
Nathan membantu Zoya melepaskam helmnya.
"Kenapa kamu sekarang suka pake motor?" decih Zoya sambil merapikan bajunya.
"Lebih praktis." Nathan turun dari
motornya, juga merapikan jasnya
"Bang Dirga udah diantar pengawal Daddy." Nathan menunjukkan foto di layar ponselnya.
Zoya memperhatikan foto yang ditunjukkan Nathan. Abangnya sedang dibonceng laki laki berseragam pengawal.
Ngga lama kemudian Zoya pun membaca pesan dari abagnya yang baru masuk.
"Terima kasih," senyumnya pada Nathan yang ternyata sedang memperhatikannya. Jantung Zota kembali tantrum.
"Sama sama." Nathan pun berjalan duluan diikuti Zoya.
Zoya memperhatikan punggung Nathan dengan bibir menyungginggingkan senyum
Ternyata dia baik juga.
Jadi teringat kejadian kenaren saat Nathan menenangkannya.
Salah ngga ya, berharap Nathan juga suka dengannya?
Zoya juga tau, Cleora, mami dan daddy Nathan sangat baik padanya dan keluarganya. Mereka ngga memandangnya dan keluarganya lebih rendah.
Tapi kalo mereka tau Zoya menyukai Nathan, apa mereka tetap akan baik juga?
Zoya memejamkan matanya sejenak. Takut, itulah yang Zoya rasakan. Takut dibenci oleh keluarga Nathan yang selama ini sangat baik.
*
*
*
"Kata Opa Nathan, laki laki itu sudah punya pacar."
Eleanor yang akan berangkat kerja terdiam. Omanya pun hanya diam saja menatapnya. Mereka ternyata sudah berada di rumahnya. Mami dan papinya juga ada di sana.
"Opa Nathan nolak tawarannya, opa?" Tenggorokan Eleanor tercekat.
"Iya. Padahal opa udah mau ngasih delapan puluh persen saham hotel kita yang di Amerika." Opa Eleanor menghelaa nafas panjang, kemudian menatap keterdiaman cucu cantiknya.
"Kamu ngga bisa membuat Nathan suka denganmu?" Opa Eleanor heran juga. Cucunya sangat cantik. Juga kaya raya. Tapi sudah dua pemuda berkualitas yang menolaknya. Salahnya dimana?
Apalagi tawaran mereka nilainya juga ngga main main. Hotel bintang lima mereka yang megah di Amerika, secara absolut akan jadi milik Nathan. Tapi ditolak. Opa, oma dan orang tua Nathan ngga abis pikir.
Kalo Nathan ngga bisa jadi miliknya, siapa pun ngga bisa, geramnya dalam.hati.
*
*
*
__ADS_1
"Terima kasih, ya," ucap Dirga dibalik telponnya.
"Sama sama Bang Dirga. Motornya udah oke ya, Bang," balas Dirga ramah. Ngga nyampe satu jam motor Dirga sudah diantar balik ke perusahaan tempat Dirga bekerja.
"Oke banget," kekeh Dirga yang dibalas Nathan.
Beberapa saat setelah tawa mereka usai.
"Nathan, Bang Dirga bisa minta tolong?" tanya Dirga ragu.
"Apa, Bang."
Hening sejenak.
"Perusahaan kamu kerja sama dengan perusahaan Pak Sudjatmoko, ya?" Hati DIrga benci saat harus menyebut nama laki laki tua yang kejam itu.
"iya Bang." Nathan sudah mulai serius mendengarkannya. Bahkan kini dia bangkit dari duduknya dan berdiri menyandarkan bokongnya di mejanya.
Hening. Dirga sedang memilah kata yang tepat untuk mengatakan kekhawatirannya.
"Dulu Bang Dirga punya masalah dengan Pak Sudjatmoko. Bang Dirga memacari putrinya, rupanya dia ngga setuju ".
Nathan masih menyimak.
"Status ekonomi yang jadi penyebabnya. Pak Sudjatnoko pernah mengancam akan mencelakakan Zoya. Padahal Bang Dirga sudah ngga berhubungan lagi dengan putrinya. Sudah enam tahun berlalu."
Jantung Nathan berdegup sangat kencang.
Jadi karena ini? batin Nathan baru tau jawaban mengapa Zoya terlihat sangat cemas dan ketakutan saat bertemu Om Sudjatmoko.
"Kami memutuskan kembali ke sini karena mendengar Pak Sudjatnoko dan keluarga pindah ke Belanda. Tapi ternyata itu hanya isu."
"Bang Dirga minta tolong, agar Zoya dijauhkan dari Pak Sudjatmoko. Zoya sangat takut karena ancaman itu. Mungkin kalo situasi tetap ngga aman buat Zoya, kami akan meninggalkan kota ini."
DEG
Seolah ada pukulan yang kuat menghajar jantungnya.
"Bang Dirga ngga perlu pindah kemana mana lagi. Aku yang akan melindungii Zoya. Dari apa pun yang membahayakannya, Bang. Aku janji," sahut Nathan cepat dalam satu tarikan nafas.
Zoya selain jenius karena selalu bisa mengalahkannya, gadis itu juga jenius dalam melarikan diri dan senyap tanpa kabar. Buktinya enam tahun yang lalu. Cleora yang dekat dengannya pun ngga bisa menghubunginya.
Nathan ngga ingin hal itu terjadi lagi. Tanpa Bang Dirga memintanya pun, sejak melihat Zoya ketakutan setengah mati begitu, di hati Nathan sudah ada niat untuk melindungi Zoya dari Om Sudjatmoko.
Apalagi dia sempat menguping pembicaraan orang tuanya tadi malam bersama Cleora. Walaupun berakhir dengan omelan mami dan omanya.
Dirga menghembuskan nafas lega
"Syukurlah. Terima kasih, ya. Zoya beruntung mengenal kamu dan Cleora."
"Emm... Maaf agak kepo, bang. Bagaimana hubungan Bang Dirga dengan putri Om Sudjatmoko."
Dirga tersenyum pahit sebelum menjawabnya.
"Kami sudah berpisah sejak enam tahun yang lalu. Felicia juga sudah mau menikah. Harusnya semua sudah berakhir. Tapi Bang Dirga merasa, Pak Sudjatmoko masih mengintimidasi keluarga kami."
Bang Dirga benar. Om Sudjatmoko bahkan seperti kata maminya, sudah lancang ingin menjodohkannya dengan putri rekan kerjanya. Sangat jelas terlihat di mata Nathan kalo Om Sudjatmoko masih sangat membenci Bang Dirga dan keluarganya.
__ADS_1
Ngga lama kemudian Dirga pun memutuskan telponnya dengan alasan dipanggil bosnya.
Nathan masih terdiam sampai dia melihat pintu ruangannya terbuka.
Eleanor memasuki ruangannya.
Agak heran, kemana Zoya? Biasanya gadis itu akan menelponnya dulu sebelum membiarkan sesiapapun masuk ke.ruangannya.
"Nathan, ada yang harus kita selesaikan," ucap Eleanor sambil menutup pintu ruangan Nathan.
Dia cukup bersyukur karena asisten protektif itu tidak ada di mejanya, untuk menghalanginya menemui Nathan.
Dia melepaskan blazernya hingga tinggal tank top seksinya. Dia akan merayu Nathan lagi seperti dulu.
"Aku minta maaf. Aku tau aku salah. Aku ngga akan melakukannya lagi," ucap Eleanor memohon dengan suara seksinya. Dia kini sudah berada di depan Nathan. Hanya berjarak dua langkah saja.
Nathan mendengus. Dia semakin ji-ji karena Eriel sudah mengirim video terakhirnya mencumbu saat Eleanor.
"Keluarlah!" usirnya dingin.
"Nathan. Aku mencintaimu. Laki laki lainnya hanya mainan buatku. Tapi cintaku hanya buat kamu," bujuk Eleanor putus asa. Tangannya ingin menyentuh kemeja Nathan, tapi laki laki itu menepisnya kasar.
"Pergi sebelum aku panggil satpam buat nyeret kamu keluar!" amcam Nathan dengan wajah muak setelah mendengar kata kata Eleanor.
"Nathan. Aku benar benar mencintaimu. Beri aku kesempatan," mohon Eleanor dengan mata berkaca kaca.
Dia masih meraih tangan Nathan, tapi lagi lagi Nathan menepisnya.
"Aku bisa memecatmu jika kamu bersikap ngga sopan," desis Nathan sambil menjauhkan dirinya.
Eleanor terdiam. Dia ngga mau dipecat. Dia masih mau memperjuangakan Nathan agar jadi kekasihnya. Jeff sudah meninggalkannya. Sekarang tujuannya tinggal Nathan.
"Dengar Nathan. Aku tau kamu masih belum punya kekasih. Aku akan tetap mengejarmu. Sampai kapan pun."
"Kamu akan dapat SP3 karena ini," ancam Nathan sungguh sungguh.
"Nathan. Aku tau kamu suka saat mencumbuku dulu. Kita ulangi lagi. Jika kamu memang sudah ngga ingin lagi, aku akan berhenti." Eleanor terus memohon. Dia akan memberikan servis yang ngga terlupakan hari ini.
Dulu saja Nathan bisa menikmatinya. Tapi dianya saja yang ngga paham dengan budaya timur yang dianut Nathan. Andai saja dia.mengikuti alur yang disukai Nathan, pasti dia sudah lama jadi milik laki laki itu.
"Keluarlah sebelum aku panggil satpam," geram Nathan sambil menganggkat gagang telponnya.
Eleanor menahan kekesalannya.
"Oke, aku pergi. Tapi ingatlah, ngga ada yang boleh bersama aku selain aku," tukas Eleanor dengan suara bergetar. Dia terhina karena Nathan tetap menolaknya.
Nathan ngga menjawab. Tapi sekarang hatinya tau, kalo bahaya untuk Zoya bertambah. Secara ngga langsung, Eleanor sudah mengancam Zoya.
Tanpa kata Eleanor pergi dengan membawa perasaan sakit hatinya.
Tapi saat dia menutup pintu ruangan Nathan, seringaj jahat muncul di wajahnya saat melihat Zoya yang sepertinya baru kembali ke mejanya.
Eleanor pura pura membetulkan salah satu tali tank topnya yang jatuh di lenngannya.
"Tadi Nathan mencium pundakku sangat ganas," ucapnya sambil melangkah pergi. Dia melirik Zoya dan sangat senang melihat reaksi kaget gadis itu.
Paling enggak dia sudah mengisikan pikiran buruk tentang keintimannya dengan Nathan pada Zoya. Wlalaupun itu bohong, hanya sekadar untuk menghibur dirinya saja
__ADS_1
Zoya masih mematung sampai Eleana melewatinya
Benarkah? batinnya dengan hati yang retak. Baru saja dia merasa kalo ada sedikit harapan Nathan menyukaimya. Tapi nyatanya dia salah.