MUTIARA 250 JUTA-KU

MUTIARA 250 JUTA-KU
9. 'Kak, 'Abang, 'Sayang, 'Ayank, Atau Nama Langsung?


__ADS_3

###############


'hanaa...jadi kapan aku bisa ketemu dan kenalan dengan suamimuu?'


"Terserah kapan kau bisa, Las. Yang jelas itu Sabtu atau Minggu."


'lho, memangnya setiap sabtu atau minggu dia sudah pasti akan bisa ketemu aku?'


"Sepertinya akan dia usahakan."


'oo...begitu. okelah. nanti ku cek lagi waktuku kapan bisa main ke rumah kalian. karena aku juga sama, cuma ada waktu luang di hari minggu dan kadang sabtu kalau tak sedang lembur.'


"Kau maunya ke rumah saja? Tidak kepingin ketemuan di luar?"


'ngapain di luar? enak di rumahmu lah. 'kan bisa sekalian tau dan lihat-lihat seperti apa rumah kalian?'


"Ooo...ya sudah, di rumah saja."


'ceritakan lagi sedikit tentang dia, han. supaya aku makin tau harus bagaimana menghadapi dia kalau sudah ketemu.'


"Tanyakan saja apa yang kau kepingin tau, Lastri."


'oh, begitu? Oke kalau gitu, katakan, apa panggilanmu padanya sehari-hari di rumah?'


"Panggilan? Oh...biasanya aku cuma berkamu-kamu ke dia."


'cuma berkamu-kamu? maksudmu, 'hey kamu, sudah makan belum? hey kamu, kenapa pulang telat? hey kamu, bisa minta tolong garuk punggungku?'... apa yang seperti itu?'


"Hahaha...ya tidak lah. Tidak sebegitunya."


'lalu?'


"Mm...kau boleh percaya boleh tidak, aku memang selama menikah tak pernah memanggilnya dengan sebutan khusus. Tidak tau, selama 8 bulan ini, kalau tidak berkamu-kamu, ya aku cukup ngomong to the point ke dia tanpa lebih dulu memanggil namanya."


'olalaa...lha koq bisa begituu? 'kan ada banyak sebutan yang bisa kau pakai ke dia. misalnya 'mas, 'kak, 'abang, 'akang...atau 'sayang? 'ayank, mungkin? atau bahkan langsung pada namanya saja... tidak juga?'


"Tidak juga. Aku belum pernah memanggilnya dengan semua itu. Apalagi menggunakan nama langsung."


'wuaahh...jadi bagaimana sih sebenarnya interaksi kalian berdua itu selama ini?'


"Ya begitu-begitu saja."


'begitu-begitu saja gimanaa?'


"Kami jarang ngobrol, Lastriii... Aku lebih sering menghabiskan waktu di kamar kerja, kalau dia sedang ada di rumah. Dan kalau dia sedang tidak ada di rumah, misalnya sedang pergi bekerja, barulah aku menyibukkan diri beres-beres ini-itu di rumah.


Rumah sudah pasti jarang kotor atau berantakan. Selalu bersih dan rapi. Jadi lebih seringnya aku menghabiskan waktu mencuci, menyetrika, masak, bersih-bersih halaman...sudah, begitu-begitu saja juga kesibukan kalau tidak sedang menggambar."


'ooo...'


"Kalau buatmu Las, mungkin kau bisa memanggilnya dengan salah satu sebutan yang kau sebut tadi itu padanya, kalau kalian sudah ketemuan."

__ADS_1


'memang. kak lukas. sewaktu ketemu denganmu pun aku sudah memanggilnya begitu. kebetulan aku ini juga lebih muda 4 bulan darimu, apalagi ke dia... dan nanti kalau anak kalian sudah lahir, akan kuganti sebutannya jadi 'pak, disambung nama bayi kalian.'


"Bayi kalian..."


'iya bayi kalian. knapa, han?'


"Oh, tidak. Tidak apa-apa."


'nah sekarang, satu lagi yang mau kutanyakan.'


"Ya? Apa?"


'oh, tidak. ini mungkin lebih dari satu.'


"Iya. Tak apa. Tanyakan saja."


'oke. dia bahkan baru tau kalau kau pergi kontrol sendirian. jadi selama ini, apa sebenarnya dia...pernah membahas tentang kehamilanmu?


apa dia juga mengelus-elus perutmu, bicara pada calon anaknya itu, membicarakan denganmu calon anak kalian ini? ... apa dia, maaf, masih menyentuhmu? memesraimu, mencumbumu, walau kalian sudah tidak pernah lagi berhubungan intim?... boleh aku tau jawaban semua itu tadi, han, apa dia...'


"Tidak pernah."


'hah?'


"Tidak pernah, Las. Semuanya itu tadi. Tidak pernah."


'apaaa? masa siii? kau serius nih, han? tidak sedang mengada-ada 'kan?'


Jangankan sesudah aku hamil, sebelum hamil pun dia...tidak pernah memesraiku. Kecuali saat, maaf, berhubungan."


Sehabis berhubungan pun, ya sudah selesai begitu saja. Kembali biasa-biasa saja seolah tak pernah terjadi apa-apa."


'astagaa...koq bisa seperti itu sih?'


"Ya memang seperti itu."


'komunikasi kalian berdua selama ini jadinya seperti apaa?'


"Ya begitu-begitu saja juga."


'kayak kau bukan istrinya saja??'


"Anggaplah seperti itu."


'ah, tak masuk akal.'


"Tapi memang seperti itulah kenyataan kami berdua di sini."


'masih belum bisa kuterima. masih terdengar ganjil --'


"Lastriii, aku dan dia cuma punya kesamaan kepentingan di hal anak saja. Dia meniduri aku, lalu aku hamil, ya sudah begitu saja alurnya. Tidak ada yang aneh-aneh atau berlebihan dari itu.

__ADS_1


Tak perlu repot-repot kau tela'ah lebih jauh... kalau dia masih berhubungan dan tidur dengan pacarnya itu, apa lagi yang kau harap bisa kau dengar dari ceritaku? Ya pokoknya cuma seperti itu tadi lah yang terjadi."


'oke oke, baik, akan kucoba memahami itu. walau, seriously, aku nggak respek mendengarnya.'


"Iya. Aku bisa paham kalau kau anggap hubungan kami berdua ini aneh atau ganjil atau tak masuk di akalmu."


'iya, han. sorry kalau aku menganggapnya seperti itu.'


"Hm-mh...it's alright."


'hokeee... well, jadi seperti itu lah rupanya kalian berdua selama ini. sedikit banyak aku sudah bisa menyimpulkan. jadi nanti, aku sudah punya clue bagaimana ketemuan, menghadapi, dan bicara dengan suamimu itu, hana.'


"Santai saja, Las. Dia itu bukan tipe penyerius seperti aku. Orangnya biasa-biasa saja koq, walau lebih tua 11 tahun dari kita berdua, gaya bersikap dan gaya bicaranya tidak begitu jauh beda dari kita."


'ooo...'


"Oya, Las?"


'hmh?'


"Kalau bisa, kau ajak saja mas David. Ngg, maksudku, supaya pertemuan kita nanti jadi lebih ramai. Tidak monoton kita berdua saja mengobrol dengannya."


'lho, bukannya nanti malah bikin nggak enak kak lukas melihat aku datang bawa-bawa pacar? baru 1 kali ketemuan denganku tapi sekaligus dengan pacarku?'


"Tidak apa-apa. Kurasa dia malah bisa lebih sreq kalau ada tamunya sesama pria."


'ooo...paham. oke lah, nanti kuminta mas david ikut datang menemaniku ke rumah kalian.'


"Oke, kutunggu kapan kalian ada waktu."


'sip. jadi, segini dulu teleponan kita ini, han? apa masih ada hal lain yang pingin kau obrolkan?'


"Ya sudah, segini dulu saja untuk sekarang. Nanti kita sambung lagi kapan-kapan."


'okeee...by for now, hana. take care always, and see you again next time.'


"Okeee...trims Las, kau sudah meluangkan waktu sibukmu menelepon aku."


'hehehe...iya, sama sama. trims untukmu juga, han.'


Usai berteleponan dengan Lastri, Hana kembali menghadapi kertas gambarnya...


Kak Lukas? Ah, tidak mau. Terlaluu...terlalu apa ya tepatnya? Terlalu formal? Atau kaku. Jadi sebaiknya memanggil suaminya dengan sebutan apa? Abang? Ih, ini apalagi. Lebih terdengar manja kekanakan. Hana yakin betul dirinya bukan tipe wanita pemanja atau kekanakan.


Namanya langsung? Lukas?


Terkesan kurang hormat, nyaris 'kurang ajar'...


Tapii... 'Lukas'...sebenarnya dan sejujurnya ini yang dirasa Hana paling sreq dan berkenan bagi perasaannya. Ia justru merasakan kedekatan bila ia memanggil nama langsung pada suaminya tanpa embel-embel sebutan apapun menyertai.


Ahh bingung. Ya sudah, lihat nanti saja, putus wanita itu di akhir lamunan sebelum kembali mengkonsentrasikan diri melanjutkan menggambar.

__ADS_1


__ADS_2