
Zoya menunggu ajakan pulang dari Nathan, rasanya seperti sedang menunggu pengumuman juara satu waktu mereka masih sekolah dulu.
Apakah dia berhasil lagi mengalahkan Nathan?
Setelah mengalahkan Nathan sejak SMP, saat SMA cukup membuat Zoya was was melihat effort Nathan yang luar biasa.
Dan setelah melewati waktu yang panjang, remaja tanggung itu hanya bisa membeku karena hanya tetap menempati posisi kedua. Bahkan sampai periode sekolah berakhir.
Walau bedanya sangat kecil, nol koma nol nol nol sekian. Zoya tetaplah pemenangnya.
Untungnya sekolah yang mereka masuki memiliki guru guru yang ngga silau dengan rupiah. Jadinya keadilan merata bisa ditegakkan.
Walaupun Zoya sangat yakin kalo orang tua Nathan ngga akan memberikan apa pun demi menjadikan Nathan juara satu. Jika itu terjadi Nathan pasti ngamuk karena dia memiliki harga diri yang sangat tinggi.
"Kita pulang sekarang," tukas Nathan mengejutkan.
Karena terlalu tenggelam dalam kenangan indah masa lalu, Zoya ngga sadar Nathan sudah berdiri di depannya. Bahkan dia pun ngga mendengar suara pintu yang-pasti cukup keras, ketika dibuka oleh Nathan.
"Oke," senyumnya lega sambil bangkit dari duduknya. Dia sudah bersiap siap sejak tadi.
Nathan berbalik, ngga memberikan respon apa apa sambil berjalan keluar dari kamar tidurnya.
Apa yang dia pikirkan tadi sampai senyum senyum begitu, decih Nathan dalam hati.
Nathan sempat cukup lama memandang Zoya yang masih larut dalam lamunannya sebelum akhirnya menegur gadis itu.
Benar saja, gadis itu ngga menyadari kehadirannya.
Yang Nathan kesalkan, lamunannya tadi tampak membuat wajah murungnya berubah sangat ceria. Nathan jadi tertarik, ingin tau apa yang dilamunkannya.
Kali ini Nathan membawanya ke lift yang menuju ke lantai dasar.
Ngga naek heli, nih, batin Zoya sambil melirik Nathan. Agak kecewa juga. Menyesal saat pulang tadi dia malah tertidur.
"Kenapa?" tanya Nathan tanpa melihat ke arahnya. Matanya masih tertuju pada layar ponselnya.
"Enggak," jawab Zoya sambil mengalihkan tatapannya ke pintu lift.
Ngga lama kemudian pintu lift pun sampai ke lantai dasar.
Perasaan Zoya lega setelah pintu lift terbuka.
Zoya merasa canggung mengingat apa yang sudah Nathan lakukan tadi.
Tapi Nathan tampak cuek, seakan akan yang dilakukannya tadi hal biasa saja.
Menyebalkan.
Harusnya dia minta maaf, kan, decihnya dalam hati.
Dengan hati yang menggerutu, Zoya mengikuti langkah Nathan yang berjalan ke arah parkiran mobil.
Kembali dia hampir menabrak punggung Nathan, untung dia sudah berpengalaman, kalo bosnya ini suka berhenti secara tiba tiba.
__ADS_1
Nathan hanya melirik agak sinis.
Tumben
Padahal Nathan mengira gadis itu akan menabrak lagi punggungnya.
Dia pun membukakan pintu untuk mantan saingannya dulu waktu sekolah.
"Masuk."
Zoya sempat tertegun, mengagumi sesaat mobil mewah yang hanya memiliki dua pintu saja.
Dia ngga tau namanya, tapi beberapa kali melihat mobil itu di film film luar negeri yang ditontonnya.
Begitu dia masuk dan duduk di jok yang super empuk dan nyamannya, Nathan menutup pintunya perlahan.
Zoya sangat mengagumi interior di dalamnya. Super mewah. Ngga mungkin keluarganya bisa membelinya. Lagian buat apa. Pintunya cuma dua. Penumpangnya pun sangat terbatas. Lebih baik SUV yang mereka miliki. Bisa menampung satu keluarga. Zoya bernonolog dalam hati sampai melihat Nathan masuk ke dalamnya, duduk di kursi pengemudi.
Nathan menatapnya sesaat, dan sebelum Zoya bereaksi, laki laki itu semakin mendekat.
"Eh......." Reflek Zoya menjauhkan wajahnya sambil menahan nafas karena posisi Nathan sangat dekat dengannya.
Rupanya Nathan memakaikan seatbelt nya. Wajah Zoya merona karena malu sudah memikirkan hal yang aneh aneh.
Setelahnya seakan ngga pernah membuat tantrum jantung seorang gadis lugu, Nathan mulai mengemudikan mobilnya keluar dari basemen dan berbaur dengan kendaraan lainnya di jalan raya.
Zoya menghembuskan nafasnya perlahan seakan ngga mau menimbulkan bunyi apa pun di keheningan yang melingkupi mereka.
"Kenal Felicia di mana?"
"Cuma heran aja, kok, kamu bisa kenal dia," ucap Nathan lagi setelah ngga kunjung mendapat jawaban dari Zoya.
Gadis itu sekarang memalingkan wajahnya ke arah jendela mobilnya. Ngga mau menatapnya. Nathan sempat melihat ekspresi kecut Zoya.
"Sikap kamu tadi berlebihan. Dia rekan bisnis perusahaan kita," lanjut Nathan dengan sangat sabar.
Terdengar helaan nafas berat Zoya.
"Dia.... teman Bang Dirga," sahutnya pelan, ngga enak juga nyuekin Nathan yang notabene adalah bosnya. Bisa saja Nathan marah dan menurunkannya sebelum sampai di rumahnya, batinya agak takut kalo dugaannya bakal terjadi.
"Maksud kamu..... pacar?" Natahan mempertegas, karena dia ngga yakin kalo hanya berteman. Ngga mungkin Nathan melihat ekspresi rindu dan bahagia Felicia pada Zoya tadi.
"Dulu. Tapi sudah putus," jawab Zoya sambil menatap Nathan, seakan ngga takut.
Nathan terdiam melihat ekspresi terluka yang terpancar jelas di sepasang mata Zoya.
"Kenapa putus?" tanya Nathan balas memandang Zoya karena di depan mereka lampu merah.
"Karena Bang Dirga miskin."
DEG
Ada perasaan aneh menohok jantung Nathan saat mendengarnya. Walaupun dia sudah menduga karena sudah tau karakter keluarga Felicia. Tapi dia tetap merasa ngga enak saat pengakuan jujur itu diucapkan Zoya. Ada kesakitan yang amat sangat yang Nathan tangkap dibalik kalimatnya tadi.
__ADS_1
Zoya mengalihkan lagi tatapannya ke arah jendela mobil, karena matanya terasa memanas. Ngga lama kemudian setitik air matanya mengalir.
Nathan tertegun saat melihat Zoya mengusap air mata yang mengalir di pipinya dengan punggung tangannya.
Suasana tetap sunyi sampai Nathan sudah tiba di depan rumah Zoya.
Zoya ngga sempat berpikir kenapa Nathan bisa tau alamat rumahnya yang sekarang. Karena ini rumah mereka yang baru, bukan rumah yang dikenal Nathan waktu mereka masih SMA.
"Terimakasih," ucapnya sambil melepas seatbelt.
Tanpa melihat Nathan yang terus saja memandangnya, Zoya keluar dari mobil dan menutup pintunya dengan pelan.
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Zoya membuka pagar dan menutupnya. Gadis itu sudah masuk ke dalam rumahnya, dan tanpa basa basi menawarkan bosnya untuk mampir.
Setelah yakin gadis itu sudah berada di dalam rumahnya, Nathan melajukan mobilnya, pulang ke rumahnya.
Dia akan menyelidikinya nanti tentang hubungan Bang Dirga dengan Felicia batinnya sambil melajukan mobil sport mewahnya.
*
*
*
"Aku antar pulang," kata Jeff berinisiatif setelah cukup lama mereka menunggu Eriel yang ngga kunjung datang.
"Aku bisa pulang sendiri," tolak Cleora ketika melihat laki laki itu bangkit dari duduknya. Mereka masih berada di apartemen Jeff.
"Hari sudah malam. Aku mengkhawatirkanmu," jawab Jeff bersikeras.
"Kamu masih sakit. Aku ngga mau sakitmu bertambah parah hanya karena mengantarkanku pulang," kilah Cleora tetap ngga mau diantar Jeff.
Laki laki bule dengan mata biru menghanyutkan ini sama sekali ngga tersinggung. Bibirnya malah tersenyum lembut.
"Terima kasih sudah mencemaskanku."
Cleora berdecak melihat betapa keras kepalanya Jeff. Bahkan sekarang dia sudah melangkah ke arah pintu luar unitnya.
Cleora terpaksa mengikutinya setelah mengambil tas kecilnya. Hari memang sudah malam, ngga mungkin Cleora akan menginap di apartemen Jeff.
Mereka masih diam saat memasuki lift, dan juga saat keluar dari lift dan kini sedang melangkah ke arah mobil Cleora.
"Mana kuncinya, biar aku yang kemudikan," pinta Jeff sambil mengulurkan tangannya.
Percuma Cleora menolak dan berkelit. Si keras kepala ini pasti akan memaksa.
Cleora pun memberikan kunci mobilnya pada Jeff yang lagi lagi mengembangkan senyum memikatnya.
Kemudian dia pun membukakan Cleora pintu mobilnya. Keduanya saling pandang sesaat sebelum Cleora mengalihkan tatapannya dengan debar yang masih sama seperti setahun yang lalu.
Jeff tersenyum dengan hati berdenyut senang melihat reaksi Cleora.
Dia yakin, akan bisa meraih hati gadis itu kembali.
__ADS_1
Seiring dengan perasaannya yang bahagia, Jeff pun merasa kalo tubuhnya sudah sehat kembali.
Cinta memang penyembuh segala penyakit, senyumnya lagi sambil memutari kap depan mobil Cleora.