
"Apa? Kamu mau pulang karena masih sakit? Meetingnya batal?" seru Eriel ketika Jeff menelponnya.
".................."
"Oke. Nanti aku akan datang dengan Fazza dan Nathan. Kamu ini menyusahkan saja. Sudah aku bilang, buang sotonya. Jangan dimakan," sentak Eriel sewot bin jengkel.
Gara gara semangkok soto meeting yang akan membahas proyek milyaran tertunda lagi.
Dasar orang yang jadi bodoh karena cinta, makinya dalam hati tiada henti.
Telpon pun sudah diputus Jeff karena tau kalo Eriel bakal cosplay jadi emak emak yang akan punya ratusan kalimat untuk terus mengomelinya.
Dasar, geramnya gemas.
Dia pun menelpon si biang masalah soto itu, Cleora. Gadis pendendam itu harus bertanggungjawab.
Lagi lagi Eriel harus mengomel ala emak emak karena telponnya ngga tersambung.
Ngga hilang akal dia pun menuliskan pesan beracunnya buat Cleora.
Kekasih bodohmu sakit lagi. Aku lagi sibuk. Tolong diurus dengan penuh cinta. Jangan sampai dia pingsan sendirian.
Senyum miringnya terbit, membayangkan wajah judes Cleora saat membacanya.
TOK TOK TOK
"Masuk."
Bara sekretaris sekaligus asistennya masuk menemuinya.
"Ada apa?" Eriel sengaja memilih Bara yang jadi sekretarisnya, karena dia ngga mau buat skandal jika punya sekretaris perempuan.
"Nona Eleanor mau bertemu."
"Suruh masuk."
Hemm... Ada apa dia ingin ketemu? Ketagihan? Bibir Eriel tersenyum miring.
Eriel cuma melirik sekilas penampilan Eleanor saat datang.
Gadis itu masih memakai dress yang sopan. Tapi Eriel tau, cardigannya hanya untuk menutupi pundak dan dadanya yeng terbuka. Karena Eriel sangat tau *styl*e dres kemben favorit Eleanor bila ada yang dia inginkan.
"Ada apa?" tanya Eriel ngga acuh ketika Bara sudah menutup pintu ruangannya.
Dengan langkah teraturnya dia menghampiri Eriel yang masih sibuk dengan layar laptopnya.
"Eriel, ceritakan soal Zoya," pintanya manja sambil duduk di pangkuan Eriel.
Bahkan dia sudah melepas cardigannya hingga pundak dan dadanya yang bening terlihat jelas.
Eriel hanya menyeringai. Dengan nakal dia meremas kuat dada itu hingga membuat pemiliknya mengeluarkan suara suara tertahannya.
"Kenapa? Kamu merasa terancam, hemm....?"
Kepala Eriel pun menyentuhnya. Tangannya yang terampil telah membuka risleting di belakang dres itu.
__ADS_1
"Bayarannya sangat mahal."
"Apa pun....." Tubuh Eleanor bergerak sesuai arah kecupan Eriel di puncaknya. Dia selalu ketagihan saat Eriel melakukannya.
Tangan Eriel pun mengirimkan pesan pada Bara kalo dia ngga ingin diganggu.
*
*
*
Sore ini Cleora sudah tiba di depan unit Jeff. Tangannya membawa paper bag yang berisi bubur ayam.
Tadi siang Eriel mengabarinya kalo Jeff sudah pulang ke apartemen karena perutnya kembali sakit.
Cleora masih agak gengsi sebenarnya, tapi pesan Eriel terkesan memaksanya untuk datang, karena dia sedang sibuk dan ngga bisa menemani Jeff.
Cleora pun tadi menemani Nathan menggantikan Zoya menemui klien. Makanya baru bisa sekarang ke apartemen Jeff.
Semoga dia baik baik saja, harapnya dalam hati. Ada sedikit kekhawatiran dalam hatinya.
Dia pun memencet bel.
Sekali. No respon.
Cleora tampak semakin khawatir.
Dua kali. Setelah ditunggu juga no respon.
Jika ngga juga dibuka, Cleora akan menghubungi satpam dan memintanya membuka pintu unit Jeff. Baik dengan kunci atau didobrak paksa.
Ketika pikiran kalut sudah memenuhi kepalanya, pintu unit itu terbuka, menampilkan wajah bantal Jeff.
Sepertinya tadi laki laki ini sedang tertidur pulas dan merasa kesal dengan gangguan suara bel.
Tapi ekspresi kesal Jeff berubah jadi cinta ketika melihat Cleora yang datang.
"Kamu ngga apa apa? Aku takut kenapa kamu ngga buka pintu, dari tadi," penuh khawatir Cleora menggenggam tangan Jeff yang terasa cukup hangat.
Eriel ngga berbohong. Ternyata Jeff memang sakit.
Rasanya nyaman saat mendapat sentuhan Cleora di tangannya.
Kalo tau tadi Cleora yang datang, pasti Jeff sudah secepatnya bangun dari tidurnya dan berlari menemui cintanya.
"Ayo masuk." Jeff menarik tangan Cleora memasuki unitnya dan menguncinya.
"Kamu.sudah makan? Aku bawa bubur," pelan Cleora berucap dengan tangannya yang sekarang berbalik digenggam Jeff.
Jantungnya masih. berdebar keras seperti dulu.
"Kamu tau dari mana aku sakit?" tanya Jeff sambil menggeser kursi di meja makanmya untuk Cleora duduki.
Jeff juga duduk di sampingnya. Tubuhnya yang terasa lemas tadi sudah menghilang. Saat ini dia bahkan sudah merasa sangat sehat.
__ADS_1
Cintanya selalu bisa menyembuhkannya.
Bisakah dia meminta cintanya untuk selalu menemaninya agar dia tidak merasakan sakit lagi pada perutnya?
Tapi tentu aja Jeff ngga berani. Maaf aja belum dia dapatkan. Cleora sudah memberinya perhatian harusnya dia bersyukur. Dia ngga boleh serakah saat ini. Dia akan melakukannya pelan pelan.
"Aku siapin bubur kamu dulu." Cleora bermaksud berdiri karena merasa jengah atas tatapan Jeff yang begitu dalam.
"Biar aku saja," Jeff pun bangkit dari duduknya dan mengambil mangkok dan sendok.
"Kenapa kamu ngga duduk saja?" erang Jeff ketika melihat Cleora sudah berada di sampingnya.
Padahal dia ingin menunjukkan pada Cleora kalo dirinya sudah sehat.
Biarpun dia ngga memungkiri, dia senang juga karena dengan sakitmya ini, Cleora jadi cukup melunak padanya.
"Kamu itu sakit, Jeff. Wajahmu masih pucat." Cleora mengambil alih mangkok dan sendok di tangan Jeff.
Perempuan itu pun memimdahkan bubur yang dia beli ke mangkoknya.
Mengaduknya sebentar dan memberikannya pada Jeff.
"Habiskan, masih hangat." Cleora pun duduk di sebelah Jeff.
"Oke." Kali ini Jeff akan memaksa perutnya untuk menghabiskan bubur dari cintanya.
Jeff terus menatap wajah cantik yang sedang menatap khawatir padanya tiap menyendokkan bubur itu ke dalam mulutnya.
Tapi saat tinggal sepertiga lagi, Jeff agak sulit melanjutkannya. Bukan maunya, tapi seakan ada daya tolak di kerongkongannya yang membuatnya ngga bisa memaksanya.
"Sudah, ngga usah dimakan lagi kalo udah kenyang. Yang penting perut kamu sudah diisi," tutur Cleora lembut sambil mengambil sendok di tangan Jeff.
"Sebaiknya sekarang kamu makan obat. Obat kamu dimana?" Cleora membawa sisa bubur ke tempat cucian piring.
Obatku itu kamu, Cleo, batin Jeff sambil mengikutinya.
Kali ini Jeff ngga bisa menahan lagi. Dia pun memeluk Cleora dari belakang
"Jeff, lepaskan....," sentak Cleora hampir menyikut perut Jeff, tapi ngga jadi teringat perut Jeff yang masih sakit karenanya.
"Sebentar saja. Aku mohon," pinta Jeff pelan. Tadi dia sudah pasrah saja, kalo perutnya akan jadi korban lagi akibat kemarahan Cleora atas sikap kurang ajarnya.
Dia memang pantas menerimanya. Dia jadi serakah kini.
Tapi ternyata cintanya masih ngga tega padanya.
Jeff semakin mengeratkan pelukannya di pinggang ramping Cleora dan menaruh kepalanya di bahu gadis itu.
"Aku mohon, Cleo," lirih Jeff berucap.
Cleora merasa panas nafas Jeff berhembus di lehernya membuat tubuhnya jadi bergetar.
Teringat lagi ciuman pertamanya yang diambil Jeff setelah ungkapan cintanya dulu.
Dia takut jika Jeff akan melakukannya lagi, karena pesona laki laki bule itu masih kuat mengakar di hatinya.
__ADS_1