
Ketika akhirnya Lukas beralih dari layar dan memandang Hana...tak ada dari keduanya yang mampu bicara.
Sang istri balas memandang padanya tapi seolah kesulitan mengeluarkan suara. Hanya meneguk air ludah, sesaat sebelum Lukas berinisiatif mengangkat tubuh dari kursi yang di duduki, tanpa tegak terus saja mencondongkan tubuh ke atas berbaringnya sang istri.
Dokter Tyas semakin tersenyum melihat pria calon ayah itu sambil menumpukan satu tangan di kasur pada sisi bahu Hana, lalu merendahkan kepala untuk mengecup tepat di permukaan bibir sang istri. Berharap bu dokter tak jadi tersinggung melihat perbuatannya ini.
Hanya sebuah kecupan ringan, tapi begitu tak terduga sehingga Hana hanya terbaring di sana, terkesima. Lalu tersipu malu saat Lukas menghadapkan kedua wajah mereka, berbisik serak oleh sesak, akan perasaan bahagia yang segera memenuhi rongga dalam dada,
"Jagoan. Kembaran salah satu dari kita... Kau, atau aku?"
Kalau saja tak ada 2 orang lain di dalam ruang periksa itu, mungkin Lukas sudah akan mel*mat dengan lapar bibir merekah tersipu Hana di bawah wajah pria itu.
Dokter Tyas berdeham, menyela, "Seorang jagoan yang sehat, normal, sangat anteng, sedang tidur, sepertinya belum ingin memulai aksi.
Kalaupun bunda Hana belum merasakan pergerakan meski halus sekalipun, sabar saja, mungkin sebentar lagi bunda sudah akan merasakannya."
Lukas menegakkan tubuh, masih berdiri di sisi ranjang Hana ia pun berpaling dan mengulaskan senyum rikuh pada sang dokter,
"Terima kasih, bu dokter...sudah...memperlihatkan dia...pada kami. Dan juga untuk beberapa penjelasan tadi..."
"Sama-sama, pak Lukas." angguk dokter Tyas ramah di antara balas senyumnya pada pria itu sekaligus ke Hana.
Memandang Hana lagi lalu kembali ke layar mesin USG sambil duduk, Lukas jelas-jelas menyembunyikan mata berkaca-kacanya.
Ia akan segera mempunyai keturunan, seorang anak, atau cucu...dan kedua orangtuanya akan...
"Ehm...kalau kau sendiri, Hana, apa kau sudah menyiapkan nama untuknya?" Sekonyong-konyong Lukas melontarkan pertanyaan ini. Mengejutkan Hana yang sedang serius men-scroll HP di tangan.
Kali pertama pria itu membahas tentang nama.
"Nama?" Hana berkerut dahi menatap Lukas begitu pria itu menoleh dan pandangan mereka bertemu.
"Ya," angguk Lukas serius, telah kembali sepenuhnya ke sandaran kursi kereta, "Mungkin nanti aku akan mencoba...memberitaukan calon namanya...pada ibu."
Oh ya ampun...
"Entahh... Hanya terpikirkan saja. Sekadar buat jaga-jaga..." tambah Lukas lirih.
Paham.
__ADS_1
"Aku-ngg, boleh kusebut? Aku memang sudah ada usulan nama sih." Paras manis dan mata beraura cerdas Hana nampak berbinar-binar, antusias, sengaja mengabaikan kemendungan selintas suaminya. Tak mau larut mengikuti itu.
"Tentu. Katakan saja." Lemah saja anggukan Lukas. Bagaikan orang yang sedang letih. Bukan lagi sepenuhnya karena kegalauan, tapi separuh karena ia dalam memandangi Hana, terharu akan respon positip istrinya untuk bahasan nama yang mendadak ia kemukakan ini.
Yeah, selama ini Hana memang selalu menjadi istri yang penurut. Responsif atau tidak masa bodoh, walau tidak terlalu reaktif. Dan Lukas tidak akan pernah mencoba-cobai menserakahkan diri terhadap Hana, mengharap lebih atau berlebih pada wanita ini.
Melihatnya seperti yang pernah Lukas katakan saja ; baik, pengertian, tidak macam-macam, Lukas sudah cukup senang. Dan juga terharu, seperti yang pria itu sedang rasakan.
"Aku suka karakter Jepang. Aku pingin namanya ada sedikit berbau-bau Jepang. Ryoichi. Atau Ryuchi. Artinya putera pertama yang baik. Mungkin kamu mengijinkan itu disisipkan di tengah atau di belakang namanya, terserah saja."
Ryoichi? Lukas menggumamkan nama itu...dan merenungkannya sejenak.
Ryoichi. Atau Ryuchi. Sangat terdengar asing di telinga pria itu. Tapi tak jadi masalah. Ia maklum Hana sangat memfavoritkan karakter Jepang. Juga, di jaman sekarang ini, karakter Jepang, Korea atau China toh memang sedang trend di Indonesia. Bahkan dunia.
"Oke. Nama itu akan kita gunakan dan selipkan. Lihat nanti. Di depan, tengah, atau belakang."
Spontan Hana mengangkat alis, bengong.
Kaget. Lukas setuju dengan begitu mudahnya. Tak mengomentari ini-itu, misalnya bertanya mengapa nama Jepang yang satu itu yang dipilih.
Tak terkira betapa senang dan tersentuhnya ia, maka tanpa pikir panjang ia pun meraih lengan kanan Lukas, merangkul erat tepat di sekitar siku pria itu.
Barulah begitu sang suami menyengajakan melakukan gosokan lembut di sana Hana akhirnya menyadari, lantas buru-buru menolakkan diri sambil melepas rangkulan.
Tanggapan berupa tawa tertahan dan bisikan bergurau dari Lukas hanya membuat wanita itu semakin menghapus senyum, pura-pura kembali ke ekspresi datar.
"Santai saja... Kursi di seberang di sebelahmu itu kosong, tak ada penontonnya."
Mengerucutkan mulut, Hana hanya menggeleng-gelengkan kepala.
Memang sejak keberangkatan dari Jakarta kompartemen kereta ini tak terisi penuh penumpang. 2 kursi pada seberang duduk Hana pun kosong saja hingga sekarang. Sangat mengundang privasi bagi duduk Lukas dan Hana. Bahkan bila pria itu berminat 'menjahili' Hana, tak kan ada yang melihat dari arah itu.
Tapi karena sepanjang perjalanan pria itu sedang tidak ingin hal lain selain melarutkan diri dalam pikirannya, privasi mengundang ini jelas tersia-siakan begitu saja.
Lukas mengambil tangan Hana yang di parkirkan rapi di pangkuan wanita itu dan menggenggamnya, meremas keras, hingga wanita itu kembali menoleh kepadanya, "Kecuali bila ibu tiba-tiba menginginkan memberi nama, Hana, kuharap kau tidak keberatan mengijinkan bila ibu...meminta kita menggunakan nama darinya."
Anak kesayangan emak, Hana tau betul apa sebab Lukas dijuluki ini dari banyak pihak. Bukan julukan yang mengandung unsur provokasi, namun sekadar guyon saja.
Ada dasarnya. Karena kemarin-kemarin itu sang suami adalah yang paling sibuk mengurusi sakit kakaknya, sampai menempatkan sang kakak tinggal di rumah pria itu dan memperkerjakan seorang pembantu khusus untuk mengurusi sakitnya.
__ADS_1
Dan jauh sebelum itu, dulu sekali suaminya pun adalah yang paling banyak membantu orangtua secara finansial, begitu ia mulai bekerja dan mendapatkan penghasilan, kemapanan. Karena ayah pria itu cuma seorang guru SD berpenghasilan pas-pasan, sementara ibu bekerja sebagai tukang cuci-gosok.
Maka dengan sendirinya di kemudian hari kedua orangtua seolah membalas jasa, dengan memberi perhatian berlebih terhadapnya. Seolah menjadikan Lukas sebagai anak paling disayang. Walau yang benar pria itu dan 3 saudara yang lain tetap mendapat perhatian sama, jauh dari unsur berat sebelah.
"Iya. Oke. Aku setuju." Tulus Hana menyuarakan sahutan.
"Iya-oke-aku setuju," ulang Lukas menyenyumi kalimat Hana di antara manggut-manggutnya, "Okee, beres. Terima kasih... Ah, ngomong-omong, apa kau tau namamu itu sendiri ada artinya?"
"Hana?"
"Ya. Itu ada artinya. Ada beberapa."
"Yang kutau cuma dari bahasa Jepang. Artinya bunga."
"Tepat. Biar ku jelaskan apa saja artinya.
Hana... Hana itu dalam bahasa Korea artinya adalah favorit atau nomor satu... Hana, secara umum dalam bahasa Jepang, bermakna bunga... Sedangkan Hana dalam bahasa Ibrani adalah Chana atau Ḥannah, artinya elok atau menyenangkan. Dan Hana dalam bahasa Arab, yaitu Hanaa, artinya kebahagiaan, kegembiraan, kesenangan."
"Wuah, kamu semengerti itu?" Otomatis Hana mereaksikan keterpukauan. Takjub Lukas ternyata ada perhatian pada nama dirinya.
Pria itu kesekian kali tersenyum, "Aku cuma pernah iseng-iseng mencari tau."
"Ooo..."
"Kurasa aku tak akan menyumbang nama. Mm--lain kali saja. Ehm..." Pura-pura mendeham Lukas menyambung ringan sambil lalu, "...yang berikutnya."
Yang berikutnya.
Hati Hana diam-diam tergetar, dalam dadanya mengembang. Kedengarannya seperti Lukas menginginkan anak ke dua? Tidak tidak tidak, ia tidak akan pernah berkeberatan. Berapapun anak yang diinginkan pria itu...ia akan menyanggupi mengandung baginya.
Namun ia belum ingin membahas itu sekarang. Sang suami pun nampaknya demikian.
Dan tanpa mereka sadari mereka sudah berbicara banyak dibanding beberapa jam lalu. Dijelang akhir perjalanan kereta ini.
Untuk sementara Lukas terlupa akan kegalauan pikiran tadi.
Dan ada satu hal lain di lain pihak... Hana sudah begitu ingin punya keberanian mencium pipi suaminya. Atau sekadar menempelkan hidung di leher suaminya. Tak jelas apa ini sebenarnya karena 'bawaan orok' atau apa.
&&&&&-&&&&&
__ADS_1