
Sepanjang perjalanan suasana di dalam mobil senyap dan sunyi. Dirga maupun Audrey sama sama menutup mulutnya.
Ditga fokus dengan jalan di depannya sesuai dengan arah yang diinformasikan bosmya. Àudrey sibuk dengan ponselnya dengan benak masih diliputi penasaran melihat keterkejutan di wajah dokter Hasan.
"Apa kamu pernah sakit parah sampai ditangani dokter Hasan?"
"Ya."
Audrey mengalihkan tatapannya pada Dirga, yang ngga disangkanya akan menjawab, karena sedari tadi juga diam saja seperti dirinya. Apalagi setelah kejadian yang membuatnya jadi malu sekali.
"Sakit apa?"
'Emm.... Kecelakaan," bohong Dirga. Dia sudah ngga mau mengingat kejadian itu lagi. Hanya akan membuka luka lama.
"Motor kamu nabrak apa?" kejar Audrey penasaran. Karena perhatian dokter Hasan tadi terlihat sangat dalam pada Dirga.
"Truk." Dirga menjawab asal. Biar lebih dramatis, pikirnya simple.
Audrey menutup mulutnya. Membayangkan ban truk yang besar menggilas motor Dirga.
Pantasan Om Hasan care banget. Audrey menatap Dirga kasian.
Dirga melirik dan hampir saja tersenyum geli melihat reaksi kaget di wajah Audrey.
Tapi setelahnya Dirga lega karena Audrey sudah ngga banyak nanya lagi. Suasana kaku mereka juga sempat mencair.
Dirga menatap butik mewah yang mereka datangi. Setelah membukakan pintu buat Audrey, keduanya pun berjalan mendekati pintu masuk.
Dirga menghentikan langkahnya begitu melihat sepasang muda mudi yang baru keluar dari butik.
"Felicia," panggil Audrey membuat perempuan yang sepertinya sedang dimarahi laki laki itu menoleh. Begitu juga laki laki tersebut
Felicia yang hampir tersenyum karena mendengar suara Audrey, langsung merasa lemas kakinya ketika melihat Dirga ada di sana dan sedang fokus menatapnya.
"Hey! Kamu kenapa?' kaget laki laki tampan itu sambil menahan bahu Felicia. Paper bag di kedua tangannya sampai terlepas.
"Gatan!" Kamu apain Feli," marah Audrey sambil berlari mendekati Felicia tanpa sadar kalo.Dirga ngga mengikuti langkahnya.
"Emang aku apain," sentak Gatan yang ternyata calon suami Felicia dengan nada kurang senang.
Audrey melototi Gatan sambil membantu memegang tangan Felicia yang terasa dingin.
"Kamu kenapa Fel?" tanya Audrey panik.
"Nggak apa apa," ucap Felicia sambil mengalihkan tatapannya dari Dirga yang masih terus menarapnya.
"Gue nitip dia dulu. Mau naruh barang barang ini," ketus Gatan sambil melepaskan pegangannya pada bahu Felicia.
__ADS_1
"Heh, hati hati, dong," ketus Audrey ngga kalah galak saat Gatan melepaskan Felicia begitu saja.
Hampir saja tubuh Audrey terjatuh karena ngga siap menerima beban tubuh Felicia.
Tapi seseorang menahannya....
Mata Felicia mengerjap.
"Oh, makasih, Dir," ucap Audrey yang mendapat tumpuan dari Dirga.
"Sama sama.' Mata Dirga menyorot geram pada calon suami Felicia yang hanya melihat mereka sejenak sebelum terus melangkah ke mobilnya dengan dua tangan penuh memegang paper bag.
Felicia menahan ekspresinya saat Dirga begitu dekat dengannya. Padahal dia ingin sekali menghambur dalam pelukannya karena ada rindu yang ingin dia tuntaskan
Tapi Felicia sadar, saat ini ada hati yang harus dia jaga. Juga keselamatan Dirga dan keluarganya. Kalo ada mata mata papinya, bisa bahaya buat Dirga
"Aku ngga apa apa. Terima kasih," ucap Felicia pada Audrey, tanpa mau melihat wajah Dirga. Dia takut goyah dan membuat Audrey jadi curiga.
Dirga sudah melepaskan pelukannya pada dua gadis itu.
"Oke. Dasar Gatan! Kenapa setuju aja, sih, Fel, dijodohkan sama dia," keluh Audrey penuh sesal dengan sikap penurut sahabatnya.
Felicia hanya tersenyum tipis.
"Aku pergi," pamit Felicia cepat cepat sebelum topengnya pecah.
pernah aku ceritakan dulu," tahan Audrey ketika melihat Felicia akan melangkah pergi.
Felicia menatap Dirga sekilas sebelum mengalihkan tatapannya dari mata teduh yang masih menyorotnya itu.
"Ya. Maaf, aku harus segera pergi," pamit Felicia lagi saat melihat Gatan sudah memberi kode padanya agar cepat menghampirinya.
"Oke, aku temani. Dirga, bentar, ya."
"Ya, nona."
Felicia sampai menoleh mendengar suara laki laki yang pernah koma karenanya itu menyebut nona pada Audrey.
Tapi Audrey seperti ngga mengambil pusing. Dia dengan cepat meraih tangan Felicia mendekati Gatan. Karena dia akan memberikan kuliah singkat padanya.
Felicia mengalihkan tatapannya dari Dirga yang terus menatapnya sampai menemui calon suaminya yang sudah menungguinya dengan mobil yang sama, yang dibawa Dirga.
Tapi Dirga membawa mobil bosnya. Sedangkan laki laki muda perlente yang seusia dengannya, membawa miliknya sendiri.
Dirga menghembuskan nafas dengan gusar. Dia tau Felicia sedang mempertahankan topengnya. Felicia sudah berkorban banyak untuknya dan dia sebagai laki laki ngga melakukan apa apa. Dirga ngga abis abisnya mengutuki kelemahannya.
Awalnya dia tenang karena mengira calon suami Felicia laki laki yang baik karena bukan seorang player walaupun memiliki segalanya yang ngga dimilikinya.
__ADS_1
Tapi melihat sikap kasar laki laki itu hatinya bisa goyah. Tapi Dirga ngga tau harus berbuat apa lagi. Dulu dia dihajar sampai koma. Mungkin dia bisa mati jika sekarang masih mempertahankan Felicia.
Ngga masalah buatnya. Tapi dia sudah berjanji pada mamanya yang berurai air mata agar dia melupakan Felicia.
Lagi pula keluarganya juga akan menjadi sasaran laki laki tua bangka itu. Itu kan isi surat ancaman yang diberikan pada papanya saat dia koma. Karena itu papanya membawa mereka semua pergi. Ngga dinyana, saat kembali, tua bangka itu masih ada di sini.
Mereka saling menatap sekilas saat gadis itu sudah masuk ke dalam mobil calon suaminya.
Ada senyum tipis yang gadis itu berikan seolah mengatakan kalo dia ngga apa apa
Hati Dirga kembali merasa sangat sakit. Dia terus menatap kepergian mobil itu yang melaju menjauh dengan tangan terkepal.
"Kasian si Feli. Gatan terkenal kasar," keluh Audrey yang sudah berada di sampingnya tanpa dia sadari. Dia melirih wajah Dirga yang tampak aneh.
Dia seperti sedang marah? batin Audrey heran.
"Oh." Saking fokusnya memikirkan apa yang bisa dia lakukan, Dirga sampai ngga sadar kalo Audrey sudah berada di sampingnya. Dia pun melangkah ke arah butik seakan ngga peduli. Hanya untuk menghilangkan kecurigaan Audrey.
Dia merasa ngga adil dengan Felicia. Di saat Felicia sedang mati matian melindunginya, hatinya malah sedikit terusik dengan sikap Audrey.
"Hey, tunggu. Kamu ini, memamg menyebalkan," dengus Audrey sambil mengejar Dirga.
*
*
*
Dirga menghela nafas panjang melihat satu setel pakaian yang diangsurkan Audrey.
"Sana coba dulu. Tapi sepertinya pas," perintah Audrey sekaligus menilai.
"Ngga usah. Kamu aja."
"Aku udah tadi. Beneren ngga mau dicoba? Yakin pas kalo kamu pake?" Audrey masih keukeh agar Dirga mencobanya. Selain itu dia juga ingin jadi orang pertama yang melihat penampilan Dirga yang pasti akan bertambah keren puluhan kali.
Sialan, aku mikir apa, sih, sangkalnya dalam hati. Tadi dia pun ngga memberikan kesempatan Dirga melihatnya saat mencoba gaunnya. Dia ingin memberikan Dirga surprise pada hari H nanti.
Karena pikiran pikiran absurdnya, Audrey ingin sekali menjitak kepalanya.
"Ngga usah. Aku harus segera kembali."
"Tapi aku lapar," gumamnya. Gara gara tadi bertengkar dengan Rion, dia lupa mengajak Dirga makan dulu sebelum pergi ke butik.
Dirga yang bermaksud akan segera pulang ke tempat kerjanya setelah mengantar Audrey ke rumah sakit, jadi ngga tega juga mendengarnya.
"Ya udah. Kita cari makan dulu." Ngga mungkin Dirga akan membiarkan putri bosnya kelaparan.
__ADS_1