
'bahkan saat aku mati semua harta yang kupunya akan jatuh ke tanganmu...'
Hana menurunkan pandang ke bahu Lukas, mengulang kalimat itu di dalam hati. Tercenung.
Dengan mata masih basah sisa keemosionilan bawaan hormon tadi, jantung masih berdegupan kencang sisa keterkejutan, dan diri hanya bisa tergugu bisu kehilangan suara karena masih belum bisa percaya...ia tanpa sadar melewatkan ucapan Lukas tentang dokumen dan juga panggilan pria itu kemudian.
"Hana,"
'siapa yang sudi menerima harta itu kalau harus lewat cara kehilangan kamu? selama-lamanya?? ...
aku tidak sudi. tidak, terima kasih.'
Lukas menghitung satu sampai lima, sebelum mencoba bergurau dengan mencari lihat ke arah titik pandang Hana, "Halo, nona, apa kabar kagetmu? Kau bisa mendengarkanku sekarang?"
Yang sudah bisa diduga pria itu kemungkinannya akan terjadi seperti ini, reaksi hampir mirip terguncang dari sang istri menanggapi informasi lagi-lagi pemberian materi darinya. Warisan... Lukas telah mengesahkan Hana sebagai salah satu dari 2 ahli warismya.
"Aku tak mau mendengar kamu--" Suara serta merta menyergah Hana menjadi serak, mata berkerjap basah itu memandang mata Lukas. "Jangan diteruskan, aku tak mau lagi dengar apapun tentang warisan. Dan menjadi pewaris itu, apalagi itu, tidak mau... Kamu harus hapus namaku segera dari semua file-file itu."
Hening sejenak. Hingga...
"Aku memang sudah yakin kau pasti akan menolak begini..." bisik Lukas, mata bermanik sangat hitamnya balas memandang mata Hana, menyelaminya, lebih membacainya. Cepat-cepat Hana menoleh ke tempat lain. Tetapi kemudian menatap Lukas lagi dengan pandangan nanar saat pria itu meneruskan perlahan. "Kau istriku. Dia anakku... Memangnya akan jatuh ke tangan siapa lagi harta benda yang kupunya kalau bukan ke tangan kalian berdua? ... Apa aku harus memberikannya pada orang lain padahal jelas-jelas aku sudah punya anak dan istri, 2 milikku dan pemilik dirku yang sah?"
'sudah punya anak dan istri... 2 milikku, dan pemilik diriku yang sah...'
Pernyataan terlafaskan lemah lembut namun serius, sarat penekanan... Tertangkap merdu di telinga Hana bagai suatu alunan musik indah membelai jiwanya... Dirinya kepunyaan Lukas, dan Lukas miliknya yang sah.
Menyentak dan menggugah, terlupa sejenak pada perihal kata mengesalkan mati tadi.
"Kau istriku, Hana, dan aku suamimu. Mari kita coba lebih memahami itu dan kita terapkan lebih dalam dari sekarang, maksudku untuk keputusanku yang menjadikanmu sebagai pewaris tadi... Bisa?"
Kata-kata Lukas...ini lebih menegaskan lagi hubungan suami istri di antara mereka berdua lewat kalimat 'kau istriku dan aku suamimu', seraya sang suami mengusapkan punggung jemari naik turun di pipi kiri Hana, hanya semakin membelai perasaan wanita itu saja dan sedikit demi sedikit mampu juga melumerkannya.
__ADS_1
Dari nanar, pandangan mata wanita itu perlahan berganti menyendu, mewakili keharu-biruan yang akhirnya melingkupinya, memandangi Lukas berkaca-kaca.
Ya sudahlah...bisa. Aku bisa melakukannya.
"Kamu bicara seperti itu, dan juga mensahkan aku sebagai pewaris, kamu sadar tidak kalau kamu semakin mengikatkan lagi diri kamu itu ke aku, tak bisa lagi pergi kemana-mana lain selain ke aku?
Apa memang seperti itu yang sedang kamu mau?
Itupun kalau kamu tidak sedang bicara gombal saja di depanku saat ini, lalu bicara lain di belakangku."
Lukas kaget, dan menarik wajah. Menurunkan tangannya.
"Apa aku pernah bermain kata selama ini, bersilat lidah padamu atau menggombalimu?" tanyanya serius. Hana hanya diam saja memandanginya. "Dan memangnya aku mau pergi kemana lagi kalau bukan hanya kepadamu?
Aku pernah satu kali goyah, aku akui, tapi itu pun atas seijinmu. Dan sekarang aku sendiri yang telah mengakhirinya...karena aku ingin serius bersamamu, Hana.
Karena itu...aku terpikirkan untuk menjadikanmu sebagai..."
"Kamu juga bicara kata mati!" potong Hana. "Aku tak suka itu," ketusnya, terdengar kembali merajuk. Sang suami paham sekarang, lalu menyenyuminya.
Contohnya kepergian ibu, dari situ aku semakin disadarkan, rupanya adalah suatu kepastian jika salah satu dari kita berdua pun nanti pada akhirnya harus pergi juga. Meninggalkan pasangan, seperti ibu yang telah lebih dulu pergi meninggalkan ayahku..."
Tangis Hana mendadak kembali merebak, menuntun kedua tangannya menyelusup pada sela lengan Lukas, memeluk ke pinggang suaminya itu dan memelukinya erat, menumpahkan basah di depan kemeja hitamnya.
Hana terus menangis, Lukas balas memeluknya lebih erat.
"Tak ada yang tau pasti usia hidup seseorang, tapi selagi kita berdua masih hidup, kenapa tidak kita nikmati saja hidup ini? Salah satunya dengan kau tidak lagi menolak pemberianku...
Jangan tolak lagi, apapun yang sedang kuberikan untukmu entah harta benda yang kupunya, anak yang kau kandung, perasaan cinta dan sayang yang kurasakan terhadapmu, kalau perlu pengorbanan nyawaku ini bila dibutuhkan...kau terimalah semua itu selagi aku masih ada dan bisa memberikannya. Hm?"
"Ha?"
__ADS_1
"Ya, kau tak salah dengar. Perasaan cinta. Sayang. Akuu...jatuh cinta padamu. Sejak di malam pertama kita setahun lalu..."
"Lukaas..."
"Aku jatuh cinta padamu sejak di saat itu, sangat sangat cinta, hingga begitu takut kalau aku harus kehilanganmu..."
"Oh Tuhan..."
"Ibumu sudah menceritakannya, kau begitu takut karma itu berbalik kepadamu... Jangan kawatir, aku sendiri yang memastikan kau tidak pernah merebutku dari siapapun.
Sampai akhir hayat kita berdua kalau memang kau berkeinginan untuk memilikiku selama itu, kau akan selalu bisa memilikiku. Aku berani menjanjikan itu.
Aku tidak akan move on, aku tidak akan lagi menduakan, atau berpaling pada yang lain seperti aku pernah berpaling kepadamu...percayalah, hidup dan matiku sekarang hanya akan untukmu saja, bersamamu saja."
Pungkas Lukas, mengakhiri pembicaraan, walau Hana belum memberikan satu jawaban pun untuk menanggapinya.
&&&&&--&&&&&
Kesepakatan yang selanjutnya mereka berdua ambil untuk tidak melakukan percintaan di Minggu malam, ingin menghabiskan malam dengan beristirahat penuh dan pergi tidur yang sebenar-benarnya tidur, pada kenyataannya hanya sekadar menjadi teori di mulut saja.
Begitu masing-masing selesai membersihkan diri lalu naik ke atas tempat tidur, gemulai gerakan Hana yang segera mendekati tubuh berbaring Lukas lalu memeluknya mesra, lantas membuyarkan kesepakatan itu dengan sendirinya...
Mereka pun bercinta, sekali lagi 2 ronde, tanpa sempat menyematkan kalung Akoya ke seputar leher telanjang Hana, tanpa menghiraukan lelah atau penat setelah 3 malam terakhir mereka luar biasa sibuk melakukan ini itu.
Lukas menggarap tubuh telanjang Hana lewat percintaan tak biasa, yang belum pernah mereka berdua lakukan sebelumnya, hingga Hana dibuat terkejut dan kewalahan sendiri mengimbanginya.
Mengambil 2 gaya bercinta Kamasutra yang terlihat seperti gaya akrobatik, Hana semakin sadar akan berbagai kemahiran gaya bercinta sang suami...Teramat mensyukuri gairah se*snya yang begitu meningkat di masa kehamilan ini, akhirnya bisa terpenuhi... Lukas telah bersedia memenuhi, dan memuaskannya kembali.
Terutama gaya bercinta mereka di ronde terakhir...itu teramat sangat sensual dan sensasional dirasa Hana, memuncakkan gairah mereka berdua di 10 menitan percintaan hingga akhirnya Lukas lebih dulu orgasme dan berejakulasi.
Gaya bercinta Spooning, dengan keduanya berbaring menyamping ; Hana di depan dan Lukas di belakangnya, penetrasian yang dilakukan Lukas dari belakangnya benar-benar bagai menghidupkan kembali seluruh indra yang dimiliki Hana yang semula bagai terasakan mati, oleh karena tak mengalami percintaan berbulan-bulan.
__ADS_1
Pada belakang Hana, Lukas memeluk sambil bermain dengan tangannya, membelai seluruh tubuh wanita itu dan memberikan stimulasi ekstra pada klito*is wanita itu, di antara gerakan penestrasian...untuk pertama kali Hana men*esah-des*h yang lebih wanita itu des*hkan memanja dari biasanya...
&&&&&--&&&&&