MUTIARA 250 JUTA-KU

MUTIARA 250 JUTA-KU
7. Info Hana Kontrol Sendirian Yang Mengejutkan Lukas


__ADS_3

&&&&&-&&&&&


'Praangg...


Gelas kaca minuman Hana slip dari pegangan, meluncur dan mendarat pecah berkeping-keping di lantai, membuat wanita itu membeku sesaat dengan tangan menggantung di udara.


Di saat bersamaan Lukas memunculkan diri ke ruang makan, kebetulan baru saja pulang dan mendengar suara insiden kaca pecah itu.


"Kenapa?"


Tolehan terkejut Hana kearahnya serta tatapan mata bagai ketakutan itu...


"Oh, a-ada tikus lewat. Tadi. Aku kaget."


Hana segera kehilangan fokus lagi begitu pandangan matanya jatuh bertumpu pada goret merah seperti bekas lipstick dekat ketiak kaus training putih Lukas. Tercetak cukup jelas di sana oleh Meiska yang membenamkan wajah di bagian itu, sewaktu dibopong pria itu menuju kamar tidur.


Nanar menatapi noda itu, Hana sampai terlupa pada gelas pecahnya. Sebenarnya tidak ada tikus yang lewat. Gelas itu slip dari pegangan karena ia terkejut menangkap ceklik kasar pintu samping yang dibuka agak disentak.


Gelagat kemunculan Lukas lah yang membuat Hana tadi entah kenapa jadi ketakutan sehingga ia gugup saat mengangkat gelas.


"Minggir, biar aku saja yang membersihkan." Lukas meneliti sebentar di mana saja sebaran pecahan kaca berikut air minuman pada lantai kamar makan berkeramik granit warna krem itu.


"Iya." Mundur selangkah Hana pun langsung saja membalik, berjalan menjauhi meja makan, tak mau memperhatikan Lukas yang pergi ke dapur mengambil sapu dan pengki sampah. Diayunnya langkah keluar teras samping tempat asal Lukas tadi datang.


Sejenak di teras itu Hana berdiri tercenung mematung sebelum dihenyaknya duduk pada salah satu kursi anyaman rotan, membawa perihal lipstick berbentuk bibir pada kaus Lukas ke dalam benak. Ia menebak-nebak dalam hati kira-kira apa saja yang sudah dilakukan suaminya bersama sang kekasih di luar sana.


Bercinta? Hanya ketemuan biasa di tengah jalan, di suatu tempat?


Rumah Meiska tak terlalu jauh, seingat Hana Lukas pernah menyeletuk kekasihnya masih tinggal di Bogor tapi di bagian desa. Sementara rumah pria itu ini masuk wilayah Bogor kota. Mungkin ini strategi mereka berdua sejak awal, memilih tempat tinggal jauh dari Jakarta yang jelas-jelas dihuni banyak pihak keluarga besar Lukas di sana, demikian Hana berpikir.


Dan bentuk bibir di kaus itu...tidak salah lagi, Lukas pasti baru saja menemui Meiska...


Oh, menyebalkan. Pagi-pagi sudah begitu berhasratnya maka suaminya pun melampiaskan hasrat terbang ke sana. Sudah begitu, membawa pulang pula bukti otentik pelampiasannya.


Hana lebih dari mengerti situasi diri Lukas subuh tadi. Sekarang pria itu pulang sudah dalam keadaan fresh dan cerah, sepertinya sudah mandi dan sepertinya pula...pemenuhan hasrat telah terjadi dengan begitu memuaskan.


Phf!


Menghilang dari joging jam 4.30an lalu muncul lagi di jam 11.25 ini masih dalam kaus training putih itu...


'wrebekk.. wrebekk.. wrebekk'


Bunyi nada pesan masuk ke HP Hana, di saat di dalam benak masih merangkai alur cerita berdasarkan imajinasi akan apa saja yang dilakukan Lukas dan Meiska. Hana merogoh HP keluar dari saku daster hamilnya.


Ada 1 pesan masuk dari Lastri... 'hana, kapan lagi kau pergi periksa? katamu kau mau usg untuk pertama kali. biar nanti aku saja yang menemani...'

__ADS_1


Senyuman di bibir wanita itu pun perlahan mengembang, seketika menyirnakan kegalauan. Diketiknya sebuah balas, namun belum lagi menyelesaikan, panggilan masuk Lastri menginterupsi,


'hana, kapan?'


"Kontrol kandungan 'kan? Masih minggu depan, Las. Bukan minggu ini."


'ooo...tapi kau mau 'kan kalau aku ikut menemanimu? kasian kau selalu pergi kontrol sendirian.'


"Mau, mau banget." Sesaat Hana menengok kiri kanan sebelum menurunkan volume suara nyaris membisik untuk kelanjutan ucapan. "Tapi aku ngga masalah koq selama ini pergi kontrol sendirian, Las. Ngga enak ah kalau nanti mesti merepotkanmu."


'it's okay, biasa-biasa saja. aku sekalian belajar liat-liat bumil sebelum jadi bumil. hahaha...'


"Ya sudah deh, terserahmu."


'usg itu kayak mana ya, han? apa aku nanti dibolehkan ikut ke dalam menemanimu ber-usg itu?'


"Mana kutau kayak mana di USG? Ini juga baru pertama kali aku melakukannya. Semestinya memang sudah sejak beberapa minggu lalu aku mulai di USG. Tapi kutolak saja. Akuu...masih belum siap."


'ooo...begitu. ya sudah, tenang saja, nanti akan ada aku yang menemanimu ketemu dokter usg nya.'


"Okeee...makasih banyak ya, Lastri."


'siip...kabari saja kapan kau akan pergi periksa kandungan lagi. oke?'


'ngomong-ngomong kau sedang apa nih sekarang? ngegambar?'


"Aku lagi --"


Suara riang Hana terhenti oleh karena menyadari kemunculan Lukas berdiri di ambang pintu teras samping. Keduanya pun bersirobok pandang...


'hana? han? halloww?'


Hana menurunkan HP dari sisi telinga, menelan air ludah ia membiarkan Lukas datang mendekatinya.


Lukas telah menguping dari balik jendela nako kayu interior Jepang, tepat pada belakang kursi yang diduduki istrinya meski suara istrinya dipelankan. To the point ditanyainya sang istri,


"Kau selama ini pergi sendirian? Bukannya ibumu selalu menemani?"


"Ngg..." Hana bagai mati kutu, "Sendirian. Akuu, melarang ibu menemaniku."


"Kenapa?"


"Aku ngga suka saja...merepotkan orang lain."


Pandangan mata Lukas memicing sesaat, menatapi sang istri lamat-lamat.

__ADS_1


Pria itu diam-diam jelas terkejut begitu menguping Hana yang menyebut pergi memeriksakan kandungan sendirian saja. Sudah terjadi berapa kali? Dan mengapa bu Ratna tidak juga berinisiatif memberitau ini padanya? Apa sama saja keduanya, hanya tak mau saja merepotkan orang lain?


"Aku akan menemani mulai dari sekarang. Kapan yang berikutnya?"


Kata-kata serta merta Lukas sudah barang tentu tertangkap mengharukan di pendengaran Hana. Demi memahami apa yang sedang dimaksud Lukas, wajah wanita itu pun perlahan mengerut menyendu, bagai siap menangis.


"Minggu depan..." Lirih terdengar oleh Lukas jawaban darinya itu, "Hari Jumat."


"Oke. Beritau temanmu, aku yang akan pergi menemanimu."


"Iya."


"Siapa dia? Teman perempuan?"


"Iya, perempuan. Teman di SMP dulu. Lastri namanya."


"Hmm..."


"Apaa...apa boleh...aku mengenalkan kamu...padanya?"


"No problem. Undang saja kesini."


"Ohh, betulkah?"


"Hm-mh... Sabtu atau minggu kalau aku sedang ada di rumah."


Lukas paham betul mengapa selama 8 bulan ini istrinya tak pernah satu kalipun mengundang datang temannya kerumah. Tak enak. Pasti pasalnya adalah karena tak enak hati. Pada suaminya ini.


"Trima kasih." Hanya itu yang bisa diucap Hana, masih setengah tengadah lihat-lihatan dengan Lukas yang menunduk melihatnya.


"Temanmu masih mendengar." Lukas menggedikkan dagu kearah HP ditangan istrinya. Sontak sang istri terperanjat kaget begitu menyadari.


"Oh...iya belum mati !"


'hahaha... iyaaa... aku belum mati. halo hana, aku bisa dengar lhoo semua itu tadi.'


###############


Lukas bukan tipe pria bajingan apalagi kejam. Ia hanya belum bisa saja 'menganggap' Hana. Mungkin karena ia masih menjalin komunikasi baik dengan Meiska, sehingga ia secara naluriah saja 'mengendalikan' diri dan sikap terhadap Hana...


Menyukai wanita itu, jelas itu sudah. Sejak di mula pertama mereka bertemu pun ia sudah langsung merasakan itu. Bahkan sekarang sudah lebih lagi dari itu.


Hana yang memang baru dikenalnya di saat itu, hanya sempat beberapa kali saja ia temui sebelum 2 bulan kemudian akhirnya mereka menikah. Yang mana selama hari-hari di masa 2 bulan sebelum hari pernikahan, bisa dikatakan tidak ada pertemuan berarti yang terjadi di antara mereka berdua selain 4 kali berduaan pergi ke sana pergi ke sini untuk urusan persiapan pernikahan. Dan selebihnya 2 kali saja ketemuan lagi, saat Lukas sedang ada waktu luang sepulang kerja mendatangi rumah bu Ratna, bertamu formal dan bicara dengan ibu Hana itu.


Dan bisa dikatakan juga...sesungguhnya tidak ada yang mengetahui ikhwal detil, yang! benar-benar detil, bagaimana ceritanya Lukas dan Hana bisa saling bertemu lalu menikah...bahwa ada misi tertentu dibalik pernikahan dan 'hutang' 250 juta bu Ratna pada Lukas...

__ADS_1


__ADS_2