
Tidak juga Meiska.
Meiska sekalipun, tidak memahami ada apa sampai sang kekasih tiba-tiba datang meminta ijin hendak segera menikah, sekaligus meminta pada dirinya agar lebih baik merestui niat tersebut.
Bagai tersambar petir disiang bolong, sudah pasti seperti itulah yang direaksikan wanita itu.
Dengan membelalaki Lukas kaget dan tak percaya, untuk kalimat Lukas yang bagai tak ada angin tak ada hujan bermaksud menggantikan dirinya dengan wanita lain...Mei tak ayal merasa dihancur-leburkan pada perasaan.
Segigih apa wanita itu mencoba mengorek keterangan, Lukas lebih gigih lagi dalam mengunci mulut rapat-rapat.
Bosan menanyakan tapi selalu tak ditanggapi akhirnya wanita itu berhenti melakukannya, tak lagi-lagi berusaha menanyai Lukas... Mencoba menerima dengan rela keputusan yang diambil secara sepihak oleh pria itu, karena toh itu berawal, adalah dari pihaknya sendiri yang sampai akhir selalu menolak diajak menikah pria itu.
Maka akhirnya menikahlah pria kekasihnya itu dengan wanita lain...
Namun Meiska tak lantas berlalu. Ia datang hadir di acara resepsi pernikahan, menangkap betul reaksi Hana yang terkesan tak mau ambil pusing melihat Lukas menyempatkan diri menyambut pelukannya, usai dirinya memberi ucapan selamat.
Meiska cantik, itu penilaian dalam hati Hana begitu bertemu dan berkenalan dengan sang rival. Walau malas-malasan menyambut senyuman ramah sang rival, Hana menyempatkan diri memberi perhatian secara sembunyi-sembunyi kearahnya... Cantik dan hitam manis. Wanita asal Flores NTT asli, bekerja sebagai sekretaris pribadi seorang petinggi sebuah perusahaan besar bidang eksport import... Perkenalan Meiska dengan Lukas terjadi di saat wanita itu sedang mengawal sang bos mendatangi kantor Firma tempat Lukas bekerja.
"Karena kau sudah mengatakan tidak akan melarang, kurasa aku akan terus berhubungan dengannya. Jadi tolong, jangan beritaukan ini pada siapapun." Itu pesan pria itu pada Hana 3 hari sebelum acara pertemuan 2 keluarga digelar.
Menyanggupi dengan penuh keyakinan Hana memberi anggukan polos namun tegas, "Janji! tidak akan ada yang lain mengetahui ini selain aku, kamu dan dia. Aku toh tidak mungkin mengumbar hal yang bisa membuat malu diri aku sendiri."
Mungkin kesanggupan tulus dari Hana ini juga yang dirasa pria itu mampu membuat perasaannya menjadi terbelah...
Tadi pagi menjelang siang saat masih bercinta dengan Meiska, Lukas sekilas terkenang cara Hana mengekspresikan kesanggupan itu. Juga semasih meladeni cumbuan Mei, Lukas terbayang lagi bagaimana istrinya sendiri menerima cumbuan darinya pada malam pertama mereka 8 bulan yang lalu.
Begitu murni, sempit, tak berpengalaman dan tanpa apapun komentar...Hana membiarkan Lukas terus memenuhinya.
Sempat terlihat malu, sempat merasakan tegang dan gamang, lalu berpasrah dalam setiap cumbuan dan rengkuhan Lukas, Lukas berhasil membawa mereka berdua bersama-sama mencapai puncak...sebelum menggeletak rebah bermandikan basah, lelah, sekaligus kepuasan.
Berkesan bagi Lukas pribadi. Selalu saja kenangan indah malam pertama di 8 bulan lalu itu ia putar ulang dalam beberapa kesempatan dalam ingatan. Terutama saat sedang luang di kantor sambil memandangi gambar diri Hana dalam Galery HP.
__ADS_1
Pergi periksa kandungan sendirian?? Terlalu. Pria itu harus mengakui mungkin dirinya benar-benar sudah menjadi pria bajingan.
Maka sekitar jam 9 malam, malamnya...
Pria itu menyelonjorkan diri di atas tempat tidur dengan punggung atas pada bantal, pundak hingga kepala menyandar pada kepala ranjang, sementara kedua kaki saling ditumpangkan...bersantai membacai sebuah buku terbuka yang ia berdirikan di atas dada.
Sendirian dalam kamar tidur karena Hana sepertinya masih menyeriuskan diri menggambar di ruang kerja, Lukas sudah berencana begitu istrinya sudah berada di dekatnya nanti...ia akan melakukannya.
Ceklikan pada pintu kamar terdengar hampir 1 jam kemudian, Hana berjalan memasuki ruangan lalu duduk di depan meja cermin untuk bersisir. Meski pantulan posisi santai sang suami lumayan jelas terlihat di cermin, Hana berusaha tak melihat ke sana. Karena sejujurnya sikap tubuh seperti yang sedang ditunjukkan Lukas itu adalah bagian dari kelemahannya.
Hati wanita itu diam-diam selalu berdesiran hebat kalau sudah melihat tubuh dan kaki panjang berpiyama Lukas sedang berselonjor rapi dan santai seperti itu. Masih tanpa selimut, hamparan tubuh suaminya terlihat...sangat intim dan mengintimidasi. Sangat menguasai ranjang sekaligus sangat berbagi.
"Sudah selesai menggambarnya?"
Lukas bersuara bertanya, terpaksa sang istri mempertemukan arah pandang mereka dalam cermin.
"He-eh. Sudah. Untuk hari ini. Besok lagi."
"Belum, belum tau kapan. Mungkin minggu depan. Kami belum merencanakan."
Manggut-manggutnya Lukas terlihat dalam cermin sebelum pria itu mengembalikan perhatian pada halaman buku di depan mata. Kini pria itu menumpangkan satu kaki ke atas bantal guling, sementara kedua tangan masih sibuk memegangi dan membukai halaman buku.
Kalau tidak berotak jenius mungkin Lukas tak akan pernah bisa menjadi seorang pialang. Otak bisnis, bacaan pun selalu buku-buku tebal berbau perbisnisan itu, bathin Hana.
Hana tanpa sadar mengukir senyum simpul. Ia sudah muak membacai buku-buku pengetahuan. Sekarang ia hanya menyukai membaca novel online atau komik online. Komik online yang sedang digelutinya ini adalah profesi baru yang sebenarnya belum begitu menghasilkan cuan. Ia baru saja memulainya dalam 1 1/2 tahun terakhir dengan persaingan ketat antar cergamis, membuat usahanya belum mampu mengalahkan persaingan yang ada.
Ia memulai menjadi komikus amatiran setelah yakin hasil cerita pertama yang lolos publikasi dan mendapat respon baik dari para pembaca, memberinya pemasukan lumayan. Berbekal itu semua maka sejak 1 1/2 tahun lalu ia membulatkan tekad untuk menjadikan profesi baru ini sebagai ladang mata pencahariannya. Melupakan pekerjaan awal dalam hidup sebagai seorang pekerja 3 shift di sebuah pabrik elektronik.
"Tidurlah." Suara Lukas terdengar lagi.
"Iya. Ini sudah mau tidur." Hana menyahut pelan, meletakkan sisir ke atas meja cermin lalu mengangkat dirinya hati-hati dari kursi kecil yang diduduki.
__ADS_1
Bawaan jabang bayi ini sedikit demi sedikit mulai merepotkannya. Tidak mengalami ngidam atau muntah-muntah, nafsu makan Hana berikut timbangan segera merangkak naik. Dada membesar, dan hormon-hormon kehamilan itu apalagi, naik turun tak jelas. Mood swing mulai kerap dialaminya. Semakin sensitif dan mudah melow.
Perlahan membaringkan diri di sisi ranjang bagiannya, Hana menarik dan menutupi sendiri selimut ke tubuh, menyembunyikan keberadaan bentuk berisi tubuh hamilnya dari pandangan mata Lukas.
Sambil berbaring diam Hana memusatkan konsentrasi untuk mencari kantuk. Supaya lekas tertidur. Ia pun memejamkan mata, merilekskan tarikan nafas, pejaman mata, segenap syaraf hingga ke ujung jari kaki.
Sebenarnya belum benar-benar mengantuk, hanya lelah setelah seharian ini mengalami dinamika yang tidak biasa. Dari tidur yang telat tadi malam, bangun terlalu cepat jam 4 subuh, lalu pagi hingga ke siang hari bertanya-tanya kemana gerangan pergi dan menghilangnya Lukas...begitu muncul suaminya itu pulang membawa noda lipstick pada kaus.
Sangat menyebalkan.
Dan terakhir pria itu mendadak mengajukan diri mulai dari saat ini akan menemani dirinya periksa kandungan, untuk yang terakhir ini Hana jelas sangat menyukainya.
Jadi keseluruhan semua tema itu praktis menggejolakkan perasaannya. Mempengaruhi fokus pada kegiatan menggambar, akhirnya ia memilih untuk tidur cepat saja.
Pergi tidur jam 10an malam tergolong cepat. Biasanya ia baru akan tidur jam 12 atau jam 1 tengah malam.
Tau, ia sangat tau sangat tidak baik bagi kesehatan dan kehamilannya bila ia terus membandel pergi tidur di tengah malam. Jadi mulai malam ini, baiklah...ia akan pergi tidur lebih awal.
Ia menyenyumi dalam hati kebulatan tekad untuk mewujudkan niat ini, hingga...dirasakannya suatu pergerakan singgah di sisi, dari bagian mana Lukas berada...
Berusaha tetap berbaring diam memejam Hana tak luput berdebar menanti... Begitu ingsutan Lukas sudah tiba mendekat, sentuhan lembut pun menerpa permukaan bibirnya.
Wanita itu membuka mata, terhenyak menerima ciuman Lukas.
"Ini permintaan maaf..." gumam pria itu kemudian di bibir Hana yang segera menatap bingung ke kedalaman mata suaminya, "...sudah membuatmu pergi sendirian ke sana."
Ooo...
Jauh dari hasrat. Ini sekadar berciuman yang hanya bermuatan kelembutan dan kemesraan standar saja. Hana cukup paham itu saat membalas, jadi, tak masalah. Dengan Lukas mengartikan ciuman ini sebagai bentuk permintaan maaf, Hana sudah lebih dari bersyukur. Tak akan lantas berharap banyak dari suaminya. Apalagi suaminya kemudian mengakhiri ciuman mereka lalu menarik diri menjauh, yah, benar-benar tak masalah.
"Aku akan bercinta lagi denganmu. Tapi mungkin nanti. Entahlah..."
__ADS_1
###############