
Usai menyalami pengantin dan kerabat mereka di altar pernikahan, baru saja menjejak turun dari undakan terakhir tempat pelaminan itu Lukas dan Hana langsung saja dihampiri oleh Tiara adik bungsu Lukas.
Pria itu tak terlihat terkejut, Hana lah yang sedemikian.
"Iy-ya. Heran. Ini 'kan...acara undangan teman kerjanya--" Hana setelah kaget kini memandangi bingung pada kedua kakak beradik dihadapannya.
"Temanku juga." Tiara menyambung, mengukir senyum manisnya yang ramah. Kemudian beralih bicara pada sang kakak. "Kak Lukas, pinjam kak Hananya sebentar. Ada sedikit yang mau kami obrolkan. Kakak tunggu di meja kalian itu saja dulu. Oke?"
"Hm. Pergilah," sahut si kakak.
"Thank youu. Ayo kak Hana, kita ke pojokan sana itu dulu. Kebetulan acara potong kue pengantin masih sekitar 20 menit lagi katanya. Kita bisa bicara sebentar di sana. 'Yuk."
Menurut saja diajak lalu dibimbing berjalan ke tempat yang Tiara maksud, Hana meninggalkan Lukas dibelakangnya usai pamitan. Mengikuti langkah adik iparnya ini dengan hati makin bingung.
Wanita adik bungsu Lukas ini seusia istri dari adik dibawah Lukas, Rini, 35 tahun.
Yang paling menghebohkan di acara pernikahannya sendiri waktu dulu adalah, ia menikah muda di usia 19 tahun dengan melangkahi ke 3 kakaknya sekaligus. Barulah di tahun berikutnya Rafael menyusul menikah, hanya berselang 5 bulan saja.
Lalu Tiara berada hadir di acara ini, sebagai apa? Itu yang dibingungkan Hana.
"Nah, kita di sini sebentar. Duduklah, kak."
Pada kursi yang berada di pojokan ruang Ballroom itu, agak jauh dari keberadaan panggung musik, altar dan deretan meja kursi tempat duduk tetamu, Tiara menempatkan Hana di kursi yang dihadapkan pada kursi yang ia duduki.
Wanita itu mengawali percakapan 4 mata mereka dengan bertanya agak formal. "Gimana kabar kak Hana? Dari terakhir kita ketemu kemarin di Solo."
"Baik dan sehat-sehat saja, mbak," sahut Hana. "Mbak Tia sendiri?"
"Sama," angguk Tiara. "Aku juga. Suami dan Sandra juga. Kami bertiga baik-baik dan sehat-sehat semua."
"Syukurlah. Dan yang tadii..."
"Yang kenapa aku bisa ada di sini?"
"Iya."
"Bu Novarin, ibu mempelai perempuan di sana itu, dia yang berteman dengan aku. Jelasnya dulu ibu itu induk semang alias ibu kostku. Selama 2 tahun sebelum aku menikah 16 tahun lalu."
"Ooo..."
"Iya. Nah, beliau itu juga yang dulu merekomendasikan lowongan kerja sebagai pialang untuk kak Lukas, sehabis kakak meraih gelar sarjana pertamanya."
__ADS_1
"Ohh?"
"Apa kak Lukas tidak cerita tentang ini?"
"Tidak pernah. Cuma pernah memberitau kalau yang mengundang ini...seorang yang sudah dianggap lebih dari teman bahkan seperti saudara, kakak-- Oh, astaga...jadi seperti itu rupanya maksud sebenarnya?"
"Seperti itu."
"Oke... Aku mengerti sekarang."
"Juga tidak pernah cerita kalau bu Novarin, eng...dulu pernah naksir-naksiran dengan kak Lukas?"
"Ha?"
"Hahaha... Cerita lama. Kakak yang naksir lebih dulu padanya. Tapi tenang, kak Hana, cuma sekadar saling naksir begitu-begitu saja.
Bu Novarin kebetulan seorang janda. Waktu itu baru 6 bulan kehilangan suami yang meninggal karena kecelakaan mobil. Dan beliau juga sama naksirnya pada kak Lukas, walau beliau lebih tua 8 tahun dari kakak."
"Olalaa..."
"Tapi bu Nova yang menyudahkan perasaan lebih dulu. Beliau menikah dengan...seorang wakil bos di firma kak Lukas."
"Dan kemudian kakak kepincut si Meiska itu..."
"Oo... Seperti ituu..."
"Sungguh kak Lukas tidak pernah cerita-cerita tentang semua itu tadi?"
"Jujur tidak pernah, mbak Tia. Hanya tentang mbak Mei yang saya pernah diberitau. Tapi itu pun...ya diberitaukan yang begitu-begitu saja juga."
"Oh, jadii...apa jangan-jangann..."
"Jangan-jangan apa mbak?"
"Mmm... Jangan-jangan kak Lukas juga tidak cerita, kalau kalung mutiara yang kak Hana sedang pakai ini...adalah hasil rekomendasianku ke kak Lukas sebagai hadiah ulang tahun kak Hana yang ke 31?"
"Ha? Masa?"
"Aduh, jangan-jangan lagi, kak Hana pun tidak dia beritau...kalau harga kalung ini hampir setara 5 buah motor matic alias 86,8 juta rupiah?"
"Apa?!" Mata Hana terbelalak. "8--6 juta? Ka--kalung ini??" ucapnya terputus-putus. Lalu mulutnya terbuka lebar.
__ADS_1
"Ha ha ha... koma 8," imbuh Tiara, tanpa bermaksud membuat sang kakak ipar lantas menghenyak lemas.
Hana menghenyak lemas.
"Ya Tuhan... Tapi kupikir...ini cuma...5 atau 10 jutaan--" Wanita itu sampai kesulitan meneruskan kalimat.
"Hampir 97 juta," senyum Tiara. Tersentuh memperhatikan berbagai reaksi polos yang diperlihatkan Hana. "Karena liontin kalung kak Hana ini mutiara asli, bukan bandul abal-abal.
Kak Lukas kepingin kalung bermutiara untuk dihadiahkan buat kak Hana, dia hanya menyebut harganya dibawah 100 jutaan, lalu aku pilihkanlah yang satu ini.
Akoya Pearl atau Classic Pearl, mutiara berkualitas tinggi hasil budidaya tiram jenis Pinctada Fucata yang hidup di perairan Jepang, termasuk sebagian kecil di perairan Korea dan China.
Kenapa kupilihkan jenis ini, karena kak Lukas pernah cerita padaku kalau kak Hana itu sangat memfavoritkan negri Jepang dan Korea.
Nah, begitu melihat ini, kak Lukas juga langsung suka. Terutama pada kemilau bernuansa pinknya yang katanya sangat Girly. Akan sangat cocok dipakai oleh kak Hana.
Begitu deh ceritanyaa..."
Sesaat dibuat terbungkam seribu bahasa, signifikansi historis kalung emas bermutiara putih rose ini tak ayal segera menjadi 'konflik' dalam batin Hana begitu mengetahui sekelumit tentangnya.
Dalam sekejap perasaan terhadap benda dilehernya ini yang semula biasa-biasa saja, kini tak lagi bisa dirasa biasa.
Hampir 87 juta?! Hana jadi merinding semerinding saat dikecup Lukas pada bagian tengkuk beberapa jam lalu.
Ia mengenakan benda mungil yang ukurannya nyaris tak berarti namun ternyata memiliki harga luar biasa memfantastis, 86,8 juta. Dan Lukas sama sekali tak pernah bercerita apa-apa...
Harus mengetahui cerita tentang ini justru dari orang lain walau orangnya memang bukan siapa-siapa, entah bagaimana, sekarang wanita itu didera gelisah.
Tidak, kalung dilehernya ini...tak bisa ia terima. Mana mungkin bisa? Tidak ada faktor kelayakan pada dirinya sehingga ia harus mendapat hadiah semewah dan semahal ini dari Lukas. Renung Hana.
Akan ia bahas di rumah nanti sekaligus mengembalikannya. Tapi untuk sementara ini, ia tak akan berkomentar banyak pada Tiara.
"Kembali ke tentang bu Novarin, kak," Tiara bersuara lagi setelah memberi Hana kesempatan berdiam terpekur beberapa lama, "Sebaiknya kak Hana tak usah meneruskan membahas beliau ke kak Lukas.
Mereka memang sekarang sudah tidak punya perasaan apa-apa lagi satu dengan yang lain, itu saja sudah cukup untuk sekadar kak Hana ketahui.
Kak Lukas mungkin tak suka kalau tau aku sudah bercerita semua itu tadi pada kak Hana, yah, akan kuterima marahnya kalau dia jadi marah ke aku.
Karena...ternyata kak Hana belum tau apa-apa tentang kalung mutiara kakak ini dan juga bu Novarin, dan kebetulan aku pernah ada hubungannya dengan semua itu, maka dengan sendirinya...he he...kurasa aku boleh lah, dalam tanda kutip, menceritakan semua itu tadi pada kak Hana.
Iya kan, kak?"
__ADS_1