
Seperti itulah yang ditemukan Lukas begitu membuka pintu ruang kerja Hana - kesekian kali dengan tanpa mengetuk lebih dulu, dan Hana sendiri memang menghindari mengunci pintu - malam ini istrinya tetap terlihat sibuk dan asyik menggambar.
Tapi Lukas hanya memandangi dari sela saja, sebelum pria itu kembali menutup pintu untuk kemudian berjalan menuju kamar tidur.
Jam 9.40, Hana cukup menyadari longokan suaminya kearah dirinya. Tak ada sapaan, sepertinya sedang tidak ada minat juga mendatangi.
Mengecek. Semakin hari semakin rutin dilakukan, bersamaan sang suami semakin sering pulang kerja lebih malam. Kadang jauh lebih malam lagi, dari yang sebelumnya dan seharusnya jam 7-an sudah berada di rumah.
Beralasan lembur? Hana kurang yakin. Meskipun seorang petinggi di tempat bekerja, sebuah kantor Firma, Hana tau betul Lukas itu tak ada kewajiban melakukan kerja lembur. Kecuali pada suatu waktu tertentu yang itupun tidak di tiap hari kerja. Seperti lembur yang pria itu lakukan hampir setiap hari di beberapa bulan belakangan ini...
Lukas berada di dalam kamar, baru saja selesai mandi dan berpakaian piyama siap menghampiri tempat tidur, saat Hana membuka pintu kamar mereka dan masuk. Hana sudah menyadari Lukas sudah rapi dan akan segera tidur, sama halnya Lukas memperkirakan bahwa Hana akan segera mengakhiri kegiatan menggambarnya untuk hari ini.
"Sudah selesai?" tanya Lukas, menolehkan wajah untuk melihat kearah Hana yang menutup pintu lalu mempertemukan arah pandang mereka. Wanita itu menganggukkan kepala,
"Iya. Sekarang mau tidur. Sejak 3 hari lalu aku sudah mulai tidur lebih cepat." jawab wanita itu, menghampiri meja cermin, seperti biasa setiap hendak tidur selalu lebih dulu menyisirkan rambut hitam ikal berombak sebahu itu.
Lukas mengangguk-angguk, "Baguslah." tukasnya singkat, segera rebah ke kasur dengan penat.
"Tadi temanku Lastri...mm--iseng menanyakan padaku seperti apa kita berdua ini sebenarnya. Maaf, aku jadi buka rahasia padanya...tentang aku dan kamu."
Perhatian Lukas teralih pada Hana dari HP menyala di tangan, "Apa saja itu? Termasuk yang paling rahasia? Pesankan padanya supaya menjaga rahasia kita baik-baik."
"Sudah, aku sudah pesan begitu. Dia jawab 'ya beres'. Dan apa saja yang kuceritakann...mungkin hampir semuanya."
"Meiska juga."
"Juga. Maaf. Tapi kamu jangan khawatir, Lastri tidak akrab dengan siapapun keluargaku. Dia juga bukan tipe penggosip, jadi aku bisa memercayai dia tidak akan buka mulut."
"Begitu. Ya. Berarti tidak ada masalah."
"Memang tidak... Oh ya, dia merasa aneh begitu tau aku selama ini...tidak punya sebutan ke kamu."
"Sebutan? Maksudmu?"
"Ngg--panggilan, untuk memanggil nama kamu. Misalnya --"
"Oke-oke, aku paham."
"Iya. Supaya sreq sebaiknya aku tanyakan ini ke kamu, kamu lebih suka aku memanggil kamu dengan sebutan apa?"
__ADS_1
Lukas tersenyum mendengar itu, sangat menyadari Hana memang selama ini tidak pernah memberi panggilan tertentu padanya. Bahkan istrinya itu tak pernah menyebut namanya disela des*han bercinta mereka... "Terserah, Hana. Panggilan apapun yang kau anggap bisa menyamankan. Bebas."
Senyuman sang suami terpantul di cermin, Hana terdiam dan berpikir : bagaimana kalau nama langsung?
Ia benar-benar menyukai dirinya memanggil langsung pada nama suaminya. Walau itu memang bukan suatu alternatif yang bagus.
Ach, bingung.
"Aku tak punya petunjuk mana yang lebih bisa membuatku nyaman," putusnya, menyerah, "Tolong kamu saja yang...memilihkan."
Lukas lalu lebih dulu bertanya ini dengan serius, "Selama ini kau sebut apa aku pada keluargaku atau keluargamu?" Bukannya ia tidak tau sama sekali, tapi memang ia butuh memastikan mendengar apa yang akan dijawab istrinya.
Sang istri terdiam untuk beberapa saat, kemudian melihat kearah Lukas di cermin, memaparkan kata-kata lugu dan terus terangnya, "Akuu--tidak--menyebut namamu kalau sedang ditelepon ayah dan ibu kamu. Dan terus terang, aku selama ini cuma men-diadia-kan kamu pada mereka. Begitupun kalau sedang bicara dengan ibuku..."
"Hmm..."
"Kebetulan cuma seperti itu yang terjadi di setiap komunikasi."
Komunikasi yang sesungguhnya jarang terjadi, karena orangtua Lukas yang tinggal di Solo memang bukanlah tipe mertua gandrung dalam menanya-nanyai anak maupun menantu. Memahami betul akan sifat Hana, yang belum bisa lebih membuka atau mendekatkan dirinya pada siapapun pihak keluarga besar sang suami.
Dalam anggapan para mertua, hal itu mungkin dikarenakan singkatnya waktu perkenalan sang anak dengan menantu sebelum mereka berdua akhirnya memutuskan untuk menikah.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kau samakan saja dengan cara temanmu memanggilku. Atau...apa sebenarnya temanmu juga sama, hanya berdia-dia padaku?"
Hana serta merta tertawa.
Lukas jarang sekali ditertawai Hana. Kalau wanita itu sedang menertawainya, pastilah karena Lukas sedang benar-benar dianggap lucu.
Masih lewat cermin istrinya itu menanggapi, "Lastri lebih tau tata krama," jelasnya. Sarkasme terhadap diri sendiri, "Dia memanggil kamu dengan sebutan kak Lukas..."
"Kak?"
"He-eh."
"Oke. Dan ngomong-omong, kau bukannya tak tau tata krama," Entah kenapa Lukas tersentuh mendengar cara istrinya mengartikan dirinya sendiri sedemikian, "Kalau memang seperti itu arah kata-katamu, membandingkan ke dirimu."
Sang istri menggigit bibir bawah saja, gerakan tangan menyisir pun berhenti keatas meja. Lebih suka menekuri benda itu daripada membalas pandangan Lukas, pria itu sedang memperhatikannya secara seksama, menyusul menyambung ucapan,
"Aku sangat bisa memahami kau cuma sedang merasa segan saja. It's okay, tak jadi masalah buatku."
__ADS_1
Hana mengangkat pandangan kaku mendengar komentar tak disangka-sangka itu. Menemukan suaminya sekali lagi tersenyum, senyum berpengertian.
"Samakan saja." Terakhir Lukas mengucap itu lebih lembut. Hana pun paham.
"Oke."
"Jadi beres?"
"Hm-mh."
"Kemarilah. Tidur. Kalau memang kau berniat mau cepat tidur mulai dari sekarang." Sedari tadi Lukas memberikan pandangan mata dan kata-kata begitu penuh perhatian, mau tak mau membuat dalam hati Hana sekejap terpengaruh.
"Iya...memang." Hanya itu yang bisa ia katakan. Kemudian beranjak meninggalkan meja cermin menghampiri ranjang, mengambil tempat berbaring di sebelah suaminya. Sebuah bantal guling tak pernah alpa menjadi teman tidur diantara tubuh berbaring mereka berdua.
"Jadi Lastri temanmu itu memanggilku dengan sebutan 'kak?"
Sambil menutupkan selimut hingga bawah dagu, Hana mengangguk polos, "Iya." ...Sama sekali tak menangkap tolehan kepala berikut tatapan penuh arti dari Lukas sedang tertuju padanya. Karena Hana tengah memandang lurus ke depan, masih meresapi perasaan agak lain akan tema dan situasi malam ini, yang mengingatkannya pada ucapan sang suami 3 malam lalu :
'aku akan bercinta lagi denganmu. tapi mungkin nanti. entahlah...'
Berkali-kali ia mengingat cara suaminya mengatakan itu dan ciuman yang mereka lakukan.
Bibir Lukas yang menciumnya tanpa kekuatan gairah, namun tetap saja sanggup melumerkan sekujur tubuh terbaringnya pada waktu itu.
Lukas tak berusaha mencium lagi sesudah itu hingga sekarang, walaupun Hana merasa akan senang hati menerima, tetapi suaminya kemudian bersikap seolah-olah yang mereka lakukan itu tak pernah terjadi...kembali pada sikap biasa-biasanya saja suaminya itu.
"Bagaimana kalau aku sekarang...ingin mendengar kau yang mengucap itu, Hana?"
Terpana. Barulah Hana menolehkan kepala. Bertemu pandang dengan Lukas.
Lukas tampak serius, berbaring sambil menoleh kearahnya, menangkup permukaan HP di dada. Jantung Hana berdegup dengan kencang.
Keheningan tercipta beberapa saat.
Hingga,
"Mengucap-kan...nama...kamu?" tanya wanita itu kebodohan.
Lukas mengangguk takjim, "Ya. Lengkap dengan sebutan itu."
__ADS_1