My Ex Crush

My Ex Crush
Setelah makan siang


__ADS_3

Nathan terus memperhatikan Zoya yang tampak serius dan tenang menghadapi klien mereka.


Ketakutannya tadi sudah sirna. Sekarang dia sudah kembali jadi Zoya yang tangguh. Menurutnya Zoya adalah personal asistennya yang sangat dia harapkan. Mungkin karena kecerdasannya di atas rata rata. Bahkan yang menyebalkan selalu membuat dia jadi buntutnya dulu.


Selama mengenal Zoya, baru tadi dia melihat Zoya menunjukkan titik nadirnya. Ternyata dia bisa selemah itu juga.


Akhirnya mereka pun menemukan kata sepakat.


Zoya melemparkan senyumnya pada Nathan. Hal yang sangat mustahil dia lakukan selama ini. Mungkin perasaannya masih belum normal, batin Nathan sambil membalas senyum Nathan.


Tapi gadis itu memang berubah jadi lebih pendiam. Saat pulang pun, Nathan selalu meliriknya yang menyibukkan dirinya dengan membaca berkas berkas persetujuan dari klien tadi.


"Jangan terlalu lama baca di dalam mobil. Nanti kamu pusing."


"Aku ngga apa apa."


Kemudian sibuk lagi memeriksa berkas berkas itu. Termasuk map dari Eleanor.


Sekarang ini dia perlu memenuhi kepalanya dengan banyak kerjaan agar bisa melupakan pertemuannya dengan laki tua bangka yang jahat itu. Agar pikirannya ngga was was.


"Zoya, sebenarnya apa yang terjadi saat aku dan Cleo kuliah di luar negeri?" Nathan ngga tahan juga untuk bertanya, walaupun garis besarnya dia sudah tau.


DEG


Jantung Zoya berdetak keras.


Dia tetap menunduk ngga mau menjawab.


"Bang Dirga koma, kamu ngga bisa dihubungi. Kalian pun pindah entah kemana. Sebenarnya apa yang sudah terjadi."


"Ka kamu tau dari mana?" kini netra Zoya menyorot Nathan mulai panik. Padahal dia sudah mulai tenang, tapi kenapa Nathan malah nanya.


"Tau aja. Kenapa.kamu masih takut dengan Om Sudjatmoko? Harusnya sudah selesai, kan, Felicia juga sudah mau nikah," berondong Nathan.


Harusnya, batin Zoya.


Tapi kenapa dia masih merasa terancam?


Zoya ngga bisa menjawab. Juga ngga mau menjawab. Dia dan Nathan hanya mantan teman dan sekarang laki laki ini adalah bosnya. Zoya merasa ngga pantas menceritakan ketakutannya.


"Apa masih belum selesai?" tebak Nathan karena melihat Zoya yang hanya diam tapi gestur tubuhnya tampak resah


Zoya mengalihkan tatapannya. Tapi Nathan bisa melihat tubuh Zoya tampak gemetar.


Spomtan Nathan meraih bahu gadis itu dan menyandarkannya di lengannya.


"Nathan.....," kaget Zoya dengan bibir bergetar. Terkejut dan jantungnya hampir melompat akibat perlakuan Nathan yang ngga terduga sama sekali.


"Aku pinjamkan lenganku hari ini. Kamu terlihat buruk sekali. Aku juga ngga mau kamu pingsan di mobil dan nanti harus repot repot aku gendong."


Hiii..... Ya, ya, batin Zoya walau bersungut tapi entah mengapa hatinya merasa senang. Baru kali ini Zoya merasa kata kata pedas Nathan adalah bentuk perhatiannya.

__ADS_1


Nathan tersenyum melihat gadis itu ngga jadi membantahnya. Malah sekarang dia tetap menyibukkan diri lagi memeriksa berkas berkasnya.


Nathan tau mungkin itu sebagai pengalihan untuk menghilangkan ketakutannya. Sekarang pun nafas gadis itu sudah mulai teratur.


Apa dia sudah mulai nyaman dengan posisinya sekarang?


Nathan jadi tersenyum senyum dengan netra terus menatap Zoya.


*


*


*


"Cleo, kamu harus cerita," seru Indri ngga sabar ketika melihat kedatangannya.


Jeff dan Cleora? Beneran mereka ada hubungan spesial?


"Iya. Kamu sangat mengejutkan," kekeh Moana berderai derai. Apa yang dilihatnya hari ini adalah hal yang ngga pernah terbayangkan sekali pun.


"Sebenarnya apa yang sudah kamu rahasiakan," tawa Freya juga mengudara. Sahabatnya benar benar di luar dugaannya.


Mereka bertiga langsung menggiring Cleora ke ruangannya.


Cleora hanya tertawa melihat kelakuan ketiga sahabatnya.


Tadi Jeff hanya mengantarnya sampai di halaman depan perusahaan. Cleora sengaja meminta Jeff langsung pulang saja, karena dia tau kalo ketiga sahabatnya pasti saat ini sudah ngga sabar menunggu kedatangannya.


Jeff tadi sempat memprotes karena tetap ingin mengantar sampai ke ruangannya. Tapi syukurlah dia menurut juga setelah Cleora mengancam ngga jadi memaafkannya kalo ngga mau pulang.


Sekarang pun sebenarnya Cleora.masih bingung bagaimana harus memberi jawaban yang bisa diterima logika mereka.


"Eleanor itu menyukai Nathan. Dia sengaja ngga mau putus tunangan dari Jeff, kecuali bisa pacaran sama Nathan." Rasanya hanya penjelasan itu yang Cleora rasa bisa diterima ketiga sahabatnya yang kritis.


"Maksudnya dia ngancam kamu?" todong Moana sambil menggelengkan kepalanya.


Gila juga ternyata si bule.


"Win win solutionlah."


"Sekarang Jeff udah ngga tunangan lagi sama si bule itu?" tenbak Indri karena melihat keduanya sudah go public.


"Kata Jeff iya, tadi."


"Aku senang loh, Cleo. Cuma yang aku kesal, kenapa kita ngga tau kalian saling suka," kekeh Freya.


"Iya, surprise banget," balas Indri juga tergelak. Moana ngga berkomentar lagi, karena suara tawanya sudah berderai derai.


Cleora bersyukur, ketiga temannya ngga banyak bertanya lagi. Ngga sia sia dia ngusir Jeff tadi.


*

__ADS_1


*


*


Dirga bertemu bosnya saat dia sedang berjalan buru buru ke arah lift dari loby.


Waduh, batinnya agak ngga enak melihat Pak Himawan sengaja menahan pintu lift untuknya. Di sampingnya juga ada dua orang petinggi yang cukup dia kenal.


"Dari mana? Tumben kamu lama banget makan siangnya," tegur Pak.Himawan ringan.


"Maaf, pak." Dirga agak sungkan mau mengatakan yang sebenarnya, karena juga ada petinggi lainnya.


Dia ngga mau dianggap mencari muka Pak Himawan-sang bos.


"Ngga pa pa. Kamu jangan takut gitu," kekeh Pak Adinata bersama Pak Bimo.


"Iya, saya ngga bakalan marah, kok," gelak Pak Himawan penuh makna.


Kedua temannya pun tambah keras tertawanya.


Dirga hanya tersenyum saja. Ngga sopan jika dia ikut tertawa.


Setelah mereka sampai di lantai masing masing, Dirga mengikuti Pak Himawan yang berjalan memasuki ruangannya.


"Ada yang mau kamu bicarakan?" tanya Pak Himawan yang melihat Dirga mengekorinya


"Iya, Pak."


Pak Himawan pun membuka pintu ruangannya dan berjalan masuk diikuti Dirga. Saat sang bos sudah duduk di kursinya, barulah Dirga menjelaskan alasan hampir keterlambatannya.


"Ya, tadi putri saya sudah cerita," senyum Pak Himawan.


Ooo, batin Dirga juga ikut tersenyum. Baru mengerti dengan reaksi santai bosnya saat di lift. Rupanya sudah tau.


"Kalo begitu, saya permisi, pak."


"Oke."


"Ohya, Dirga. Saya serius, tolong temani putri saya ke pernikahannya Felicia, ya," sambung Pak Himawan saat Dirga sudah membalikkan tubuhnya.


Dirga membalikkan tubuhnya sambil menekan perasaannya sangat dalam, agar Pak Bos ngga bisa melihat luka di matanya.


"Maaf, Pak. Saya agak canggung berada di pesta semegah itu," tolaknya halus.


Rasanya masih belum rela melepas Felicia, apalagi melihatnya menikah bukan dengan dirinya.


"Santai saja, Dir. Kalian ngga perlu lama. Yang penting Audrey ketemu Felica."


Dirga terdiam. Selain ngga mau bertemu Felicia, Dirga juga ngga mau bertemu papi gadis itu.


Dirga takut ngga bisa mengendalikan emosinya untuk memukul laki laki tua yang sombomg itu.

__ADS_1


"Saya anggap diam kamu artinya setuju," putus Pak Himawan ngga mau dibantah. Dalam pikiran Pak Himawan, Dirga hanya merasa rendah diri saja. Nanti dia akan meminta putrinya mengajak Dirga ke butik untuk membeli pakaian yang pantas ke resepsi putri relasinya.


__ADS_2