
Ada apa?
Apa ini?
Kenapa Lukas tiba-tiba begini?
Lukas tidak pernah memperlakukannya seperti ini.
Di luar kebiasaan pria itu untuk memberi pujian semacam tadi, apalagi memeluk dari belakang, ini juga di luar kebiasaannya.
Membuat jantung di dalam Hana berdesir...
Kelembutan Lukas melekatkan diri dari belakang, penempatan bawah dagu di puncak kepala Hana sementara sepasang lengan pria itu mendekap menyilang tepat di bawah buah dada Hana, sangat dekat untuk pria itu menangkup salah satu bukit bulat indah pay*dara itu...Hana tak luput kikuk saat melepas spons cucian dari genggaman lalu membasuhkan tangan ke kucuran air keran.
Lantas menjadi termangu melihat salah satu tangan Lukas terulur maju menutup keran, sebelum kemudian tangan itu kembali ke tubuhnya namun tak lagi ke tempat semula.
"Jangan salah mengartikan...mungkin karena terbawa perasaan beberapa jam lalu melihat temanmu...bersama pacarnya itu...aku jadi ingin melakukan ini..." Lukas berbisik, menunduk menempelkan sisi kepala dekat di telinga Hana, melirih di kalimat terakhir.
Bagai terhipnotis Hana mengangguk menurut, merasakan jemari Lukas pada pangkal lehernya bergerak turun di antara napas wanita itu yang mulai naik turun cepat.
Ia tidak memprotes sedikit pun ketika jemari kuat dan ramping itu turun semakin rendah, hingga tiba di bongkahan pay*dara kirinya dan berdiam di sana...
"Hana,"
"Hmh?"
Lukas memperdengarkan tawa parau, "Aku bahkan melakukannya di dapur ini, dekat wastafel ini, karena kalau sempat aku memindahkan kita dari sini--"
"Tidak apa-apa." sela Hana.
"--bisa membuatku kehilangan mud ini."
"Iya...di sini saja." timpal Hana lagi, mencoba sedikit menunduk melihat ke arah dimana tangan suaminya berada.
Pada dasarnya mereka berdua sama-sama sudah terpercik gairah. Penyatuan tubuh yang mungkin baru terjadi di kali ini setelah beberapa bulan berlalu. Maka begitu Lukas mulai menekan dan menggosok memutar telapak tangan di pay*dara berlapis Bra dan kain baju Hana, wanita itu pun merasakan tubuhnya lebih bereaksi.
Napas wanita itu semakin cepat ketika tangan Lukas merangkum dan meremas keras...
Manakala pria itu rasa belum leluasa, tanpa ragu dibukainya satu persatu 4 buah kancing depan pada atas ban pinggang baju hamil Batik yang dikenakan Hana. Masih tanpa protes dari sang istri, masih dalam sikap pasrah yang justru memotivasi Lukas untuk lebih bertindak jauh.
Tak hanya mengurai lepas kancing, Lukas kemudian menurunkan baju itu ke bawah, meloloskan keluar dari kedua tangan Hana namun baju hanya dibiarkan menggantung di seputar atas perut buncit Hana, seolah sengaja menyelubungi bagian itu.
Barulah Lukas bisa mendes*h puas. Tubuh atas setengah telanjang Hana lantas pria itu rebahkan di hamparan dada bidangnya, mempermudah tangan pria itu meneruskan kegiatan.
"Semakin penuh..." gumam Lukas meresapi jemarinya menyelusup dari bawah ke balik Bra lalu menangkup di sana, "...besar dan lebih berisi, dari yang pernah kuingat."
Hana tidak tau harus berkomentar apa, hanya membiarkan kedua tangan Lukas terus mencumbui buah dadanya sesudah menaikkan tinggi-tinggi cup Bra ke atas.
Lukas memegang bagian bawah pay*dara Hana dan mengangkatnya, sambil menyapunya perlahan dengan ibu jarinya. Hana pun mengerang, diluar kemauannya, kepalanya makin tersandarkan pada Lukas di belakangnya.
__ADS_1
Semakin Lukas memberikan sensasi maksimum pada Hana, memperintens eksploran dengan menekan, memijat dan meremas, merangkum kuat daging pay*daranya, semakin wanita itu mengeluarkan suara rintihan tertahan, menggesekkan belakang kepala pada tubuh atas Lukas, dengan tarikan napas wanita itu yang bagai berkejaran.
Momen kegiatan percumbuan di luar rencana, terus berlangsung walau tak ada satu pun yang ingin bersuara berkata-kata.
Jangan Hana, jangan lakukan... Jangan des*hkan nama suamimu biarpun mulutmu sudah begitu ingin melakukan saat sedang dicintai seperti ini...
Ayolah, selama ini kau bisa menahan diri untuk tidak mengucap--
"Ohh...Lukass!" Hana menggeliat, gagal menahan seruan ketika Lukas menunduk pada sisi kepala Hana untuk melihat jari yang pria itu jepitkan keras di kedua ujung sensitif pay*dara Hana, hingga apa yang dilakukannya itu menimbulkan denyut-denyut nikmat bercampur pedih tak tertahankan dirasa istrinya...
###############
Suatu siang, Lukas mendadak menghubungi Hana lewat video-call.
Entah kenapa, perasaan tak enak segera menyergap sanubari terdalam Hana. Dengan sedikit meremang ia menerima panggilan masuk itu.
"Hana,"
"Ya?"
Di layar HP Lukas terlihat berekspresi cemas dan khawatir.
"Kemasi barang-barang kita sekarang juga, kita pulang ke Solo hari ini. Ibuku masuk Rumah Sakit."
"Hah?"
"Cepat. 1 jam lagi aku sudah akan tiba di rumah."
"HP-mu selalu aktif?"
"Aktif."
"Mungkin mereka hanya mengkuatirkanmu kalau kau dikabari langsung."
"Ooh..."
"Sudah dulu. Aku masih mengemudi."
"Iya-iya."
Benar yang dirasa Hana. Lukas jarang bervideo-call dengannya kalau bukan untuk urusan penting dan mendadak. Dan ternyata, ibu pria itu dikabarkan jatuh sakit dan masuk Rumah Sakit.
Ibu Tami masuk Rumah Sakit, di usia beliau yang sudah sepuh 78 tahun.
Hana berusaha tetap tenang saat mulai membereskan pakaian miliknya dan suami ke dalam sebuah koper kecil, tak lupa barang-barang lain yang sedianya sebagai keperluan mereka berdua untuk beberapa hari di Solo.
Dan di kali ke 2 mudik ke Solo ini, firasat tak baik Hana tentang bu Tami seakan terasakan begitu kuat.
Usia sepuh 78 bu Tami tidak sekadar main-main bila suatu waktu beliau dikabarkan jatuh sakit. Itu akan selalu menjadi kabar mencemaskan bagi sanak keluarga beliau yang tinggal di luar daerah Solo. Terutama Lukas yang sudah hampir seumur hidup pria itu tinggal di Jakarta atau Bogor.
__ADS_1
Itu sebabnya, perasaan tak enak yang menyergap Hana beberapa saat ini membuat dirinya sempat kebingungan sesaat, memikirkan barang apa lagi yang harus ia persiapkan.
###############
"Bagaimana keadaan ibu, Rini?"
"Belum stabil, kak Lukas. Masih di ruang ICU. Berdoalah, ibu sudah dinyatakan Dokter dalam kondisi kritis."
"Ck..."
"Mana kakak ipar?"
"Ya, mbak Rini?"
"Ohh...kamu baik-baik saja, kak? Kandunganmu maksudku."
"Baik, mbak. Saya baik-baik saja."
"Syukurlah. Maaf sudah membuatmu buru-buru berkemas dan menempuh perjalanan kereta api kalian ini."
"Tidak apa-apa, mbak Rini. Saya tidak ada masalah sama sekali."
"Baiklah, terima kasih. Jaga diri kalian bertiga. Itu, Lukas, tolong lebih diperhatikan lagi, kak. Anak kesayangan emak itu sempat syok di kantornya mendengar kabar ibu. Dan sempat marah juga ke kami di Solo sini karena kami tak mengabarkan kondisi sakit ibu yang sebenarnya sudah selama 1 minggu ini."
"Ooo..."
"Ibu sudah 78 tahun. Apapun yang terjadi pada ibu dengan keadaan sakitnya beliau ini, kita semua hanya bisa berupaya membantu dengan doa tak berkeputusan. Itu saja yang bisa kita lakukan."
"Iya, mbak Rini."
"Coba, kak Lukasnya lagi."
"Ya, Rin?"
"Kamu jangan terlalu kuatir begitu, kak Lukas. Lihat itu, wajahmu tegang dan kaku. Ayo cerialah. Ibu kita akan baik-baik saja koq. Percayalah."
"Iya."
"Kabarkan kami lagi kalau kereta kalian sudah sampai di stasiun. Oke?"
"Oke. Akan kukabari."
"Oke. Baiklah, sudahan dulu. Istirahatlah. 1 jam lagi kalian sudah akan sampai di stasiun. Masih ada waktu untuk istirahat sebentar lagi."
"Iya."
"Oke. Kumatikan telponnya?"
"Ya, Rin. Trima kasih. Sampai nanti."
__ADS_1
Hubungan video-call pun berakhir.
Rini adalah adik ipar Lukas, istri dari adik lelaki pria itu. Keduanya memutuskan tinggal di Solo bersama orangtua, di kampung halaman ayah mereka, dengan maksud menjaga dan menemani orangtua mereka itu menghabiskan hidup masa tua di sana.