MUTIARA 250 JUTA-KU

MUTIARA 250 JUTA-KU
5. 'Hana...Maaf...'


__ADS_3

Hana tidak paham apa sebab Lukas berhenti bercinta dengannya. Apakah karena menjaga kehamilan yang sedang dalam proses pembentukan sang jabang bayi ini, atau karena hal lain. Untuk menanyakan? Tidak mungkin. Tidak ada kamus saling bertanya, saling berbicara, bercerita, saling berbagi rasa, di antara kehidupan berumah tangga mereka berdua selama 8 bulan ini...sama sekali belum pernah ada yang seperti itu.


Hubungan terikat yang nyaris berlangsung monoton... Memang sebenar-benarnya monoton.


Lebih jelasnya, mereka berdua bukan sepasang suami istri yang sesungguhnya. Mungkin cuma di atas kertas istilah itu berlaku namun dalam praktek sehari-hari, mereka berdua adalah sepasang suami istri yang menyatu akan tetapi bagai di jalan hidup dan jalan pikiran masing-masing.


Masih sebagai 2 orang asing yang kebetulan sedang bertemu dan dipersatukan di bawah satu atap. Menjalani hidup dengan membawa misi, keperluan dan tujuan masing-masing.


Dan sekarang Hana sedang di hadapkan pada 2 pilihan : membandel menolak ajakan bercinta dari Lukas atau, menurut saja karena toh memang sudah kewajibannya sebagai seorang istri melayani setiap kebutuhan sang suami. Termasuk kebutuhan pemenuhan hasrat itu.


Jadi...sebenarnya harus bagaimanakah dirinya ini?


Sudah seperti ini perkembangan yang terjadi di antara dirinya dan Lukas, sudah tak lagi sama seperti di awal-awal permulaan menikah dulu, tentu saja sekarang Hana mengalami kesulitan dan jadi bingung sendiri harus bagaimana ia menentukan sikap.


Sudah 5 bulan mereka berdua tidak lagi bercinta. Tidur seranjang pun di setiap kalinya cuma sekadar tidur yang benar-benar tidur dalam mereka berbagi ranjang yang sama --


Menggigit bibir kuat-kuat, Hana mencari kekuatan untuk mengumpulkan keberanian. Menyengajakan diri menunggu beberapa lama lagi, hingga hampir 10 menitan, 10 menit terlama di dalam kamar mandi hanya untuk urusan buang air kecil... baiklah, ia pun mengambil keputusan.


Sehabis bersikat gigi dan membasuh wajah, wanita itu keluar kamar mandi dan kembali ke kamar tidurnya...tak menemukan keberadaan Lukas di sana.


Dilihatnya kamar tidur kosong dengan ranjang sudah dalam keadaan rapi dan berganti sprei serta sarung-sarung bantal. Siapa lagi yang melakukan? Pastinya Lukas yang melakukan.


Selain apik dan terjaga dalam menjalani hidupnya, suaminya itu memang tipe pria mandiri dan sangat menyukai kebersihan serta kerapihan pada lingkungan sekitarnya.


Apik, Lukas selalu menempatkan diri dengan sebaik-baiknya di manapun ia berada, begitu pun setiap hal atau benda miliknya.

__ADS_1


Terjaga, tubuh bagus menjulang suaminya adalah hasil diet pada makanan berlemak atau berkarbohidrat tinggi, lalu dipadu olahan gerakan kebugaran yang rutin ia lakukan. Rajin berolahraga dan sangat menggilai joging serta Futsal, sang suami yang seorang alumni mahasiswa S2 jurusan Ekonomi dan Bisnis itu sesungguhnya adalah figur pria impian dan idaman setiap wanita.


Wajah dan tubuh yang bagus, finansial yang mapan dan bermasa depan cerah...setiap wanita di luar sana akan selalu mendambakan figur pria sebagai calon suami seperti seorang Lukas Hirlandi.


Pemikiran tentang suaminya yang membuat Hana kembali teringatkan tentang siapa dirinya, siapa Lukas, dan bagaimana ikhwal akhirnya mereka berdua bisa menikah...


Ia pun kembali meluruh dalam air mata, sama sekali tak menyadari Lukas hendak memasuki kamar lantas urung, berdiri mengintip saja pada celah pintu yang sedikit terbuka. Hana istrinya terlihat sedang bersedu-sedan, terduduk pada tepi ranjang.


Lagi-lagi, perasaan pria itu dibelit keengganan yang bukan bagian dari sifatnya. Enggan mendekati Hana untuk sekadar menanyakan kenapa atau ada apa hingga istrinya itu menangis di pagi subuh begini. Alih-alih melakukan itu, pria itu undur diri, memilih berlalu.


###############


"Ada perlu apa?"


Lukas menghembus nafas. "Bukannya tidak boleh.Tapi kurasa sudah tak ada lagi tema yang bisa kita obrolkan."


Meiska pun cemberut. "Sebegitunya. Ya ngobrolin apa keq. Bahas pekerjaanmu keq. Atau kamu dengerin saja aku yang bicara. Aku selalu punya apapun bahan untuk kubicarakan denganmu. Ayolah, kita ke tempat biasa. Ngobrol dan ngopi di sana."


Fiuh...


Bukannya Lukas mau berlagak sok suci, tapi memang sejak keluar kata putus darinya, ia sudah tak lagi punya minat bahkan untuk sekadar memikirkan sepintas tentang Mei. Apalagi untuk mengenangnya. Sudah selesai, ia benar-benar sudah mantap ingin mengakhiri Mei keluar dari dalam pemikirannya. Pandangan matanya juga.


Semenit lalu Lukas dikejutkan oleh kemunculan Meiska diujung gang rumahnya. Pagi-pagi jam 5.45 begini. Beralasan baru saja pulang joging, Mei membawa motornya mendatangi Lukas, tak disangka feeling wanita itu tepat. Ia bisa menemukan Lukas yang juga baru saja menyelesaikan joging dan bersiap memasuki gang rumahnya.


Menimbang sejenak, Lukas menekuri senyuman Mei yang bermaksud merayu perasaannya supaya mau saja menuruti ajakan wanita mantan kekasih 10 tahunnya itu.

__ADS_1


"Ini Sabtu, Mei. Jalanan ke sana pasti masih kena Car Free Day. Ke jalan Cipucang saja," kata Lukas pada akhirnya.


"Oke! Ngopi di mana saja jadilah. Ayo, sekarang saja. Pakai motorku." Sangat jelas mengekspresikan rasa senangnya, Meiska melupakan saja teori kalau dirinya dan Lukas sebenarnya sudah selesai.


Mau tak mau Lukas menurut. Bukan apa-apa, lebih karena tak enak hati mesti menolak Mei yang sudah terlanjur muncul kehadapannya ini.


"Cuma ngopi dan ngobrol, oke?" Pria itu menerima kunci yang disodorkan Mei langsung ke telapak tangan pria itu yang ia buka dan lebarkan sendiri.


"Iya sih, Hirlan ganteeeng...janji cuma ngopi, kalau perlu tak usah pake ngobrol." Meiska menertawakan sendiri gurauannya yang tidak ditanggapi Lukas, hanya terus saja menaiki motor milik sang mantan.


Begitu sang mantan sudah duduk membonceng di belakang duduknya, pria itu tak berusaha berkelit dari rengkuhan kedua tangan Mei yang segera memelukkan diri dengan erat dari belakang.


Ach, ya sudahlah. Tidak apa-apa. Hanya akan mengopi sambil mengobrol saja. Atau mengobrol sambil mengopi, yang mana saja.


"Kenapa tak bawa helm, Mei?" tanya Lukas begitu motor dan mereka berdua sudah melaju menyusuri jalan raya menuju jalan Cipucang. Kopi di Cafe Blue Star di sana juga sama adalah langganan mereka berdua.


"Lupa. Ehh, ngga juga sih. Tadi memang aku ngga niat kesini. Iseng-iseng saja belokin motor keluar dari Gelora kearah rumahmu ini, siapa tau lagi ada rejeki bisa ketemu denganmu, eh bener bisa."


Sengaja betul Meiska merapatkan tubuh tengahnya ke hamparan punggung Lukas, bahkan kini wanita itu menyandarkan pipi kanan di sana, tanpa mengurangi keeratan kedua tangannya yang memeluki kedua sisi tubuh hingga ke bagian perut pria dihadapan duduknya ini.


Pria itu cukup menyadari apa yang sedang dilakukan Mei, tapi pria itu tak berkomentar apa-apa. Tidak juga mengelakkan dirinya.


Terus melajukan motor tapi tak seberapa laju menyusuri jalan besar menuju tujuan mereka, Lukas sambil menikmati terpaan angin sejuk pagi yang membelai permukaan wajahnya...


'hana...maaf...'

__ADS_1


__ADS_2