MUTIARA 250 JUTA-KU

MUTIARA 250 JUTA-KU
40. Maukah Kamu...Tidur Bersamaku Malam Ini?


__ADS_3

"Mengalahh!" Lukas menghempas napas pendek saat menghenyakkan duduk ke samping Hana. Tidak menempel tapi cukup dekat. "...maksudnya adalah...apapun yang menjadi keinginanmu, aku akan mengabulkannya... Biarpun itu kadang tak akan sejalan dengan keinginanku." Pria itu menoleh memandang sisi kanan wajah Hana sambil menjalin jari-jemari di atas lutut.


Hana menengok padanya dan berkedip, "Ooh."


Tapi kenapa harus begitu?


"Akan kuterima kalung ini kalau memang kau tak mau lagi menerimanya. Dan ini...adalah salah satu bentuk sikap mengalah yang aku maksud tadi."


Kali ini Hana menggigit bibir dalam, lalu berpaling menekuk wajah, karena tak tau harus menanggapi apa. Untuk saat ini yang ia tau hanyalah Lukas semakin jelas saja memperlihatkan gelagat mengincar bibirnya. Sekaligus keseluruhan dirinya.


Untunglah ia sudah bersiap. Karena ia sangat yakin suaminya ini tidak akan mengakhiri begitu-begitu saja 'kedekatan' mereka berdua seharian hingga ke malam ini tanpa pria itu melakukan sesuatu yang bersifat pemuasan kebutuhan.


Hana berpura-pura tak memperhatikan saat sang suami secara samar bergeser.


"Kalau kau masih ingat kata-katamu...sekarang ini momen 'sesudah acara', Hana," ujar Lukas kemudian, tersenyum.


'Untunglah' yang kedua, Lukas memilih mengalihkan tema pembicaraan. Dan untuk yang ini, pikir Hana, ia dapat menangkap apa maksudnya.


Ia pun menengadah kembali, menoleh pada Lukas, memutuskan mengenyampingkan sementara dilema tentang si kalung 86,8 juta.


"Iya. Sudah bebas. Sudah boleh," sahutnya, mencoba bergurau, tapi sangat menyadari betul nada suaranya kaku. Karena terpikirkan apapun yang akan dilakukan Lukas sekarang, mereka berdua lakukan tepatnya, sudah sempat tercemari oleh bahasan tak mengenakkan hati tentang kalung ini.


Mungkin akan bisa mempengaruhi cara Hana dalam mengambil sikap kemudian, mengingat ia menyadari sekali sifat sensitif dan kemood-swingan dirinya.


"Bu Nita sudah pergi beristirahat ke kamarnya sejak tadi." Lukas memberi tau lagi.


"Tau," angguk Hana halus. "Tadi sempat dengar." Keberlaluan bu Nita yang berarti sedang ada kesempatan tercipta.


'ya sudah, kamu lakukanlah...' ucap wanita itu di dalam hati. Sejujurnya penuh harap. Sejak beberapa jam lalu sang suami memakaikannya kalung, Hana sudah menyimpan keinginan terpendam agar suaminya ini menyeleneh saja, segera menyalurkan pelampiasan. Tak perlu menghiraukan meski dirinya memberi wanti-wanti agar tidak dulu dikutak-katik.

__ADS_1


Siapa yang peduli? Kalau hasrat dan gairah sedang menguasai, masa bodoh hal lain.


Baru saja berpikir demikian, harapan Hana seolah terkabulkan. Karena tanpa berbasa-basi lagi atau merubah posisi jemari terjalin di atas lutut, mendadak Lukas mencondongkan tubuh miring lalu mengecup ke permukaan bibirnya.


Hal yang sempat terlarang untuk pria itu lakukan.


Dalam posisi saling menoleh dan berpandangan, Hana bisa melihat hasrat sudah tersirat di mata suaminya.


Oke lah, biar dirinya saja yang memulaikan. Di samping karena ia memang ingin menjajal lagi keberaniannya, ia pun perlu melakukan sesuatu kontroversial sekarang sekadar untuk menutupi perasaan tak nyaman ini.


Lantas ia berdeham sebelum perlahan merubahkan posisi duduk menjadi bersila di atas sofa, menghadap duduk menyamping Lukas. Sementara Lukas yang sudah bisa menebak pada apa yang sedang dimaui Hana, menyengajakan diri hanya senyum-senyum memperhatikan.


"Sekarang kamu, tolong, berputar." Hana bersuara polos memberi instruksi.


Lukas tertawa singkat saat mematuhi Hana sambil membaca mungkin sebaiknya satu kaki saja yang ia naikkan ke sofa. Menutup jarak yang melebar bila mereka berdua sama-sama bersila berhadapan.


"Seperti ini?" Lukas menunjuk pada duduknya. Sebenarnya sudah tak sabar ingin segera ke inti.


"Beres. Lalu?" Lukas bergurau meniru gaya polos Hana. Hana hanya mesem.


Dengan memunculkan lagi keberanian seperti saat berada di gedung resepsi, juga seperti keberanian terhebat yang pernah ia lakukan di dalam ruang shower terhadap Lukas, Hana mengalungkan kedua lengan bertautnya ke seputar leher Lukas...


Lukas...seorang pria cerdas dan gagah. Baik dan sopan. Lembut dan pemurah... Apa lagi ya? Selain memiliki suara, wajah dan tubuh bagus, gaya bercintanya pun tak kalah bagus. Hana jelas masih ingat karena sering mengingat-ingat. Temponya selalu perlahan, tapi pasti. Tidak kasar atau grasa grusu seperti yang sering Hana dapati dan tonton dalam tayangan video-video pendek panas atau film biru import.


Jadi kalau cara khasnya adalah sedemikian, Lukas pasti akan lebih berhati-hati lagi 'bukan jika sekarang pria itu melakukan hubungan badan itu pada dirinya, dengan perut sebesar ini di antara mereka berdua? Hana membatin ini sambil menggerakkan maju kepala lalu menyentuhkan bibir ke bibir Lukas, yang sudah siap menanti dan menyambut.


Mereka berdua pun mulai berciuman...namun hanya berlangsung 10an detik saja karena Lukas mendadak menghentikan, yang serta merta ditanggapi Hana dengan mengangkat alisnya sebelah.


"Aku bahkan belum mandi belum bersikat gigi," ringis Lukas, menjawab kebingungan Hana.

__ADS_1


Membuat wanita itu teringat belum lama kemarin menyatakan hal serupa, ia belum bersikat gigi tapi Lukas dengan tak terpengaruh terus saja mencumbuinya di pagi itu.


"Aku tidak ada masalah. Apa kamu mau pergi mandi dulu sekarang?" tanya Hana.


Bagus. Mempertimbangkan rasa lapar merasakan Hana jauh lebih kuat, maka Lukas dengan mantap menggelengkan kepala. Tersenyum simpul menyahuti sang istri.


"Aku pilih lanjut saja, karena kau tak ada masalah. Karena, aku mau mandi dan bersikat dulu pun itu kulakukan demi untukmu." Lalu pria itu terkekeh.


Ganti tersenyum simpul mendengar jawaban itu sang istri pun memulai lagi. Benar-benar melanjutkan serius kegiatan berciuman mereka berdua disusul telapak tangan Hana membelai dan mengusap-usap pada rambut belakang, tengkuk hingga ke pundak Lukas.


Sementara sambil memeluk Hana -- mengabaikan rasa perut menonjol wanita itu yang menekan ke tubuhnya -- Lukas menggerakkan kepala miring kiri atau ke kanan mengikuti kemauan permainan cinta awam mulut, bibir atau lidah yang sedang wanita istrinya ini lakukan. Membiarkan sang istri memimpin, entah dengan mencium sambil mel*mat, memagut, merangkum, juga menyusupkan lidah dan bermain belitan lidah itu di dalam mulut Lukas.


Begitu manis...cara berciuman dan rasa lipbalm di bibir Hana.


Rupanya ini aroma strawberry.


"Apel." Tak sadar Hana menggumam demikian di sela ciuman. Seolah meralat isi benak Lukas.


Tawa kecil pria itu terdengar, "Tadi aku memakannya. Habis 1 yang besar."


"Ohh..."


Kegiatan berciuman mereka terus berlanjut dengan mesra dan tak kalah manis dari rasa bibir Hana maupun aroma apel yang wanita itu hirup dari napas Lukas.


Dari merangkul leher, kini kedua tangan wanita itu berpindah posisi. Satu bertopang di atas pundak Lukas, satu lagi menyusup ke balik kemeja putih yang pria itu kenakan ; 2 terbawah tidak lagi terkancing.


Hingga di suatu titik momen berciuman tersebut Hana mengambil jeda dan sedikit jarak, menghela napas lalu tanpa ragu berkata pelan setengah membisik.


"Aku tidak terlalu capek. Kalau kamu juga tidak, maukah kamu...tidur bersamaku malam ini? Bercinta? Please..."

__ADS_1


Membuat Lukas sungguh tercengang, hingga tak mampu menjawab.


Ini pertama kali Lukas mendengar Hana melontarkan kalimat permintaan semacam ini di sepanjang hampir 1 tahun usia pernikahan mereka.


__ADS_2