
"Kau yakin baik-baik saja?" Tak disangka-sangka Hana sang suami berlutut di depan kursinya. Memberi elusan ke lengannya, juga pandangan lembut lewat mata masih sendu pria itu. Serta tadi suara bertanyanya yang sedikit serak sisa tersedu-sedan.
Hana mengangguk tanpa ragu sedikitpun. "...tapi sudah diam lagi." beritaunya, balas memandangi wajah terutama mata Lukas.
Lukas yang terlihat ragu-ragu, saat mengangkat tangan kiri lalu membuka telapaknya, menyentuh dan menyapukan pelan bagian itu ke permukaan perut besar Hana. Hanya membuat Hana diam-diam bagai tersengat setrum bertegangan halus, 'syok' menerima perlakuan manis pertama Lukas pada perutnya yang diusap-usapi.
Dan dampaknya? Bukannya menenangkan malah bikin meremang. Sekaligus mendebarkan. Diusapi, sambil dipandangi...
Sementara beberapa famili jauh yang sebelumnya berada di luar ruang ICU lalu satu persatu diperkenankan masuk melawat.
Lukas tidak memberi perhatian pada mereka. Hanya pada Hana saja ia lebih mencurahkan perhatian.
Seolah sejenak terlupa pada jasad sang ibu, yang selanjutnya sudah mulai diurus oleh berbagai pihak.
###############
Mungkin ini imbas atau pengaruh dari ditinggal pergi selamanya oleh ibunda tercinta, setelah Lukas berubah jadi pendiam dan menarik diri dalam beberapa hari sepulang dari Solo, di pagi ini Hana mendapati pria itu tak juga beranjak bangun dari tidurnya. Meski waktu sudah menunjukkan pukul 6.45.
Beranjak bangun dari tidur-tiduran itu, karena sudah sejak 1 jam lalu pria itu membuka mata namun hanya berdiam diri saja, memunggungi Hana dengan memeluk bantal guling. Memandangi malas-malasan pada jam beker di atas meja nakas dekat kepala.
Sementara di belakang dalam posisi menghadap lemari pakaian terbuka, Hana memperhatikan sambil pura-pura menyibukkan diri memilih pakaian ganti, yang akan dikenakan sehabis mandi nanti.
Kasihan Lukas. Masih terpukul dan berduka. Lebih banyak mogok bicara. Dan sekarang enggan beranjak dari tempat tidur untuk pergi bekerja.
Beginilah pria itu dihari Senin ini sekembali dari Solo Jumat malam kemarin. Hampir 2 minggu sudah ia meninggalkan kantor.
Tentu saja Hana sangat bisa memahami dan memaklumi.
10 tahun yang lalu ia pun sama seperti Lukas ini sepeninggal ayahnya. Sedih, seolah jadi malas meneruskan hidup. Lebih ingin berdiam diri dengan tanpa melakukan apapun walau sekadar bicara satu patah kata.
Dunianya jadi terasakan sepi dan hampa. Tidak ada lagi sosok ayah yang biasa memasakkan lauk untuk bekal ia di tempat kerja...
Ayah yang hobi dan mahir memasak banyak jenis makanan lokal. Ayah yang memperlakukan dirinya dengan sayang ya seperti anak ya sekaligus seperti adik saja. Ayah yang tak pernah bosan mengantarnya bermotor setiap kali hendak ke tempat parkir mobil jemputan kerja, entah saat shift pagi atau pada shift tengah malam.
Namun untunglah seiring waktu yang berlalu, meski secara perlahan, lambat laun Hana bisa juga menghilangkan keberdukaan. Apalagi 10 tahun yang lalu itu ia harus kembali memfokuskan diri pada pekerjaan yang berhadapan dengan mesin-mesin import beresiko tinggi di pabrik tempat bekerja.
__ADS_1
Pada akhirnya ia merelakan dan mengiklaskan juga.
Adapun Lukas, jelas belum bisa menerima seperti itu. Tentu, masih membutuhkan proses dan waktu.
Sambil memflash-back kenangan keberdukaan milik sendiri Hana terus mengutak-atik tumpukan pakaian pada rak lemari, tak urung tertangkap Lukas juga dengan Hana berlama-lama di muka lemari membuka.
"Aku cuti lagi hari ini, Hana. Tidak enak badan." Lukas akhirnya memberi penjelasan menjawab hati bertanya-tanya Hana.
"Sakit? Mau kubuatkan bubur? Atau mau bubur yang dijual di luar saja?" Hana menutup lemari, melangkah ke ujung ranjang lalu perlahan mendudukkan diri di tepian persis dekat kaki Lukas. Dengan setumpuk pakaian yang ia letakkan ke pangkuan lalu memperhatikan suaminya.
"Bolehlah," sahut Lukas tanpa semangat, "Yang kau masak saja."
"Oke. Akan kumasakkan sebentar. Kamu istirahat lagi saja dulu. Atau turun ke bawah." Lukas pernah demam, Hana membuatkannya bubur dan pria itu cukup menyukai bubur buatannya waktu itu, "Oh ya, maaf, kalau kamu tidak keberatan, kalau kamu masih ingat...dulu kamu pernah mengusulkan supaya kamar tidur kita di lantai bawah saja. Tapi aku katakan lebih nyaman berkamar di atas.
Maaf, bolehkah...kalau sekarang aku, kita...berkamar di bawah saja? Aku lama kelamaan...ngg, tidak kuat juga sering-sering naik-turun tangga. Lumayan bikin cape...pegal, berat juga.
Tapi terserah kamu saja sih apa ini untuk sementara atau seterusnya di bawah. Yang jelas sekarang--"
Lukas bergulir membalikkan tubuh, membuat Hana menggantung ucapan begitu bertemu pandang dengannya.
Senyum tipis yang kemudian diulaskan wanita itu... Lukas tau istrinya hanya terpaksa saja tersenyum begitu. Juga merasa perlu memaparkan panjang lebar... Mungkin sekadar untuk menutupi perasaan hati yang malu dan segan menyinggung tema bertukar kamar, karena dulu istrinya pernah menolak usulan serupa yang Lukas ajukan.
"Trima kasih. Tapi tak usah buru-buru mesti di hari ini ! ... Kamu 'kan...masih tidak enak badan." Hana mengucap kalimat 'tidak enak badan' pelan hampir tak terdengar, seraya meringiskan senyum, menyadari kurang tepat mengajukan permintaan saat kondisi Lukas sedang tidak fit. "Maaf... Ya sudah nanti saja dibicarakan lagi. Aku mau turun sekarang. Tunggu sebentar, aku tinggal memasak dulu."
Sekarang ini, akhir-akhir ini, Hana sudah harus lebih menghimpun energi untuk bangun dari duduk dan berdiri. Suaminya sudah mulai memahami hal itu jadi kadang ia membantu juga Hana saat hendak beranjak berdiri.
Memang sepertinya menjelang bulan ke 7, kehamilan wanita itu mengalami 'kemajuan' yang terlalu pesat. Banyak komentar menyebut tentang kemungkinan ia akan melahirkan seorang bayi seberat 4 kilo.
Gawat. Akan seperti apa hal itu?
"Hana," Lukas memanggil, belum lagi Hana mulai berjalan setelah siap berdiri dan balik badan.
"Ya?" Hana berpaling, melihat ke arah Lukas lagi. Membalik sepenuhnya karena lewat sinaran mata kuyu tak bercahaya, suaminya hanya memandangi ia saja tanpa berkata-kata, "Kenapa? Ada yang kamu perlukan lagi? Apa buburnya...tidak jadi?"
"Jadi." sahut Lukas dengan segera, "Tidak, aku cumaa...Sabtu ini undangan acara pernikahan teman kerjaku itu. Apa kau masih bisa jadi ikut? Belum berubah pikiran?"
__ADS_1
Hana masih ingat. Ia pikir justru Lukas yang tak jadi pergi karena masih berduka cita. "Tentu. Kenapa harus berubah pikiran?"
"Ooh..."
"Kamu sendiri apa bisa pergi?"
"Aku tidak ada masalah." Jawaban Lukas meyakinkan.
"Tapi kamu 'kan..." Tetap saja Hana memberikan tatapan ragu.
"Apapun yang sedang kurasakan, itu tidak akan mempengaruhi niatku dari kemarin-kemarin itu, Hana." Lukas menjelaskan pada wanita itu.
"Oo begitu," Wanita itu pun manggut-manggut, "Ya sudah kalau begitu, kita tetap jadi pergi Sabtu nanti."
"Hm-mh. Kenakan kalung mutiaramu. Nanti kita pergi mencari gaun untukmu yang cocok dengan kalung itu."
"Ha?... Ohh... Oke. Akan kupakai."
Situasi itu terjedakan oleh suara dering panggilan suara dari HP Hana di atas meja rias dekat pintu kamar. Hana menoleh ke arah benda itu, berjalan mendekat ke sana lalu menilik pada nomor yang tertera di layar HP. Mengkerutkan dahi begitu menyadari tak mengenal nomor asing tertera di sana. Yang berarti bukan berasal dari penghuni list kontak di HP
Masih terus berdering diulurnya tangan perlahan meraih HP, lalu berhati-hati memperdengarkan suara begitu sudah menerima panggilan masuk tersebut. Dengan diamati Lukas dari ranjang.
"Ha-lo? Siapa...ini?"
'halo. hana... meiska. saya meiska.'
Kedua alis mata Hana secara dramatis mengangkat, kaget.
"I-iya."
'ada lukas di situ? dekatmu?'
"Ohh... A-da." Otomatis Hana melirik sekilas kearah Lukas. Tak ayal didera gugup dan debar-debar.
'tolong menjauh dari dia sebentar. bisa? saya mau bicara sedikit dengan kamu.'
__ADS_1
Ganti Lukas mengangkat alis mengamati kemisteriusan gerak-gerik Hana tersebut.
"Baik. Tunggu sebentar."