuk mengontrol kandungan sekaligus melakukan cek USG.


"Idealnya, pemeriksaan kehamilan dilakukan satu kali setiap bulannya, pak Lukas.


1x di usia kandungan 32 minggu. 1x di usia kandungan 36 minggu. Seminggu sekali sejak usia kandungan 37 minggu sampai waktu persalinan tiba."


Lukas mendapat beberapa penjelasan dari Dokter Tyas, seorang perempuan dokter kandungan yang selama ini rutin memeriksa kehamilan Hana.


Mulanya pria itu berjuta-juta kali lipat, diam-diam merasakan sungkan diajak bicara oleh dokter Tyas membahas janin calon bayinya.


Sesungguhnya yang diingin pria itu adalah, iya menemani Hana hingga masuk ke dalam ruang periksa, namun tidak perlu melibatkan dan menyertakannya ke dalam pembicaraan yang kemudian berlangsung.


Jelas hal itu tak mungkin bisa terjadi.


Alhasil akhirnya ia pun menyimak, mau tak mau terlibat, namun secermat mungkin tidak menunjukkan keluar tentang betapa enggan dan sungkannya ia. Hingga semasih di tengah pembahasan --Lukas tak berminat banyak tanya-banyak komentar -- sang dokter kandungan dibantu seorang asisten memulai melakukan prosedur USG 4 dimensi pada Hana...


Ultrasonography 4 Dimensi atau USG 4D, adalah pemeriksaan kehamilan dengan menggunakan gelombang suara. Berbeda dengan USG 2 dimensi, USG 4D ini memadukan penyajian gambar 3 dimensi dan gambar bergerak seperti video.


Adapun teknologi USG 4D sudah lebih maju dari teknologi USG 2D, atau 3D sebelumnya. Teknologi terbaru yang mampu merekam gerakan-gerakan janin seperti menendang atau memukul. Bahkan tipikal wajah janin bisa terlihat jelas, lengkap dengan lekuk dan pipinya.


Dan itulah yang didapat Lukas begitu sudah memandangi layar Ultrasonography tersebut. Dibuat terhenyak bagai kehilangan kata-kata begitu sudah 'dipertemukan' dengan sang calon anak.

__ADS_1


"Adik bayinya laki-laki, pak Lukas-bu Hana." jelas dokter Tyas sambil melempar senyum pada pasutri di hadapannya.


__ADS_2