MUTIARA 250 JUTA-KU

MUTIARA 250 JUTA-KU
39. Apa Rasa Dan Aroma Bibir Ber-Lip Balm Hana?


__ADS_3

&&&&&--&&&&&


Mobil putih Lukas meluncur masuk halaman lalu membelok mengarah ke garasi yang terpisah beberapa meter dari bangunan rumah.


Sesudah menutup lagi pintu gerbang sekaligus menguncinya, bu Nita bergegas kembali ke dalam rumah, sesuai tugasnya stand by di dapur.


Tak berapa lama, kedua majikan yang baru saja pulang dari pesta pernikahan itu berjalan memasuki rumah, namun pemandangan di raut wajah dan sikap berdiam masing-masing -- bu Nita diam-diam memperhatikan dari dapur -- jelas sekali menunjukkan kesan...sepertinya mereka tidak menikmati acara bersenang-senang mereka di luar?


Hana murung, Lukas kalem saja. Tapi pria itu menyempatkan membalas sapaan bu Nita di dapur sambil menyodorkan bawaan pada ART itu, sementara Hana menghilang masuk kamar.


"Oleh-oleh untuk ibu," kata pria itu. Bu Nita menyeringai kecil senang menerimanya. Buah tangan berupa kantung kertas berisi roti sandwich terbungkus.


"Trima kasih banyak, pak Lukas... Apa saya perlu menyiapkan makan malam untuk bapak dan ibu?"


Lukas menghampiri lemari es dan membuka pintunya. Mengambil satu butir apel merah besar dari rak paling bawah pria itu menunjukkan benda itu pada bu Nita.


"Saya cukup ini saja. Kalau Hana nanti kutanyakan dulu padanya. Berhubung dia sedang bad mood, bu Nita, sebaiknya tak usah dulu ibu tegur." Lukas menutup kembali pintu lemari es.


"Ohh, begitu." Memang sedemikian yang bu Nita lihat pada sang majikan perempuan. Mungkin sesuatu tak bagus telah terjadi di antara kedua majikannya tersebut. "Ya, pak Lukas."


Lukas berkata lagi, "Sudah hampir jam 8, ya sudah sekalian saja, silahkan ibu beristirahat saja. Mungkin Hana juga akan langsung istirahat, tidak makan lagi atau menggambar untuk malam ini."


"Baik, pak," angguk bu Nita. "Kalau begitu saya permisi ke belakang ke kamar saya?"


"Ya. Trima kasih, bu Nita."


"Sama-sama, pak Lukas. Selamat malam. Permisi."


"Malam, bu. Silahkan."

__ADS_1


Kamar tidur yang telah bu Nita pilih adalah ruangan di belakang rumah. Menuju tempat itu harus keluar dulu dari pintu samping teras kanan karena bagian dapur bersebelahan kamar mandi tidak memiliki akses pintu keluar. Hanya ada jendela besar kaca pada tembok dapur, menghadap kolam ikan di teras samping kiri, dan untuk menuju area itu pun harus lewat pintu teras samping kanan lalu memutar di halaman belakang.


Menghadap halaman itulah keberadaan bangunan kamar tidur bu Nita, dikelilingi tembok beton kokoh setinggi sekitar 4 meteran sebagai pembatas pemisah wilayah rumah dan halaman belakang bagian Lukas dengan rumah para tetangga belakang dan kanan kiri.


Kalau sudah diperkenankan pergi beristirahat, itu berarti baik Hana maupun Lukas tidak lagi membutuhkan bantuan bu Nita. Dan memang di jam 9an malam lah batas akhir tugas membantu-bantu yang dilakukan wanita ART itu.


Sepeninggal ARTnya Lukas meraih jas Tuxedo yang tadi ia sampirkan di kursi makan. Di pindah-sampirkan lagi ke kursi sofa di ruang keluarga karena ia ingin sejenak duduk-duduk membuka laptop di situ, mengecek sesuatu urusan pekerjaan kantor.


Hingga sekitar 20 menit kemudian...Hana memunculkan diri ke ruang keluarga, menghampiri di mana pria itu duduk...


Dari Hana mengayun langkah melewati pintu kamar pun pria itu sudah bisa merasakan gerakan kehadiran sang istri tercinta. Maka ia mengangkat pandang dari laptop, memberi perhatian penuh pada kedatangan Hana yang sudah dalam keadaan rapi berbaju daster sehabis mandi.


Rambut tebal hitam sang istri lembab basah sehabis keramas, hanya akan dibiarkan mengering alami setelah disisir...Lukas sepintas membayangkan jemarinya menyusuri malas-malasan namun penuh kemesraan di sana.


Make up telah menghilang namun gurat wajah tetap tak bersahabat, mungkin Hana masih dalam suasana hati mengambek, pikir pria itu. Juga kelelahan setelah seharian berada di acara resepsi.


Tapi begitu sang istri mengeluarkan sesuatu dari saku daster lalu mengulurkan benda itu ke hadapan Lukas, pria itu pun memindahkan tatapan dari melihati istrinya ke kotak itu. Kemudian tercenung...


"Aku jadi mengembalikan ini," Hana bersuara, balas memandang Lukas.


Sesaat saling beradu pandang, Lukas berusaha keras menyabarkan perasaan.


Tangan terulur Hana hanya diabaikan, pria itu bagai kehabisan energi akhirnya menjatuhkan punggung ke sandaran sofa...menghembus perlahan napas keluhannya tanpa lepas dari memandangi Hana.


Hana sebenarnya sudah berubah perasaan ke antara niat tak niat membahaskan ulang kalung ini. Tak lagi seserius sewaktu di mobil tadi, sebab ancaman Lukas tentang akan membuang kalung inii...


"Kuralat omonganku tentang tak perlu meneruskan membicarakan. Duduklah, Hana, kita bicarakan lagi kalau kau bisa menunda sebentar berbaringmu."


1/2 jam sebelum benar-benar sampai rumah sebenarnya Hana sudah berbaring walau sekadarnya. Di dalam kendaraan pada kursi penumpang depan yang sandarannya dimundurkan habis ke belakang, sehingga ia bisa rebah yang itu sudah cukup membantu menyamankan.

__ADS_1


Tapi tanpa berkomentar wanita itu menuruti Lukas dan duduk.


Diletakkannya kotak kalung ke atas meja, sekarang dari posisi duduknya lebih terlihat punggung Lukas yang menyandari si jas Tuxedo.


Mengingatkan wanita itu pada penampilan bertuxedo hitam Lukas seharian tadi.


Ia yang terbiasa melihat Lukas berpakaian jas saat pergi bekerja, tak lantas kehilangan perasaan tertawan dalam melihatnya seperti tadi siang.


Tuxedo hitam tersebut berbahan gabungan wol, poliester dan rayon, dengan detail silk satin di bagian kerah, kancing, lis saku, dan di sepanjang kaki celana.


Material bahannya yang ringan dan berkilau terutama saat ditimpa cahaya, sangat membuat keren serta makin berkarismatik sosok tampan dan jangkung Lukas, sehingga Hana rela melupakan kesungkanan dan kegrogian diri selama berdampingan dengan pria itu.


Sesekali Hana menyengajakan bersikap memanja padanya. Entah dengan tak mau jauh-jauh darinya, merangkulkan siku ke lengannya saat di ajak berjalan ke sesuatu tempat...dan yang lebih membuat Hana semakin melekat sempurna dengan bangga dan berani adalah, karena Lukas sendiri senantiasa tak berkeberatan Hana memperlakukan demikian.


Kesan kepemilikan diri akan satu terhadap yang lain yang sangat jelas mereka ungkapkan dan publikasikan di sepanjang acara pesta.


"Aku akan mengalah, Hana... Mulai dari sekarang, aku akan menuruti apapun yang menjadi kemauanmu." Lukas membuka pembicaraan dengan berkata demikian.


Hana mengangkat alis tak mengerti. "Ya? Maksud kamu?"


"Maksudku, di jalan tadi...aku segera menyadari--" kalimat Lukas melambat lalu menggantung di udara, karena pria itu sengaja mengakhiri dengan terdiam.


Keseluruhan yang ada pada diri Hana pada malam ini dalam pandangan mata pria itu menciut ke satu bagian itu saja, bibir ber-lipbalm Hana.


Ada warnanya, pink bening. Tapi aroma? Rasa? Lukas tidak tahu. Belum pernah tau. Mulai menimbang, apakah sebaiknya ia mencari tau.


Tawaran terselubung dibalik 'Sesudah Acara' pun ikut dipertimbangkan.


Segera menyadari ke arah mana sang suami kini mengkonsentrasikan perhatian, Hana malah tanpa sadar meng*lum perlahan bibirnya.

__ADS_1


Dan tepat pada saat itu Lukas berdiri dari kursi sofa dan melangkah...


__ADS_2