My Ex Crush

My Ex Crush
Enam Tahun yang lalu part dua


__ADS_3

Papa, Erwin dan Dirga sampai menutup mulut melihat keadaan restoran mereka yang seperti diamuk masa.


Pecahan kaca berserakan dimana mana. Kursi kursi dan meja pun ngga ada yang utuh.


Polisi sedang mencari orang orang yang menggunakan masker yang sudah melakukan pengrusakan.


"Siapa yang melakukannya?" desis papa dengan suara bergetar.


"Pa....."


Erwin segera menahan tubuh papanya yang hampir jatuh. Begitu juga Dirga.


Dia dan Erwin pun sangat shock, sama seperti papanya.


Kerusakan restoran pasti akan membutuhkan waktu berhari hari untuk dilakukan renovasi


Dirga jadi teringat dengan masalah susahnya mereka memesan daging steak. Dia merasa kedua kejadian ini cukup berhubungan erat.


Dirga melihat ponselnya. Hatinya tambah risau karena pesannya masih belum dibaca juga oleh Felicia.


Konsentrasi Dirga agak terpecah.


Kemudian dibantu para pegawai restoran yang datang satu per satu, mereka membersihkan restoran dan mengamankan barang barang penting. Semua pegawai diliburkan, karena restoran akan direnovasi.


Sampai sore menjelang magrib, mereka baru selesai merapikan semua kekacauan yang ada.


Setelah selesai shalat magrib berjama'ah, Dirga mendapat telpon dari Felicia. Tapi anehnya, suara yang menelponnya adalah suara berat seorang laki laki.


"Bisa kita bertemu? Saya papinya Felicia."


"Oh iya, Om. Tentu bisa," jawab Dirga lega. Perasaannya yang berantakan melihat apa yang sudah terjadi, seakan terlupakan karena dapat telpon dari papi Felicia yang sangat diharapkannya.


"Pa, Dirga ngga ikut papa pulang, ya?"


Papanya dan Erwin yang sedang melangkah ke luar restoran bersamanya jadi menghentikan langkah mereka.


"Kamu mau kemana?" Papanya menatap heran.


"Papinya Felicia mau ngajak ketemuan," senyum Dirga.


Papa dan Erwin saling pandang kemudian sama sama mengembangkan senyumnya.


Paling tidak ada berita bahagia di tengah kerusuhan kali ini.


"Papa antar. Kamu juga ngga bawa mobil, kan," tawar papanya.


"Dirga naek ojek online aja, Pa. Biar cepat," tolaknya sambil mencium tangan papa nya.


"Biar camer ngga lama nunggu, ya, Dir," kekeh Erwin menggodanya.


"Iya, bang. Macet jam segini biasanya. Maaf, ya, Pa, aku udah pesan ojol, kok. Bentar lagi datang," kekeh Dirga antara malu dan senang.


"Oke, oke. Papa ngert," kekeh papanya maklum


Ngga lama kemudian ojol yang dipesan Dirga datang.


Dirga pun melambaikan tangannya sambil pergi.


Papa Dirga terus menatap putranya yang semakin menjauh. Tapi entah mengapa perasaannya mendadak ngga enak. Dia merasa hal buruk akan menimpa putranya.


Tapi dia menepis praduganya. Mungkin karena kejadian buruk hari ini, sangat mengganggu alam bawah sadarnya.


Kejadian hari ini cukup membuatnya terguncang dan pikiran menjalar kemana mana.


"Kenapa, Pa?" tanya Erwin yang merasa khawatir melihat keadaan papanya seperti abis melamun.

__ADS_1


"Ngga apa apa," senyum papanya berusaha menenangkan hati putra sulungnya walau saat ini jantungnya berdebar cepat. Ada perasaan aneh yang sangat kuat mengungkungi rongga dadanya.


Semoga kamu baik baik saja, Dirga, batinnya berusaha mengenyahkan pikiran buruknya.


*


*


*


"Dirga, Felicia sudah Om jodohkan. Jadi Om harap, kamu bisa menjauhinya."


Kata kata itu terus terngiang ngiang di dalam hatinya.


Bukan itu saja, bahkan papi Felicia mengaku kalo kosongnya stok steak dan pengrusakan restoran adalah ancaman kecil untuknya.


Dirga masih ngga percaya mendengarnya. Laki laki setengah tua itu juga menggenggam ponsel Felicia, hingga dia kesulitan untuk menghubungi gadis itu. Mengklarifikasi kebenarannya.


Yang membuat Dirga emosi, kalo laki laki yang mengaku jadi papi pacarnya ini mengancam akan mencelakakan adik kesayangannya, jika dia masih bersikeras berhubungan dengan Felicia.


Dengan terpaksa Dirga menuruti kemauan laki laki setengah tua itu.


Hari ini sungguh bukan hari yang baik untuknya dan keluarganya.


Harapannya langsung sirna karena papi Felicia tidak mau memiliki menantu yang dianggapnya miskin. Dia butuh laki laki yang kaya raya untuk jadi pendamping Felicia, putri bungsunya.


Dan lagi hati Dirga langsung panas dan terhina atas perlakuan papi Dirga pada keluarganya.


Tapi dia harus ketemu Felicia. Memastikan keadaannya baik baik saja. Dia akan melepas gadis kecintaannya karena dia ngga mau adiknya ada apa apa.


Keluarga Nathan sudah pindah, dia ngga tau minta tolong pada siapa untuk melindungi adiknya.


Saat ini Dirga benar benar dilanda kekhawatiran hebat. Memikirkan apa yang sudah terjadi pada Felicia dan juga apa yang nanti akan menimpa adiknya.


Setelah papi Felicia pergi, Dirga nekat memesan ojek online ke rumah Felicia.


Karena ngga diijinkan masuk, Dirga pun berteriak memanggil manggil Feli. Dia semakin khawatir.


Para pengawal itu pun berusaha menghalau Dirga sesuai perintah tuan besarnya yang baru saja tiba.


"Kamu nyari mati!" geram Papi Felicia ketika tau kekasih putrinya malah datang ke rumahnya.


"Ijinkan saya bertemu Feli sebentar saja. Setelah itu kami akan berpisah secara baik baik. Saya ngga akan menemui Feli lagi," tantang Dirga dengan hati yang berdenyut sakit.


"Feli sudah ke Swis tadi pagi. Lebih baik kamu pergi, atau saya akan suruh pengawal pengawal saya menghajar kamu sampai mati."


Dirga mendongak, melihat ke arah korden jendela Feli yang tersingkap.


Dirga melihat wajah Feli yang seakan menyuruhnya pergi. Bahkan tangannya tampak bergerak mengusirnya.


Dirga mengalihkan tatapannya pada sosok angkuh papi Feli.


"Sebentar saja, Om, saya mohon." Dirga makin khawatir dengan keadaan Felicia sampai mengabaikan permintaan gadis itu.


Papi Felicia mendengus kasar.


"Hajar dia!"


Para pengawal itu pun bergerak mengurung Dirga.


Dirga yang walaupun menguasai ilmu ilmu bela diri, jadi terdesak juga karena dikeroyok lusinan pengawal Papi Felicia yang sudah teruji kehebatan ilmu bela dirinya.


Sampai akhirnya Dirga pun menjadi bulan bulanan pukulan dan tendangan.


Tapi saat satu tendangan lagi akan menghempaskan kepala Dirga, Felicia datang melindunginya hingga pengawal itu terpaksa menghentikan tendangannya

__ADS_1


Felicia meletakkan kepala Dirga di atas pangkuannya. Wajah Dirga sudah memar parah. Darah juga ada di wajahnya.


Felicia sudah ngga peduli dengan tatapan marah papinya. Bahkan mami, oma dan opanya menyusul keluar.


"Dirgaaa...... bangun," isak Felicia dengan air mata yang menetes deras.


"Dirgaaa......"


Papinya menarik rambut Felicia agar menjauh dari Dirga.


Felicia menjerit kesakitan, tapi kedua tangannya tetap memeluk tubuh Dirga.


"Sudjatmoko! Anak kita dan temannya bisa mati. Kamu jangan gila!" seru istrinya histeris.


"Kenapa dia bisa sampai keluar! Aku sudah suruh menahannya di kamar!"


Mami, oma dan opa terdiam mendengar bentakan Sudjatmoko


BUGH


"Aaahh.....!" Sudjatmoko terbanting jatuh terduduk di tanah akibat tendangan Dirga yang mampir di bahunya.


Para pengawal membantu bosnya. Tap sebagian hanya bisa terpaku, bingung harus melakukan apa terhadap lalki laki tangguh yang sedang dipeluk putri bosnya


"Dirgaa......"


Mata Dirga terbuka, tapi pandangannya mengabur. Tadi mungkin kekuatan terakhirnya.


Sebelum mata Dirga terpejam, tangan penuh lukanya mengusap wajah Felicia perlahan.


"Ja... ngan.... na.... ngjs," senyum terukir di bibirnya sebelum matanya terpejam.


Felicia menjerit histeris.


"Bangun....! Jangan mati...... Ku mohon....!"


"Bawa putriku masuk!" perintah Sudjatmoko menggelegar.


Felicia tau, ini kesempatan terakhirnya menyelamatkan Dirga.


Dia pun menunjukkan gunting yang tadi dibawanya hingga mami, oma dan opanya membiarkannya keluar menemui Dirga.


"Papi! Berikan pertolongan terbaik untuk Dirga. Kalo Dirga mati, aku juga akan mati!" tantangnya dengan mata dipenuhi amarah pada papinya.


"Kalo dia selama?"


"Akan aku turuti maunya papi. Tapi jangan ganggu Dirga lagi dan keluarganya!"


"Oke. Papi pegang janji kamu!" Papi Felicia memberikan isyarat pada pengawalnya.


Ngga lama kemudian, satu mobiil SUV mendekat.


Dirga pun dibawa dengan Felicia ikut serta bersamanya.


Papinya ngga bisa menolak, karena Felicia memegang gunting. Apa pun bisa terjadi.


"Maaf....... Dirga. Tapi ku mohon, jangan mati," isak Felicia lagi sambil mengelus kepala Dirga yang penuh darah yang ada di pangkuannya. Sosok Dirga tetap diam ngga bergerak.


Pertolongan buat Dirga pun berlangsung dengan sangat cepat. Semua yang terbaik sudah dilakukan.


Tapi Dirga mengalami pendarahan otak yang parah, hingga dia koma.


"Turuti janjimu. Dia tidak mati!' seru papinya sambil menyeretnya pergi karena keluarga Dirga akan datang.


Air mata Felicia mengalir deras saat pergi meninggalkan Dirga yang terbaring koma.

__ADS_1


Ancaman papinya ngga main main. Bahkan papinya sampai menjambak rambutnya. Hal yang ngga pernah dilakukannya.


Tanpa setau putrinya, Papi Felicia memberikan surat yang berisi ancaman.agar Dirga menjauhi Feli karena putrinya sudah dijodohkan.


__ADS_2