
Zoya tertawa melihat sambutan yang sangat luar biasa dari keluarganya. Bahkan Mba Aina juga datang membawa anak perempuannya dengan Bang Erwin yang baru berusia dua tahun.
"Selamat sayang," seru mama sambil memeluknya ketika dia baru saja tiba di ruang keluarga. Ternyata keluarganya sedang berkumpul semua di sana.
"Apa kata Bang Dirga. Kamu pasti keterima," seru Dirga dalam kekehannya.
Zoya hanya tersenyum saja menanggapi kesenangan abang keduanya.
"Selamat, ya, sayang." Gantian papanya yang memeluknya setelah mamanya mengurai pelukannya.
"Selamat, Zoy." Aina pun ikut memeluknya setelah kedua abang Zoya memeluk adik bungsu mereka.
"Pasti Nathan kaget, ya, kamu masih sepintar dulu," gelak Dirga terpingkal pingkal.
Erwin pun ikut ngakak.
Dia pernah dicurhati adiknya, apa laki laki ngga suka dengan perempuannya yang lebih pintar.
Karena itulah Erwin yakin kalo laki laki yang dimaksud adiknya adalah Nathan. Yang selalu membuntutinya di rangking kedua dengan jarak sangat tipis.
Sejak itu Erwin tau kalo adiknya menyukai Nathan. Tapi Nathan, laki laki itu sangat pendiam walau sopan. Hanya saja sampai sekarang baik Nathan maupun adiknya sampai sekarang belum punya kekasih.
Apa itu suatu pertanda? batinnya senyum senyum.
Sedangkan Dirga yang juga suka menggoda Zoya dengan Nathan, Erwin ngga tau apa dasarnya. Tapi adik laki lakinya itu seperti tau sekali kali kalo adik mereka menyukai Nathan.
Siapa pun perempuannya, asal masih normal, Nathan pasti jadi prioritas utama. Sangat tampan, sangat pintar sangat sangat kaya raya, dan ngga sombong. Apalagi kembarannya, sangat sering mengajak Zoya nginap atau ikut keluarga mereka piknik ke luar negeri.
Itu yang membuatnya sangat berkesan. Keluarga yang menempati strata teratas di dunia perekonomian bisa seramah dan sebaik itu memperlakukan adiknya dan keluarganya.
"Pasti Nathan kaget, ya, begitu tau nilai yang kamu dapat," kekeh Dirga lagi sangat senang.
__ADS_1
"Bosan, ah. Nathan terus," cebik Zoya sebal. Asli dari lubuk hatinya, mengingat kelakuan laki laki itu yang sembarangan saja memberikannya banyak pekerjaan.
Itu saja sebelum dia resmi jadi personal asistennya. Apalagi kalo besok. Bisa kerja rodi yang memeras habis stamina dan otaknya. Mungkin karena itu para asistennya ngga kuat mengikuti etos kerjanya.
Dirga dan Erwin kembali tergelak. Sedangkan orang tuanya dan Aina hanya tersenyum saja.
Candaan tentang Nathan memang sudah lama terdengar. Apalagi sekarang Zoya diterima jadi asisten Nathan. Pasti candaan itu akan lebih sering terdengar lagi.
"Paling engga, Nathan mikir kalo kamu masih tetap pintar kayak dulu," sambung Erwin terkekeh.
Walau masih cemberut, Zoya akui kebenaran kata kata kedua abangnya. Terutama yan terakhir. Sudut bibirnya sedikit melengkung manis.
Dirga memperhatikan reaksi adiknya dengan detil. Dia tau ucapannya dan abangnya sangat benar bagi Zoya.
Sangat berbeda dengan seseorang yang merasa paling kaya dan berkuasa sehingga semena mena dengan keluarganya.
Kenangan buruk Dirga hadir lagi. Dirga ngga mau lagi mengjngat seseorang yang keluarganya pernah membuat mereka harus tersingkir selama enam tahun lamanya dan baru saja bisa kembali lagi ke kota ini. Membangun bisnis resto steak mereka lagi di kota ini dari awal lagi.
Dirga yakin, jadi atau engga adiknya dengan Nathan, keluarga Nathan ngga akan melakukan hal yang menyakiti keluarganya, atas kedekatan meeka.
Zoya yang baru saja selesai memakai krim malamnya melihat ponselnya bergetar.
Tapi wajahnya berubah manyun begitu tau siapa yang mengirimkan pesan.
Nathan memberikannya beberapa pekerjaan baru yang katanya harus dikerjakan besok.
Zoya mengumpat dalam hati saat membaca pesan Nathan.
Nathan
Takut lupa kalo ngasihnya besok.
__ADS_1
Zoya ngga menanggapi pesan itu. Dia pun ngga membuka link dokumennya. Biarlah buat besok saja.
Memangnya kalo dia buka sekarang akan berpengaruh buat laki laki egois itu, decaknya dalam hati.
Malah Zoya sekarang sedang menarik lebih ke atas selimutnya. Dia akan langsung tidur saja tanpa perlu membalas pesan yang dikirimkan Nathan tadi ke ponselnya.
Tapi dia malah sulit tidur, terbayang kebersamaan Nathan dan Eleanor.
Hubungan mereka seperti apa sebenarnya?
Mengingat lagi ucapan Cleora kalo mereka teman kuliahnya.
Gadis meresahkan itu pun sampai sengaja melamar kerja di perusahaan Nathan.
Dia mengejar Nathan sampai segitunya.....
Zoya menghembuskan nafas panjang.
Nathan yang dia kenal dulu saat SMP, SMA dan sekarang jauh berbeda.
Dulu laki laki itu sangat dingin. Irit bicara. Selalu menatap kesal padanya.
Sekarang mentang mentang jadi bosnya, malah berlaku seenaknya. Malahan suaranya cukup sering terdengar. Apalagi kalo bukan menunjukkan status dan kewibawaannya di hadapan Zoya. Kelihatannya dia senang sekali sekarang, bisa seenaknya memerintah dirinya.
"Menyebalkan," gumam Zoya tanpa sadar.
Dia memijat keningnya, besok dia akan berinteraksi dengan Nathan seharian. Selalu mendampinginya di acara laki laki itu yang super padat.
Jantungnya pun akan tantrum lagi.
Kenapa?
__ADS_1
Apa dia masih belum bisa melupakan Nathan?