My Ex Crush

My Ex Crush
Janinan Cleora


__ADS_3

Malam ini Zoya ngga bisa tidur. Bibirnya selalu saja ketarik tiada henti. Jantungnya pun masih tantrum mengingat kejadian saat bersama Nathan. Guling pun menjadi sasaran pelukannya yang dia lakuksn sangat erat sejak tadi.


Karena masih belum bisa tidur, Zoya memutuskan ke dapur. Tenyata ada Bang Dirga yang sedang membuka kulkas.


"Belum tidur, dek?" senyumnya sambil menyodorkan satu botol air mineral pada adiknya.


"Bang Dirga juga belum tidur?" Zoya menerima uluran abangnya. Kemudian menarik kursi di dekat jendela.


Dirga tertawa kecil mendengar adiknya yang malah balik bertanya.


"Kamu terlihat bahagia," komen Dirga sambil menelisik wajah adiknya.


Senyum kembali terkembang di wajah Zoya. Dia sulit menutupi kebahagiaan yang sudah memenuhi hatinya di depan abangnya.


"Kamu sudah ditembak Nathan?" todong Dirga kemudian tergelak melihat wajah malu malu Zoya.


"Udah jadian.... Ciee......"


"Apa, sih, Bang?" manyun Zoya tambah malu.


"Apa kamu mau langsung dilamar?" goda Dirga makin senang melihat wajah malu malu adiknya.


"Ngga secepat itulah Bang Dirga," sangkal Zoya masih dengan hati berbunga bunga dan salah tingkah.


Pikiran Zoya belum sampai ke sana. Nathan juga belum ada ngomong hal itu tadi. Malah membuainya dengan hal hal yang sangat manis.


Dilamar? Jantung Zoya tambah tantrum.


"Mama sama papa udah tau?"


"Buat apa?"


"Buat persiapan, siapa tau Nathan pengen cepar nikahin kamu," gelak Nathan berderai derai melihat wajah polos adiknya.


BUGH!


"Hi-ih," gemas Zoya sambil memukul bahu abangnya yang suka usil.mengganggunya.


Tapi gara gara candaan abangnya, Zoya jadi kepikiran.


Apa mungkin akan dilamar? Trus nikah? Rasanya Zoya belum siap. Ngga bisa membayangkan saat bangun tidur ada makhluk.asing berada di sampingnya. Di tempat tidur yang sama.

__ADS_1


"Tenang aja. Bang Dirga ngga bakalan marah kalo kamu nikah duluan dari abang," goda abangnya lagi semakin senang melihat wajah tegang Zoya.


"Apaan, sih, Bang Dirga." Kali ini bukan hanya sekali, tapi berkali kali Zoya memukul bahu abangnya gemas. Dirga makin tergelak dan membiarkan saja pukulan pukulan dari adik tersayangnya


Dalam hati ikut senang melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah Zoya.


*


*


*


"Zoy, katakan, sejak kapan kamu suka sama Nathan," todong Cleora dengan ekspresi senang di wajahnya.


Pagi ini Cleora langsung menarik tangan Zoya agar ikut ke ruangannya, karena dia sudah ngga sabar mendengar cerita dari versi Zoya.


"Kamu bawa aku ke sini cuma mau nanya itu?" senyum Zoya membuat Cleora tergelak


"Iya."


"Nathan udah cerita, ya," senyum Zoya lagi sedikit salah tingkah.


Cleora tambah tergelak.


Zoya hanya tersenyum tipis. Wajarlah kalo Cleora berpikir begitu. Baik dia dan Nathan ngga pernah terjalin komunikasi. Adanya menghindar terus.


"Dulu aku senang banget tiap kamu bisa kalahin Nathan," kenang Cleora dengan senyum di bibirnya.


Itu bagian ledekan favoritnya. Nathan ngga bisa membantahnya


"Aku tau." Kali ini Zoya tertawa pelan.


"Apa kamu sudah suka.Nathan sejak masih kelas tiga SMP?" selidik Cleora kembali ke topik awal.


"Ngga tau, Cleo. Aku lupa," bohong Zoya. Padahal dia ngga pernah lupa. Tebakan Cleora hampir benar. Dia memang sudah naksir sana Nathan ketika dia jadi anak baru di sekolah mereka. Kelas tiga SMP.


Tapi sayangnya harus dia simpan dalam dalam melihat Nathan selalu cuek dengannya. Karenanya dia selalu termotivasi untuk mengalahkannya. Rasanya ada kebahagiaan tersendiri bisa menyamakan bahkan mengalahkan nilai laki laki itu walau dengan skor tipis.


"Ya, kamu berhak, sih, rahasia in. Tapi by the way, ngga lama lagi mami sama daddy mau ke rumah kamu loh."


"Untuk apa?" Zoya teringat kata kata abangnya tadi malam.

__ADS_1


Ngelamar?


Nggak lah. Masa langsung nikah?


"Ngobrol seriuslah sama orang tua kamu. Mami sama daddy excited banget loh pas tau kamu nerima Nathan," tawa Cleora sangat lepas.


"Tapi aku ngga kaya loh, Cleo,," ucapnya pelan. Kekurangannya yang paling fatal.


"Tapi kamu pintar banget, Zoy. Bisa ngalahin Nathan itu sesuatu banget loh," tegas Cleora agar mental Zoya ngga down.


Zoya hanya bisa tersenyum haru dengan jantung yang semakin berdebar kencang. Desir desir kebahagiaan menyatu dengan aliran darahnya.


Ngga nyangka kalo mami dan daddy Nathan dan Cleo mau menerima dirinya yang orang biasa.


Sejak kejadian putusnya Bang Dirga dengan Kak Felicia, Zoya sudah berusaha melupakan cintanya pada Nathan. Ngga mau terlalu jauh berharap.


Walaupun selama ini penerimaan keluarga Nathan dan Cleora sangat baik padanya, tapi dia takut mereka akan berubah kalo status pertemanan mereka meningkat lebih tinggi.


Tapi ternyata Bang Dirga bemar, keluarga Nathan dan Cleora jauh berbeda dengan keluarga Kak Feli. Ngga bisa dibamdingkan.


Melihat keterdiaman Zoya, Cleora jadi teringat cerita Nathan tentang apa yang terjadi pada Zoya dan keluarganya enam tahun yang lalu.


Dalam hati dia sangat geram. Jika aja mereka sekeluarga ngga pindah, pasti daddynya akan mengurus Om Sudjatmoko dengan sangat baik. Hingga ngga berani bertingkah macam macam.


Sayangnya mereka ngga ada saat Zoya dan keluarganya sangat membutuhkan bantuan keluarganya.


Nathan sepertinya belum cerita dengan Daddynya. Dia juga belum. Cleora belum menemukan waktu yang tepat. Tapi suatu saat nanti pasti Cleora akan cerita. Om Sudjatmoko sudah sangat keterlaluan. Bang Dirga hampir meninggal. Ini kriminal besar.


"Nanti siang mami akan mengajak kita ke butik. Kita diundang ke pesta pernikahan Kak Felicia, anak Om Sudjatmoko."


Zoya hampir terjatuh karena terkejut mendengarnya


Nggak. Dia ngga bisa datang.


Melihat wajah pucat Zoya, Cleora tau sahabatnya terlihat jelas sangat takut. Padahal hanya mendengar namanya saja.


"Kamu tenang aja, Zoya. Ada aku dan Nathan. Juga ada mami dan daddy. Kamu tenang aja."


Sepasang mata Zoya berkaca kaca


"Terimakasih, Cleo."

__ADS_1


"Ngga ada satu orang pun mulai sekarang yang bisa nyakitin kamu dan keluarga kamu. Aku janji, Zoy."


Zoya hanya mengangguk sambil mengusap air matanya.


__ADS_2