MUTIARA 250 JUTA-KU

MUTIARA 250 JUTA-KU
26. Di Bawah Siraman Air Pancuran Shower


__ADS_3

'lho, koq malah kau tanya apa maksudnya. memangnya lukas belum cerita?


jauh sebelum menikah denganmu, mungkin sebelum mengenalmu juga, suamimu sudah sering cerita pada ibu tentang minatnya mau menginvestasi uang tabungan ke dalam bentuk rumah. rumah yang kedua. paling tidak sama besar dan harga dengan rumah yang kalian tinggali itu.


mm...mungkin maksudnya di kemudian hari akan dia hadiahkan untuk pacarnya di waktu itu.


seperti itulah kira-kira tentang rencananya.'


"Ooo..."


'berarti dia tidak mau membahasnya denganmu hana, ya sudahlah, biarkan saja.


jangan kau coba ungkit tentang itu ke dia ya, sebelum dia sendiri yang berinisiatif menceritakan padamu.'


"Oke, bu, mengerti. Lagipula aku memang tidak suka membahas-bahas hal begitu dengannya. Aku lebih suka menghabiskan waktu mengurusi pekerjaan menggambarku.


Aku sudah jatuh cinta berat pada pekerjaan baruku ini, ibu."


'ya-ya, ibu tau. ibu juga masih pantau-pantau hasil karyamu lho.'


"Hehehe...ibu bisa saja."


'ya sudah, kita cukupkan dulu sampai di sini ngobrolnya. kau pergilah mandi sekarang, selagi masih jam 7. jangan dibiasakan mandi terlalu malam apalagi saat sedang hamil seperti kau itu.'


"Oke deh, ibuku. Tapi apa ibu mau bicara dulu sebentar dengannya?"


'tak usah. aku bisa menghubungi suamimu kapan-kapan di lain waktu. aku juga memang sedang ada perlu dengan suamimu, ada yang mau ibu bicarakan sedikit dengannya.'


"Tentang?"


'hshh...rahasia orangtua.'


"Idihh...ibu sama anak sendiri main rahasia-rahasiaan segala sihh?"


'bukaaan...bukan main rahasia-rahasiaan. ibu cuma mau berbasa-basi ke nak lukas, tanya-tanya kabar keluarganya setelah ibunya itu pergi.'


"Ooo...ya sudah deh, terserah saja."


'he eh. sudah ya, ibu tutup telponnya. baik-baik jaga diri dan kandunganmu, dan juga lebih kau perhatikan lagi itu suamimu. dia masih dalam suasana hati berduka cita dan kehilangan lho.'


"Iya, ibuuu...siaaap... Ibu juga baik-baik di rumah yaa. Jangan keseringan melamun mikir yang tidak-tidak. Kalau ibu lagi jenuh, datanglah main dan menginap ke rumah ini. Kalau sudah bosan di sini, ya pulang lagi ke rumah."

__ADS_1


'iya. nanti-nanti saja, menjelang kau melahirkan. ibu akan sering-sering datang mengunjungi kalian.'


"Makasih, ibuuu..."


...............


Berencana membeli rumah 1 lagi untuk dihadiahkan ke si mantannya itu?


Wow. Keren juga.


Hana memanggut-manggutkan kepala di tempat duduknya, paham sekarang bahwa pernah ada pembicaraan tentang hal itu yang bahkan Lukas bahas ke ibunya.


Tapi ngomong-omong, ke mana dia? Hana menoleh mencoba melihat ke balik duduknya, Lukas lama betul menghilang ke dalam, belum mendatanginya lagi ke sini.


Atau sudah langsung pergi mandi?


Berhati-hati sekali Hana bangkit berdiri dari kursi, berjalan ke kamar tidur bermaksud mencari sang suami sambil dalam benak ia kembali membahas tentangnya. Terutama tentang momen yang akhirnya terjadi juga di antara mereka berdua, di dalam kamar pas Butik itu.


Indah dan di luar dugaan Hana.


Ia pun tersenyum puas mengenangnya, berterima kasih pada Lukas yang telah mau membagi kesenangan dan kepuasan itu setelah beberapa bulan ini ia dahaga dimesrai seperti itu.


Tapi saat teringat pada kespontanan pria suaminya bereaksi seperti tadi siang, saat lengan pria itu yang menempel di perutnya sewaktu mencumbuinya, lalu kebetulan dalam perut Hana si kecil memberi gerakan super keras hingga bisa terasakan oleh lengan Lukas... Lukas pun tak tanggung-tanggung dalam mengalami syok.


Dari semula memang dalam pikiran dan hidup seorang Lukas masih jauh dari keinginan untuk memiliki anak... Hana mengetahui itu betul.


Sekalipun Lukas telah di hadapkan pada keinginan orangtua yang demikian berharap agar pria itu bisa segera menikah dan punya keturunan, sekalipun pria itu sendiri telah berulangkali mengajak menikah mantan terbarunya itu semasih mereka berdua menjalin hubungan berpacaran...pria itu tidak menjadikan semua alasan itu memburu-burui diri untuk segera memiliki anak.


Sampai Hana kemudian muncul ke dalam kehidupan Lukas, menawarkan bersedia mengandung anak benih Lukas, lalu kehidupan pria itu pun berubah total setelah mereka berdua akhirnya berhasil menghadirkan setengah jalan si calon anak.


Ini calon buah hati pria itu. Masih berupa janin akan tetapi pria itu seolah...


Baiklah, tidak apa-apa. Reaksi spontan Lukas di siang tadi itu haruslah bisa dimakluminya. Harus ia terima bahwa Lukas memang butuh diberi waktu lagi seperti yang pria itu minta.


Hana sambil terus aktif berpikir dalam benak memasuki kamar tidur, dan terdengarnyalah bunyi pancuran shower sedang menyala di kamar mandi.


Kamar mandi pada lantai atas terletak di luar kamar tidur lama mereka, tapi kamar tidur baru di lantai bawah ini justru memiliki kamar mandi sendiri di dalamnya.


Mewah dan modern, bahkan di lengkapi sebuah Bathtub Jacuzzi atau bak untuk berendam, serta sepetak ruang khusus shower air panas-dingin bertirai dan pintu bahan tembus pandang.


Pancuran showernya berbentuk segi empat, jauh di atas kepala dengan suhu air yang dialirkan bisa di atur sesuai diinginkan.

__ADS_1


Pada bawah pancuran itulah Hana melihat Lukas melalui tirai shower yang tembus pandang, setelah wanita itu beberapa saat berdiri mempertimbangkan sebelum mendorong membuka pintu kamar mandi tak menutup rapat tadi.


Berdiri telanjang dengan kepala tertunduk di bawah curahan air shower mengaliri dirinya, satu tangan Lukas bertumpu pada dinding di hadapannya, sementara tangannya yang satu lagi menggenggam dan perlahan-lahan bergerak.


Hana meneguk air ludah, Lukas berpaling lalu balas melihat kearahnya...tidak terkejut, tidak memberikan reaksi lain, hanya terus melakukan yang sedang pria itu lakukan sambil memandangi Hana, yang juga tak memperlihatkan keterkejutan berarti.


Pertemuan pandangan keduanya mengunci tatapan satu pada yang lain.


Lukas sedang memuaskan diri sendiri, setelah pria itu siang tadi memuaskan dirinya, Hana berpikir demikian untuk kemudian mengambil keputusan cepat.


Di tanggalkan wanita itu satu persatu pakaian seperti cara yang ia lakukan di kamar pas Butik hingga tersisa bikini saja yang melekat, tak menghiraukan Lukas yang pada akhirnya terkejut juga melihatinya.


Begitu sudah dalam keadaan setengah polos Hana berjalan mendekati tirai transparan, lalu menyibaknya, melangkah masuk ke dalam...


"Biar aku yang melakukannya."


"Hana..."


Selanjutnya menyentuh dan menahan genggaman Lukas, Hana kemudian menggantikannya dengan tangan wanita itu sendiri...


Tak sedikitpun ragu atau bahkan malu-malu, membiarkan air hangat mulai membasah di kepalanya, tangan wanita itu meneruskan apa yang tadi Lukas lakukan, yang tentunya sudah diijinkan dan dibiarkan pula oleh pria itu.


Hari ini, untuk pertama kali di dalam hidup, akhirnya Hana melakukan ini...


Pada Lukas sang suami yang hanya bisa terdiam mengosongkan pikiran, tapi mencurahkan sepenuhmya perhatian pada apapun yang Hana perbuat pada diri sensitifnya.


Menggerakkan lembut perlahan setiap belaian dari jari jemari feminin lentik itu, mengusahakan memberi semaksimal mungkin apa yang bisa jemarinya perbuat hingga Lukas pada akhirnya mulai diterpa kenikmatannya, yang sedang ganti ditawarkan Hana baginya.


Pria itu pun mengeluarkan suara-suara mendesah, erangan, dan rintihan primitif di antara reaksi gelinjang tubuh yang seolah sudah tak tertahankan lagi. Karena bagaimana tidak? Hana terus membuainya bahkan kini menggunakan lebih dari jemari itu, saat Hana perlahan menurunkan tubuh, berlutut di lantai kamar mandi tepat di hadapan diri Lukas.


Kenikmatan berikutnya yang tak lagi sanggup Lukas hadapi... Seiring menit demi menit berlalu, di bawah siraman air shower yang terus membasahi, buaian demi buaian Hana berhasil juga menghanyutkannya... Lukas mencapai puncak dan menggeram tertahan saat melepaskan beban sakralnya.


Menyempatkan diri mengucap lirih saat Hana sudah kembali tegak berdiri,


"Aku tidak akann...mengakhiri ini dengan bercinta padamu, Hana... Tapi suatu saat nanti...akhh, haku pasti...akan melakukannya juga...padamu..."


Lukas terkulai melemas ke dalam kedua tangan terbuka Hana yang reflek menyambutnya, lalu merengkuh sang suami erat usai pelepasan itu tuntas, bersama keyakinan Hana sambil memeluk tubuh atletis berpinggang ramping pria suaminya...menunda-nunda, semata karena menginginkan hanya diri mereka berdua saja, tanpa ada pihak yang lain...


Baiklah.


"...aku sanggup menunggu." Hanya itu yang Hana bisikkan, menimpali dengan hampir tak terdengar, entah Lukas bisa mendengarnya atau tidak.

__ADS_1


###############


__ADS_2