
Ya, menanggapi tatapan tercenung setengah bengong Hana padanya, Lukas pun mengakui di dalam hati, hanya karena satu hal yang baru saja terjadi itu lah penyebab mood dirinya segera berubah.
Dan karena memang menurut perasaan pria itu akhir-akhir ini sifat asli Hana seolah sedang kembali ke versi lama, tidak pria itu herankan kata-katanya tadi tak lantas segera dipatuhi Hana.
Istrinya bertahan di pangkuannya.
Dengan lengan kiri saja masih pada leher Lukas, ekspresi terbengong istrinya perlahan berganti ke arah wajah menyerius.
Sedikit menggentarkan sekaligus menggetarkan perasaan Lukas.
"Kamu tidak suka? Dia bergerak dan kamu akhirnya bisa merasakannya tapi kamu...tidak bisa menyukai hal itu tadi? Atau cuma sekadar belum saja, belum bisa saja sekarang ini kamu menyukainya?"
Ajaib, Hana berani blak-blakan se-to the point itu mengeluarkan pernyataan yang tanpa ampun bagai menampar Lukas di wajah, membuat pria itu terhenyak, lalu terdiam seribu bahasa dalam memandangi Hana.
Kata-kata Hana berlanjut, kali ini sambil wanita itu perlahan berdiri dari pangkuan sang suami namun pria itu memilih tetap berdiam saja membiarkan Hana meninggalkan pangkuannya, "Kalau ternyata apa yang kukatakan keliru, aku tetap tak akan meminta maaf untuk kata-kataku..."
"...Kamu tidak boleh seperti itu tadi. Kalau bisa, kamu jangan lagi seperti itu... Kalau bisa." Hana kemudian melembutkan nada suara dan wajah, "Aku saja sayang dia, walau belum tau jelas seperti apa dia. Kenapa kamu sepertinya tidak? Dengan berlebihannya, overreactingnya, tadi itu kamu seolah...jiji' banget begitu menyadari dia hidup dan ada."
Meski telah membuatnya merasa bagai tertampar, Lukas yang sebenarnya memang telah begitu merindukan gaya blak-blakan versi lama Hana tak menjadi sakit hati mendengar semua kata-kata tepat dan mengena sang istri, termasuk yang terakhir ini.
Istrinya mungkin tak keliru, mungkin memang benar dirinya telah berlaku berlebihan atau overreacting... Ya sudahlah, sudah terlanjur terjadi.
"Hana," Lukas hanya memperhatikan dari sofa ke arah istrinya di depan cermin mulai mengenakan gaun nomor 2, gaun pilihan sendiri.
"Hm?" Selesai. Gaun itu kini terbalut indah di tubuh gemuk hamilnya, gaun Midi berbahan sutra : panjang hingga bawah kaki, depan gaun lebih pendek dari bagian belakang serta sedikit mengembang di bagian kaki, bagian lengan longgar mengembang pula dari pundak bawah ke pergelangan tangan. Berkerah bentuk huruf V, berwarna peach.
Tampilan tepat di bagian perut buncit ini, hmm...sepertinya tidak ada masalah, pikir Hana.
"Aku bukannya jijik... Mengertilah, aku bereaksi kaget. Cuma karena kaget. Tak lebih."
Bohong. Bukan seperti itu. Selama ini memang Lukas seolah agak alergi pada anaknya, anak kami, ucap Hana di dalam hati.
"Beri aku waktu," Lukas menyambung karena Hana diam saja mematut diri depan cermin, "Aku hanya belum terbiasa saja. Kalau untuk sekarang aku hanya bisa seperti ini, ya memang bisaku hanya seperti ini."
Melihat kearah Lukas sekilas di sana sebelum pindah ke cermin, Hana menanggapi, "Ya sudah. Kalau memang begitu kata kamu, aku bisa komentar apa lagi?"
__ADS_1
"Gaun itu bagus ditubuhmu."
"Sungguh? Kalau begitu, ini selesai. Ke gaun terakhir sekarang."
Sigap Lukas bergerak mendatangi gaun itu ke gantungan sana.
Sementara Hana sedang melepas gaun ke 2 dari tubuh, Lukas menghampirinya lagi dengan gaun ke 3 sudah ditangan.
Gaun model bahu terbuka atau Off-shoulder atau gaun Sabrina, warna baby-blue. Lukas memilihnya karena menyukai model gaun ini yang bergaris leher sangat lebar hingga terjatuh ke lengan bagian atas bahu.
Gaun seksi. Sensual meski hanya berupa sebuah gaun.
Sekali melihatnya tadi saja pria itu langsung bisa membayangkan seperti apa gaun ini ditubuh hamil Hana, berikut si kalung mutiara menghias pada leher telanjangnya.
Begitu pria itu mematutkan gaun itu sejenak ke depan tubuh setengah telanjang Hana, Hana pun bereaksi terpesona,
"Wah, koq cantik juga ya? Tadi aku tidak begitu memperhatikan."
Lukas tersenyum, "Aku yang jeli memperhatikan. Aku yakin ini akan lebih cocok denganmu bersama kalung itu."
"Ooo... Ya, biar kucoba dulu sekarang. Ngomong-omong, waktu kita di sini kurasa sudah sesuai dengan lamanya aku mengepas kesemua 7 gaun itu. Setelah yang ini, kita langsung selesai saja di sini, oke?"
"Ngomong-omong lagi...maafkan kata-kataku tadi. Sebaiknya begitu keluar dari sini semua yang tadi itu dilupakan saja. Karena aku sebenarnya bukannya...hmp!"
Kalimat Hana terbungkamkan ciuman Lukas pada mulutnya dengan Lukas masih sedikit menunduk dalam mempertemukan bibirnya dengan bibir Hana. Dengan bisikan dalam hati pria itu yang sangat ingin menyeletukkan 'kupikir tidak akan ada ungkapan permintaan maaf...' Dan memang hal ini yang membuat Lukas spontan mencium lagi istrinya.
Hana pun tak bisa berbuat apa-apa lain selain kembali menghadapi ciuman sang suami; menikmati belaian lidah pria itu di dalam mulutnya, merasakan pria itu menyusupkan jemari ke dalam rambut belakang Hana, memegangi kepala Hana sambil tenggelam dalam ciuman lebih dalam yang seolah bagai belum juga terpuaskan.
"Mud-ku pada yang satu ini pun mungkin akan ikut terlupakan begitu sampai di rumah, Hana, jadi sebaiknya selagi aku memilikinya sekarang ini di sini, aku..."
"Hm-mhh...oke."
&&&&&-&&&&&
Baru saja menginjakkan kaki di muka pintu ruang tamu depan, HP dalam saku baju kodok Hana bergetar dan berbunyi.
__ADS_1
Sambil mengeluarkan benda itu, Hana menuju sofa dan duduk di salah satu kursi sofa kecil.
"Ibu, maaf tadi tak sempat menerima telpon dari ibu... Dari luar, bu, beli gaun untuk kupakai ke acara undangan pernikahan... He-eh, teman sekerjanya..."
Selanjutnya Lukas muncul memasuki rumah dengan tas-tas belanjaan dibawa pada tangan kanan-kiri, melihat Hana yang memberi isyarat mengucap 'Ibu' tanpa suara. Lukas mengangguk, terus berjalan menuju kamar tidur.
Tak muncul lagi selama Hana bertelponan dengan Ratna sang ibu.
'...dia itu anak kesayangan dalam keluarganya. saat ibunya baru saja meninggal begini, kau harus bisa memberinya penghiburan dan kekuatan.'
"Iya, ibu."
'ngomong-omong, kapan kalian mulai mempekerjakan asisten rumah tangga? ibu sama sekali tak keberatan kalau kalian meminta ibu datang ke sana membantu kalian beres-beres, bersih-bersih misalnya seminggu 2x.
tapi mengingat kau sebentar lagi akan melahirkan, sebaiknya segera saja kau minta lukas memulai memperkerjakan 1 atau 2 orang pembantu.
kau sudah tidak boleh hanya sendirian di rumah saat lukas pergi bekerja, hana, takutnya ibu kalau kau kenapa-kenapa, tidak ada yang bisa kau mintai tolong.'
"Aku masih betah sendirian saja sih, bu."
'hush, jangan lagi. kau itu sudah mau bersalin!'
"Masih 2 bulanan lagi. Nanti sajalah, 1 bulan lagi akan kuminta dia mencari ART sekaligus 2 orang.
By the way i miss you, bu. Aku juga kangen sama ayah. Banget."
'sama. ibu juga di akhir-akhir ini kangen kau dan juga ayahmu. adikmu masih dalam penjara, masih 1 tahun lagi baru bisa bebas. ibu sangat sendirian dan kesepian di rumah kita ini, jadi sering keingatan begitu saja pada ayahmu.'
"Apa ibu mau ikut dengan kami saja tinggal di rumah ini?"
'ahh, tidak mau. tidak kepingin. tidak sreq. rumah lukas itu terlalu besar dan mewah. malah bikin ibu tak nyaman.'
"Hihii...aku koq sreq-sreq saja sih, bu. Malah asyik, bisa di pakai main futsal di sini saking besar dan luasnya ruangan-ruangannya."
'lukas itu pandai memutar uang lewat bermain saham. menanam saham, berinvestasi ini-itu, tak heran biarpun cuma seorang pialang, bukan sambil membuka usaha wiraswasta, uang tabungan dan sahamnya banyak.
__ADS_1
belum lagi nanti rumah mewahnya yang hendak dia tambah 1 lagi itu.'
"Hah? Maksudnya?"