
"Jadi seperti inilah rasanya...bercinta lagi dengan--ochh..." Berturut-turut lenguhan Oh bagai berputus asa Hana terdengar mengikuti tiga kali ayunan panjang yang Lukas sengaja desakkan menghujam di dalamnya.
Terasa alat itu bagai menembus jauh ke dinding rahim, hingga sesaat Hana harus mengatur napas sebagai usaha menetralkan nyeri akibat 'diayunkan' tingkat maksimal.
...bercinta dengan cara seperti ini?
"...rasanya bercinta lagi denganku, Hana?" Lukas melengkapi kata-kata Hana, senang bisa membuat wanita itu terengah-engah kelimpungan namun berbias kepuasan.
"Hm-mh..." Hana mengangguk lemah. Sebenarnya tadi ia sedang berbicara pada diri sendiri.
Sambil tetap bergerak Lukas mengangkat satu kaki Hana dan memberikan sentuhan bibirnya ke bagian pergelangan engkel wanita itu. Mengibaratkan mencium wajahnya yang 'terlalu jauh' dari jangkauan tangan dengan sambil bergerak begini, terhalang perut membukit sehingga Lukas tak mungkin merebah ke atasnya.
Pria itu menimpali, "Aku memang sudah menjanjikan akan bercinta lagi denganmu. Tapi nanti lah, akan kujelaskan nanti padamu."
"Iya. Ya sudah."
Lukas mengayun lagi, Hana pun mengernyit sakit lagi. Tapi ketajaman hujaman pria suaminya ini seolah candu. Justru Hana menyukai dibeginikan, ketagihan ingin terus merasakan dibeginikan.
Bersama menit demi menit bergulir irama perlahan penetrasi dari sang suami mulai ditingkatkan. Ia sudah mulai mempercepat gerakan maju mundurnya di dalam tubuh Hana, yang beberapa kali diselingi ayunan panjang.
Wanita itu bisa merasakan ketegangan memuncak di dalam Lukas, pertanda sebentar lagi suaminya akan orgasme dan klima*s. Sama halnya dengan yang wanita itu rasa.
Desakan demi desakan, membangkitkan gairah. Melihat tubuh telanjang satu dengan yang lain di depan mata, mata yang sesekali beradu pandang, terus memicu keterangsangan.
"Hana..."
"Ya?"
"Rasanya aku hampir sampai."
"H-mh. Aku juga."
"Kalau begitu kita lakukan bersama-sama."
"Iya."
Lukas menunda sesaat hingga Hana yang lebih dulu mencapai puncak. Begitu wanita itu mendapatkannya sambil melepas des*han tertahan, Lukas pun mempercepat secara drastis dan...ia menggeram, menegang kaku orgasme, berejakulasi dengan otot panggul berkontraksi berdenyut mengeluarkan muatan di kedalaman sang istri.
__ADS_1
Setahap demi setahap cairan mendesak tersebut menyembur menghangati di dalam sana...
Maka inilah momentum penuh arti pertama bagi pria itu setelah sekian lama ia berpuasa dari Hana dan bersamaan ia berhenti bercinta pula dari si mantan terakhir.
&&&&&--&&&&&
Dengan mata masih memejam setengah mengantuk, sang istri memberi sahutan yang mengulang kembali keterkejutan Lukas. "Aku masih mau lagi. Sebentar lagi. Tapi iya, sekarang mau tidur dulu. Sebentar beristirahat."
Sehabis berucap tanpa membuka pejaman mata, wanita itu bergerak menyurukkan kepala ke sela bahu dan dada telanjang Lukas. Menidurkan diri di sana. Seperti sudah biasa melakukan sikap itu terhadap suaminya.
Masih mau lagi dan sebentar lagi? Yah, baiklah, kita lakukan, batin sang suami, sepakat. Paling tidak, 1x lagi. Tapi setidaknya, Hana harus benar-benar beristirahat dulu sekarang ini...
&&&&&--&&&&&
Mengucap, mendesahkan, terlebih lagi menyerukan nama Lukas saat mereka berdua 2x mencapai puncak bersamaan saja, sebenarnya masih menjadi hal yang dirasa memalukan bagi Hana.
Apalagi bila ia harus pula mengungkapkan perasaan mencintanya terhadap pria itu.
Karenanya agar tidak menambah malu, ia bersusah payah menjaga kalimat pengakuan cinta itu tidak sampai ikut terlontar keluar dari mulutnya.
Begitupun Lukas melakukan hal tidak jauh berbeda. Tapi alasan pria itu menahan cetusan, hanya supaya Hana tak perlu jadi salah paham, yang mungkin akan menganggap pernyataan cinta darinya sekadar bagian dari misi mengalah, tak peduli Lukas berkilah apa.
"Apa yang kau rasakan sekarang, perutmu baik-baik saja?" Terbangun di keesokan pagi dalam pelukan Lukas dengan kepala menumpang ke bahu pria itu, Hana mendengar suara pria suaminya bagai berasal dari awang-awang. Langit ke tujuh.
Dan Hana merasa Lukas menambahkan 'sayangku' tetapi mengira ia pasti hanya salah dengar.
Juga elusan telapak tangan pria itu di permukaan telanjang perut membuncit Hana, seperti tidak nyata. Padahal sang suami berbisik dari atas kepalanya, lebih di dekatkan ke telinganya, mengelusi dengan penuh kasih sayang mesra.
Sementara hujan turun, lebih lebat daripada hari sebelumnya.
Hana perlahan-lahan membuka mata dan menerima kecupan lembut dari sang suami di kening...barulah ia bisa menyadari semuanya. Termasuk rasa nyeri, pedih, pegal, dan kepuasan. Bahagia.
Aku bahagia menikah dengan kakakmu Lukas, mbak Tiara. Percayalah...
"Aku baik-baik saja..." Hana memandangi Lukas. Sedikit mengerucutkan mulut dalam mencoba mengingat-ingat. Menyadari. "Tapi sepertinya...dia yang tidak baik-baik saja. Aneh, sama sekali tidak bergerak sejak...kita melakukan itu. Aku yakin."
"Sama sekali tidak?"
__ADS_1
"Kamu sendiri sempat merasakan?"
"Mm...kurasa tidak. Memang tidak. Aku belum sempat merasakan." Sambil bicara Lukas menyempatkan mencium pipi kanan Hana. Belum mau dulu bereaksi panik. "Lalu bagaimana sekarang?"
"Tidak tau. Bagaimana sebaiknya menurut kamu?" Wanita itu mengangkat tangan kiri, mengelusi sepanjang keberadaan cambang kasar Lukas. Menolak panik juga.
"Coba kita periksakan ke Doktermu." Ingsutan tubuh berbaring miring Lukas untuk menegaskan saling berpandangannya mata mereka berdua, menciptakan sapuan kejantanan telanjang pria itu ke sisi pinggul Hana. Sama-sama disadari dan diresapi oleh keduanya.
Mengingatkan mereka pada hubungan badan semalam yang seolah tanpa kenal lelah mereka lakukan hingga 2x, dalam posisi dilakukan di tepi tempat tidur dimana Lukas berlutut di pinggirnya, lalu ke posisi mereka berdua berbaring berdampingan dan saling berhadapan di atas kasur, setelah jeda tidur-tidur ayam sebentar.
Momen persenggamaan tak terlupakan.
Dan rasanya bagi keduanya? Lukas puas, Hana bahagia.
Hanya saja, dampak akibatnya menyingghi si kecil. Sang jabang bayi dalam perut Hana...seolah terdiam tak berkutik.
"Hari minggu begini dia tidak ada jam praktek. Tetangga kita di sini, kalau ada bidan mungkin bisa di panggil datang."
"Aah--benar. Farah. Farah punya banyak pelanggan berbagai profesi. Biar kucoba minta tolong padanya mencari nomor bidan atau lebih baik lagi nomor seorang dokter."
"Ibuku juga bisa kumintai tolong. Tapi sekarang sedang hujan deras, kasihan kalau ibu repot-repot datang ke sini di hujan begini."
"Tidak usah kalau begitu. Malah sebaiknya kau rahasiakan dulu. Kita tunggu saja rekomendasian dari Farah.
Kau tunggulah, aku mau menghubunginya sekarang."
"Iya."
"Ngomong-omong, kau mau sarapan sesuatu dari luar? Biar sekalian kuorderkan."
"Ngg...Soto. Soto apa saja. Aku mau yang berkuah panas. Hujan begini cocok menikmati semangkuk soto panas."
"You got it. Akan kupesankan sekarang juga. Aku keluar, kau mau tetap di sini?"
"Iya. Berbaring lagi. Badanku...sebenarnya agak sedikit sakit di semua tempat. He he..."
Hana sangat tangguh, kuat, Lukas sudah membuktikan. Juga begitu bergairah, dan menggairahkan. Pria itu menyenyumi sang istri lembut.
__ADS_1
"Semoga anak kita baik-baik saja...dan juga denganmu...sayang." Pria itu lantas menyeringai, mengerdip sebelah mata pada Hana. Hana sukses menghenyak bengong tak percaya akan penglihatan dan pendengarannya.
&&&&&--&&&&&