
"Apa, Ir? Kau ngomong apa?"
"Ngomong? Tidak, aku tidak ngomong apa-apa."
"Oo...tadi seperti kudengar kau ada ngomong sesuatu."
"Kau salah dengar mungkin." Lukas menikungkan motornya pada suatu pertigaan memasuki area sebuah komplek pertokoan. Cafe Blue Star sudah buka sejak jam 5 pagi. Itulah keistimewaan Cafe ini, mereka tidak seperti umumnya cafe-cafe lain yang kebanyakan buka agak siang sekitar jam 9 keatas. Pilihan kopi di sini pun terkenal sangat enak dan mutunya selalu terjamin.
Sesampainya di tujuan pada tempat parkir kendaraan, Meiska tidak langsung turun dari atas motor saat Lukas menantinya untuk turun lebih dulu. Sebaliknya, wanita itu sengaja berdiam sambil tetap merapat pada punggung Lukas, bahkan lebih mengetatkan pelukan...tak ketinggalan mengelus-elus perut Lukas pada telapak tangan membukanya. Menikmati si pembawa rasa nyaman yang dulu pernah menjadi miliknya ini.
"Mei..." Lukas menggedik sedikit bahu kanan sambil melihat ke belakang lewat spion.
"Sebentaaar... Aku masih kangen membeginikan kamu." Suara sahutan Mei tenggelam dalam punggung atas pria yang masih pada hadapan duduknya itu. "Kau ngga pernah lagi kangenin aku, ya? Ngebalas pesanku pun sekarang malas-malasan begitu.
Knapa Ir, knapa harus sedrastis itu? Biasa saja lah, kalau ketemu, ya ketemuin aku baik-baik. Ngebalas pesan, ya jangan ogah-ogahan. Biasa-biasa saja. Aku toh ngga nuntut kamu macem-macem. Paling ngga, kita bisa 'kan putus hubungan tapi lanjut mempertahankan pertemanan?"
Tak segera menyahut, Lukas melempar pandang dari spion kehadapan, tetap mencernakan kata-kata Mei barusan dalam penangkapan pendengarannya.
Ia tak memungkiri kebenaran ucapan Mei, ia memang sudah sejak 2 bulan lalu tak lagi antusias membalas pesan singkat dari wanita mantannya ini. Ataupun menerima telpon darinya, Lukas lebih sering sengaja mendiamkan sebentar panggilan telpon darinya sebelum menerima, atau bahkan benar-benar hanya ia cuweki tanpa respon.
"Ir...Hana yang menyuruhmu begitu?" Mei membisik seolah Hana ada di dekatnya dan kuatir ucapannya terdengar.
"Jangan punya prasangka yang tidak-tidak pada siapapun atau apapun, Meiskaa..."
"Lah, terus?"
"Terus apanya yang terus?"
"Terus kenapa kamu sekarang jadi sekaku ini ke aku?"
"Kaku bagaimana? Lihat, sekarang ini saja aku sedang bela-belain diri mengikuti kemauanmu."
"Ke hotel, yuk. Aku lagi kangen tidur lagi denganmu."
__ADS_1
"Jangan ngaco."
"Ngaco gimana siiih? Kemarin-kemarin kau seneng banget kalau aku lagi mengajakmu begini."
"Itu bukan kemarin-kemarin. Itu sudah sekitar 3 bulan yang lalu."
"Ah sama saja lah. 2 bulan yang lalu. Ayolah Hirlaaan..." Cara Meiska merajuk dengan bersandar dan menggesek-gesekkan tubuh depannya pada punggung Lukas sudah barang tentu membuat pria itu terpancing, tak peduli sedang ada janji kecil dalam hatinya untuk tidak lagi mengkhianati, pria itu tak bisa tidak merasakan diri mulai terangsang.
Bermotor dengan persentuhan pay*dara kenyal dan padat Meiska tanpa lepas, selalu mampu menggoda iman pria itu. "Aku sudah kangen berat menghabiskan waktu denganmu seperti dulu. Hm? Oke? Kita hepi-hepian lagi? Sekarang? Di hotel? Atau di mana? Dii...rumahku saja?"
"Mei, tidak... Maaf, aku sudah tidak bisa lagi seperti dulu itu." Pria itu mencoba bertahan.
Segera Mei menyuarakan jurus erangan memanjanya. " 'Aaaaa...sekali sajaaa... Sekali ini saja sihh, aku janji habis itu tidak akan lagi. Suwer. Sumpah. Aku serius, benar-benar lagi kangenin kamu banget. Psst, kangen percintaan kita yang puanaas dan keraas...."
Meneguk air ludah, Lukas menyahut pelan tapi menyeriuskan kata-katanya. "Aku sekarang sudah beda dengan aku yang di 2 bulan lalu, Meiska Hapsariii. Tolong hormati prinsip baruku ini."
"Ah, masa bodoh. Aku ngga mau repot-repot mikirin yang bukan bagian urusanku." Dengan keras kepala Meiska menahan tubuh Lukas yang pria itu mulai gerakkan untuk turun dari atas motor. "Aku sedang mau kamu, Hirlandi. Ngga ngerti juga sih? Makanya ini pun aku lagi bela-belain diri juga ngedatangin kamu kerumahmu. Memangnya karena apa? Cuma mau mampir doang lalu ngajak ngopi lalu pulang? Aku lagi mau tiduuuurr.... Dengan ka --"
Hampir seruan 'tidur dengan kamu' Meiska itu terdengar orang-orang sekomplek pertokoan kalau Lukas tak buru-buru menepuk keras paha kirinya. Kebetulan paha kiri Mei masih melekat erat pada sisi pinggul pria itu sehingga kalimat Meiska hanya menggantung.
"Kau lebih baik menerima lemburan kerjamu saja supaya kau bisa menyibukkan diri di kantor. Supaya tidak ada lagi waktumu tersisa memikirkan tidur denganku." Bijak Lukas menyuarakan kalimatnya. Namun,
"Malas!" tandas Meiska.
"Ayo, kita ngopi sekarang. Turunlah."
"Nggaaak! Aku maunya kita jalan lagi. Ke rumahku saja. Kau tau sendiri 'kan rumahku rumah paling aman sedunia untuk kita main? Terletak dipelosok kampung, dipojokan pula, kanan kiri cuma ada ladang sepi. Hihihi...bahkan suara des*han nafas dan pekikan bercinta kita cuma akan terdengar oleh kambing-kambing yang biasa mangkal di ladang itu."
"Aduh Meiii..."
"Ayo sayaaang...aku janji cuma untuk sekali ini saja. Akan kuservis kau seistimewa mungkin, lebih istimewa dari biasanya. Ssst, kau tak usah pakai kond*m. Asal jangan sampai bablas saja tumpah di dalam. Oke? Hahaa..."
Dan pada akhirnya Lukas melambaikan bendera putihnya tanda menyerah.
__ADS_1
&&&&&-&&&&&
10 tahun menjalin hubungan pacaran, sudah tidak lagi menjadi rahasia di tengah keluarga Lukas tentang pria itu dan Meiska sudah sampai ke tahap tidur bersama. Lukas dan Meiska sebenarnya sudah benar-benar seperti sepasang suami istri sungguhan.
Sebelum Hana tinggal di rumah mewah milik Lukas, pria itu tinggal bertiga dengan salah satu paman kandungnya, seorang duda cerai mati tanpa anak dan kini pindah kediaman menghuni rumah sendiri. Lalu seorang lagi adalah ART sekaligus supir pribadi Lukas, saat ini dipekerjakan Lukas sebagai supir baru di keluarga adik bungsunya bersama sang suami.
Sekali waktu bila sedang ada kesempatan, pria itu membawa Mei kerumah, hanya untuk kepentingan menuntaskan hasrat mereka di ranjang. Tapi lebih seringmya kedua anak manusia itu memilih hotel sebagai lokasi percintaan atau rumah milik Mei yang memang pada dasarnya benar-benar aman dan nyaman digunakan sebagai arena permainan panas mereka.
Rumah tetangga yang kebetulan terletak agak berjauhan, apitan beberapa petak ladang dan sawah di sekitar lingkungan rumah, maklum rumah itu berlokasi di sebuah kapling kampung pelosok di daerah Bogor desa, jadi, seberapa pun sering Lukas mampir ke sana, hampir bisa dipastikan tak akan mengundang perhatian.
Apalagi Lukas sengaja datang berjalan kaki jauh-jauh dari tempat ia memarkir mobil. Hanya untuk meminimalisir terlihatnya kemunculannya mendatangi rumah Meiska.
10 tahun sudah seperti hidup bersama, hingga hadirlah Hana di antara mereka berdua...
Tak menunggu lebih lama lagi, justru Lukas sendiri yang antusias memulai. Baru saja Meiska memadamkan lampu sehabis ditinggal menyala subuh tadi, belum lagi tangannya sempat meraih gorden ruang depan untuk lebih dirapatkan, Lukas menyambar Meiska, mengangkat dan membawanya masuk ke kamar diiringi derai tawa kecil wanita itu.
Ketika Lukas sudah membaringkan wanita itu di tempat tidur, ia berdiri tegak di samping ranjang, berkutat membukai atasan dan bawahan kaus training hingga dal*mannya sekaligus, dan begitu sudah dalam keadaan polos, pria itu naik ke atas tempat tidur untuk ganti menelanjangi sang mantan kekasih.
Sang mantan kekasih begitu senang dan bahagia karena Lukas masih menghafal apa yang paling disukainya : dibukakan pada seluruh pakaian oleh pria itu.
"Baumu keringat bercampur parfum, Mei." Lukas tanpa sadar melucuti sisa penutup terakhir tubuh Meiska lalu menghirup aroma B*a itu dalam-dalam di depan hidung.
Meiska tersenyum, "Apa aku perlu mandi dulu?"
"Tidak. Aku...sudah kehabisan kesabaran."
"Aww..."
Kedua kaki Meiska dipegangi, lalu perlahan ditekuk dan direnggangkan...Lukas lalu menengkurapkan diri dihadapan celah terbuka di antara kedua tungkai itu, menurunkan wajah dan...mulai mencumbui secara liar bagai kelaparan pada area senstif v Meiska...
Menggunakan lidah, ia membelai, menjilat, menyelusup. Menggunakan bibir, ia mengecupi lembut. Juga menghisap, menggigiti kecil dan lain-lain, silih berganti memancingkan hasrat dirinya dan Mei lebih keluar dan naik kepermukaan. Tak ketinggalan Lukas menyelingi dengan memainkan beberapa jemari, hingga Meiska tak tahan lagi dan melentingkan area pinggulnya, membanting kepala pada bantal di bawahnya.
Beberapa saat kemudian percintaan yang sesungguhnya pun dimulai. Lukas merayap naik ke atas tubuh Meiska...mempertemukan dan menyatukan tubuh mereka berdua.
__ADS_1
Tarikan nafas terengah-engah, tersengal-tersengal, berikut des*han, rintihan, dan erangan tertahan, segera memenuhi ruang tidur di dalam rumah sederhana yang ditinggali Mei seorang diri itu...
&&&&&-&&&&&