MUTIARA 250 JUTA-KU

MUTIARA 250 JUTA-KU
45. Mengapa Tidak Sejak 10 Tahun Lalu Aku Mengenalmu


__ADS_3

'Please'?


Baru saja mengakhiri berciuman mesra, masih saling berhadapan wajah dengan telapak tangan kiri Lukas menopang di belakang kepalanya, Hana menyenyumi kecut Lukas...


Tau betul kalau pria ini sambil menggodainya saja dalam meniru kata Please itu, yang kemarin malam sempat ia mohonkan dengan tak urung membuatnya segera diterpa malu.


Saat suaminya memperlihatkan wajah menahan senyum menanggapi Hana yang bisa menangkap gurauannya, wanita itu lebih memilih bersuara menanyakan to the point hal yang terbersit dalam benak.


"Kenapa sih, kamu sepertinya bersikeras banget...antusias banget...kasarnya getol banget kepingin sekali melihat aku terus-terusan memakai kalung mutiara itu?"


Lukas hanya menyengir geli. Belum ingin menjawab karena dilihatnya Hana masih hendak berkata-kata.


"Padahal 'kan kalung itu sudah aku pulangkan resmi ke kamu... Karena aku tak mau lagi memilikinya." sambung Hana.


Kalimat ini tak ayal memudarkan cengiran di wajah suaminya, perlahan-lahan menjadi mendatar.


"Atau memang kamu...sedang ada misi tertentu juga dibalik minat kamu itu, makanya kamu jadi sering menyuruh aku untuk memakainya?"


Lalu terdiam sejenak, sebenarnya Hana jadi tidak enak hati juga selalu mendebat tentang kalung.


Habis mau bagaimana lagi? Tidak akan terjadi begini kalau saja harga benda itu tidak 'kemahalan'.


Maka kemudian ia mengekspos ulang tentang harga.


"Aku menganggapnya seharga 5 jutaan saja sudah bisa bikin aku kawatir takut kehilangan dia, Lukas. Apalagi ini hampir 87 juta... Total harta perhiasan yang kupunya bahkan tak pernah lebih dari 10 juta!


Kalau kamu masih ingat karena aku sudah pernah cerita itu ke kamu."


Kalimat demi kalimat yang semasih Hana mengucapkannya mampu merubah-rubah reaksi air muka Lukas.


Terakhir dari mendatar kini menyerius... Pria itu selain pada kata-kata tadi, juga memberi perhatian pada Hana, yang kini sudah pada posisi duduk berhadapan mereka sehingga Hana jelas bisa menemukan keseriusan itu di wajah Lukas.


"Hana," Pria itu akhirnya bersuara memanggil.


"Knapa?" sahut Hana.


Lukas terdiam lagi, sesaat menekuri perut membukit sang istri sebelum menaikkan pandang melihat ke wajahnya, pada sepasang mata tak terlalu berbinar di sana yang sedang membalas melihat padanya.


Istrinya, sosok wanita muda nan kuat, enerjik, mandiri dan pintar. Berbakat... Berperawakan tinggi sedang-sedang saja dan berkulit sawo matang. Manis. Tapi itu di awal-awal perkenalan.


Semakin hari setelah hampir 1 tahun menjalani hidup bersama Lukas, saat ini istrinya ini telah menjelmakan diri menjadi seorang Hana Cesilia yang begitu menawan di kehamilan 7 bulannya. Sangat diliputi aura berpancaran cantik, luar maupun dalam. Lahir maupun bathin. Perasaan mencinta Lukas terhadapnya membengkak lebih dari sekadar wanitanya di atas ranjang dan se*s.


'kenapa tidak dari 10 tahun lalu saja aku mengenalmu, supaya aku punya kesempatan lebih dari ini merasakan hidup bersama denganmu...'


"Apa? Kamu bicara sendirian apa?"


Lukas memang bergumam tak jelas, dari sela mulut terkatup yang sengaja pria itu buka hanya sedikit.

__ADS_1


"Apa kau belum juga bisa merasakannya?" Akhirnya ia bersuara jelas tapi dengan kata-kata yang tidak cukup dipahami Hana apa maksudnya.


"Merasakan? Merasakan apa?" kernyit wanita itu.


"Mm...kau dan aku. Kita berdua," jawab Lukas kalem, seraya menambahkan, "Hubungan kita berdua. Sebenarnya semakin hari hubungan kita...semakin dekat saja."


"Ooo..."


'...itu rupanya. Tapi tidak ada angin tidak ada hujan dia mendadak bicara tentang hubungan, batin Hana.


"Perasaanmu. Perasaanku. Semakin hari akhirnya semakin bertemu dan bisa menyatu juga."


Oalaah..sekarang bicara tentang perasaan mereka berdua.


Menyatu? Apa sebenarnya yang sedang Lukas coba ingin beritaukan padanya?


"Iya. Lalu?"


Suaminya mengulang, "Iya? Hanya Iya?"


Ha?


Hana pun buru-buru menjelaskan. "Oke. Itu memang aku bisa merasakannya. Aku akui kitaa...sudah seperti yang kamu sebut tadi...


Dan hubungannya dengan alasan kamu yang jadi sering menyuruh aku memakai kalung itu? Walau tidak benar+benar sering, tapi ini sudah mau lebih dari 2x."


Tumben terkesan sedikit melodramatis?


Hana menunggu dengan siap pada hal lain apa lagi yang hendak pria ini coba sampaikan.


"Aku juga ingin mengakui ini...banyak hal yang membuatku seolah menjaga jarak denganmu selama waktu-waktu kemarin." Lukas menipiskan bibir sambil masih melihati sang istri. "Aku yang masih berhubungan dengan Meiska, egoku, pernyataanmu yang selalu kuingat betul bahwa kau sebenarnya tidak menginginkan menikah denganku...


Lalu sikapmu yang setelah menikah kurasakan menjadi sedikit...berubah dingin."


"Ya ampuun..." Hana langsung mengerang. "Ya sudah ya sudah. Untuk yang terakhir itu...aku minta maaf lah."


"Jangan. Tidak usah. Semua yang kusebut tadi 'toh hanya di awal-awal kita saja."


"Ooh... Oke... 'Trus?"


"Untunglah sang waktu dan situasi cukup berbaik hati pada kita, menuntun hubungan kita berdua sedikit demi sedikit menemukan kemajuannya yang berarti."


Hana simpulkan untuk yang ini Lukas pasti hanya sedang melucu, dilagakkan serius serta filosofis meniru gaya kalimat wanita itu dalam komik.


"Iya sih. Karena memang tidak ada sesuatu Hal pun yang bisa terbentuk secara instan, selalu membutuhkan yang namanya Proses.


Begitu juga hubungan kita, butuh proses. Untuk membuat kita yang kemarin terbentuk menjadi kita yang sekarang.

__ADS_1


Benar?" Wanita itu ikut-ikutan mengeluarkan gaya bahasa komiknya.


"Benar sekali. Mi instan saja disebut instan tapi tetap harus diproses lagi, sebelum disantap. Dengan dimasak lebih dulu."


"Idih... Yang dimaksud dengan instan itu si bumbunya pak Lukaas...bukan mienya. Bumbu instan yang tidak perlu diolah lagi, cukup tinggal diracik ke mienya yang sudah dimasak lebih dulu itu. Begitu."


"He he...begitukah? Selama ini kupikir mienya itu yang instan... Kurang kupahami, mungkin karena aku kebetulan jarang mengkonsumsinya."


"Hampir tidak pernah. Aku hafal banget selama di rumah, entah kalau di luar, kamu memang hampir tidak pernah kulihat menyantap mie instan.


Tapi kembali ke si kalung mutiara Akoya seharga 5 motor matic tadi?"


"Alasanku?"


"He eh."


"Tidak ada alasan khusus. Aku suka saja melihatnya melingkar di lehermu. Bentuk pundak dan dadamu yang bagus, dengan dinaungi bandul mutiara itu...sangat membantuku terangsang bila aku sedang ingin mengkhayalkannya."


"Astaga pak Lukaas..." Hana sumringah. Lukas tertawa kecil.


"Dan kupikir keadilan harus juga berlaku di antara kita, Hana," Ia memanggut-manggutkan kepala menyetujui pendapatnya sendiri. "Kau memiliki mutiara, aku juga memiliki mutiara...


Kau dengan kalung Akoya 86,8 juta itu, dan aku dengan...mutiara 250 jutaku."


"Mutiara dua ratus lima puluh--" Hana tersedak air ludah dalam tenggorokan, "Maksud kamuu..."


Lukas tersenyum, "Coba kau tebak."


"Ih..." Cukup dengan memperlihatkan eye-smilenya ; Hana tersenyum disertai dengan gerakan mata sambil disipitkan, bentukan senyum alami tanpa dipaksakan dari bibir dan mata berpancaran tulus itu, maka kemudian jelaslah semua bagi mereka berdua.


Lukas mengangguk ke seribu kali lalu mengambil satu tangan dari pangkuan istrinya, dan menggenggamnya. Diremaskan pula.


"Bukan berarti kau sedang kuhargai dan hargamu cuma 250 juta, Hana. Kau tau itu cuma sekadar kiasan.


Tentu saja kau tidak mungkin bisa disamakan dengan bentuk harga apapun-berapapun, karena kau adalah mutiara tak ternilai. Mutiaranya Lukas Hirlandi S.E, M.E."


Hana tertawa mendapat kerdipan sebelah mata dari Lukas.


"Hm-mh," angguknya sepakat. Tak menyembunyikan rasa bahagia yang kian terasakan.


Namun tanpa mereka berdua sadari lagi-lagi keduanya kompak menahan keinginan mengutarakan pernyataan cinta.


"Jadi mutiara 86 juta..."


"...koma 8."


"...koma 8, apa akan kau terima kembali...sayang?"

__ADS_1


"Hihihii... Kutrima lagi, atau tidak yaa?"


__ADS_2