My Ex Crush

My Ex Crush
Dirga-Audrey .... ditolak?


__ADS_3

Setelah pesanan mereka datang, Audrey menatap Dirga heran.


"Di sini juga ada nasi goreng?"


"Ada," bohong Dirga. Karena sebelumnya dia sudah meminta pegawai mamanya membuatkannya nasi goreng dengan telor ceplok.


Lidahnya sudah kaku menerima potongan daging steak.


"Kelihatannya enak." Walau tangannya sibuk memotong daging steak, tapi pandangan Audrey terus terarah pada nasi goreng milik Dirga.


"Kamu mau?" gerakan tangan Dirga yang akan menyuapi nasi gorengnya terhenti di depan mulutnya.


"Kelihatannya enak."


"Mau tukeran atau aku pesankan lagi?"


"Emm.... ngga usah. Tapi suapin aja." Wajah Audrey merona setelah mengucapkan kata kata yang spontan keluar dari bibirnya.


Aku kenapa, sih, rutuknya saat melihat Dirga terpaku.


"Emm.... ngga jadi. Tadi aku asal ngomong aja," sangkal Audrey semakin malu dan grogi. Garpunya mulai ditancapkan pada potongan steak yang tampak enak itu. Tapi tangannya agak bergetar. Dia benar benar malu karema permintaan tak terduganya sepertinya ditolak Dirga.


"Ini, makanlah."


Audrey yang awalnya menunduk kini mengangkat wajahnya saat melihat sendok yang berisi penuh nasi goreng dengan potongan telor ceplok, ada di depan wajahnya.


Wajahnya semakin terasa memanas melihat senyum tipis laki laki itu.


"Ayo."


Dengan malu malu Audrey membuka mulutnya menerima suapan Dirga.


Dia mengunyahnya dengan sangat pelan sambil menunduk.


"Steaknya juga enak," ucapnya setelah menelan nasi gorengnya. Beralih ke potongan steak yang sudah sejak tadi ditancapi garpunya.


Dirga hanya tersenyum. Kemudian kembali menyodorkan suapan nasi goreng ke bibir Audrey.


"Aku mau makan steak." Tapi mulutnya tetap menerima suapan laki laki itu dengan wajah yang masih betah merona.


Dirga tersenyum sambil terus menatap gadis di depannya yang awalnya agresif sekarang terlihat malu malu.


Ini ya rasanya, batinnya mengenang. Dulu Felicia sangat telaten menyuapinya makan saat dia sedang sibuk sibuknya sampai suka lupa mengisi perutnya.


Gadis itu selalu membawa bekal apa aja untuk dijejalkannya ke mulutnya. Karena itu dulu keluarganya sangat menyayangi Felicia yang selalu memberikan banyak perhatian padanya.

__ADS_1


Melihat gadis itu yang malu malu membuat Dirga sedikit gemas.


Walaupun gadis itu juga memakan steaknya, dia tetap mau menerima suapan darinya.


Bahkan matanya agak berpendar kalo Dirga menyuapi dirinya sendiri dengan sendok yang sudah terkontimidasi bibirnya.


"Biar adil, kamu harus mau juga," ucap Audrey sambil memberikan potongan daging steak yang cukup besar pada Dirga.


Dirga tersenyum saat menerimanya.


Audrey pun tersenyum. Kini tanpa sungkan dia pun menyuapkan potongan steak itu pada pegawai papinya yang sempat dikatainya akan insecure padanya.


Baru kali ini Audrey mau menerima suapan dari sendok yang sama. Juga baru kali ini Audrey sampai menurunkan harga dirinya, mau menyuapkan laki laki yang kastanya pasti jauh di bawahnya dengan senang hati, tanpa beban.


Bahkan dia membiarkan Dirga mengusap sudut bibirnya yang berminyak dengan tisu.


Sentuhan itu membuat aliran darahnya terasa sangat deras.


Papinya benar semua tentang Dirga. Apa papinya juga tau kalo hatinya akan kepincut pada pegawai kesayangan papinya ini?


Membayangkannya saja sudah membuat gemuruh di dalam dadanya semakin hebat.


Kini bukan dia yang berinisiatif menggenggam jemari Dirga. Tapi malah laki laki itu yang melakukannya.


"Seatbeltnya?" tanya Dirga sambil menatapnya.


"Ya....?" Audrey malah bingung, ngga mengerti maksud perkataan dan tatapan Dirga.


Laki laki ini tersenyun lembut, kemudian mendekatinya membuat Audrey tambah sulit bernafas.


Ketika wajah Dirga sudah sangat dekat dengannya, Audrey memberanikan dirinya mengecup sekilas pipi Dirga


Tangan Dirga yang sedang menarik karet seatbelt jadi terdiam. Laki laki ini mematung sesaat, tapi kemudian tersadar. Dan seolah ngga terjadi apa apa melanjutkan lagi gerakannya yang memakaikan seatbelt untuk Audrey.


Wajah Audrey sudah sangat merah karena malu akibat no respon dari laki laki ini.


"Terima kasih," ucapnya pelan untuk mengusir rasa malunya.


"Sama sama," balas Dirga dengan senyum tipisnya sambil menatap Audrey yang terlihat ngga nyaman.


Dirga pun menjalankan mobilnya. Suasana hening. Audrey pun seperti kehilangan kata kata. Dia terus merutuki keberaniannya yang sudah keterlaluan.


Audrey merasa sudah kalah telak karena Dirga yang hanya pegawai papinya, ngga menanggapi ciumannya.


Dikiranya Dirga akan melakukan ciuman panas seperti yang di tontonnya di film film romantis. Seperti menurunkan kursinya hingga sejajar dan memudahkan adegan romantis lainnya yang mendebarkan. Apa lagi kaca mobilnya sudah memenuhi syarat, karena ngga akan terlihat dari luar. Asal Dirga bermain lembut, orang orang ngga akan curiga karena mobilnya tidak akan bergoyang.

__ADS_1


Audrey membuang nafasnya dengan kesal. Fantasinya terlalu jauh dan mengerikan.


"Sudah sampai."


Ucapan Dirga mengembalikannya ke dunia nyata. Matanya menatap sekitarnya. Ini bukan basemen perusahaannya. Tapi basemen rumah sakit tempat di bekerja.


Dia tau tempat kerjanya? Hati Audrey agak mengembang karena senang.


Wait..... Nanti dia pulang naek apa? batinnya menoleh pada Dirga yang ternyata sudah keluar dari mobilnya.


Sialan. Mengapa dia bisa melamun selama ini, umpatnya dalam hati.


Dadanya makin berdebar kencang saat pintu mobilnya terbuka.


Dia pun keluar dengan penuh salah tingkah.


Dirga menyembunyikan senyum gemasnya. Tapi pengalamannya dengan Felicia mengajarkannya. Hidup harus seimbang. Dia ngga akan membalas perlakuan gadis itu walaupun ingin.


Cukup Felicia yang menderita karena kenaifannya.


"Kamu bawa mobilku aja," tawar Audrey saat Dirga menyerahkan kunci mobilnya.


"Aku naek ojek aja," tolak Dirga sambil menggenggamkan kunci mobil itu ke telapak tangan Audrey.


Reflek Audrey balik menggenggam jemarinya. Mereka pun bersitatap.


Dirga tersenyum tipis mendapat responnya. Sejujurnya dadanya menghangat dengan sentuhan jari jari Audrey.


Dirga melepaskan pelan genggaman tangan Audrey.


"Aku pulang dulu. Nanti telat," lambai Dirga sambil menjauh pergi.


Audrey hanya terdiam mematung melihat kepergian Dirga yang berjalan agak cepat meninggalkannya.


Perlahan dia pun berjalan menyusul laki laki itu.


Bibir Audrey tersenyum melihat laki laki itu naek ojek yang memang suka mangkal di depan jalan rumah sakitnya.


Audrey tertawa getir. Dua kali dia ditolak oleh laki laki yang hanya pegawai papinya itu.


Kemana harga dirinya yang selama ini sangat tinggi dia junjung?


Audrey pun membuang nafasnya berkali kali dengan resah.


Papi, aku harus bagaimana?

__ADS_1


__ADS_2