
Di cermin, Hana melihat Lukas duduk ke tepi ranjang dan meraih HP dari atas bantal... Sepertinya samar lampu indikator HP menyala sebagai tanda ada pesan singkat masuk.
Mungkin benda itu masih dalam mode Silent tanpa getar sehingga ia tak menyadari ada pesan singkat telah masuk.
Tapi pesan dari siapa di tengah malam begini?
"Kau belum selesai?" Suara itu mendadak terdengar dan hampir membuat jantung Hana copot, reflek terpaling kaget dari cermin ke arah sang suami di balik duduknya. Nampak Lukas membagi perhatian padanya dan ke layar HP di tangan. "Belum ingin tidur sekarang?"
Sedikit gagap Hana menyahut sambil menghadap ke cermin lagi, "Su-sudah, sudah selesai, ini sudah mau tidur."
"Kalau begitu, tidurlah. Seharian ini kita sudah begitu dilelahkan."
Tidurlah?
Tidur... Ke ranjang itu... Berbaring ke situ, di dekat Lukas yang lalu lebih dulu merebahkan diri sambil terus meneliti layar HP.
Seolah sengaja fokus ke sana untuk memberi waktu bagi dirinya bernapas dan mempersiapkan diri tanpa diawasi? Diam-diam Hana menghembus keluar nafas beratnya lewat sela mulut. Whuuu...
"Sebentar."
Dalam gerakan nyaris tersendat diberati perasaan gugup dan berdebar ia melepas jubah mandi, menyisakan baju tidur model kimono berbahan silk satin warna hot pink sebagai penutup tubuhnya, baju tidur pengantin hadiah dari ibu mertua.
Usai melakukan itu, ia bangkit dari kursi. Berjalan bak robot ke dekat jendela lalu menggantung jubah mandi tadi ke kait Stand Hanger Tunggal atau gantungan tiang berdiri. Dan seperti tiang tegak kaku itulah kekakuan Hana kemudian...berdiri di hadapan si tiang dengan mata dipejamkan erat hingga dahi ikut mengernyit.
Tak bisa... Ia sangat yakin ia tidak memiliki kesanggupan menghampiri ranjang itu. Terlalu sulit, dikarenakan di atas pembaringan empuk nan lebar di sana itu... Seluruh tubuh terutama kedua kaki Hana seolah membeku di tempatnya berdiri.
Berdekatan dengan seorang laki-laki sebagai pacarnya saja belum pernah. Apalagi bersentuhan. Atau bahkan berciuman. Dan seandainya saat ini Lukas melakukan itu ; mendekati, menyentuhnya, menciumnya...itu sudah pasti akan menjadi ciuman pertama baginya dalam hidup!
"Hana,"
Aduhh...
Pejaman mata Hana semakin menguat. Debaran jantungnya telah berdentum-dentum lebih memacu...
__ADS_1
Demi melihat dan menyadari sang istri hanya berdiam diri saja dekat jendela membelakanginya, Lukas pun memperdengarkan tawa kecil, mencoba mencandai wanita itu untuk menetralkan suasana. "Kenapa malah mematung di situ, Hana... Ada yang tak beres? Ada yang bisa kubantu?"
Oh malah ditanya. Sudah jelas ia sekarang begitu bergetar dari ujung kaki hingga ke ujung rambut, gemetaran yang sangat beralasan.
Helaan nafas Lukas lah yang akhirnya membuat Hana kembali membuka mata... Bersamaan ia memutar tubuh, sang suami yang sudah duduk lalu beranjak turun dari ranjang, kini mengayun langkah menghampiri ke arah dirinya...
Sesuatu harus segera dilakukan, untuk mengakhiri 'konflik batin' Hana, putus Lukas, sudah memperhatikan kalau gelagat istrinya sekarang sedang seperti itu.
"Tadi aku berpikir untuk menundanya, Hana. Setidaknya dengan kita..." Lukas sampai ke hadapan sang istri, sama sekali mengabaikan jarak, "...tidur dulu sebentar? Tidur sungguhan."
Dengan Lukas sudah berdiri begitu dekat, Hana hampir tak bisa bernapas, apalagi mengusahakan menyembunyikan ketegangan ini.
"Ya sudah tidak apa, tidur dulu saja," tanggap Hana mencoba berjalan melewati sang suami, tapi pria itu melingkarkan lengan di sekeliling pinggangnya dan menariknya kembali kearah pria itu,
"Aku sudah berubah pikiran."
"Be-rubah..."
"Ha?"
"Tenang, aku hanya bermaksud menolongmu." Sedetik Lukas mengucap, detik berikutnya Hana merasakan dirinya terangkat dari bumi, melayang lalu menghempas ringan masuk ke dalam bopongan pria itu...
"Mungkin dengan begini..." Lukas menyenyumi penuh arti Hana dalam bopongannya, dengan istrinya itu hanya mampu meringis jengah saat membalas pandangan dan berpegangan erat pada seputar lehernya, "...bisa membuat ini semakin mudah bagimu?"
Tak butuh waktu lama dan tanpa kesulitan berarti bagi pria itu dalam membawa Hana ke pembaringan mereka.
Tak terkata kacau balaunya perasaan wanita itu begitu tubuhnya dibaringkan Lukas secara berhati-hati tepat ke tengah kasur, menyusul pria suaminya itu naik dan membaringkan diri miring pada sisi kiri tubuh menelentang Hana.
"Tidak sesulit itu, bukan?" Pria itu tak pernah menggodanya. Hana merasa sedang digoda.
"Maaf..." Semakin jengah karena kini ia benar-benar sudah berdekatan dengan Lukas, terlalu dekat hingga sisi tubuh mereka berdua saling bersentuhan, tubuh seorang lelaki setengah menekan padanya. "Aku..."
"Kau tidak mungkin tidak tidur bersamaku, Hana. Kecuali kau memang hanya ingin kita menikah tanpa tidur bersama."
__ADS_1
"Bukan yang seperti itu."
"Kalau begitu hadapilah. Hadapi ini, hadapi aku. Dan seperti kataku tadi, kita masih bisa menunda ini..."
"Tidak! Jangan di tunda. Sekarang saja. Aku tadi bukannya bermaksuud..."
"Aku tau. Karena itu kau kubawa ke sini. Aku yakin dengan jalan pintas seperti ini..."
"Iya. Ini sangat menolong. Trima kasih."
"Benar, bukan? Ekspresimu ini...sudah menyiratkan jawaban jujurmu."
"Aku memang tidak bohong. Kalau kamu tidak mendatangi aku mungkin aku...akan lebih memilih mempermalukan diri tidur di bawah jendela itu."
Lukas tertawa. Entah bagaimana pengekspresian cara tertawa pria itu...justru membuat Hana kembali berdebar-debar lagi. Sudah semakin nyata tertegaskan sekarang bahwa sedang ada seorang lelaki bersiap merayu lalu nanti mencumbunya.
Dalam komik Hana, tawa lepas dari si lelaki pada perempuannya biasanya akan berakhir dengann...
Mula-mula Lukas memberi perhatian dengan sedikit merunduk ke arah bukit dada Hana yang dekat pada permukaan dadanya, kembali naik turun tak beraturan karena tarikan nafas yang berpacu berkejaran, Lukas tentu saja paham mengapa istrinya sedemikian ini.
"Apa kau siap, mau melakukannya sekarang juga? Karena kalau belum..."
Anggukan perlahan Hana yang menyela begitu malu-malu, tapi itu sudah cukup, Lukas menganggap itu sebagai sebuah jawaban. Maka disenyuminya Hana sebelum kemudian ia memeluk istrinya itu lembut dan memberikan kecupan ringan tepat di permukaan bibirnya, untuk mengenyahkan rasa malunya.
Kecupan pertama dari seorang pria untuk bibir perawan Hana, wanita itu memejamkan mata sesaat, mencoba tak bereaksi berlebihan dalam meresapi usai diberi persentuhan itu.
"Hana," bisik Lukas. Hana membuka mata, "Aku sangat bisa memahami apa yang kau rasakan..." ucap Lukas bersungguh-sungguh, menatap ke dalam mata itu. "Jangan malu, jangan takut, aku tak akan menyakitimu. Aku akan melakukannya seperlahan dan selembut mungkin, percayalah, sampai kau bisa beradaptasi, aku akan terus berhati-hati."
Oh ya ampuun...
Hana tak tau harus berkata apa menanggapi ucapan suaminya. Tapi ia tetap ingin menyahuti kata-kata sang suami, mengungkapkan apa yang pastinya belum pernah pria ini ketahui di luar pengakuannya tentang diri yang masih perawan dan tak pernah berpacaran dengan pria manapun,
"Aku belum pernah berciuman..."
__ADS_1