
###############
"Kalian berdua itu sama saja. Sama-sama berahasia. Penuh misteri.
Putriku sendiri tidak mau jujur.
Jelas dia tak mau jujur, kalau yang dia katakan padaku itu seperti itu.
Bertemu dan berkenalan di tengah jalan? Saat dia hendak main ke rumah teman sekerjanya dulu yang ternyata bertetanggaan denganmu? Lalu dia bertanya alamat rumah temannya itu kebetulan kepadamu, nak Lukas, yang ternyata alamat temannya itu alamat salah?
Lalu kau juga, tak cocok dengan cerita pengakuan Hana. Karena kau bilang kalian berdua tak sengaja bertemu dan berkenalan di dunia maya. Alias Facebook. Lalu singkat cerita kau naksir padanya lalu kau ajak Hana menikah...
Coba, bagaimana aku bisa percaya pada kalian kalau jawaban kalian berdua berbeda-beda seperti itu padaku?"
Baru ini saja Ratna mencobai Lukas mengorek informasi lebih dalam darinya. Tentang ihwal bagaimana sebenarnya sang putri bisa bertemu dan mengenal Lukas. Pria di seberang meja di hadapan duduk Ratna itu seketika memperlihatkan raut wajah tegang, kaget begitu menyadari apa maksud dan tema kedatangan Ratna mencari untuk mengajaknya bicara ini.
Lalu dalam tercenung diamnya pria itu berpikir cepat, mencari cara bagaimana harus menjawab atau memberi penjelasan pada Ratna.
Sungguh, ia tidak pernah tau kalau antara dirinya dan Hana ternyata punya perbedaan versi cerita tentang awal perkenalan mereka berdua.
"Lewat Facebook itu yang benar, bu Ratna. Di fitur 'Orang yang mungkin anda kenal'. Mungkin karena kita berdua berteman di sana, akun Hana muncul," papar Lukas. Karena menurut Lukas sendiri pun pengakuan versi Hana tak cukup masuk diakalnya. Walau cerita versi dirinya ini sama parah membualnya. "Hana hanya tak mau saja memberitau ibu seperti itu, mungkin karena putri ibu terlalu malu mengakui mendapat kenalan serius yang hanya lewat media-sosial."
"Begitu?"
"Saya yakin begitu, bu."
"Saya yakin begitu?" ulang Ratna semakin skeptis.
"Ya." Lukas mengangguk, mempura-purakan berekspresi serius.
"Hmm...oke, jadi yang benar lewat Facebook itu... Dan jatuh cintanya kalian berdua, apa benar Hana yang lebih dulu merasakan jatuh cinta itu padamu? Tak peduli kau sudah mengaku di depannya bahwa kau sedang menjalin hubungan dengan seseorang?"
Wah...? Hana berkata demikian pada sang ibu?
"Bu Ratna..." Saat Lukas hendak menjawab mengklarifikasi, meski harus dengan berbohong lagi, Ratna berbarengan bersuara,
"Bukan ibu sedang bertanya tanpa maksud atau bermaksud ikut campur, Lukas. Ibu sengaja bicara dan bertanya begini padamu, karena lama kelamaan aku menyadarinya kalau Hana selama ini irit sekali berbicara tentangmu padaku.
__ADS_1
Sudah 7 bulan usia kandungannya, hanya sekitar 2 atau 3 bulan dia kosong sebelumnya, dan 2 bulan saja masa perkenalan kalian sebelum memutuskan menikah...hampir 1 tahun atau mungkin sudah 1 tahun tepatnya kalian memiliki hubungan, tapi bahkan putriku tak lebih dari 5x saja membicarakanmu dan itupun kalau bukan aku yang memulai, dia tidak pernah mau memulai.
Ada apa sebenarnya? Apa sebenarnya kalian berdua menikah hanya asal menikah, tidak ada niat, bahkan tanpa ada perasaan apapun entah itu saling naksir atau saling cinta yang menjadi landasan pernikahan kalian?"
Keheningan yang menyusul terasa sangat panjang dan tak mengenakkan... Akhirnya Lukas bersuara dengan balik bertanya,
"Kalau kukatakan pada ibu bahwa aku yang memaksa Hana menikah untuk alasan...memenuhi keinginan kedua orangtuaku pada akhirnya, apa ibu masih akan terus merasa penasaran dan bertanya? Meng-kroscek ini pada Hana?"
Ia tahu Ratna pasti sangat penasaran, jadi membelokkan sedikit dari fakta, ia memberikan pernyataan dan pertanyaan sedemikian.
Ratna pun sekonyong-konyong terpana.
Lukas segera menambahkan. "Belum ada perasaan saling jatuh cinta, bu. Sekedar naksir pun, hanya sedikit." Ini benar. Ia sendiri sepertinya sudah langsung merasa sedikit naksir pada Hana di jumpa pertama. "Tiba-tiba saja setelah bertemu Hana aku merasa cocok dengannya. Lalu aku melamarnya."
Hening lagi.
Tapi keterpanaan Ratna berangsur mengendur. Kini ia memandangi Lukas dalam-dalam, menyusul mengulaskan senyum getir.
"Sepertinya kau sudah mendapat firasat tentang ibumu, Lukas. Kau setelah bertahun-tahun kemarin akhirnya mau juga menikah, walaupun menikahi...wanita lain."
Dan sepertinya Ratna mempercayai kalau yang memaksa menikah untuk memenuhi keinginan orangtua adalah pihaknya, bukan pihak Hana, Lukas tersenyum kecil miris membalas senyum Ratna.
"Tapi bagaimana sekarang, bagaimana perasaanmu sekarang terhadap putriku? Sudah ada rasa...mungkin rasa yang istimewa terhadapnya?"
Pertanyaan Ratna di kali ini akhirnya menyadarkan Lukas untuk tidak menambah kebohongan demi kebohongan lagi. Sudah cukup yang di awal tadi saja. Untuk pertanyaan yang satu ini, pria itu memutuskan membuat pengakuan jujur,
"Aku sudah jatuh cinta padanya, bu Ratna. Pada Hana... Dan mungkin masih hanya aku sendiri yang merasakan ini. Hana mungkin belum karena..." Sontak jantung dalam dada Lukas berdetak kencang.
Saat pria itu mempertemukan pandang pada Ratna yang setia memandangi dirinya serta menyimak baik-baik kata-katanya -- terutama pada kalimat pengakuan Lukas yang menyatakan telah jatuh cinta pada putrinya maka Ratna menyela dengan menyunggingkan senyum penuh arti -- tertohoklah Lukas pada pemahaman baru itu; Tidak, bukan belum. Tapi sudah. Kemungkinannya sudah. Karena Hana...2 malam lalu sepulang dari Butik di Bekasi, tepatnya kemudian di dalam bilik pancuran shower itu...
Oh Tuhan... Walau setelah kejadian di bawah pancuran hanya berlanjut dengan Hana meninggalkannya di bilik shower untuk kemudian meneruskan mandi kilatnya di luar, lalu selesai dan berpakaian lalu memilih menghilangkan diri masuk ke kamar gambar, setelahnya mereka berdua kembali ke sikap biasa-biasa saja, Lukas mendadak mendapatkan keyakinan sekarang bahwa Hana...
"Kenapa, Lukas?" Sang ibu mertua tak lepas memperhatikan perubahan di ekspresi dan sikap Lukas.
"Bu Ratna..."
"Hmh?"
__ADS_1
"Apa...Hana yang menyuruh ibu datang menemuiku ini?"
"Bukan. Aku sendiri yang berinisiatif. Kenapa memang?"
"Hanya untuk menanyakan tentang perasaan kami berdua?"
"Salah satunya. Yang lain, aku bermaksud membicarakan padamu agar segera saja kau cari ART untuk di rumah kalian itu. Satu yang lain lagi, aku mendatangimu begini untuk bertanya juga padamu, tentang bagaimana kabarmu sendiri, kabar keluargamu, setelah bu Hutami meninggalkan kalian semua untuk selama-lamanya.
Tapi ada apa, Lukas? Hana kenapa? Kenapa kau menanyakan apa putriku yang menyuruhku datang ke sini?"
"A-RT? Asisten rumah tangga, bu? Maksud ibu, pembantu?"
"Pembantu. Ahh, ternyata Hana menunda kalian memperkerjakan pembantu karena putriku ketakutan. Kawatir."
"Ka..."
"...watir, kau terpikat pada pembantu yang kalian pekerjakan nanti. Kawatir pembantu itu merebutmu seperti putriku telah merebutmu dari Meiska.
Hana takut pada karma, karma buruk yang akan menimpanya andai kalian sudah memperkerjakan ART. Karma buruk imbas dari perbuatannya terhadapmu dan Meiska.
Karena itu putriku tidak begitu berminat kalian memiliki ART."
"Astaga..."
"Carilah ART yang jauh diatas usiamu, Lukas," sejenak Ratna berdeham, berharap Lukas bisa menangkap maksudnya. "Maaf, jangan sebayamu, apalagi Hana. ART seusiaku pun masih banyak tersedia dan produktif. Maksudku untuk dijadikan pembantu di rumah kalian.
Bagaimana?"
Dengan sendirinya bahasan tentang perasaan Hana terhadapnya tergantikan ke fokus pembicaraan terbaru ini. Tentang ART yang belum apa-apa, belum lagi Lukas mulai pekerjakan, sudah dicemburui Hana.
Berselingkuh dengan seorang pembantu rumah tangga?
Lukas bukan tipe pria haus se*s atau wanita.
Kalau memang ia seperti itu, sudah sejak lama jauh-jauh hari Lukas meninggalkan Meiska.
Dan karma itu?
__ADS_1
Kenapa Lukas justru merasakan hal hampir serupa pula, menakuti karma ini, atas perbuatannya meninggalkan Meiska, membuat Lukas mengkawatirkan karma itu bisa saja mendatanginya juga dengan Hana ganti pergi meninggalkannya?