My Ex Crush

My Ex Crush
Takdir yang berbeda


__ADS_3

Dirga mengantarkan Audrey ke rumah sakit setelah mereka selesai makan


"Apa laki laki itu akan terus mengganggumu?" ceplos Dirga tanpa sadar.


"Maksud kamu Rion?" Audrey menatapnya dengan kening mengernyit


"Ya." Hati Dirga sedikit terusik. Dia jadi mengkhawatirkan keselamatan Audrey juga jika laki laki yang bernama Rion itu terus memaksanya.


"Cieee ...... Kamu cemas, ya? Kirain sama sekali ngga peduli," ledek Audrey membuat Dirga merasa jengah.


Gadis itu makin tergelak melihat Dirga tampak salah tingkah.


"Aku hanya ngga ingin papimu khawatir saja kalo anak gadisnya ada apa apa," ngeles Dirga berusaha menampilkan wajah datarnya, walaupun putri bosnya ini malah tertawa lepas jadinya.


Dirga merutuki kelemesan mulutnya. Harusnya bodoh amat. Ngapain dia pikirin.


Tapi ngga tau kenapa, perdebatan keduanya tadi cukup mengganggunya.


"Harusnya langsung kamu terima. Kalian setara, apalagi yang kamu pikirkan," komennya lagi agar Audrey ngga salah paham.


Sama sama.dokter dan sama sama orang kaya raya. Apalagi hambatannya, dengusnya membatin.


Dirga ngga merasa insecure, hanya saja dia ngga mau berurusan dengan keluarga kaya lagi. Tapi pengecualian buat adiknya. Keluarga Nathan jauh berbeda.


Dia masih berharap kalo Zoya berjodoh dengan Nathan, karena tau bagaimana perasaan suka adiknya itu pada kembaran temannya selama ini. Makanya dia mendukung seratus persen hubungan adiknya dengan Nathan.


Tawa Audrey ngga terdengar lagi. Ganti gadis cantik itu menatapnya lekat.


"Kalo ngga setara ngga boleh?" pancing Audrey.


Dirga terdiam. Balas melihat gadis itu yang sudah memiringkan posisi duduknya ke arahnya.


"Setidaknya kamu akan lebih bahagia karena ngga perlu mikir apa apa lagi soal finansial."


Keduanya saling bertatapan. Kemudian senyum tipis terbit di wajah Audrey.


"Kamu salah. Ngga semua kebahagiaan bisa diukur dengan fantastisnya finansial."


Dirga tertawa getir. Jika itu memang bisa, dia pasti sudah lama bersama Felicia.


Lagi lagi Dirga mengecualikan adiknya.


Tanpa membantah lagi Dirga membuka pintu mobilnya. Kemuduan di bawah tatapan lekat Audrey, dia mengitari mobil dan membukakan pintu mobil buat gadis itu.


"Aku akan mengantarmu sampai ke ruanganmu," kata Dirga lagi setelah gadis itu keluar dalam diamnya


Mereka berjalan beriringan melewati lorong rumah sakit dengan pikiran masing masing.


Dirga dengan kenangannya, Audrey dengan kata kata yang Dirga ucapkan.

__ADS_1


Begitu sampai di depan ruangan Audrey, tanpa kata Dirga berbalik langsung pergi.


"Dirga......"


Dirga menoleh masih dengab diamnya.


"Kalo kanu sukanya yang setara sama kamu?" tanya Audrey pelan.


"Maybe," jawabnya sambul menyorot tajam Audrey yang juga sedang melihatnya


Aku ngga mau cari masalah, debatnya dalam hati.


"Aku pergi."


Audrey masih mematung menatap kepergian laki laki itu tanpa bermaksud menahannya lagi.


*


*


*


"Diterima Zoya, ngga?" tanya Cleora ngga sabar ketika melihat kembarannya sudah datang. Dia sengaja menunggu kepulangan Nathan di halaman depan.


Ponsel Zoya sangat susah dihubungi. Padahal dia sudah ngga sabar mau tau ending nasib kembarannya.


Walaupun dia dan orang tuanya terutama maaminya menyukai Zoya, tapi dia ngga nyangka juga akan secepat ini Nathan nembak Zoya.


Waktu Cleora memaksa Zoya untuk bekerja di perusahaannya, dia belum kepikiran menjodohkan keduanya karena seingatnya mereka seperti kutub magnet yang saling tolak menolak.


Ide itu muncul begitu saja saat tau Eleanor juga ikut test perekrutan. Takut. Itulah yang dirasakan Cleora karena tau kapasitas otak piala bergilir itu.


Cleora agak ngga yakin kalo Zoya masih setokcer dulu karena gadis itu sekarang hanya sibuk dengan steak panggangnya. Karena itu setelah memisahkan diri dengan ketiga teman dekatnya, Cleora melipir ke ruangan mami dan daddynya dan memberikan ide cemerlangnya yang langsung direspon baik oleh keduanya.


Mamimya yang srjak awal sudah suka dengan Zoya tentu saja langsung setuju. Begitu juga daddynya. Hanya saja mereka akan menunggu keduanya mengakui sendiri perasaan mereka tanpa dipaksa atau di atur atur.


"Biar cinta itu mengalir seperti air. Yang penting mami dan daddy merestui," kata daddynya waktu itu.


"Mami juga setuju. Jangan khawatir, sayang, kita akan buat aturan aturan mainnya yang bisa membuat mereka dekat." Khanza-maminya mengedipkan sebelah matanya. Kalil tergelak melihat raut jahil istri kesayangannya.


Cleora tersenyum mengingat hal itu. Kini senyumnya makin lebar saat melihat mobil Nathan memasuki gerbang rumah mereka.


Nathan hanya mencibir melihat kembarannya yang sudah ngga sabar menunggu kepulangannya.


Pasti dia ingin mendengar kabar kalo Zoya menolaknya dan langsung membullynya, dengusnya dalam hati.


Sayang sekali, kamu salah kali ini, ejeknya dalam hati tanpa mau memberikan jawaban pada kembarannya. Dia pun melewati Cleora begitu saja. Biar kembarannya merengek padanya. Sudah lama juga Nathan ngga mengerjainya.


"Nathan! Kamu belum jawab pertanyaanku," seru Cleora kesal sambil mengejar langkah panjang kembarannya.

__ADS_1


"Ada apa ini?" tanya Khanza saat melihat kedua putra putrinya seperti bertengkar.


Kalil hanya tersenyum melihat kelakuan kembarannya, dengan tangan terus saja memeluk erat pinggang Khanza-istrinya.


"Mam, Nathan abis ditolak Zoya," serunya lantang, berupaya memprovokasi Nathan agar segera mengungkapkan keputusan apa yang diterimanya dari Zoya. Diterima atau ditolak.


Tapi Cleora ngga mengharapkan Zoya menolaknya. Dia ingin Zoya menerima kembaran menyebalkannya ini. Cleora ngga mau Eleanor bisa mengambil kesempatan saat Nathan sedang patah hati. Cleora ngga akan pernah sudi. Dia pasti akan membantu Nathan agar Zoya bisa takluk dengannya.


Biasanya Nathan akan lebih mudah jadi jujur jika hatinya merasa sangat panas.


Alis mata Khanza terangkat.


"Serius ditolak?' Khanza menggeleng gelengkan kepalanya.


Eh, maksudnya putra kesayangannya sudah menyukai Zoya?


Sejak kapan? Berbagai pertanyaan berputar putar di dalam kepalanya.


Masa sih? batin Kalil ngga percaya. Dia merasa cukup yakin kalo diantara Zoya dan Narhan ada sesuatu.


Apa terlalu cepat? batinnya mengoreksi ketidaksabaran putranya.


"Enak aja," dengus Nathan kesal.


Benarkan. Selalu saja senang menjatuhkan harga dirinya, umpatnya dalam hati


"Jadi kamu diterima?" Cleora menatapnya dengan mata penuh binar sampai Nathan merasa heran melihatnya.


Kenapa dia terlihat senang? batinnya ngga bisa mengerti dengan jalan pikiran kembarannya.


Lengkung sempurna tercipta di bibir Khanza. Begitu juga Kalil.


"Ya. Kamu pikir ada perempuan yang bisa menolakku," decaknya penuh kesombongan.


Cleora ngga terlalu memikirkannya. Kegembiraan telanjur meluap luap dalam rongga dadanya .Dia pun menubruk Narhan. Memeluknya dengan perasaan sangat senang.


"Syukurlah! Selamat kalo gitu," serunya sangat bahagia.


Enyah kamu piala bergilir, kecam Cleoa dalam hati. Dia tenang, sudah ngga ada lagi kesempatan Eleanor menjadi pacar Nathan. Bahkan Narhan sudah memecatnya. Akhirnya Nathan melakukan hal yang benar.


"Terimakasih," jawab Nathan masih dengan tatapan sombongnya.


Cleora tergelak melihatnya. Dia pun mengurai pelukannya. Hatinya mengembang penuh dengan kebahagiaan.


"Kapan daddy dan mami bisa menyiapkan pesta pernikahannu?" tanya Daddynya penuh arti.


"Secepatnya, Dad. Bareng Cleo juga boleh," sahut Nathan cepat


Cleora tertawa lepas. Begitu juga Daddy dan maminya.

__ADS_1


"Oke oke. Daddy dan mami akan secepatnya menemui keluarga Zoya." Kalil menepuk pundak Nathan beberapa kali sambil menggelengkan kepalanya, ngga nyangka akan secepat ini Nathan bertekuk lutut dengan Zoya. Zoya memang spesial.


__ADS_2