
###############
"Oh, waw! Apa aku tak salah lihat? Suamimu benaran pialang, Han? Atau model?... Koq keren bangeet !?"
"Hish... Pialang!... Sst, awas terdengar dia."
Muncul menyibak tirai terbuat dari kerang simping asli 10 helai warna ungu muda, pada ambang pintu pemisah ruang tamu dengan ruang makan, sosok tinggi tegap kharismatik seorang Lukas segera saja menjadi pusat perhatian terang-terangan Lastri dan David.
Sementara Hana sendiri, pria itu menyempatkan diri melihat sekilas pada Hana sambil terus berjalan menghampiri keberadaan sofa, istrinya hanya curi-curi pandang saja, tak berani sejelas yang lain dalam memberi perhatian pada dirinya.
Rambut cepak hitam, diminyaki dan tersisir menyamping. Wajah beraura tegas berkulit putih bersih, nampak klimis sehabis bercukur. Mengenakan atasan Polo Shirt atau kaos berkerah warna putih, dengan lengan kaos pendek di atas siku hingga sedikit memperlihatkan otot bisep kencang, sementara pada bawahan berupa celana jenis Slim Fit Jeans warna biru pudar...memang wajar bila kemenarikan diri seorang Lukas mengundang decak kagum, layak disamakan seperti model seperti apa celetukan Lastri tadi.
Belum lagi cara berjalan dengan langkah pelan dan santai penuh kepercayaan diri itu...Lastri tak habis pikir mengapa Hana selama ini terlalu menyederhana saja dalam mendeskripsikan, di setiap kali berkesempatan menceritakan perihal suaminya.
Hampir dekat, Lastri dan David pada sofa panjang berbarengan bangkit berdiri menyambut Lukas, Hana di sofa kecil pada sisi kanan duduk Lastri hati-hati ikut menyusul berdiri. Tepat di sisi kursi dan berdirinya Hana Lukas mendekat kesitu, jelas sekali ingin terlihat berdampingan dengan sang istri.
"Hay. Halo. Selamat siang, kak Lukas." Menyapa dengan senyum renyah dan ekspresi wajah berseri-seri senang atas pertemuan ini, Lastri mengulur tangan lebih dulu kehadapan Lukas. Mendapat balas senyum bersahabat pria itu saat menjabat tangan terulur Lastri dan David bergantian.
"Slamat siang juga. Jadi ini rupanya...ehm, teman SMP istri saya yang bernama Lastri itu."
"Iya, benar. Hehehe... Saya Lastri Setyowati, kak. Dan ini...pacar saya."
"David Herlambang." David sedikit membungkuk pada Lukas.
"Lukas Hirlandi." angguk Lukas, "Oke, silahkan-silahkan, silahkan duduk lagi."
"Makasih, kak Lukas." Lastri pun kembali duduk diikuti yang lain. Dalam hati gadis itu semakin mengagumi pria suami Hana. Bukan hanya kelihatannya baik, memiliki wajah dan profil bagus, suara pria ini pun dalam, maskulin, dan enak didengar... Seorang pria 40-an menarik, ramah dan menyenangkan, puji Lastri. Dan Hana, sungguh beruntung sekali nasibnya bisa memiliki pria ini...
Gadis itu menoleh menyenyumi Hana, meski Hana menangkap itu namun sama sekali tak punya petunjuk apa arti senyum dikulum dari sang teman.
Lastri hanya beberapa senti lebih tinggi dari Hana, serta David tak jauh lebih tinggi dari keduanya, jelas-jelas kompak tak sebanding dengan sosok jangkung Lukas saat berdiri berhadap-hadapan tadi. Begitupun saat mereka semua sudah mengambil tempat duduk di kursi masing-masing, tetap saja masih sosok seorang Lukas yang lebih terlihat 'mendominasi', bagai seorang pemimpin sejati di tengah para anak buah.
Dari tempat duduknya yang berada di seberang duduk sang istri, atau di sisi kiri duduk David, Lukas mengawali membuka percakapan dengan perhatian Lastri dan David sedikit menyamping terarah padanya,
"Berarti bisa dikatakan kalian berdua telah menjalin pertemanan selama 15 tahunan--ah, sebaiknya saya memanggil apa pada kalian?... Dik saja? Dik Lastri?" Lukas menujukan bicara pada Lastri.
__ADS_1
Lastri pun tersenyum lagi padanya sebelum menyahut, "Iya, pakai Dik juga boleh, kak... Dan ya, sudah 15 tahun ini saya dan Hana berteman akrab, walau tidak begitu sering sih bisa ketemuan."
"Oo...oke-oke...berarti kalian ber-2 ini teman lama... Dan oke, saya akan memanggil Dik padamu. Dik Lastri. Tapi pada anda, David, karena kita sesama pria, saya pikir saya lebih sreq memanggil nama langsung pada anda, kalau anda tak keberatan...oh sebentar, apa anda sebaya dengan mereka berdua ini, 30-an lebih sedikit?"
David mengangguk sopan, "Betul mas, lebih sedikit. Cuma lebih tua 1 tahun. Saya mau 33. Dan ya, silahkan mas panggil langsung saja pada nama saya."
"Okee." Lukas manggut-manggut.
Kemudian perbincangan pun terjadi dan berlanjut. Membahasi berbagai hal ini-itu, dimana alurnya tak sampai menyinggung kearah yang ada hubungannya dengan kehamilan Hana. Seolah saling paham saja menerapkan batasan pembicaraan tak perlu sampai ke hal-hal yang paling pribadi dari semua pihak.
"Kak Lukas, boleh tau, kakak sendiri punya sibling berapa?"
"Dulu 3. Tapi sekarang tinggal seorang adik lelaki dibawah saya dan adik bungsu perempuan. Kakak tertua kami perempuan, sudah meninggal karena sakit kanker beberapa tahun lalu."
"Ooo... Kasihan, meninggal muda kalau begitu... Ikut berduka cita, kak."
"Ya, terima kasih, dik Lastri. Kebetulan memang ada faktor keturunan dalam keluarga kami. Sudah ada 3 orang terdeteksi mengidap kanker ; kakak saya, seorang adik ayah saya, dan salah seorang nenek atau adik perempuan ibunya ayah saya. Kedua yang terakhir bisa dikatakan masih bisa bertahan."
"Ngeri juga ya, mas?"
"Yah, begitulah, David. Karena itu saya sudah sejak remaja menerapkan pola atau gaya hidup sehat. Makanan higienis, rutin berolahraga, menghindari minum atau merokok, dan lain lain yang ada hubungan sebagai pencegahan terhadap resiko terkena penyakit kanker."
"Hana temanmu ini sudah memahami dan mempelajari itu semua, dik Lastri. Dia selalu menyiapkan menu-menu sehat dan organik untuk kami berdua setiap harinya."
Pada akhirnya tema pembicaraan tertuju pada dirinya, Hana pun mengulaskan senyum singkat tanda sepakat dengan apa yang dikatakan Lukas. Hanya menanggapi dengan tersenyum itu saja.
Lukas melihat dan melempar senyum padanya saat masih menujukan bicara pada Lastri, "Dan temanmu ini cukup mahir memasak, dik Lastri."
Lastri menanggapi, "Iya kak, Hana memang sudah sejak dulu jago masak. Ketrampilan keturunan dari almarhum ayahnya. Dan Hana juga sudah cerita kalau kalian selama ini tidak menggunakan jasa pembantu atau tukang masak. Karena Hana yakin masih cukup bisa mengerjakan sendiri semua urusan di rumah."
"Benar sekali."
.......................
&&&&&-&&&&&
__ADS_1
Hana menepi, membiarkan Lukas maju ke sampingnya untuk meletakkan sebaki gelas kotor ke dalam bak wastafel. Sangat menyadari sambil melakukan itu perlahan, pandangan sang suami menyapu sekitar puncak kepala hingga sisi wajahnya.
"Jadi kau belum juga ingin kita memperkerjakan pembantu?"
"Belum, aku belum perlu pembantu." Hana lekas memberi jawab pertanyaan Lukas, saat pria itu memulai membahas ini sambil berjalan membawa baki dari ruang tamu tadi ke dapur, "Biar aku sendirian saja mengurus semuanya. Untuk sementara ini. Aku masih sanggup melakukan semuanya."
Penegasan Hana memang meyakinkan. Lukas sudah cukup hafal kalau istrinya sangat handal dalam mengurusi setiap pekerjaan di rumah ini, terutama urusan dapur.
"Kalau begitu kau lakukan saja pekerjaan rumah yang ringan-ringan. Aku punya waktu di akhir pekan untuk membantu melakukan beberapa yang lain, jadi yang sekiranya kau rasa perlu disisakan untuk kulakukan, nanti akan kukerjakan."
"He-eh. Oke." Tangan Hana kembali menyabuni piring-gelas kotor dalam bak wastafel itu sesudah Lukas beranjak menjauh dari depan bak, tapi masih berada tak begitu jauh darinya.
"Hana..."
"Hm?"
Lukas mengamati raut muka Hana sejenak begitu sang istri menoleh, lalu menghadap sepenuhnya padanya karena disadari istrinya kemudian, Lukas terlihat serius untuk kalimat berikut yang hendak pria itu ucapkan,
"Suatu saat nanti aku akan tetap memperkerjakan seorang pembantu di rumah ini. Mmm, mungkin bahkan 2 orang... Kau tau, begitu kau sudah melahirkan kau--akan membutuhkan kehadiran keduanya."
Ini bukan permohonan ijin. Ini bentuk pernyataan keputusan final. Hana tentu saja sangat paham dan bisa menerima, malah di dalam hati ia sangat menyukai cara Lukas yang memutuskan ini.
"Ya sudah, tapi iya nanti saja," sahut Hana kemudian, "Aku benar-benar masih butuh kesibukan di sini dengan melakukan beberapa pekerjaan rumah. Banyak bergerak, anggap saja seperti sedang berolahraga. Tak mungkin aku cuma makan tidur saja dan terus duduk di ruang gambar itu, seandainya kamu memperkerjakan seorang pembantu sekarang."
Lukas mencerna lebih dalam akan kata-kata Hana barusan, sebelum mengangguk-angguk,
"Baiklah, aku mengerti."
"Hm-mh. Trima kasih."
Kembali menghadap wastafel, Hana meneruskan cucian.
Kalau untuk yang kali berikutnya ini, ia tak cukup menyadarinya.
"Kau seorang wanita yang sangat baik, pengertian, dan tak pernah macam-macam, Hana..."
__ADS_1
Tentu saja wanita itu mendengar jelas, sontak terdiam terpaku pada kalimat tak disangka-sangka itu.
Belum sempat bereaksi lain, ia pun menarik nafas tercekat karena terkejut. Kedua lengan Lukas mendadak menyusup pada sela tangan dan sisi tubuhnya, memeluknya lembut dari belakang...