MUTIARA 250 JUTA-KU

MUTIARA 250 JUTA-KU
33. Kulabuhkan Perahuku Di Pelabuhan Hatimu


__ADS_3

"Memang. Itu yang akan kukatakan. Kalau aku tak berubah pikiran." Sekilas Hana balas menoleh ke arah Lukas. "Aku sudah bolak-bolak disuruh ibu supaya meminta pada kamu mencari ART dari sekarang--jadi yah, ya sudah, pekerjakan saja. Dari sekarang.


Seperti kataku tadi cepat atau lambat 'toh kamu...kita, pada akhirnya harus mempekerjakan seorang pembantu..."


Lalu hening.


Hana dalam diam menerawangkan pandangan ke atas, ke langit-langit kamar dengan pikiran yang hanya ia sendiri mengetahui isinya, sementara Lukas terngiangkan lagi pada ucapan Ratna yang mengatakan : 'hana takut pada karma buruk. imbas dari perbuatan terhadapmu dan meiska...'


Ternyata istrinya berpikiran jauh. Sebenarnya itu bukan bagian dari ke-overthinking-an Hana, baru sekarang pria itu menyadari begitu sosok bu Nita telah benar-benar hadir di rumah di tengah mereka berdua ; seandainya yang dihadirkan Lukas adalah seorang wanita pembantu rumah tangga yang bahkan berusia lebih muda dari mereka berdua, berparas serta berpenampilan cukup lumayan, adalah wajar bila kemudian Hana menaruh syak wasangka akan dirinya memiliki kemungkinan bisa terpikat pada wanita ART itu.


Seperti Lukas terbukti jelas bisa terpanglingkan hatinya pada Hana. Karena yang namanya mahluk laki-laki siapapun orangnya, bukanlah sejenis jelmaan malaikat, yang berhati teramat suci dan tulus setulus-tulusnya tanpa siratan modus terpendam.


"Hana, tentang ART ini...kau bisa memercayaiku..."


"Hm? Maksudnya?"


Kilatan cahaya petir tampak muncul lebih dulu menerangi semesta lalu lagi, suara petir itu menyambar kali ini jauh lebih keras... Gelegarnya menyebabkan listrik sontak mati. Di tengah hujan yang masih mengguyur bumi dengan begitu derasnya, kegelapan segera menyelimuti seisi kamar tidur Lukas. Gelap gulita.


Pria itu kehilangan wajah Hana, juga sebaliknya. Sekadar saling terlihat samar pun tidak.


"Sekarang mati lampu," cetus Hana.


"Sebentar, aku nyalakan lilin dulu." Lukas sudah siap beranjak tapi Hana mencegah.


"Tak usah. Biar saja gelap. Sudah mau tidur."


Kilat berkeredap lagi di langit, menerangi ruangan itu dan memperlihatkan pada Hana kalau sang suami sedetik lalu menembus gelap sedang melihat ke arah wajahnya berada.


Tergoda ingin memberitau Hana tentang Lukas sudah mengetahui alasan di balik keengganan wanita itu mempekerjakan pembantu rumah tangga.


Maksudku Hana, percayailah aku...bahwa di antara kau, dia, dan seorang mantanku yang lain di masa lalu, di masa remajaku, sudah tidak ada lagi ruang tersisa dalam hati ini untuk ditempati wanita yang lain lagi.


Aku ingin berlabuh sekarang... Menambatkan satu-satunya perahu yang kuselamatkan setelah ombak besar menerpa, bersandar di pelabuhan hatimu itu saja...

__ADS_1


"Tadi maksud kamu aku bisa mempercayai kamu--" Dalam gelap tangan kiri Hana terasakan diraih, disentuhkan, ke salah satu bagian permukaan wajah yang terasakan juga agak kasar oleh cambang berusia 1 hari, yang membuat Hana tak luput tergetar begitu merasakan telapak tangannya di eluskan lembut perlahan, naik turun berulang, di bagian pipi kanan itu...


Sayangnya terlalu gelap, sehingga tak bisa terlihat bagaimana ekspresi wajah dan diri dari sang suami dalam menikmati sentuhan membelai darinya tersebut.


Hingga suara parau Lukas terdengar kemudian menyela momen melankoli itu. "Akan kujawab, tapi nanti. Sebaiknya kita segera tidur sekarang, Hana. Kau benar-benar sudah perlu istirahat sekarang."


Merasai bulu-bulu halus berusia 1 hari pada pipi hingga mendekati rahang Lukas ini...oh, begitu mendebarkan hati Hana.


Karena gairahnya terpancing. Hormon yang lantas bekerja. Membuat hasratnya timbul, isi dalam perut pun ikut bergolak.


Ingin sekali sekarang juga merasakan yang lebih dari ini.


Namun rupanya telapak tangannya kemudian hanya dibawa tidur oleh Lukas yang menekan bagian itu ke bantal guling oleh pipi pria itu. Saat kilat ke sekian kali muncul di angkasa memantulkan cahaya, Hana langsung bisa melihat kedua mata sang suami sudah rapat terpejam... Menghadap miring ke arahnya, meniduri sebuah telapak tangan dan guling.


###############


Pagi dan terang beberapa jam kemudian datang...


Menyisakan hawa menyejuk sisa pengaruh hujan semalam hingga berakhir ke dinihari sesaat lalu.


Di tepi ranjang dalam posisi duduk miring, Lukas yang membungkuk di atas Hana dan menumpukan tangan kanan ke bantal, mulai melu*att bibir wanita itu, langsung ke secara kasar. Liar bagai tanpa kompromi. Sedemikian laparnya.


Hana hanya bisa kembali memejam, terpatah-patah menyambut dan meladeni karena masih kaget, sekonyong-konyong mengalami ini.


"Aku bahkan belum sikat gigii..." Wanita itu berkeluh separuh merajuk di sela berciuman.


Lukas tertawa singkat, memagut bibir bawahnya. "Masih seharum mouthwash yang kau pakai semalam..."


" 'Masa?"


"He-mh."


Ciuman pun dilanjutkan.

__ADS_1


Nampaknya sang suami yang sudah bersikat gigi, Hana bisa merasakan sisa mint.


Juga sudah bercukur hingga licin klimis padahal semalaman Hana sampai harus berimajinasi panas mencari kepuasan, diam-diam membayangkan diri sedang menyodorkan sendiri puncak sensitif buah dada ini kegosokan bulu si cambang...


Mengerang halus akibat pengulangan imajinasi tersebut, tanpa sadar dengan masih berciuman dan memejam Hana mengangkat dada...membusungkan pay*dara itu, yang tentu saja tidak mungkin tidak disadari oleh sang suami.


Pria itu melihat lebih ke bawah...lalu dengan senang hati mengabulkan permintaan tak bersuara Hana.


Kedua bukit kembar Hana bertemu usapan permukaan dada bidang Lukas... Hana mendesah puas.


Mengingatkan Lukas akan pengetahuan yang menyebut : 'desah atau erangan bukan hanya reaksi alami tubuh, tapi juga sebagai bentuk komunikasi yang membuat hubungan istri dan suami menjadi semakin intim. uniknya, wanita akan lebih sering mengeluarkan suara erangan dibandingkan laki-laki.'


"Sudah hampir jam 8 sekarang, Hana." Sesaat kemudian rangkuman telapak tangan kiri Lukas menggantikan tugas dadanya, pria itu mer*mas-re*as bukit membulat besar pay*dara Hana.


Membalas tatapan pria itu, Hana mengangguk. Rela apabila hingga ke sore nanti hanya dibeginikan tanpa melakukan hal lain.


"Ayo bersiap-siap. Kita sarapan dulu. Katamu Farah akan datang jam 9 nanti." Tetap saja sambil bicara Lukas tak beralih dari menciumi sesekali sang istri dan memainkan buah dadanya.


"Setengah sepuluh." Dengan berani Hana meraih tangan kiri pria itu untuk kemudian disusupkan kebalik daster dari tepian bawah.


Membuat pria itu terpesona sesaat tapi tak berkomentar. Cukup paham pada apa yang harus dilakukan tangannya, maka ia melakukannya.


Hana melayang...


"Setengah sepuluh? Bahkan mungkin jam 9 dia sudah akan datang. Dia tipe pekerja on time dan berdedikasi tinggi."


"Oo..."


"Nanti kau lihat sendiri seperti apa dia dan cara kerjanya. Suka berceloteh, kuharap itu tak membuatmu tergganggu."


"No problem...yang penting aku...puaas....achh...10 menit lagi? please..."


Tak urung Lukas tersenyum penuh arti demi mendengar kalimat bernada seksi terang-terangan itu.

__ADS_1


Kesekian kali pria itu mengabulkan permintaan Hana.


&&&&&--&&&&&


__ADS_2