MUTIARA 250 JUTA-KU

MUTIARA 250 JUTA-KU
2. Rahasia Hana Terungkap


__ADS_3

&&&&&-&&&&&


"Begitulah ceritanya, Las." Hana mengakhiri penuturan panjang lebarnya.


"Ya ampuuun...begitu tho rupanya yang telah terjadi," tanggap Lastri kemudian, tak urung jadi geleng-geleng kepala. "Jadi kayak cerita di sinetron gitu ya kan, mas?"


Lastri dan David sang kekasih saling bertukar pandang sebelum David mengangguk-angguk, "Kurang lebih.'


Lastri menghela nafas, memandangi prihatin Hana yang hanya dapat meringiskan senyum lalu menunduk malu. Instingtif mengusap-usap perlahan perut hamil 5 bulannya.


Berbulan-bulan sang teman karib berhasil menutupi rahasia sedemikian rapi tak terendus.


Menyembunyikan fakta dengan terus menjaga jarak, menghindari komunikasi pertemuan kecuali pesan singkat, sampai-sampai Lastri berhasil dipengaruhi hingga percaya begitu saja berbagai alasan yang dibuat Hana.


Termasuk beralasan sedang sibuk kejar target, menyelesaikan kewajiban menggambar komik animasi online untuk kontrak baru, memohon jangan diganggu dulu sementara waktu.


Dan Lastri yang juga sama sibuk dalam pekerjaannya, tentu bisa mempercayai karena Hana memang sudah biasa sesekali waktu menolak ketemuan, dengan alasan sedang sibuk-sibuknya menggambar.


Alhasil Hana sukses menyembunyikan pernikahan dan kehamilan dirinya dari sang karib Lastri, bertahan bulan demi bulan hingga akhirnya...kemarin siang David kekasih Lastri secara tak sengaja bertemu wanita itu. Lalu terkuaklah tabir rahasia wanita itu selama ini, di beberapa bulan terakhir ini.


Di sebuah Rumah Sakit bilangan pusat kota Jakarta... Hana hendak kontrol kandungan dan David sebagai petugas vendor pendistribusian obat-obatan untuk RS itu, menemukan Hana sedang menuju ruang tunggu periksa.


Pria itu yang lebih dulu mengenali Hana, terkejut luar biasa begitu melihat kehamilan wanita itu lalu memutuskan untuk mencegat dan menyapanya.


Kalau saja bukan sedang bertemu di ruang tunggu pemeriksaan kandungan, mungkin David tidak akan lantas menyimpulkan perut sedikit membuncit yang terlihat pada diri Hana adalah kehamilan wanita itu.


Keesokan hari yakni Sabtu siang ini, kebetulan Lastri dan David sedang libur kerja, akhirnya Hana bersedia bertemu mereka berdua karena David menyatakan menolak merahasiakan.


Beralasan apa yang sudah dilihatnya adalah sebuah kabar baik yang perlu juga diketahui oleh Lastri, teman karib Hana sejak SMP hingga sekarang.

__ADS_1


Hana pun menyerah, pasrah mengiyakan janji temu, tak urung diterpa malu saat Lastri terperangah sesaat melihat keadaan dirinya.


Kehamilan yang baru saja berusia 5 bulan. 5 bulan lebih 2 minggu. Namun karena Hana mulai mengalami kenaikan berat badan walau belum sebegitu drastisnya, tetap saja Hana yang sekarang jadi tampak sedikit beda dimata Lastri, dibanding Hana sebelum menikah dan hamil yang pernah dikenalnya.


"Jangan cerita-cerita lagi pada siapapun teman sekolah kita, ya Las?" Hana mengembalikan pandang pada Lastri, mengucap kalimat yang cukup terdengar melow dan penuh harap ditelinga gadis itu, "Please?"


"Siap, bu. Beres," sahut gadis itu bersungguh-sungguh, "Jangan khawatir, aku akan menjaga rahasiamu ini baik-baik sampai kau sendiri nanti siap membukanya di depan mereka, kalau kita sedang ada acara kumpul-kumpul lagi. Mungkin menjelang atau sesudah hari raya bulan depan."


"Aku ngga mau ngumpul lagi. Aku tidak berani ikutan lagi."


"Oke oke, aku ngerti. Terserahmu saja, hmh?"


"Trims. Suatu saat nanti kalau ada kesempatan ketemuan, akan kukenalkan dia padamu, Las."


"Iya, gimana enaknya menurutmu saja, sayang. Tapii...boleh kutau, dia selama ini bersikap baik kah terhadapmu?"


"Baiik. Sangatt. Memang itu salah satu yang bikin aku kekeuh mengajukan tawaranku padanya, setelah aku bertemu langsung dan bicara dengannya. Sikapnya yang sangat baik dalam menghadapiku...


Begitu sudah bertemu dan bicara, dia sama sekali tak menegur atau memarahiku karena aku lancang membahas kehidupan pribadinya. Tidak mencuweki apa yang kucoba bahas padanya, sebaliknya dia terus merespon penuh perhatian...pokoknya dia, sangat-sangat baik dan sabar."


"Sampai setelah kalian resmi menikah sekarang ini...."


"Sampai ke saat ini..."


Manggut-manggut tanda mengerti, Lastri puas mendengar jawaban Hana. Hingga kemudian ia mengerutkan kening ketika menyadarinya, terlambat 1 detik dalam menyadarinya...penekanan sepenuh hati pada nada bicara tadi, ditambah ekspresi menyendu melembut sedemikian rupa saat sang karib mengarah kesekian kali melihat pada perut, bahkan paras yang kini nampak bersemu merah...


Terlengkapi naluri alamiah sebagai sesama kaum wanita, Lastri menangkapnya... Merasa yakin tidak perlu melakukan peneitian lebih jauh untuk bisa membacai Hana....


"Han..."

__ADS_1


"Hm?"


"Kau...sudah jatuh cinta padanya. Lebih dari suka padanya, kau sekarang...sudah jatuh hati padanya... Apa tebakanku ini benar?"


"Hah?"


Sentuhan kedua tangan Lastri yang meraih tangan kiri Hana di atas meja pada pegangan gelas mug minuman, sebelum sang karib menggenggam erat tangan itu sembari mengucap lembut kalimatnya...bukan hanya membuat Hana bagai tersengat lalu tergugupkan. Tapi juga memunculkan, lagi, ketersipuan itu, tak alang kepalang lebih memerahkan parasnya.


"Apa sih, Las," Hana sumringah berkelit, "Ngga benar. Aku ngga begitu."


Senyum lembut Lastri, tatap pandang penuh arti, serta usapannya pada punggung telapak tangan Hana, hanya membuat Hana kian gugup salah tingkah.


"Ada cinta yang kau perlihatkan yang membuatku menebak begitu." Lastri belum ingin menyudahi memerahkan paras Hana, "Tapi kalau memang tebakanku tidak benar, ya sudahlahh, lupakan saja kata-kataku tadi."


Melongo kebodohan, Hana memandangi tanpa berkedip senyam-senyumnya Lastri.


Baik Lastri maupun David sebenarnya kompak menangkap hal yang sama...


###############


Sambil menyakukan kunci mobil pada saku kiri celana, tangan lain Lukas mengendurkan ikatan dasi depan lehernya.


Memasuki ruang tamu rumah mewahnya, seperti biasa pria itu hanya mendapatkan kekosongan dalam ruangan itu. Begitupun pada ruangan-ruangan lain...kecuali kamar kerja milik Hana yang khusus dibuatkan pria itu sebagai tempat sang istri mengerjakan karya-karya komiknya.


Sebuah kamar kerja nyaman dan strategis terletak memojok, tak jauh dari keberadaan jajaran anak tangga ke lantai atas.


Terlihat oleh Lukas dari luar, kamar kerja itu sedang terang benderang di dalam, pertanda Hana masih sibuk menggambar di sana. Meski hari sudah hampir tengah malam, pukul 11.05, saat Lukas melirik arloji pada pergelangan tangan kiri dan tangan kanan memegang handel pintu, terdiam sesaat karena ragu dalam niat ingin memasuki ruangan di hadapan.


Selama 8 bulan pernikahan mereka berdua sebenarnya Hana sudah sering mewanti-wanti agar Lukas mengetuk pintu dulu sebelum masuk. Akan tetapi Lukas kadang jahil sengaja mengabaikan. Kadang memang lupa betulan, lebih seringnya pria itu menyelonong masuk begitu saja ke dalam ruang kerja sang istri, merasakan kepuasan tersendiri melakukan sesuatu yang bertolak belakang, yang bisa memancing perhatian Hana.

__ADS_1


Seperti saat ini, handel pintu diputar pria itu perlahan...sedang ingin pura-pura mengabaikan mengetuk dahulu itu.


Pemandangan pertama kali terlihat oleh mata pria itu, Hana tampak duduk sedikit tertunduk di depan meja kerja --menghadap jendela satu-satunya pada ruangan ini, membelakangi keberadaan pintu-- sangat menyadari masuknya Lukas ke dalam dan berjalan pelan, untuk kemudian berhenti tepat di belakang kursi yang diduduki Hana.


__ADS_2