
"Kenapa kamu tega sekali malam itu! Padahal kamu bilang mau jadi pacarku. Tapi setelahnya kamu malah bercinta dengan si sialan itu," tukas Cleoara mulai membuka percakapan yang selalu dia hindari setelah kejadian itu. Setahun lamanya, dia menyimpan rasa sakit sedalam itu di hatinya.
Walau pun Nathan, Eriel bahkan sepupunya Fazza yang pendiam itu sudah beribu kali menjelaskannya, tetap saja dia ngga mau mendengarkan.
Hatinya masih merasa sangat sakit dan benci. Juga terkhianati. Kesimpulannya dia ngga pernah bisa memaafkan Jeff.
Apalagi laki laki itu juga ngga benar benar datang meminta maaf padanya.
Lagi pula dia memang bodoh mau menerima tunangan orang lain jadi kekasih gelapnya. Walaupun katanya ngga saling cinta. Tapi buktinya apa. Cleora dapat melihat ciuman panas itu.
Jeff pun berani mengungkapkan perasaannya di saat dia pun ngga bisa memutuskan pertunangannya dengan perempuan ngga tau malu itu.
Perempuan pembohong dan tergila gila dengan banyak laki laki. Seakan satu saja ngga cukup buatnya.
"Maaf," kata Jeff dengan mata memanas saat melihat mata Cleora yang juga sudah memerah. Suaranya pun bergetar hebat.
"Kamu hanya bisa bilang maaf, Jeff. Tapi kamu ngga tau, kan, gimana sakitnya di sini," geram Cleora sambil menunjukkan tangannya ke dadanya.
Air matanya yang sudah dia tahan akhirnya mengalir juga bersamaan dengan ledakan perasaannya yang baru bisa dia tumpahkan sekarang.
Air mata Jeff juga mengalir pelan. Setelah sekian lama akhirnya gadis itu mau juga mengungkapkan apa yang dia rasa. Kesakitanya dan itu.semua gara gara dirinya.
Memang dia laki laki yang bodoh. Tidak. Tepatnya sangat bodoh.
Dia sudah menyakiti hati Cleora sampai sangat parah.
"Maafkan, aku. Hukumlah aku semaumu. Aku pantas menerimanya. Tapi kamu jangan menangis. Air matamu terlalu berharga untuk laki laki sebrengsek aku," bujuk Jeff dengan suara masih seperti tadi. Bergetar hebat.
"Kamu jahat, Jeff. Kamu kejam. Aku benci sama kamu. Aku BENCI....," jerit Cleora di akhir kalimatnya. Air matanya semakin deras mengalir di pipinya.
Jeff tergugu. Air matanya pun ngga berhenti mengalir melihat penderitaan Cleora yang diakibatkan olehnya.
Tangan Jeff mencoba merengkuh bahu Cleora tapi gadis itu menolaknya dengan balik mendorong kasar. Bahkan dorongan itu terlalu keras untuk tubuh Jeff yang masih lemah.
BRUGG
Laki laki sampai jatuh terjengkang menabrak keras kulkasnya. Cleora tentu saja terkejut melihat hasil perbuatannya.
"Jeff.... kamu ngga apa apa...?" Cleora berjongkok di samping tubuh Jeff dengan penuh kecemasan.
__ADS_1
Wajah Jeff tampak meringis. Perutnya terasa sakit lagi akibat hempasan yang cukup kuat tadi.
Dasar lemah, makinya dalam hati. Kalo dalam keadaan sehat, dia ngga mungkin akan mudah terjungkal seperti ini.
"Ini belum seberapa dari sakit yang kamu rasakan, Cleo," sahut Jeff menenangkan kepanikan di mata Cleo. Mata birunya bersinar lembut. Keduanya saling bersitatap. Cleo memalingkan wajahnya. Dia belum bisa memaafkan Jeff. Belum mau.
Jeff tersenyum tipis, tau kalo Cleora masih belum bisa menerimanya saat ini. Tapi Jeff pasti akan berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan maaf dari Cleora.
Dia akan menjalani hukumannya sampai Cleora mengijinkannya bebas untuk bisa memiliki hatinya lagi.
*
*
*
Nathan melihat raut sedih Zoya yang memandang langit di sampingnya dengan tatapan hampa. Sangat berbeda sekali saat mereka berangkat tadi. Gadis itu sangat antusias. Senyum lebar ngga pernah lekang tersungging di bibir manisnya.
Tapi sekarang setelah bertemu dengan Felicia, seperti ada beban berat menggantung di wajah cantiknya. Jangan kan tersenyum, binar yang tadi terdapat di sepasang matanya pun sudah menghilang.
Ehem, batin Nathan memberinya warning.
Tidak, biasa saja, koreksinya dalam hati.
Tanpa sadar bibirnya tersenyum. Teringat dulu pernah mengagumi gadis itu saat menjadi anak baru di kelasnya.
Tapi egonya menguburnya. Dia marah karena Zoya selalu mendapat nilai terbaik, sama sepertinya. Bahkan olah raga yang biasanya para cewe malas dan asal asalan, tapi berbeda dengan Zoya.
Dia selalu bersemangat jika jam olah raga tiba. Ternyata dia calon.atlit dengan multi talenta.
Zoya sangat cepat dalam lari, jago maen voli dan badminton. Walaupun Zoya ngga pernah mau ikut kejuaraan, tapi Nathan tau dengan kualitas permainannya.
Dia sama sekali ngga kepengin jadi cheerleaders demi mendukung Nathan di pertandingan basket. Zoya lebih suka jadi penonton. Beda dengan kembarannya yang ngga pernah absen menjadi kapten cheerleaders bersama tiga teman sejatinya itu yang konsisten menjadi anggotanya.
Terkadang kalo lagi suntuk, Nathan selalu membayangkan Zoya dalam kostum cheerleaders yang seksi itu. Dia pasti akan langsung bersemangat lagi.
Pikiran remajanya memang absurd dan gila. Penuh fantasy ngga pantas. Kembali Nathan tersenyum senyum mengingatnya.
Nathan kemudian melirik gadis di sanpingnya, apakah dia masih bersedih.
__ADS_1
Astaga.....
Ternyata dia sudah tertidur dengan kepala yang sudah manggut manggut.
Hebat sekali. Seolah ngga terganggu dengan guncangan guncangan kecil helinya.
Nyenyak sekali tidur kamu, nona, senyun Nathan sambil membawa kepala gadis ini menyandar di bahunya. Tangan Nathan pun melingkar di bahu Zoya.
Kesempatanya, mumpung Zoya tidur. Jika gadis ini melek, Nathan ngga akan mau melakukannya. Gadis yang selalu merasa hebat darinya ini pasti akan ge-er.dan besar kepala.
Nathan pun ngga khawatir kalo gadis ini tersadar dan mengetahui perbuatannya. Nathan akan ngeles sengeles ngelesnya agar gadis itu yang nantinya akan jadi malu sendiri.
Membayangkannya saja membuat Nathan masih membiarkan bibirnya terus tersenyum senyum.
"Langsung ke apartemenku saja," seru Nathan pada pilotnya.
Dia bosnya, bebas kapan saja menentukan jam kerjanya. Apalagi tadi dia juga sudah mendapatkan kata sepakat dengan perusahaan Felicia
"Siap, tuan muda." Sang pilot sempat melirik sekilas sebelum ketahuan tuan mudanya yang sedang tersenyum senyum sambil memeluk seorang gadis cantik.
Pemandangan langka.
Seingatnya baru kali ini tuan mudamya membawa perempuan yang bukan keluarganya menaiki helikopter.
Sepertinya sangat spesial, batin sang pilot dengan wajah penuh senyum.
Nathan kembali menatap mata yang masih terpejam dan wajah yang nampak pulas tertidur.
Apa yang kamu rasakan sekarang sampai ngga sadar sudah aku peluk? batin Nathan teringat kembali ketaknyamanannya saat Zoya bertemu Felicia.
Kalian kenal dimana? Kenapa kamu terlihat ngga suka bertemu dengannya? tanya Nathan lagi dalam hatinya.
Dia masih ngga ngerti bagaimana Zoya bisa mengenal Felicia. Karena setaunya keluarga itu sangat pemilih dalam bergaul.
Bukan merendahkan status ekonomi keluarga Zoya, tapi Nathan tau, keluarga Felicia ngga akan pernah suka jika tau anaknya mengenal bahkan berteman dengan Zoya.
Apa Zoya mendapat tekanan jika dilihat dari sikapnya tadi yang seakan pura pura ngga mengenal Felicia. Berbanding terbalik dengan sikap Felicia yang sangat akrab menyapa Zoya.
Nathan akan berusaha mencari tau, ada apa sebenarnya.
__ADS_1