MUTIARA 250 JUTA-KU

MUTIARA 250 JUTA-KU
21. Hana Seolah Sedang Kembali Ke Gaya Tegas Versi Lama


__ADS_3

&&&&&-&&&&&


Entah apa yang ada dalam pikiran Lukas sekarang, Hana tak bisa menebak. Ibunda baru saja meninggalkan untuk selamanya, dan kini pria itu dengan Meiska saling meninggalkan.


3 hari yang lalu? Berarti saat masih di Solo atau baru sampai ke rumah ini.


Tapi kapan tepatnya Meiska mengucap kata berpamitan? Karena hampir setiap saat selama 3 hari kemarin Lukas selalu bersama dengan dirinya. Bak pengawal pribadi Lukas ada di manapun ia berada, namun ia tidak yakin selama waktu itu pernah melihat Lukas bertelponan dengan seseorang yang kira-kira isi pembicaraannya bertema perpisahan, atau semacam bahasan serius tentang niat ingin menjadi biarawati Meiska.


Pria itu sendirilah yang tak mau jauh-jauh darinya. Jadi bisa dikatakan ia tau betul Lukas tidak memiliki pembicaraan telpon semacam itu.


Jadi kapan di luar sepengetahuannya Lukas dan Meiska saling bertelponan?


Atau apakah hanya berpamitan lewat kata di SMS?


Atau, Mei hanya berbohong tentang berpamitan pada Lukas, renung Hana di dapur saat sudah memulai memasakkan bubur untuk sang suami, sambil menyiapkan menu hidangan lain. Padahal mungkin wanita itu tidak melakukannya, karena terlalu dirasa sedih dan tak sanggup dilakukan, atau apa.


Ya sudahlah, apapun, terserah mereka berdua.


Ia jauh lebih muda dari mereka berdua, jadi biarkan ke 2 orang yang lebih dewasa itu memperbaiki hati yang rusak mereka masing-masing tanpa usikan lagi darinya.


Sementara di pihaknya sendiri, ia harus mengakui di dalam hati senang dan lega mengetahui hubungan mereka berdua ternyata benar telah berakhir. Namun tetap saja ia sedih bila mengingat Lukas harus kehilangan 2 orang yang pernah dan mungkin masih sangat dicintai, pada salah seorang diantara kedua orang itu berupa cinta yang tak harus memiliki itu.


Itu sebabnya semasih bertelponan dengan Mei satu jam lalu Hana tak sanggup menguasai tangis. Bukan karena sedang melankoli bawaan si jabang bayi, murni hanya karena terbawa perasaan yang normal saja saat ia diingatkan akan nasib sedih Lukas.


Lukas...seperti kata Meiska kini pria itu telah menjadi miliknya seorang. Artinya Hana tak lagi mempunyai rival.


Dan apakah dirinya telah mulai menyimpan rasa istimewa terhadap pria itu? Sesaat lalu Meiska tidak cukup beruntung mendapat jawaban Iya atau Tidak darinya.


Ia bungkam tak mau memberi jawab apapun. Sengaja. Meiska tak pernah penting baginya, jadi, tak ada jawaban.


Hanya saja, ada satu hal lain yang ini harus juga diakui olehnya. Yakni setelah melakukan pembicaraan hampir 1 jam dengan Mei, ia pun menyadari ternyata wanita itu tidaklah semenyebalkan yang sempat ia kira sebelumnya.


Wanita itu cukup hangat. Mudah mengakrab, lepas-bebas, istilahnya blak-blakan. Terbuka. Jauh dari sikap menjaga jarak, meski komunikasi pertama mereka berdua tadi cuma terjadi dalam hubungan telpon saja.


Menyangkut Lukas, wanita itu sama sekali tidak kasar atau sinis. Sebaliknya, cenderung dirasa Hana bahwa seolah wanita itu...sedang melakukan usaha lebih mendekatkan dirinya pada Lukas.

__ADS_1


Lebih menjodohkan mereka berdua, sembur Hana, nyengir tersipu sendirian di dapur.


Yah, seperti itu.


Tapi tunggu...lebih menjodohkan? Istilah apa ini?


Ah pokoknya ia cukup menyukai komunikasi yang telah terjadi diantara dirinya dan Meiska ini. Titik.


Sudah, begitu saja. Pemikiran tentang Meiska...tamat.


&&&&&-&&&&&


Mang Udin beserta sang kenek mulai mengerjakan pembersihan dan pembenahan pada sebuah ruangan luas kosong di lantai bawah rumah Lukas. Calon kamar tidur baru Lukas dan Hana.


Usai melakukan pembersihan, kemudian keduanya melakukan perbaikan handel pintu, AC, lampu di langit-langit kamar, sekaligus nanti memasang alat kamera CCTV wireless.


Tukang profesional langganan Lukas itu kebetulan memiliki juga keterampilan di bidang kelistrikan dan berbenah-benah, jadi Lukas sekalian saja menyuruh melakukan semua hal termasuk nanti memindahkan barang-barang dari kamar tidur di lantai atas ke bawah.


Sementara pria itu sendiri sesekali pergi memantau di sela kegiatan membuka-buka file pekerjaan kantor pada laptop. Masih terlihat bermuram tak banyak bicara, dengan ditemani Hana bersamanya di ruang keluarga.


Sebuah TV flat layar lebar di sana dalam keadaan menyala pada channel siaran berita, namun Lukas lebih menujukan perhatian menunduknya ke layar laptop di pangkuan, sementara Hana pada HP di tangan.


Hana yang sedang serius bergawai perlahan menengadah begitu menyadari dirinya sedang dilihati. Tak lantas Lukas berpaling begitu mereka bertemu pandang.


"Kenapa?" Wanita itu bertanya pelan.


Mengulum senyum meski bias pada wajah masih belum bersemangat, Lukas menggeleng perlahan, "Tidak, tidak kenapa-kenapa. Aku hanya terpikirkan sekilas...gaun hamil seperti apa kira-kira yang cocok dengan wajah dan tubuhmu, serta kalung itu."


"Ooo..."


"Bagaimana kalau besok saja kita pergi membelinya, Hana?"


"Besok?" Spontan kedua alis Hana terangkat, "Kamu mau cuti lagi besok?"


"Hm-mh." angguk Lukas lembut.

__ADS_1


"Apa itu tidak akan apa-apa? 'Kan kamuu sudah 2 minggu tidak masuk kerja?"


Cara melirih Hana mengucap kata-kata itu, sambil memandang penuh perhatian ke arahnya, membuat Lukas sesaat disentuhkan lagi ke perasaan mencinta diam-diamnya pada istrinya itu.


Selama 2 minggu ini, Lukas entah kenapa dan entah bagaimana seolah merasakan hatinya berat ke Hana saja. Ingin selalu dekat dan bersama dengannya. Ingin selalu diperhatikannya, walau memang sejak detik sang ibu pergi, Lukas segera merasakan perhatian Hana tercurah melimpah terhadapnya.


'Hana, yang lain-lain aku bersedia menyerah tapi terhadapmu, aku ingin memilikimu selamanya. Selama aku masih ada nafas di dunia ini...'


"Tidak akan jadi masalah, percayalah," yakin Lukas pada Hana, "Aku sudah mengajukan dispensasi. Keringanan. Dan sudah disetujui. Jadi kau jangan khawatir."


Maka Hana sekali lagi ber-O, tanpa suara.


Kemarin di Solo banyak famili memberi Hana pujian secara terang-terangan. Tentang betapa terlihat segar dan bercahayanya raut wajah istrinya itu, tentang tetap terlihat enerjiknya ia dalam bergerak, meski kehamilan 7 bulan kurang beberapa hari membuat perut dan seluruh tubuhnya bagai nampak berbeban berat. Meski untuk bangkit berdiri pun, dari duduk di lantai atau dari berjongkok di pinggir pusara sang ibu mertua, Lukas kadang perlu membantunya.


Istrinya pun begitu santai menanggapi banyak pihak yang mengomentari ia terlihat 'lebih gemukan' dari yang pernah mereka ingat. Atau komentar bernada bergurau yang menyebut : kalau tidak sepasang kembar, berarti ini pasti bayi tunggal 4 kiloan. Lalu ditanggapi Lukas dengan menjawab ke prediksian yang terakhir.


Tak sedikitpun menunjukkan reaksi minder, tersinggung atau sekadar memanyunkan wajah, Hana sukses menampilkan diri sebagai wanita hamil besar yang manis dan menyenangkan di mata semua orang. Mengagumkan dan membanggakan di mata Lukas.


"Bagaimana? Besok saja?"


"Iya. Tapi kalau kamu lebih lama 1 hari lagi cuti dari cuti besok itu, tak peduli ada keringanan itu, aku akan mengkritik kamu. Mungkin akan memaksa kamu untuk segera berangkat kerja."


Kaget mendengar itu, Lukas pun terperangah. Lalu tertawa singkat begitu menyadarinya. Tak percaya Hana seolah sedang kembali ke gaya tegas versi lamanya.


"Kau sungguh akan memaksa --"


"Ya!" Singkat saja penegasan Hana berikutnya, memotong ucapan Lukas, pria itu pun dibuat makin tak bisa menahan tawa. Hana sebaliknya, memperlihatkan keseriusan, tapi ke arah layar menyala HP di tangan.


"Hana,"


"Hmh?" Hana melihat pada Lukas lagi.


"Aku malah jadi benar-benar kepingin menambah cuti lagi sampai di hari kita pergi ke undangan." Lukas berkata demikian dengan maksud iseng memancing debat.


"Tidak boleh," jawab Hana masih sama tegas, "Itu pasti tidak akan lagi bisa ditoleransi. Cukup cuti tambahan pada hari ini...sampai di besok saja." Ia menelan ludah dan mengulang, "Sampai di besok saja."

__ADS_1


"Maaf mengganggu, pak Lukas, bisa...ke sana sebentar?" Mang Udin mendadak muncul menyela.


Hana dan Lukas berbarengan menoleh ke arahnya.


__ADS_2