
&&&&&-&&&&&
Lukas terlahir di rumah ini namun di usianya 5 tahun, Ferdinan memutuskan memboyong mereka sekeluarga--Tiara belum lahir karena anak bungsu beliau masih Rafael-- pindah dari Solo ke Jakarta, mengadu nasib di ibukota.
Melamar pekerjaan sebagai guru lagi di sebuah SD swasta Jakarta, untunglah beliau diterima.
Menikah muda namun lama sekali baru bisa memiliki anak pertama, Ferdinan dan Tami merangkak dari nol selama memulai kehidupan baru di ibukota. Menghuni sebuah rumah kontrakan sempit saja tanpa kamar tidur. Biasa disebut rumah petak. Tak berani menjual rumah mungil yang sudah sempat dimiliki di Solo.
Ferdinan cukup beruntung akhirnya bisa menarik napas lega begitu dirinya diangkat menjadi guru tetap, setelah 2 tahun menjalani masa kontrak mengajar. Maka rumah kontrakan sempit lama itu kemudian tergantikan ke sebuah rumah kontrakan sederhana baru berkamar tidur 2.
Dan keberuntungan rupanya setia mengikuti generasi Ferdinan berikutnya yakni Lukas. Masih menghuni ibukota, sama meraih kesuksesan bahkan jauh lebih gemilang, begitu sudah lulus kuliah lalu bekerja sebagai seorang pialang.
Yang membuat pria itu lebih dari sanggup membeli sebuah rumah mewah bernilai milyaran rupiah di Bogor, tak lebih dari 7 tahun setelah mulai bekerja.
Roda kehidupan Ferdinan anak-beranak pun terus bergulir berputar...silih berganti, menggantikan cerita demi cerita didalamnya.
Lama sekali seusai memasuki masa pensiun, tepatnya sejak 8 tahun yang lalu ayah serta ibu Lukas akhirnya memilih kembali tinggal di Solo. Diikuti Rafael sekeluarga menetap di sana menemani beliau berdua.
Rafael 39 tahun, bekerja sebagai seorang montir di sebuah dealer mobil baru dan bekas di Solo. Tak bisa ikut menjemput kedatangan sang kakak, Rini pun ia tugaskan membawa mobil menjemput ke stasiun. Ditemani ke 2 putera mereka, yang tertua Teguh 14 tahun dan si bungsu Radi 10 tahun.
Adapun cerita tentang satu-satunya kakak yang dimiliki Lukas, Citra, tutup usia sekitar 3 tahun lalu. Di usia ke 41 tahun. Tanpa anak, hanya meninggalkan seorang suami tak bertanggung jawab yang lebih suka kabur melarikan diri, begitu mengetahui adalah penyakit kanker yang mulai diidap oleh sang istri.
Jadilah Lukas mengambil alih mengurusi Citra. Hingga hadirnya Ratna sebagai sahabat baru sang kakak, Lukas sedikit banyak merasakan terbantukan secara moril.
Dan siapa sangka, kini Lukas sedang berbaring tidur berduaan dengan seorang Hana Le Vinora Cesilia, putri sulung bu Ratna, di dalam kamar tidur lama pria itu di Solo ini...
Hampir di jam 1 malam Lukas dan yang lain-lain mengakhiri obrolan. Sempat ditemani 2 putra Rafael yang terbangun lalu turun dari lantai atas, bergabung mengobrol di bawah.
Begitu menapak memasuki kamar ini, Lukas segera diserbu perasaan campur aduk melihat sang istri telah lelap dalam tidur, di ranjang tua terbuat dari besi kokoh miliknya di masa kecil dulu, semasih tidur berdua dengan sang kakak di sini. Yang sengaja Ferdinan pertahankan menghuni kamar walaupun sebagian besar rumah telah mengalami perenovasian. Dibangun menjadi 2 lantai.
__ADS_1
Sebuah ranjang bertiang besi dan berkelambu sebagai saksi mati Lukas pernah merasakan memiliki seorang kakak, sudah tidak lagi, gantinya, seorang istri memeluk erat bantal guling itu di atas perut buncitnya.
Senyum Lukas mengembang. Hati-hati sekali meletakkan pantat pada tepian tempat tidur lalu perlahan beringsut, merebahkan diri menghadap Hana... Sudahlah, biar saja guling itu tetap berada di sana, dalam dekapan protektif tubuh berbaring menelentang istrinya.
Istrinya, tak terbangun saat Lukas dengan penuh kasih dan berkaca-kaca memandangi wajah tertidur damai itu, setelah Lukas berada pada sebelahnya.
'Hana...terima kasih. Kau sangat tangguh tanpa mengeluh kubawa berlari sejauh ini.
Semoga besok siang kehadiranmu ini bisa membuat ibuku pulih dari masa kritisnya.
Dan Hana...
Aku sangat mencintaimu. Menyayangimu.
Ijinkan aku mencintaimu.
Juga kumohon...balaslah cintaku.'
...............
"Ting...ghalkann... Meis...khahh..."
Hanya itu. Hanya kalimat terbisikkan lemah dan nyaris tak terdengar itu sebagai pesan terakhir dari Hutami bagi si anak kedua, putra pertama kesayangannya, sebelum wanita ringkih 78 tahun itu menghembus nafas terakhir dan menutup mata untuk selamanya.
Tanpa sempat mendengar jawaban dari Lukas yang hanya bisa segera tertegun...
Tak percaya antara yang pria itu lihat di depan mata dan apa yang ia dengar sebagai permintaan terakhir dari sang ibu.
Hana yang berdiri di sisi duduk pria itu juga memperlihatkan keterhenyakan, sebelum kemudian tergerak merengkuh perlahan pada sebelah bahu Lukas yang mulai memperdengarkan tangis melepas kepergian sang ibu... Terpastikan dari munculnya nada suara sedikit nyaring serta garis datar di mesin Monitor yang terhubung ke tubuh Hutami. Kedua hal itu sebagai tanda sudah tiada lagi detak jantung manusia terpantaukan alat itu.
__ADS_1
Pecahlah isak tangis sedih di sana-sini begitu hasil pemeriksaan Dokter turut memberitaukan, memastikan bahwa Tami telah benar-benar meninggal dunia. Tepat di hari Jumat malam pukul 8, hanya 2 hari saja setelah ketibaan Lukas dan Hana di Solo.
Hanya kalimat memohon itu...tak ada kalimat atau sepatah kata lain ketika sesaat sebelumnya Tami terlihat mengerjapkan dan membuka mata beratnya, menatap kosong ke atas pada langit-langit kamar ICU.
Sebelum semuanya berakhir. Semua beban sudah berakhir sekarang...
Tangisan pilu dan firasat tak enak Lukas bagai percuma saja sekarang. Menjatuhkan kepala dengan lunglai di atas bahu sang ibunda, memelukkan sebelah tangan pada atas dada wanita yang telah melahirkannya ke dunia 42 tahun yang lalu, dengan memberikan segenap cinta kasih tak berkesudahan baginya disepanjang hidup...Lukas sangat terpukul, Hutami masih sempat menitikkan airmata itu sebelum berpulang.
Mungkin terpikirkan 'kebrengsekan' kelakuan dirinya, mungkin terpikirkan selalu akan kepergian Citra yang mendahului sedemikian getir dan cepat, juga faktor usia yang memang sudah mulai makin menua, ibu Lukas dinyatakan meninggal dunia karena sakit tua.
Dan sebelum Lukas harus merelakan menjauh dari tubuh masih hangat Hutami, pria itu berbisik lirih di dekat telinga sang ibu, namun cukup terdengar Hana di sisi kanannya berikut yang lain yang berdiri di belakang duduk pria itu, dalam ruang ICU,
"Sudah, ibu, aku sudah lama meninggalkannya. Sejak berbulan-bulan lalu, sejak hari ulangtahunku... Jadi jangan khawatir ibu, aku sudah memenuhi amanat terakhirmu dengan sendirinya."
Tak pelak lagi pengakuan lirih bercampur isak dari Lukas mengejutkan setiap yang hadir.
Masih di sisi kanan pria itu, Hanalah yang paling terkejut.
Benarkah? Benarkah pengakuan Lukas? Lukas telah putus dari Meiska dan meninggalkannya?
"Ohh..." Mendadak Hana memperdengarkan suara keluhan itu, merasakan pergerakan halus dalam perutnya. Terkejutkan kedua kali hingga ia mendesahkan kata Oh-nya sambil telapak tangan kirinya memegangi pada sisi bawah perut.
Sebagian melihat pada apa yang dilakukan wanita itu saat segera mundur beberapa langkah dan mencari kursi yang didudukinya tadi, lalu terduduk ke kursi dengan terguncang, oleh pergerakan yang pertama kali ia rasakan dari dalam perutnya.
"Ada apa, kak?" Rini mendekati wanita itu diikuti Rafael, dan yang lain datang mendekat pada Hana. Kecuali Lukas yang hanya menegakkan punggung di kursi di sisi ranjang, menoleh dari tempat duduknya ke arah kursi Hana.
Belum habis rasa terkejut demi mendengar pengakuan Lukas, seluruh yang hadir mendengar lagi satu pengakuan lain...
"Bergerak. Bayinya bergerak. Masih bergerak-gerak. Tidak-tidak, saya baik-baik saja. Saya hanya sedikit kaget. Ini...pertama kali saya merasakan dia bergerak dan saya..."
__ADS_1
Bangkit dan keluar dari sela kursi, lalu Lukas mengayun 2 langkah lebarnya mendatangi kursi Hana, menyela mereka yang berdiri di hadapan kursi istrinya itu...