MUTIARA 250 JUTA-KU

MUTIARA 250 JUTA-KU
46. Menjadi Pewaris Seluruh Harta Benda Milik Sang Suami


__ADS_3

Tertawa mengikik, Hana baru-baru ini saja melakukannya.


Selama berbulan-bulan kemarin bahkan cara tertawa yang biasa pun sangat ia jaga keiritannya.


Jadi ada apa dengan Hana jika pada akhirnya bisa memperlihatkan reaksi geli a la ABG seperti ini? Lukas mencoba menebak jawabnya di dalam hati sambil menatap intens sang istri, yang terang-terangan sedang bergurau menarik ulur.


Mengingat, yang namanya tertawa biasa, terkikik, atau bila sampai terbahak-bahak, sudah pasti adalah jenis-jenis tawa yang membutuhkan kekuatan magis bagi Hana Cesilia untuk bisa melakukan itu....terhadap Lukas.


"Tidak apa, tak perlu kau terima lagi kalau memang kau merasa berat untuk memilikinya. Aku tidak akan memaksa," putus pria itu menanggapi tarik ulur Hana.


Karena ini sudah lebih dari cukup. Sudah waktunya menyudahi, pikirnya. Terhitung sejak kalung dikembalikan kemarin sebenarnya Hana sudah berhasil lulus tes. Pengetesan yang menjadi bagian di dalam Lukas menerima tawaran menikah dari wanita itu.


Setelah pernah menolak 250 juta, sekali lagi istrinya melakukan penolakan untuk 86.8 juta ini...berarti sudah cukup membuktikan bahwa istrinya...


"Tapi katamuu...kamu senang melihat kalung itu melingkar di leherku..." Hana menimpali seolah menggumam.


"Sangat," sahut Lukas, tersenyum penuh arti. "Tapi seperti yang sempat kukatakan padamu bahwa aku padamu hanya akan bersikap mengalah saja..."


"Sebentar sebentar sebentar, maaf kusela, mau kutanyakan selagi kamu menyinggungnya..." Saat Hana teringat pertanyaan yang bolak-balik datang dan pergi tak jelas itu... "Katakan, kenapa kamu harus mengalah pada apapun yang menjadi kemauanku dengan kamu mengabulkannya, yang membuatku menyimpulkan aku ini si bebal dan keras kepala di antara kita sampai-sampai kamu merasa perlu untuk... mengambil sikap mengalah-mengalah saja dari aku?"


Nah, sudah ia sampaikan.


Lukas jelas segera bereaksi terperangah, "Bebal dan keras kepala?"


"Ya," angguk Hana cepat. "Kamu menempatkan aku seperti itu. Seolah begitu," rengutnya.


Barulah kemudian Lukas tertawa. "Mana ada aku menganggapmu seperti itu? Berarti kau sudah salah paham kalau begitu."


"Bukan begitu?"


"Bukan. Dan sekarang coba dengarkan ini baik-baik, jangan dipotong dulu...


Kemarin aku bicara mengalah maksudku adalah, sedetik aku melihatmu ngambek di dalam mobil setelah aku mengancam akan membuang kalung itu, aku langsung disadarkan bahwa aku ini salah besar dan terlalu berlebihan kalau harus menunjukkan sikap ngotot padamu...

__ADS_1


Tidak seharusnya memperlakukanmu yang selama ini sudah begini baik padaku dengan lagi-lagi kukerasi, dalam tanda kutip.


Kau sudah mau mengorbankan dirimu atau mungkin juga hidupmu dengan datang padaku, mempertanggung-jawabkan kesalahan adikmu, mau begitu-begitu saja berbelok dari tujuan hidupmu semula dengan mengandung anak dariku...lalu kenapa juga aku harus membalasmu dengan ancaman kasar membuang benda yang kau anggap mahal itu?"


"Nah, it-tu yang mendasari keluarnya omonganku tentang mengalah... Bukan karena kau kuanggap bebal atau keras kepala seperti kesimpulanmu tadi.


Dengan memandang padamu yang telah lebih dulu bersikap mengalah, oke, mulai dari sekarang biar aku yang ganti melakukan itu untukmu, mengalah padamu. Sekaligus mengurangi sikap egois yang pernah kulakukan terhadapmu, ego yang hanya menurutkan keinginanku sendiri tanpa memikirkan atau terpikirkan perasaanmu...


Bisa kau pahami ini sekarang?"


..........


Jadi begitu rupanya. Seperti itu.


Hana menekankan tangan ke perut, tersenyum walaupun airmata mengambang di matanya...


Wajah yang kemudian ia kerutkan bukan lagi karena merengut, melainkan terharu. Sendu saat menjawab tanya Lukas.


Keharuan yang kemudian menulari Lukas, maka pria itu mencondongkan tubuh mengecup pipi Hana, menyusul meraih tubuh wanita istrinya itu masuk ke dalam dekapannya...mendengarkan gumam menangis pelan Hana di antara tubuh berpelukan erat mereka.


"Maaf telah membuatmu salah paham...kau sama sekali tidak bebal atau keras kepala, sungguh.


Juga maafkan untuk selama beberapa waktu kemarin aku seperti tak menghiraukanmu... Kau tau apa maksudku."


Tangis Hana memecah... Digeleng-gelengkannya kepala masih dalam dekapan sang suami.


"Jangann...tak usah minta maaf, aku bisa mengerti apapun yang jadi alasan kamu... Aku sendiri yang meminta menikah dengan kamu berarti aku harus iklas dan siap menanggung segala konsekuensinya... Terutama begitu aku hamil."


"Aku suka menikah denganmu, Hana, kuharap kau bisa menyadari itu. Walau aku tau betul seperti yang kukatakan tadi bahwa aku mungkin telah membelokkan tujuan hidup semula-mu itu."


'aku tau. dan jujur aku juga...suka.


"Tidak sebegitu beloknya," isak Hana meneteskan airmata. "Lagipula memang pada waktunya nanti aku harus menikah, dan aku juga berniat punya anak."

__ADS_1


"Tapi bukan anakku. Dalam bayanganmu anak seseorang yang kau cintai dan itu jelas bukan aku. Kau tidak menyukai menikah denganku."


'siapa bilaang... kamu salah. itu bukan seperti itu lagi sekarang.


Hana sudah ingin bersuara membantah kata-kata suaminya tapi ditahannya dulu, karena Lukas berbicara lagi, sambil mengelus-elus halus sepanjang punggung Hana.


Menghantarkan rasa nyaman bagi istrinya itu, agar bisa melupakan sedih serta airmatanya.


"Banyak orang menyebut sedari dulu pemikiranku beda dari orang kebanyakan, Hana. Termasuk dalam hal tentang perempuan dan anak, mempunyai anak bukan prioritas dalam hidupku "


Sang istri mengangguk mengerti, menempelkan sisi wajah lebih rapat lagi di bawah leher Lukas.


Lukas pria jangkung, saat duduk pun ia tetap tinggi. Hana cuma bisa mendapatkan rebahan kepala di bawah dagu pria itu


Sudah tidak lagi menghindari perut menonjol sang istri yang menempeli tubuhnya, pria itu kini biasa saja memeluki kedua kesayangannya itu sekaligus.


"Aku tak ada masalah hidup melajang lama, yakin akan tetap baik-baik saja bila itu harus sampai di seumur hidupku..." lanjut pria itu separuh merenung, "Sampai kau datang memunculkan diri ke dalam kehidupanku... Lalu semuanya pun berubah."


"Tapi coba sekarang kau pikirkan ini..." Pria itu sengaja tak memberi kesempatan Hana untuk bicara menyela, saking sedang terlalu antusias mencurahkan isi perasaan, walau kata-kata diucapnya perlahan dan santai saja, "...Untuk apa kau mengembalikan kalung itu padaku jika bahkan saat aku mati, semua harta benda yang kupunya ini seluruhnya akan jatuh ke tanganmu?"


Seperti baru saja terkena sengatan setrum listrik Hana sontak melonjakkan diri keluar dari dekapan Lukas...terkejut setengah mati, hampir-hampir tak bisa mempercayai apa yang baru saja ia dengar.


Apa tadi yang dikatakan pria suaminya ini?


"Seluruhnya," ulang Lukas, dengan berkata lebih bersungguh-sungguh sambil memandangi istrinya yang hanya bisa terdiam mematung memandanginya lekat. "...Karena sudah kuatur hanya kau saja nanti yang akan menjadi pewarisnya...termasuk juga dia, kalian berdua, tanpa ada satupun yang lain berhak mengganggu-gugat keputusanku itu."


Hana kian terpaku.


Lukas mengulaskan senyum padanya.


"Dokumen keputusanku itu sudah final disahkan, ada dan aman sekarang di tangan notaris. Salah seorang sahabatku, mantan teman kuliah dulu. Dan sudah ada padanya sejak 2 atau 1 bulan yang lalu."


Tepatnya 4 hari sejak Lukas pernah bercinta untuk terakhir kali dengan si mantan terakhir...

__ADS_1


__ADS_2