
###############
Isi pesan SMS pertama Hana untuk Lukas :
'tuan lukas hirlandi yang terhormat. sekalipun anda ini seorang sultan atau raja atau bahkan pemilik planet mars, anda tidak boleh menghamburkan uang anda untuk mendukung suatu tindak kejahatan.
saya akan segera melunasinya... sekian. putri pertama bu ratna sebagai penjamin, levinora. dan tolong ini dirahasiakan dari ibu saya.'
Yang hanya dibalas Lukas dengan 1 kata singkat,
'Oke.'
Pria itu tak urung tertawa kecil demi membacai isi pesan Hana yang terkesan melucu tapi serius, atau serius tapi melucu.
...............
Isi pesan singkat Hana yang ke 2 sekitar 3 hari kemudian :
'karena kemarin anda tidak menanyakan apa-apa, saya akan sedikit menjelaskan lagi.
ibu berahasia tentang darimana ibu mendapat uang untuk dikembalikan ke perusahaan tempat adik saya bekerja. karena saya terus memaksa supaya ibu bercerita akhirnya ibu bercerita.'
'ibu saya tidak tau saya mengambil nomor anda dari kontak hpnya.
tak ada hal yang gratis di dunia ini, saya tau, saya akan melunasi hutang ibu ke anda.'
Untuk 2 kali pengiriman pesan singkat dalam tempo berselang 5 menit tersebut, lagi-lagi Lukas membalas singkat saja,
'Oke. Turut prihatin.'
Bukan maksud Lukas tak menganggap serius kata-kata pesan Hana, pria itu hanya tak mau saja memperpanjang masalah uang 250 jutanya yang telah berpindah tangan ke Ratna dan pria itu iklaskan tak perlu dikembalikan.
Sehabis membalas demikian, Lukas tidak dikirimi pesan apapun lagi hingga ke 1 minggu kemudian.
...............
Isi pesan ke 3 :
'saya masih belum dapat uang pengganti. tolong sabar dulu.'
Semua pesan singkat dari Hana diterima Lukas saat sedang bekerja di kantor. Kali ini Lukas akhirnya mengambil keputusan,
'Kamu pasti sudah tau betul kalau saya menyuruh bu Ratna tak usah mengembalikan uang itu. Jadi tak perlu kamu kembalikan.'
Atas dasar karena pria itu tersentuh juga membaca isi pesan ke 3 Hana, tak dinyana Hana 'marah' dalam membalas kata-katanya,
'mana bisa begitu! kamu mau bikin kami sekeluarga kepikiran seumur hidup?!'
Kepikiran?
O...rupanya seperti itu. Lukas pun paham. Meski ia bermaksud baik, tapi sepertinya putri sang teman baik almarhumah kakaknya ini tak bisa menerima.
Lukas tak membalas apapun lagi.
...............
Isi pesan Hana sebelum akhirnya menghubungi Lukas lewat sambungan telpon :
'ini saya lagi. masih mau membahas tentang uang itu lagi. kamu sedang ada di mana?'
__ADS_1
Wow, maksudnya bertanya ada di mana?
'Kantor. Ada apa tanya di mana?'
'cuma tanya'
Jeda 1 jam. Mungkin Hana jadi gemas sendiri karena Lukas tak merespon 'cuma tanya' nya, Hp Lukas pun menderingkan panggilan telpon dari wanita itu sesudah 1 jam berlalu. Kebetulan sedang senggang maka pria itu menerimanya,
"Halo," Entah kenapa jantung pria itu seketika berdegup lebih cepat begitu mendengar desah helaan berat nafas Hana dari seberang sana.
Gambaran seraut wajah duplikat Ratna versi anak remaja namun sedang bersusah hati segera membayang di benak pria itu.
'halo juga. syukurlah kamu mau menerima telpon dari saya... tapi apa tidak masalah saya mengganggu kamu seperti ini?' Jelas terdengar Hana berbicara tanpa kesan masih marah. Sekaligus tanpa semangat.
"Tidak, tidak masalah. Saya sedang sendirian dalam kantor saya. Ruang kerja maksudnya."
'oo... jadi aman 'kan ya?' nada bicara itu penuh rasa kawatir. Lukas bisa memahami lagi.
"Ya. Sangat aman. Tanpa seorangpun penguping. Siapa namamu?"
Hening sejenak, hanya suara 'kresek' sekilas terdengar. Lukas sabar menanti.
'maaf, tadi mencari charger hp,' Hana bersuara lagi, 'hana levinora cesilia. biasa di panggil hana. kadang di tempat kerja dulu saya biasa juga dipanggil nora. levinora.'
"Oke. Saya Lukas."
'oke.'
"Jadi?"
'jadi?'
'betul.'
"Jadi?"
'jadii...iya, akan saya lunasi. saya serius.'
"Kapan?"
'segera.'
"Saya tau. Tepatnya?"
'maaf, saya juga benar-benar sedang bingung sekarang kapan tepatnya saya sanggup membayar.'
Sanggup. Sedang buntu. Masih belum bisa mendapatkan uang itu. Lukas bisa merasakan kebingungan yang dialami Hana. Kasihan juga, padahal ia benar-benar tulus dan serius tak mengharap kembali uang yang ia pernah pinjamkan ke sang ibu.
250 juta.
"Kamu sendiri sedang ada di mana sekarang? Di planet Pluto?" Pria itu mencoba bergurau. Hana pun memperdengarkan tawa mengikiknya, mengerti bahwa Lukas meledek wanita itu pernah menyinggung istilah planet Mars.
Tapi biarpun begitu, dari gaya bahasa pesan singkat dan nada bicara Hana, Lukas sudah bisa menebak kalau seorang Hana itu pastilah seorang gadis penyerius mendewasa.
'di planetarium... maaf becanda. di rumah.'
"Tawamu terdengar seperti anak kecil."
'saya 30 tahun.'
__ADS_1
"Hana."
'hana. ya. itu nama saya.'
"Maksud saya saya akan memanggilmu Hana. Bukan Nora atau Levinora."
'ooo...hehe...terserah.'
"Jadi kapan kau punya waktu luang untuk bertemu dan bicara langsung dengan saya?"
'ha?'
"Kita ketemuan saja. Untuk membicarakan ini."
...............
Isi ruangan kamar pengantin Lukas dan Hana di malam pertama mereka :
Waktu menunjukkan pukul 12an tengah malam begitu keduanya tiba di rumah Lukas di Bogor. Dengan di antar taksi online dari acara resepsi pernikahan, berlangsung di rumah Ratna di pinggir selatannya kota Jakarta hingga acara berakhir tak lama lalu.
Berada dalam kamar pengantin di lantai atas rumah Lukas, rumah mewah yang sedang disengajakan tak ditunggui oleh siapapun, Hana tak menyangka akhirnya ia akan menghadapi juga momen seperti ini dalam kehidupan 30 tahunnya.
Seperti baru kemarin sore ia menjadi anak sekolah, pekerja muda sebuah pabrik, dan kini ia sedang menghadapi awal masa depan baru bersama Lukas. Menjadi istri pria itu.
Pria suaminya itu, Lukas Hirlandi, tadi melihat Hana keluar kamar mandi dengan berbalutkan jubah mandi merah berbahan licin berikut handuk putih membungkus rambut lembab basahnya. Tapi Lukas hanya membiarkan dan mendiamkan Hana meng-hair dryer rambut di depan cermin meja rias.
Rambut sepanjang bawah ketiak yang sempat ditata menjadi sanggul pengantin. Setelah di urai di rumah ibunya tanpa sempat dikeramasi karena Lukas segera mengajaknya pulang, barulah sekarang Hana bisa membereskan.
Kini rambut itu sudah tersisir rapi sambil terus dikeringkan yang empunya.
Dan sekarang giliran Lukas membersihkan diri ke kamar mandi, pria itu mengambil setelan piyama tidur sebagai pakaian ganti dari atas kasur.
Ada perasaan tak enak juga tak luput ia rasakan akan situasi canggung dan saling mendiamkan ini. Memang masih wajar, normal, mengingat mereka berdua masih terbilang asing satu dengan yang lain, yang otomatis hanya bisa saling mendiamkan, apalagi kini mereka hanya tinggal berduaan saja untuk pertama kali di rumah ini.
"Kutinggal dulu sebentar. Aku mau mandi." Lukas berpikir lebih baik memulai komunikasi dengan berbasa basi berpamitan begini.
Baguslah Hana menoleh padanya dan mengangguk. "Iya. Silahkan."
"Hmh."
Lukas keluar dari dalam kamar, menguatkan niat untuk memulai membuat santai dan wajar apapun yang akan ia lakukan.
Apapun.
Sama halnya Hana, wanita itu sepeninggal Lukas segera menghela nafas panjang-panjang. Memantapkan hati.
Tapi malah kemudian ia mengerang tertahan dengan menangkup hair-dryer ke dahi...
Membayangkan ia akan segera tidur seranjang dengan pria suaminya, dengan keberpengalaman pria itu dalam meniduri seorang wanita, Hana 'menyerah'.
Biarpun selama ini ia piawai berimajinasi termasuk membayangkan adegan se*s yang ia tuang ke dalam cerita komik, tapi Lukas yang jelas-jelas bukan bagian dari tokoh komik inii... ohh...
Lukas adalah pria nyata.
Melihat sekilas pria itu lewat cermin menarik keluar bawah kemeja putih dari selipan pinggang celana panjang hitamnya, Hana diam-diam menelan air ludah dengan sulit. Lemas tak berdaya.
Entah apakah Lukas sambil juga memberi perhatian pada setiap gerak gerik dirinya,
atau tidak...yang jelas tak sampai 20 menit berlalu pria jangkung 180 cm itu telah kembali lagi dari kamar mandi, sudah rapi dalam keharuman dobel sabun mandi serta sampo dengan baju piyama atasan-bawahan biru tua itu.
__ADS_1
Hana memilih terus bertahan duduk di muka cermin meja rias ditemani hati yang bagai terlelehkan...