
Pandangan Lukas menyapu ke sekitar ia dan Ratna berada, duduk-duduk di dalam sebuah kedai kopi bernama Maestro Coffee Cafe, tak jauh dari lokasi kantor kerja pria itu.
Tidak juga ramai pengunjung, sore menjelang malam 6.35, hampir 1 jam lalu Ratna sudah menunggunya di salah satu meja ini.
Mengesampingkan dulu perihal Hana dan apakah istrinya itu telah sama merasakan jatuh cinta atau belum, Lukas sekarang lebih ingin mengetahui apa yang tadi diberitaukan oleh Ratna tentang ART atau karma itu, "Kapan Hana mengatakan pada ibu...kalau istriku tak berminat punya pembantu, apa di dua malam lalu sewaktu kami baru saja pulang berbelanja pakaian?"
Ratna menggelengkan kepala, "Kemarin siang tepatnya. Dia menelponku menanyakan salon mana dekat rumah kalian yang bagus hasil riasannya. Untuk acara kalian di Sabtu lusa, Hana kepingin didandani dan di make-up orang salon.
Rupanya dia lupa menanyakan salon sewaktu aku menelpon jadi kemarin siang dia membahas itu sebentar padaku. Barulah setelah itu Hana menyinggung tentang yang tadi, Lukas, mengatakan kalau putriku lebih ingin agar aku saja yang datang membantu-bantu di rumah kalian."
Ratna melihat Lukas menarik napas sesaat, sebelum pria itu menanggapi, "Itu tidak mungkin, bu. Aku tidak akan pernah mempekerjakan atau bahkan sekadar sedikit saja merepotkan ibu untuk urusan bantu-membantu di rumah kami.
Mau tak mau Hana harus mengalah karena aku...tetap akan mempekerjakan paling tidak 2 orang pembantu. Sesegera mungkin akan kucari dan ya, mengikuti saran ibu, 2 orang ART yang paling tidak seusia dengan ibu.
Aku sendiri sebenarnya tidak peduli ART itu berusia berapa, maaf bu Ratna, aku bisa pastikan pada ibu bahwa pemikiran kuatir Hana tentang...yang dikuatirkannya itu...itu terlalu berlebihan. Overthinking."
Overthinking. Tempo hari Hana menyebut diri Lukas overreacting, sekarang Lukas menganggap Hana sedang overthinking.
Pria itu sangat mencintai Hana, takut pula kehilangannya, jadi bagaimana mungkin ia merelakan diri direbut oleh wanita lain hingga harus terpisahkan dari istrinya itu?
"Aku tidak akan mengomentari rencanamu ini, Lukas, atau hal-hal lain tadi," kata Ratna. "Satu saja yang ingin kukatakan padamu," Ratna memandangi serius sang menantu di hadapan duduknya sambil memberi penekanan pada kata-kata berikutnya."Si kecil kalian sudah akan lahir, jadi kalian berdua fokus saja ke anak itu.
Jangan berbuat macam-macam, jangan membuang-buang waktu mengurusi hal-hal tak penting...pokoknya masa-masa kalian memikirkan ego masing-masing itu, sudah selesai begitu si kecil kalian lahir.
Kau paham?
Oke. Sudah. Itu saja pesanku untuk kalian berdua."
Itu sudah mencakup jauh. Hingga menyentuh ke tema karma tadi. Lukas bisa membaca kalau Ratna tak ingin lagi melanjutkan membicarakan itu, jadi ia memutuskan untuk tidak usah saja mencoba mengungkitnya.
Kepala mengangguk-angguk kecil Lukas kemudian adalah sebagai jawaban kesungguhannya ingin mematuhi pesan sang ibu mertua.
Lalu kata Ratna lagi, masih ingin menambahkan. "Dan tentang karma yang kusinggung itu, sudahlah, lupakan saja. Tak perlu kau ambil hati, tak usah lagi dibahas. Lupakan."
__ADS_1
Tepat sesuai dugaan Lukas.
"Ya, bu Ratna."
"Orang salon yang kusarankan merias istrimu itu si Farah, yang dulu juga sahabatan dengan mendiang kakakmu, kalau kau masih ingat gadis gemuk berkacamata super tebal itu? Tapi entah apa Hana jadi memakainya atau tidak, biarlah terserah anak itu saja.
Bukannya dia tak bisa sama sekali berdandan, Lukas, tapi karena setelah kalian menikah baru ini kalian menghadiri acara penting dan kebetulan Hana sedang hamil, dia jadi tidak pede merias sendiri. Begitu katanya."
"Oo...oke. Nanti akan kutanyakan. Tak cuma ada Farah, bu, aku masih punya kenalan lain yang pasti akan bisa merias Hana."
"O, begitu. Ya sudah, beres kalau begitu." Sambil menyenyumi Lukas penuh arti Ratna mencoba mengembalikan tema pembicaraan ke awal, "Kau yakin, Lukas, kau sudah merasa cinta sekarang pada putriku?"
Hanya butuh sepersekian detik bagi Lukas memberikan senyum berseri-serinya ke hadapan pandangan Ratna, menyusul anggukan penuh keyakinan untuk pertanyaan tersebut, "101%, bu Ratna." jawabnya dengan sedikit tersipu kekanakan.
Sangat, tambahnya di dalam hati, menerawangkan pemikiran dengan tanpa sadar mengabaikan sang ibu mertua sejenak.
Hana yang suci murni adalah belahan jiwanya sekarang. Separuh nyawanya, mutiara hatinya. Mutiara 250 jutanya walau harga seorang Hana sesungguhnya tiada bernilai. Tak ternilai.
Tapi karena hati pria itu telah luluh seutuh dan sepenuhnya ke dalam pesona kebaikan, kesabaran dan terutama sekali ketegasan seorang Hana Le Vinora, yang dengan tanpa keluh kesah telah bersedia menjadi pendamping hidupnya hingga bersedia pula mengandung anak baginya. Di saat ia masih mendayungkan 2 perahu sekaligus.
Sehingga kemudian berkat kehadiran Hana, Lukas pun bisa segera kembali ke jalannya yang benar.
Bukan sekadar berawal dari 2 malam lalu, tela'ah Lukas. Hana segera berubah sikap terhadap dirinya, Lukas sedikit banyak menyadari, sepertinya sejak di detik ibunya menghembus nafas terakhir.
Pria itu mengingat-ingat lagi hari-hari mereka berdua sewaktu di Solo hingga ke detik ini...
Hana setelah itu seolah punya segunung simpati dan perhatian terhadapnya... Jadi apakah di saat itu lah Hana telah merasakan perasaan awal jatuh cinta pada dirinya?
Atau, sejak Lukas selesai menyuarakan pengakuan tentang sudah putus hubungan total dengan Meiska?
Ataukah...sebelum dari semua itu. Lebih jauh lagi dari sebelum semua peristiwa itu, mungkin saja waktunya sama yakni di hari malam pertama mereka?
Jadi kalau memang ternyata mereka sama-sama telah saling jatuh cinta satu terhadap yang lain, akankah pernah muncul keinginan di dalam hati Hana untuk pergi meninggalkan dirinya, keluar dari dalam kehidupannya?
__ADS_1
Untuk kemungkinan yang teramat tak diinginkan Lukas ini, ia cepat-cepat mengalihkan pandang dari menekuri permukaan meja ke arah wajah Ratna, "bu Ratna,"
Wanita separuh baya yang sedang meneliti isi chat WA sewaktu diperhatikannya Lukas mulai melamun, lalu mengangkat pandang dari layar HP, " 'Eh?"
"Aku benar-benar ingin membicarakan dan membahas ini dengan ibu sekarang. Tolong bu, jangan menolak."
"Oke oke. Baiklah. Apa?"
"Boleh ibu ceritakan, apa saja yang pernah Hana katakan pada ibu tentangku, tidak, tentang kami berdua?"
"Oo, itu. Selama kami bertelponan?"
"Bertelponan atau bertemu langsung."
"Kenapa kau ingin tau itu, Lukas?"
Lukas sudah tidak ingin berputar-putar lagi. To the point ia memandang dalam tatapan mata lurus dan pasti, sepasti apa yang ingin diketahuinya tentang Hana lewat sang ibu mertua, sepasti cara menjawabnya kemudian,
"Karena aku ingin tau, apa selama ini Hana...ada gelagat sudah jatuh cinta juga padaku, di tiap komunikasi ibu dengan istriku. Walau memang ya aku tau, tak cukup banyak kesempatan dia membicarakan aku pada bu Ratna."
"Oo..."
"Ada, bu?"
"Hmm..." Picingan mata Ratna saat mencoba mengingat-ingat sungguh semakin membuat debaran Lukas berpacu. Hingga, "Sejujurnya, Lukas, dia memang benar-benar mengerem mulutnya kalau untuk membahas tentangmu."
Wanita 54 tahun yang masih tampak awet muda dan fit dimata Lukas itu lalu memandangi pria itu dalam-dalam, "Hanya menjawab kabarmu saat kutanyakan perihal apa kabarmu. Hanya menjawab seadanya saja saat aku menanyakan tentangmu di hal lain. Hanya segera membelokkan pembicaraan atau justru mengakhiri perbincangan saat aku disadarinya hendak bicara lebih jauh tentangmu.
Nah, seperti itu.
Dan kalau tentang gelagat...apa tidak lebih baik kalau...kau tanyakan langsung saja pada Hana apakah dia memang sudah jatuh cinta padamu atau belum?"
###############
__ADS_1