
Keterperangahan Hana adalah reaksi penangkapan cepat benak imajinatif wanita itu untuk gambaran tentang membukai pakaian hingga setengah telanjang di hadapan sang suami.
Di bawah pandangan penuh perhatian, atau bahkan dengan suaminya turun tangan membantu padahal selama ia hamil, yang namanya membuka pakaian di depan mata Lukas sama sekali belum pernah ia lakukan...sudah dapat dibayangkan momen buka-bukaan nanti dalam kamar pas pasti akan terasa amat memalukannya.
Ditambah kemungkinan kejadian serupa di dapur tempo hari yang bisa saja terulang?
Sementara keterkejutan dari Lukas hanya karena pria itu agak kaget saja, ada konsep berlaku pada Butik ini membolehkan suami menemani istri mengepas pakaian di dalam kamar pas.
Sebab dulu Meiska selalu mengepas sendirian dalam Fitting room kecil yang hanya bertutup gorden. Sedangkan kamar pas ditunjuk Aida tadi berbeda lagi.
"Apa...memang bisa?" kerut pria itu di dahi, bertanya polos pada Aida.
Membuat Aida tertawa singkat, dapat menangkap maksud pria itu. "Bisa, pak, tidak apa, silahkan saja."
"Ooo...."
"Mari, saya antarkan. Atau masih mau melihat-lihat lagi dulu koleksi kami yang lain?"
Hana yang memberi Aida sahutan, "Cukup, mbak, yang sudah ada di sini saja saya coba." Mendapat anggukan sependapat dari sang suami.
"Baik, bu, silahkan di sana. Akan saya bawakan semuanya."
Kemudian wanita pelayan berusia sekitar 35 tahunan itu menyampirkan ke lengan 7 gaun hamil terpilih termasuk 2 gaun pilihan utama tadi, berjalan mendahului ke depan dengan diikuti Hana dan Lukas.
"Aku ganti sendirian saja," bisik Hana di balik bahu Lukas, "Kamu tidak usah...ikut masuk ke dalam."
Butuh privasi, lebih karena semakin mendekati Fitting-room ia semakin didera gemetaran serta gairah samar terselubung efek dari keliaran sesaat imajinasi tadi.
Harapan Hana tak dikabulkan.
"Aku tak mau mengecewakan dia, Hana. Atau dianggap aneh membiarkanmu sendirian di dalam..." Lukas sambil terus berjalan balas membisik demikian ke telinga sang istri, "Sorry, aku harus ikut masuk. Tapi jangan khawatir, aku akan tutup mata selama kau sedang mencoba. Hm?"
Kalimat Lukas adalah antara keseriusan dan guyonan. Saat pria itu menengok ke kiri mencari tau reaksi Hana, nampak wajah Hana tak berpura-pura memberengut.
Tutup mata?
Rupanya Lukas tau apa yang ada dalam benaknya.
Ya tentulah, memangnya apa lagi hal lain yang terpikirkan oleh suaminya itu?
Tapi benar juga. Tentu akan dipandang membingungkan dimata Aida apabila Hana memasuki Fitting room dengan tanpa Lukas menemani, hanya menunggui di luar.
__ADS_1
"Sebentar bu, pak, saya hanger-kan dulu semua gaun ini di gantungan di dalam." Sudah sampai. Suara Aida mengakhiri galau di hati Hana.
Okelah, terima saja. Pasrahh...
Walaupun Lukas selama dirinya hamil belum pernah melihatnya tanpa busana total atas bawah, toh masih sebagai bagian hak pria itu 'bukan, mendapatkan pemandangan epik tubuh hamil besar dan telanjang seorang Hana?
"Sudah ibu, bapak, silahkan... Selamat mencoba, semoga koleksian kami bisa ada yang cocok dan sesuai dengan keinginan ibu dan bapak."
Usai mengulaskan senyum dengan sedikit menunduk lalu Aida melangkah menepi, memberi jalan bagi pasutri di hadapannya memasuki Fitting room. Tanpa ia menyadari bahwa ada situasi canggung telah terjadi di antara kedua pasutri itu.
Hana, begitu memasuki kamar pas tersebut ia langsung saja diserang kecanggungan, segan, dan terutama malu. Karena beda dibanding saat di rumah, berada berduaan suami di tempat asing ini dan sesaat lagi akan melihat sang suami balas melihat pada diri hamilnya yang ber-setengah telanjang-ria...aduh, ini sama persis menggejolakkan perasaan Hana seperti jelang malam pertama pernikahan dulu.
Lukas, pria itu lebih dulu beredar kesana kemari, menebar perhatian meneliti pada segenap penjuru ruangan berAC sejuk layaknya sebuah kamar tidur berukuran kecil itu.
Meneliti pada cermin tunggal persegi 1 1/2 meteran berdiri, pada cermin lebar dan besar menempeli dinding pada arah seberang cermin pertama, pada sofa panjang berikut kursi sofa kecil dan meja, dan tentunya gantungan berbahan kayu ukir setinggi leher itu, sudah menjadi tempat gaun-gaun tadi tergantung.
Ruangan fitting room yang sangat jauh berbeda dengan umumnya kamar pas dalam Mall. Namun karena Hana terlalu sibuk menata perasaan, ia sampai tak ada waktu mengagumi betapa cantik dan menyamankannya ruangan itu.
Hanya memiliki waktu menghadap ke sisi dinding saja, lalu perlahan dengan masih sedikit bergetaran ia mulai meletakkan tangan ke salah satu tali depan baju kodok atau overall hamil bentuk rok denim yang ia kenakan, mencopot tali apron bagian belakang ke kait apron depan overall.
"Aman, Hana. Sepertinya tidak ada CCTV, atau kamera ilegal lain yang mencuriga..." Berbicara sambil balik badan kata-kata Lukas segera terputus.
Pria itu tertegun.
Bagai terhipnotis oleh pemandangan baru nan menakjubkan di depan mata, ia kesulitan melepaskan pandangan.
Hana 2 ayunan langkah di hadapannya sedang berdiri memunggungi dan sudah meluncurkan baju kodok itu turun hingga menumpuk di seputar bawah kaki.
Setelah itu inner atau kaos putih di baliknya pun menyusul, diloloskan keluar dari badan lewat kepala.
Lukas meneguk air ludah tercekat memperhatikan semua itu. Pergerakan naik turun dalam tenggorokan yang sangat jelas terlihat.
3 bagian membukit setengah telanjang pada tubuh Hana terpampang sudah... Dimulai dari bawah, bokong penuh berkulit halus berlapis cela*a dalam biru muda.
Naik ke atas, bukit bagian tengah dan paling besar tanpa penutup, terhadapkan tersembunyi di balik sana.
Lebih naik lagi ke atas, sepasang bukit kembar disanggah kain Bra putih ibu hamil itu...
Indah. Dan memang menakjubkan. Segenap indra yang dimiliki tubuh Lukas tanpa bisa dicegah bergeliatan, terbangkitkan.
Bergegas pria itu maju mendekat saat dilihatnya Hana siap membungkuk untuk meraih si baju kodok di bawah kaki.
__ADS_1
"Tunggu, biar aku yang membereskan."
Tanpa sadar Hana menoleh dan...tak bisa berbuat banyak begitu Lukas berjongkok ke dekat kaki wanita itu lalu mengalungkan tangan kiri wanita itu ke pundaknya, ditopangkan di sana saat pria itu menyingkirkan baju kodok tersebut dari bawah kaki diangkatkan satu persatu Hana.
"Baju yang mana yang mau kau coba duluan sekarang?" Pria itu menengadah, melihat keatas, hanya untuk bertemu tatap pandang Hana padanya berikut sisi perut mencuat istrinya.
"Ngg-yangg...dari paling pinggir sana itu." sahut Hana sambil melepas topangan dari pundak suaminya lalu menunjuk ke arah yang dimaksud.
"Okeh. Mari kita mulai." Sang suami kembali berdiri, terus berjalan menghampiri gantungan diikuti pandangan Hana, di antara rasa malu dan segan yang kian wanita itu rasa.
"Ini?" Lukas menoleh dari dekat tiang penggantung gaun-gaun.
"Ya, itu."
"Siap."
Tangan Lukas berhati-hati sekali menurunkan pengait hanger lalu membawa gaun nomor 1 tersebut ke hadapan istrinya.
"Aku masih ingat ini, gaun Strech Hitam Simpel. Simpel tapi elegan, panjang hingga ke mata kaki namun nyaman."
"Hm-mh. Benar. Aku juga masih ingat."
Sudah memutuskan untuk mencoba yang ditangan Lukas, Hana pura-pura tak mengetahui keterpakuan pria itu di hadapannya.
Terpaku, Lukas tidak mungkin tidak. Hanya bisa bereaksi seperti itu di saat ini melihat istrinya merona di kedua pipi tanpa bisa menyembunyikan kemalu-maluan...
Bukan karena enggan maka istrinya hanya menunduk saja menghindari bertemu pandang...tapi karena Hana meyakini serasa ingin lenyap saja dari muka bumi bila Lukas terus saja seperti ini, memandangi lekat dari kepala hingga kaki, segenap bagian diri setengah telanjang Hana...
Demikian Lukas menyimpulkan tentang dilema yang menguasai Hana.
Bibir pria itu sendiri bagai kelu saat digerakkan, "Hana..."
Akhirnya Hana melemah yang sebenar-benarnya. Memang sudah tak sanggup lagi menguasai perasaan bergejolak campur aduk.
Lukas paham itu.
Saat Hana mencoba mengangkat dagu menghimpun energi untuk balas memandang Lukas, suaminya itu tak lagi berpikir panjang dan tak mau lagi terus tenggelam dalam keinginan terpendam.
Segera dilontarkannya gaun, diraih dan dipeluknya Hana, sebelum wanita itu sempat mempertemukan pandangan mereka berdua namun cukup menyadari apa yang hendak Lukas lakukan.
Melakukan berciuman.
__ADS_1
Maka Hana pun mengijinkan bibir mereka berdua bertemu lalu berciuman...