
"Lagi ngelamun nih, bang," tegur Zoya saat melihat abangnya lagi merokok di teras rumah mereka.
"Eh, kamu belum tidur?" Dirga langsung mematikan rokoknya yang tinggal separuh di asbak. Sekarang hampir jam sebelas malam.saat dia melirik jam yang melingkar di tangannya.
"Belumlah. Buktinya di sini," senyum Zoya sambil duduk di kursi di samping abangnya.
Dirga tersenyum melihatnya.
"Sekarang Nathan rajin antar kamu pulang, ya. Udah jadian, kah? Kapan?" goda Dirga bertubi tubi dengan wajah jahil.
Dia mendapat laporan dari mamanya kalo udah beberapa hari ini Nathan mengantakan Zoya pulang.
Pantasan suka nolak kalo mau dijemput, batin Dirga terbahak apalagi sekarang melihat wajah manyun adiknya. Seperto kesal karena dia tau juga.
"Apaan, sih, bang. Dia terpaksa aja tuh ngantar pulang. Harus tanggung jawab, kan, dia suka ngasih aku kerjaan banyak banget," ngeles Zoya mengadu.
Dirga benar benar tergelak.
Orang pintar bisa jadi bodoh juga kalo sudah jatuh cinta. Dirga bisa melihat jelas rasa suka Nathan pada adiknya, juga sebaliknya. Tapi keduanya sepertinya belum menyadarinya.
"Apa Nathan mau antar kamu pas berangkat kerja, nggak?" goda Dirga lagi.
"Pulang pergi sama bos keren juga," lanjutnya lagi meledek kemudian tertawa berderai derai.
Zoya tambah manyun, mengingat lagi tadi Nathan mengantarnya dengan motor balapnya.
Jantungnya tantrum saat mengingat dia kembali memeluk pinggang Nathan sangat erat. Laki laki itu sangat mengerikan melajukan motornya.
Padahal dia sudah mau pulang dengan abangnya. Dia tinggal menjawab ya saja pada balasan pesannya.Tapi Nathan merebut ponselnya dan dengan cepat membalas kalo akan pulang dengannya. Karena itu da lagi lagi diantar Nathan pulang.
Zoya takut lama lama ngga bisa lagi menyembunyikan rahasia hatinya yang selama ini dia pendam sangat dalam.
Nathan pasti akan mentertawakannya kalo nanti dia ketahuan menyukai mantan temannya itu.
Dimana nanti dia bisa menyembunyikan rasa malunya.
Dirga menatap adiknya penuh selidik. Sepertinya bukan itu yang membuat adiknya belum bisa tidur.
"Kamu ngga bisa tidur karena mikirin Nathan?" pancing Dirga dengan senyum jahilnya. Dia merasa adiknya sedang merahasiakan sesuatu, seperti dirinya sekarang. Sepertiinya adiknya sedang butih teman bicara.
Haruskah mereka saling curhat?
"Hiiiii.... Enggaklah," cebik.Zoya menyangkal. Dirga kembali tertawa.
"Trus kenapa?"
Zoya meluruskan tatapannya pada Dirga. Kini wajagnya sangat serius.
"Bang, tadi aku ketemu papinya Kak Feli. Aku takut banget," katanya berbisik. Takut kedengaran papa dan mamanya.
Tapi sepertinya orang tuanya sudah tidur.
Dirga balas menatap adiknya. Wajahnya cemas.
"Kamu pas sendirian?"
Zoya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Sama Nathan."
Dirga menghembuskan nafas lega.
"Sikapnya gimana?.Mengancam kamu?"
"Aku ngga tau bang. Tapi rasanya aku takut sekali. Hatiku bilang dia orang yang berbahaya."
Rahang Dirga mengeras.
"Kamu jangan sendirian, ya," pesannya yang diangguki Zoya.
Mungkin sudah saatnya dia memberitau Nathan. Tapi kalo dipikir lagi sangat aneh, kenapa papinya Felicia masih saja mengganggu keluarganya.
Padahal putrinya akan menikah dua minggu lagi dengan pilihan yang sudah di atur. Rasanya sudah ngga ada lagi alasannya, kecuali dia psikopat. Sakit jiwa.
"Iya, bang."
Dirga tersenyum getir.
"Maaf, ya. Gara gara Bang Dirga kamu jadi selalu takut gini," sesalnya.
"Bukan salah Bang Dirga. Kak Feli juga ngga salah. Yang salah itu papimya," hibur Zoya agar abangnya ngga larut dalam kesedihan.
"Makasih, ya, Zoy."
"Sama sama."
Keduamya pun sama.tersenyum.
"Oh iya, Bang Dirga udah punya pacar baru lagi, ya?"
"Dari mama. Katanya cantik banget, ya. Abang pintar cari pacar" kekeh Zoya memuji. Sebenarnya banyak perempuan cantik yang naksir abangnya, karena abangnya sangat tampan. Tapi selalu diacuhkan. Makanya mamanya, kak Aina, pegawai resto kaget melihat Dirga menggandeng perempuan cantik ke restoran.
Zoya yang diberitau juga merasa surprise.
Abangnya udah move on?
Dirga tertawa datar.
"Itu anaknya bos Bang Dirga." Teringat lagi bagaimana gadis itu berani mencium pipinya. Hatinya tersenyum.
'Bag Dirga pacaran dengannya?" tuduh Zoya was was. Takut abangnya akan bernasib sama dan patah hati lagi.
Ini malah anak bosnya lagi. Ngga takut dipecat?
Dirga tertawa lagi sambil mengacak gemas rambut adiknya. Dia mengerti.tatapan khawatir adiknya.
"Ngaco. Bang Dirga cuma diminta nemani dia makan siang aja," jelasnya masih dengan tawa ringannya.
Zoya tersenyum.lega.
"Oooh."
"Udah tenang sekarang?" sindir Dirga meledek.
Zoya tertawa malu. Ketahuan kalo dia berpikir terlalu jauh.
__ADS_1
"Bang Dirga ngga naksir?" Zoya penasaran juga. Soalnya kata mama dan mba Aina, cantik banget.
Bahkan kata mba Aina dengan wajah sedih, jadi keingat Mbak Feli. Cantik bening gitulah.
"Enggaklah. Mana berani. Bang Dirga masih butuh kerjaan," balasnya bercanda.
Zoya pun tergelak.
Bang, apa kita terlalu miskin, ya, buat pacaran sama.mereka yang kaya kaya itu, batinnya tanpa sadar membayangkan Nathan.
Hari ini Nathan sangat baik padanya. Saking baiknya dia malah kebablasan.
Cintanya kini sudah tumbuh lagi dengan subur karena tanpa Zoya sadari selalu dia beri pupuk.
"Bang Dirga, kalo misalnya putri bos abang naksir, gimana?" tanya Zoya ingin tau. Dia sampai menatap lekat netra abangnya untuk mencari tau reaksinya.
"Ngga mungkinlah. Bang Dirga, kan, hanya pegawai papinya aja. Paling dia anggap abang pengawalnya," kekeh Dirga menyangkal.
Mengingat lagi sifat agresif gadis itu, Dirga merasa mungkin Audrey sudah terbiasa melakukannya. Atau mungkin saat melakukannya, dia hanya merasa penasaran saja.
"Masa, sih, bang," kekeh.Zoya ngga percaya.
"Iyalah," tawa Dirga sambil mengingat wajah malu malu putri Pak Himawan.
Entah apa yang terjadi kalo dia membalas ciuman pipi Audrey padanya. Cium balik pipinya, misalnya. Atau yang lebih ekstrim mengecup bibirnya sampai gadis itu ngga bisa bernafas.
Ditamparkah?
Atau langsung dipecat dari kerjaannya?
Dirga yakin, mungkin dua duanya. Dia jadi tergelak sendiri dengan pikiran absurdnya.
"Namanya siapa, Bang?" tanya Zoya kepo.
"Audrey."
"Nama yang bagus."
Dirga mengacak rambut adiknya gemas.
"Sudah, sekarang tidur. Kamu besok, kan, juga kerja." Dirga bangkit sambil menarik tangan adiknya agar ikut berdiri juga.
"Sudah hampir jam dua belas malam." Dirga melirik jam tangannya.
"Sana tidur."
"Iya, iya. Bang Dirga jangan mimpiin Kak Audrey," ledek Zoya sambil ngacir.
Dirga tertawa melihatnya. Dibandingkan memikirkan Audrey, Dirga malah mengingat wajah penuh air mata Felicia.
Kamu bahagia, kan? batinnya gusar.
Sepertinya calon suaminya laki laki yang baik juga, Dirga sempat membaca profilnya
Semoga bisa membuat Felicianya bahagia.
Kekuasaan Papi Felicia terlalu besar. Kejadian yang hampir membuatnya meninggal dunia pun, bisa ditutupi dengan rapat dan bersih.
__ADS_1
Cukup sekali dia melakukan hal nekat yang membuat keluarganya sedih. Apalagi ancaman laki laki tua bangka itu terhadap adiknya sudah membuatnya hilang harapan memperjuangkan Felicia.