MUTIARA 250 JUTA-KU

MUTIARA 250 JUTA-KU
35. Kau Cantik...Oh Bahagianya


__ADS_3

Naluri menuntun Hana memutar tubuh sepenuhnya menghadap Lukas berada. Farah beranjak menjauhkan diri, memberi ruang bagi Lukas datang mendekat.


Lukas sendiri tak menyembunyikan keterpukauan. Tatapannya menjelajahi sosok Hana secara menyerius dari puncak kepala, menuruni ke bawah, lalu kembali lagi ke atas. Mempertemukan pandang dengan wanita istrinya itu.


Mungkin seumur masa hampir 1 tahun kehidupan pernikahan mereka, baru pada kesempatan inilah seolah pria itu teramat sangat merasakan tenggorokannya mengering melihat Hana, panas menggelora di sepanjang nadinya.


Terutama menatap area payudara istrinya itu, bagian nomor 2 terfavorit, berlekuk indah terlindung dalam balutan gaun biru sementara pada atas terbuka lebar...seluruh darah Lukas seakan mengalir deras ke satu titik.


Reaksi bermuatan kekaguman yang mampu meronakan paras sang istri, reaksi wajar, sang istri sedang tampil beda dan perbedaan ini terlalu signifikan di mata Lukas. Selain berdandan total dalam keadaan tak biasa yakni sedang hamil, hamil besar, hasil riasan tangan dingin Farah pun tak bisa dipungkiri sangat mengagumkan.


Bak suatu karya besar nan artistik, Hana terpajang indah di depan mata. Mata lapar seorang Lukas...akhir-akhir semakin kelaparan akan Hana.


"Aku saja yang memakaikannya." Parau suara pria itu sewaktu kemudian ia berkata, Hana tau apa maksud kalimat tersebut.


Rupanya suaminya bisa menebak Hana sedang akan melakukan apa selanjutnya.


"Dipakai dari rumah? Tidak setelah sampai di sana saja?" tanya wanita itu.


Lukas melangkah maju. Hana menahan napas. Farah tak lepas memperhatikan pada keduanya.


"Dipakai dari sekarang saja," Lukas menyahut, telah sampai ke hadapan Hana. Lalu dengan sedikit menunduk ia membisik perlahan ke dekat telinga wanita itu. "Ngomong-omong...kau seperti bukan kau."


Wajah sang istri yang kemudian hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya bersemu merah. Lukas memandangi mata wanita itu yang menatapinya, menemukan tanda kalau wanita itu dapat menangkap maksud kata-katanya.


Pria itu melangkah mundur. "Di mana dia?"


Hana meneguk air ludah sebentar. "Dii...laci meja cermin. Tunggu akan kuambilkan."


Lembut Lukas menahan siku wanita itu yang sudah akan bergerak. "Biar, aku yang ambil."


"Ehm-ehm, kalau begitu..." terdengar dehaman Farah menyela, "...saya minta permisi dulu deh, pak Lukas, bu Hana. Maaf, mau pakai kamar mandinya."


Lalu secara bersamaan pasutri di hadapannya menoleh dan memberi sahutan.


"Iya, mbak Fa. Silahkan-silahkan."


Sengaja memisahkan diri, senyum Lukas di dalam hati pada Farah sambil berjalan ke meja cermin setelah Farah berlalu.

__ADS_1


2 tahun lebih muda dari usianya, Farah adalah figur serupa mendiang Citra kakaknya. Kadang bisa ramai kekanakan, di waktu lain bisa juga menampilkan diri sangat mendewasa. Tapi mungkin karena baru ini saling mengenal, sejak tadi ia belum menemukan kesan ramai dari Farah dalam menghadapi Hana.


Hanya menemukan kotak beludru biru tua itu di dalam laci teratas meja rias, masih nampak seindah pertama membelinya. Berisikan kalung emas bermutiara Akoya... Pria itu meraihnya.


"Aku ingin melihat ini dari sekarang di lehermu," pria itu membalik pada Hana. "Tidak apa-apa, 'bukan?"


"Hm-mh tidak apa," angguk Hana. "Karena aku 'kan akan bersama kamu... Tidak perlu takut memakainya dari rumah?" Wanita itu mengulas senyum simpul. Lukas balas tersenyum.


"Ya. Dan lagi kita berkendara mobil sendiri, Hana. Kaca mobil ryben sangat hitam. Jadi akan aman-aman saja."


Lukas yakin Hana masih mengkawatirkan kalung ini takut disambar orang. Tapi pria itu lebih meyakini lagi hal kalau Hana tau harga kalungnya mahal tapi tidak tau seberapa mahalnya ia.


"Kamu belum tukar baju." Sang istri berucap demikian saat Lukas mengambil tempat ke belakangnya untuk memakaikan kalung itu.


"Setelah ini. Aku tidak akan lama bersiap-siap."


Kalung emas berliontin mutiara putih tersebut selesai dilingkarkan ke leher Hana. Akan tetapi wanita itu bisa merasakan Lukas tak segera beranjak dari tempat pria itu berdiri.


Bahkan tanpa melihat memastikan Hana tau apa yang sedang terjadi pada sang suami.


"Boleh...aku berputar?" tanya wanita itu.


"Hanya seperti ini yang aku sendiri membolehkan melakukan," gumam Lukas. "Karena memang aku tak mau merusak riasanmu..." Ia mengecup lagi, dengan lebih lembut... Hana mulai meremang... Leher bagian belakang hingga ke daun telinga adalah salah satu bagian yang sangat sensitif baginya. Mudah bereaksi bila di sentuh.


Apalagi bila sentuhannya berupa kecupan demi kecupan ringan dari bibir sang suami.


"Sesudah acara... Sebelum sampai di saat itu...kamu memang tidak boleh dulu...mengganggu-gugat aku."


Kata-kata tersendat Hana membuat sang suami lantas tertawa. Ia pun menegakkan berdirinya. Mantap menyetujui.


"Baiklah. Aku menurut."


Ganti Hana memperdengarkan tawa kecil. Tak lagi minta persetujuan saat bergerak balik kanan.


"Ngomong-omong juga, sekarang aku bagaimana? Penampilanku... Rambut yang dibeginikan, bedak, lipstick, dan lain-lain ini...apaa--semua sudah terlihat cukup oke?" Telunjuk kiri Hana bergerak menunjuk-nunjuk dengan kekanakan.


"Sangat," senyum Lukas sambil mengangguk satu kali. "Kau cantik," pujinya. Jujur dan tulus. Dan akan semakin sempurna kecantikan yang sedang ia lihat ini bila Hana menanggalkan lepas saja semua pelapis pada dirinya bahkan hingga ke bulu mata palsu ini.

__ADS_1


'Cantiiik?....Oh bahagianya...' Karena, ini Lukas yang mengatakan. Bukan sekadar untuk menghibur, Hana menyadari betul. Kebersungguhan suaminya seolah tersirat sudah ingin saja meraih bibir Hana semasih bagian itu terus terbuka berbicara. Terlihat dari lekatnya bagian tersebut ditekuri sang suami. Tapi karena si bibir berlipstick merah terang termasuk juga terlarang untuk diganggu-gugat, Lukas akhirnya memilih menggigiti bibir bawah sendiri...


Hana meringiskan senyum, "Trima kasih."


Lukas menjawil pucuk hidungnya. Berhasil mengontrol dan menepis gairah. "Kau tunggulah, aku mau bersiap sekarang."


"Iya. Aku mau sambil ngobrol lagi dulu dengan Farah. Menunggu kamu beres."


"Hmh."


&&&&&--&&&&&


Terletak di kawasan Gatot Subroto, gedung pertemuan megah bernama B.K itu adalah tempat diadakannya acara resepsi pernikahan yang sedang akan dihadiri oleh Lukas dan Hana.


Kehadiran mereka berdua disambut ramah dan formal oleh para penerima tamu di lobby depan, di antara para tamu undangan yang terus berdatangan.


Pantas saja Lukas jauh-jauh hari sudah membahas sedetil mungkin rencana menghadiri resepsi yang mengusung konsep modern internasional ini. Rupanya selain berlangsung a la royal wedding nan meriah, ramai undangan hingga mencapai 1000 an tamu, Hana tak hanya melihat kemewahan di sana sini pada gedung, hiasan dekorasi maupun apapun yang dihidangkan, tapi juga orang-orangnya sendiri. Sangat elit berkelas atas.


Rata-rata berpenampilan super elegan dan glamor.


Tak heran Hana 'diwajibkan' Lukas tampil seksi dalam gaun yang memang tak kalah berkelas atas ini. Berikut penyertaan si kalung mutiara. Hana pribadi akhirnya merasakan puas dan tak menyesal telah menampilkan dirinya habis-habisan dari rumah. Sehingga perut buncit pun tak jadi penghalang ia tetap dapat tampil keren menyaingi para tamu wanita yang lain.


"Kau gugup?" Lukas yang setia mendampingi di sisi Hana mencoba menanyainya demikian.


"Aneh, tidak sama sekali," geleng Hana, memperkukuh rangkulan lengannya di siku Lukas. "Sedikitpun tidak," dongaknya melihat sekilas wajah pria itu.


"Bagus... Tetaplah seperti itu."


"Pasti. Aku tak mau mengecewakan kamu. Beritau saja apa yang kamu rasa butuh aku lakukan... Aku karena pertama kali menghadiri acara seperti ini jadi agak grogi juga. Masih harus di pandu. Iya 'kan?"


Lukas tertawa. Ingin menyeletukkan apa yang ia butuh Hana lakukan sekarang cuma satu saja, menciumnya. Memanjakannya. Sebab ternyata ulasan lipstick merah menyala di bibir Hana, secara liar lebih dari sanggup merangsang imajinasi Lukas hingga mengetatkan daya pikirnya. Keseluruhan dirinya. Ingin sekali dirinya diciumi lagi, dikulumi lagi, oleh bagian mungil ranum legit di wajah Hana tersebut.


Andai Hana yang lebih dulu mengajukan ajakan bercinta, yakin dirinya tak akan berpikir 2x untuk menyambut. Membatalkan pergi ke acara resepsi ini ; alih-alih memamerkan gaun indah seindah mutiara itu ke depan mata publik ia hanya akan memamerkan Hana untuk dirinya seorang. Ke hadapan matanya seorang. Di atas ranjang mereka.


Efek dari istrinya yang telah kembali ke versi diri lama. Efek dari sikap sang istri yang sedikit banyak mulai berubah? Atau sekadar efek biasa, hanya karena beberapa bulan terakhir ia absen bercinta...dengan Hana.


"Kak Hana!"

__ADS_1


"Astaga!... Lho? Koq mbak Tiara??"


"Taraaam...kaget yaa? Heran lihat aku bisa ada di sini?"


__ADS_2