
Titik airmata Hana perlahan jatuh menggulir di sudut pipi... Tak lagi kuasa menahan perasaan.
Ya haru, ya sedih, ya prihatin, ya sukacita...berbagai emosi.
Ya terhadap Meiska, terhadap Lukas juga...terhadap dirinya sendiri juga.
Perasaan melow yang kembali menguasai... Menangis lagi setelah terakhir ia melakukannya di acara pemakaman, kali ini tanpa suara.
Apa Lukas pernah menceritakan pada dirinya bahwa seorang Lukas Hirlandi itu diperebutkan oleh banyak wanita? Semasih punya hubungan spesial dengan Meiska?
Tidak pernah.
Lukas tak pernah bercerita apapun hal pribadi terlebih tentang wanita, apalagi sampai ke istilah pria itu 'jadi rebutan'. Kemungkinan pria itu menganggap Hana sudah tau banyak info, yang Hana dapat dari orang lain semisal dari ibunya.
Sementara dalam benak wanita itu selama ini, hanya sampai pada pemikiran kalau Lukas adalah seorang pria mapan berwajah dan bertubuh bagus, bermasa depan bagus, yang pastilah menjadi si pria potensial incaran para wanita.
Hanya sampai disitu, tidak terpikirkan bahwa perempuan-perempuan pengincar itu sungguh ada, yang bahkan melakukan usaha pikatan dengan tanpa menghiraukan keberadaan Meiska di sisi Lukas.
Dan ternyata perempuan yang akhirnya bisa mendapatkan pria itu seolah dengan begitu mudah, adalah...
'hana...'
Hana menyusut isak, yakin tak akan bisa menyembunyikan dari Meiska suara menyahut sengau, "Ya, mbak, maaf...tidak, tidak pernah cerita."
Di seberang Meiska tidak mungkin tidak menyadari dirinya ini mulai melebur dalam membahas Lukas. Tapi lebih berpura-pura mengabaikan suara bernada sengau itu...
'ti-dak per-nah cerita... hmm... tapi ya seperti kataku tadi itulah fakta yang terjadi di belakangmu. mungkin hingga sekarang pun masih juga seperti itu, di luar sepengetahuanmu.'
"Iya, mbak, aku bisa membayangkan koq kenapa bisa seperti itu."
'nah, begitulah.'
Hana tak sadar berkata menggumam yang seolah menujukan bicara pada diri sendiri, "Mungkin dia...hanya merasa kasihan saja padaku...makanya dia mau menikahi..."
'kasihan?' Meiska tanggap menangkap.
"Oh, bukan, maksudku..."
Haruskah ia kembali bermulut besar setelah ia pernah mengumbar membagi cerita pada Lastri, dan kini ia merasa ingin pula menceritakan pada Meiska? Apalagi Meiska sudah mengatakan tadi akan segera melupakan semua...
'ada apa, hana... lukas menikahimu hanya karena dia kasihan padamu? tidak adaa...cinta atau rasa suka diantara kalian berdua? sebenarnya tidak ada perasaan itu diantara kalian?'
"Mbak..."
'aku bisa mengerti. oke, jadi seperti itu rupanya.'
"Lupakan, mbak Meiska..." Memutuskan pasrah mengikuti alur yang mengalir menjadi seperti ini, namun Hana menahan diri juga untuk tidak jadi mengumbar.
'baiklah. tak kan kucoba memaksamu untuk bercerita. tapi kau anggap saja aku sekarang sudah bisa menyadari ada sesuatu tertentu diantara kalian berdua --'
"Bukan!" Hana cepat-cepat memberi bantahan, "Bukan seperti...yang mbak Meiska tangkap..."
'tidak. dia bukan karena kasihan padamu makanya dia mau menikah dengan kamu, dengan apapun alasan dibalik kalian berdua memutuskan untuk menikah itu...' Malah Meiska memperdengarkan cetusan demikian ini.
"Ha?" Membuat Hana tak urung terpana di tempat duduknya, di dalam kamar kerja dengan pintu menutup rapat.
'ach, aku jadi harus membuat pembicaraan kita ini berbelat-belit, hana. karena kau tidak juga mau terbuka padaku...
tapi sepertinya...maaf kalau aku terkesan sok tau atau lancang... dengar, aku akan memberitaukan sesuatu padamu. ini bukan untuk maksud apa-apa.'
"Memberitaukan...apa?"
__ADS_1
'sepertinya lukas bersedia menikah denganmu bukan karena terpaksa atau apa, atau dia memanfaatkan kesempatan lewat pertemuan yang terjadi diantara kalian... lewat kehadiranmu itu untuk memenuhi keinginan orangtuanya selama ini, yang ingin dia menikah dan berumah tanggu secepatnya.
kalau penangkapanku ini tak keliru.'
"Maksud mbak?"
'maksudkuu...dia itu sepertinya langsung menyukaimu di awal-awal perjumpaan kalian.
aku simpulkan, dia mau menikah denganmu ya karena dia cukup suka padamu.
karena yakinlah, dibutuhkan keajaiban besar untuk bisa membuat seorang lukas hirlandi melumerkan prinsip yang pemilih-milih wanita itu, lalu menjatuhkan pilihan terakhir padamu.
mestilah karena kau itu punya sesuatu khusus, hana, yang akhirnya bisa membuat lukas melupakan prinsipnya.'
".........."
'aku akan mengaku sesuatu yang lain sekarang. janji dulu, jangan jadi marah atau emosi mendengarnya, dan jangan beritau siapapun termasuk lukas. kau bisa janji?'
"Ngg...iy-ya. Tapii..."
'kau pasti cukup tau aku dan lukas...maaf, sering bercinta diam-diam bahkan setelah kalian berdua menikah?'
"Astaga."
'hana, kita fair-fairan saja sekarang. bisa?'
"Baiklah. Tapi..."
'tapi kenapa?'
"Mbak.. mbak Meiska sudah mau masuk biara, apa itu tidak pamali atau dipantangkan membiarkan diri mbak membahas lagi tentang..."
'ihh, ini tidak ada hubungannya dengan niatku mau masuk biara!
ayolaah, aku 'kan sudah tidak lagi memilikinya? dia sudah murni menjadi milikmu seorang sekarang.'
Kemelowan Hana sedikit terlipur oleh ucapan terakhir bernada guyon Meiska.
Lukas miliknya seorang sekarang?
Ohh...rasanya dalam sekali.
'5 bulan lalu, hana, 5 bulan yang lalu lukas...bercinta denganku di sebuah kamar hotel tempat biasa kami ketemuan.'
Sebuah kamar hotel? Berbintang? Biasa mereka berdua jadikan tempat berasyik-masyuk, bercinta dengan penuh gairah, seksi, panas dan liar? Berdasarkan apa yang terlihat dimata Hana, sosok Meiska tergolong ke dalam wanita yang pasti lebih menyukai percintaan semacam semua itu dengan pasangan.
'dan kau tau nama siapa yang sempat dia serukan saat dia mencapai klima*snya di dalamku?'
Gila, Meiska yang blak-blakan sudah terlalu menyimpang vulgar! Daya tangkap Hana pun tertuntunkan mengarah ke bayangan wanita ini bersama Lukas seperti yang tersebutkannya tadi...hingga Hana tak sempat mencerna nama siapa...
'namamu.'
Deg.
Apa?
Hana tersengat keterkejutan tanpa ampun sampai kedua bahu terlonjak, dan satu tangan spontan menekap dada. Sang jantung nyaris saja terlompat keluar.
Namanya? Diantara momen sakral mendapatkan orgasme dan klima*s bersama wanita lain, Lukas malah menyuarakan...nama dirinya?
Berusaha mengerahkan segala kemampuan menenangkan sang jantung yang sudah mulai bertalu-talu, wanita itu mengurutkan dada, menarik dan membuang napas panjang-panjang.
__ADS_1
'aku berani bersumpah bukan namaku atau nama wanita-wanita lain tapi itu namamu, hana.
dan kebetulan aku sangat tau sekali lukas hanya mengenal 1 nama hana dalam hidup hampir 43 tahunnya. itu adalah hana namamu.'
"Oh Tuhann..."
'jadi dari situlah aku menarik kesimpulan bahwa lukas, bukan sekadar main-main menerimamu.'
"Mbak Meiskaa... Tapi mana mungkin, mana mungkin dia...namaku..."
'ya mungkin saja. kenapa tidak?
aku sendiri tak akan heran. mamahku punya cerita persis, papah selingkuh dengan wanita lain dan tak sadar membawa nama wanita itu sampai ke ranjang.
yang menjadi sumber keributan mamah dan papah setiap kali sebelum akhirnya mereka memutuskan bercerai.
"Mbak Meii..."
'aku berbicara denganmu sedari tadi ini bukan karena atas suruhan siapa-siapa, hana. lukas bahkan tidak pernah tau kalau aku akan menghubungimu dan bicara denganmu.
dia bahkan tak pernah kuberitau tentang betapa sewotnya aku mendengar dia...menyebut namamu saat sedang bercinta denganku.'
"Ohh, mbak Meiska..."
'ya sudah, begitu saja. itulah pengakuanku. terserah kau mau percaya atau tidak.
kalau kuduga lukas sudah langsung menyukaimu di awal jumpa kalian, itu insting kewanitaanku yang bicara.
sekarang terserahmu saja.
mungkin lukas bukan sebagai jodohku, bisa jadi dia itu adalah jodohmu, yang sebenar-benarnya, mungkin.'
".........."
'hana,'
"Ya, mbak?"
'sebelum aku benar-benar masuk biara, mengakulah padaku. bisa?'
"Me-ngaku?"
'tentang yang kau rasakan padanya.'
"Aahh..."
'apakahh...sebenarnyaa...kau ada perasaann...suka padanya? mungkinn...sangat menyukai dia?'
Meiska memderaikan tawa tertahan sehabis bertanya yang sengaja diselorohkan wanita itu. Bermaksud menggoda perasaan Hana.
"Ahh mbak Mei..." Tanggapan Hana berupa sumringah.
'heyy...atau mungkin malah kau sudah jatuh cinta pada lukas?' Meiska tertawa lagi, semakin yakin akan Hana dan Lukas menikah kemarin tanpa ada rasa.
"Ya ampun mbaak..." Bias rona memerah di wajah Hana sudah naik hingga ke daun telinga ber-headphone nirkabel itu.
'ayolah fair-fairan saja. agar aku tak perlu begitu penasaran begitu aku sudah meninggalkan kalian berdua secara permanen dan selama-lamanya nanti.'
"Mbaak...serem banget sih."
'jadi yang mana? masih sekadar suka, atau sudah cinta?'
__ADS_1
&&&&&-&&&&&